Kesehatan

Benarkah Rutin Mengonsumsi Jahe Berkaitan dengan Risiko Demensia yang Lebih Rendah?

Menjaga kesehatan otak menjadi salah satu tantangan terbesar ketika seseorang memasuki usia lanjut. Bertambahnya usia memang sering diikuti penurunan daya ingat, kemampuan berkonsentrasi, dan kecepatan berpikir. Pada sebagian orang, penurunan tersebut masih tergolong normal. Namun pada sebagian lainnya, kondisi itu…

Bagikan artikel ini
WhatsApp Email

Menjaga kesehatan otak menjadi salah satu tantangan terbesar ketika seseorang memasuki usia lanjut. Bertambahnya usia memang sering diikuti penurunan daya ingat, kemampuan berkonsentrasi, dan kecepatan berpikir. Pada sebagian orang, penurunan tersebut masih tergolong normal. Namun pada sebagian lainnya, kondisi itu dapat berkembang menjadi gangguan kognitif ringan bahkan demensia yang mengganggu aktivitas sehari hari. Hingga saat ini belum tersedia obat yang benar benar mampu menyembuhkan sebagian besar kasus demensia. Karena itu, para ilmuwan terus mencari berbagai faktor yang mungkin membantu menjaga fungsi otak sejak dini, termasuk pola makan. Salah satu bahan pangan yang menarik perhatian adalah jahe. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2026 dalam jurnal Food Frontiers mencoba mengkaji hubungan antara konsumsi jahe dengan kejadian demensia pada kelompok lansia di Shanghai, Tiongkok. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang menarik, tetapi masyarakat perlu memahami bahwa penelitian ini tidak membuktikan bahwa jahe secara langsung mampu mencegah demensia.

Penelitian tersebut menggunakan desain penelitian potong lintang atau cross sectional study. Dalam penelitian seperti ini, para peneliti mengumpulkan informasi mengenai kondisi kesehatan dan kebiasaan makan peserta pada satu periode waktu tertentu. Berbeda dengan penelitian yang mengikuti peserta selama bertahun tahun, penelitian potong lintang hanya menggambarkan hubungan antara berbagai faktor yang diamati pada saat yang sama. Oleh karena itu, penelitian jenis ini sangat bermanfaat untuk menemukan pola atau hubungan, tetapi tidak dapat memastikan hubungan sebab akibat.

Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada

Para peneliti menganalisis data dari Shanghai Brain Health Foundation yang melibatkan 410 lansia dengan demensia dan 2426 lansia tanpa demensia. Psikiater menetapkan diagnosis demensia menggunakan pemeriksaan klinis yang sesuai dengan standar medis. Setelah itu, seluruh peserta menjalani penilaian kemampuan berpikir menggunakan Montreal Cognitive Assessment atau MoCA. Tes ini banyak digunakan di berbagai negara untuk menilai fungsi kognitif, seperti daya ingat, perhatian, kemampuan berbahasa, orientasi, serta kemampuan menyelesaikan masalah sederhana. Semakin tinggi skor MoCA, semakin baik kemampuan kognitif seseorang.

Selain mengukur fungsi kognitif, para peneliti juga menanyakan kebiasaan konsumsi jahe menggunakan kuesioner frekuensi makanan. Kuesioner tersebut membantu menggambarkan apakah peserta termasuk kelompok yang mengonsumsi jahe atau tidak. Selanjutnya para peneliti membandingkan hasil pemeriksaan antara kedua kelompok tersebut sambil memperhitungkan berbagai faktor lain yang juga dapat memengaruhi kesehatan otak, seperti usia, tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, depresi, tingkat pendidikan, serta beberapa kebiasaan makan lainnya. Pendekatan ini bertujuan mengurangi pengaruh faktor luar yang dapat mengaburkan hasil penelitian.

Penelitian tidak berhenti sampai di situ. Sebanyak 408 peserta yang tidak mengalami demensia menjalani pemeriksaan tambahan berupa pencitraan otak menggunakan Magnetic Resonance Imaging atau MRI serta pemeriksaan beberapa penanda biologis penyakit Alzheimer melalui sampel darah. Penanda tersebut meliputi beta amiloid empat puluh dua, beta amiloid empat puluh, total tau, fosforilasi tau seratus delapan puluh satu, dan neurofilament light chain atau NfL. Penanda biologis ini sering digunakan dalam penelitian untuk membantu memahami perubahan yang terjadi pada jaringan saraf sebelum gejala penyakit muncul secara nyata.

Kurva ROC ini menunjukkan bahwa konsumsi jahe memiliki kemampuan prediksi yang terbatas terhadap kejadian demensia, dengan nilai AUC sebesar 0,589 yang hanya sedikit lebih baik daripada tebakan acak (Li, dkk. 2026).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang mengonsumsi jahe memiliki kemungkinan lebih rendah mengalami demensia dibandingkan kelompok yang tidak mengonsumsi jahe. Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi jahe berkaitan dengan kemungkinan risiko demensia yang lebih rendah pada kelompok lansia yang diteliti. Namun hubungan tersebut tidak dapat diartikan bahwa jahe menjadi penyebab utama menurunnya risiko demensia karena penelitian observasional memang tidak mampu membuktikan hubungan sebab akibat.

Para peneliti juga menemukan bahwa kelompok yang mengonsumsi jahe memiliki skor MoCA yang lebih tinggi. Artinya, kemampuan berpikir dan daya ingat mereka cenderung lebih baik dibandingkan kelompok yang tidak mengonsumsi jahe. Selain itu, kadar neurofilament light chain dan beta amiloid empat puluh dalam darah juga lebih rendah pada kelompok yang mengonsumsi jahe. Neurofilament light chain merupakan protein yang sering digunakan sebagai penanda kerusakan sel saraf. Semakin tinggi kadarnya di dalam darah, semakin besar kemungkinan terjadi kerusakan pada jaringan saraf. Oleh karena itu, kadar yang lebih rendah dianggap sebagai temuan yang menarik dan layak diteliti lebih lanjut.

Analisis statistik berikutnya menunjukkan bahwa neurofilament light chain kemungkinan menjadi salah satu penghubung antara konsumsi jahe dan fungsi kognitif. Dengan kata lain, konsumsi jahe berkaitan dengan kadar neurofilament light chain yang lebih rendah, kemudian kondisi tersebut berkaitan dengan skor kemampuan berpikir yang lebih baik. Walaupun demikian, hubungan tersebut masih berupa dugaan ilmiah berdasarkan analisis statistik. Penelitian ini belum mampu membuktikan bahwa penurunan neurofilament light chain benar benar terjadi akibat konsumsi jahe.

Mengapa jahe menjadi perhatian para ilmuwan? Berbagai penelitian laboratorium sebelumnya menunjukkan bahwa jahe mengandung senyawa bioaktif seperti gingerol, shogaol, paradol, dan zingeron. Senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan membantu mengatur proses peradangan. Para ilmuwan mengetahui bahwa stres oksidatif dan peradangan kronis berperan dalam perkembangan berbagai penyakit neurodegeneratif, termasuk penyakit Alzheimer. Oleh karena itu, muncul dugaan bahwa konsumsi jahe mungkin membantu menciptakan lingkungan biologis yang lebih baik bagi sel saraf. Namun sebagian besar bukti mengenai mekanisme tersebut masih berasal dari penelitian menggunakan kultur sel dan hewan percobaan sehingga belum dapat langsung diterapkan pada manusia.

Walaupun hasil penelitian ini tampak menjanjikan, masyarakat perlu memahami berbagai keterbatasannya. Penelitian menggunakan desain potong lintang sehingga hanya menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi jahe dan kondisi kesehatan otak pada waktu yang sama. Penelitian tidak dapat memastikan apakah konsumsi jahe menyebabkan penurunan risiko demensia atau justru orang yang memiliki gaya hidup lebih sehat memang lebih sering mengonsumsi jahe. Selain itu, informasi mengenai konsumsi jahe diperoleh melalui kuesioner sehingga sangat bergantung pada kemampuan peserta mengingat kebiasaan makan mereka. Kesalahan mengingat tetap mungkin terjadi dan dapat memengaruhi hasil penelitian.

Penelitian juga dilakukan pada kelompok lansia di Shanghai sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk masyarakat di negara lain yang memiliki pola makan, budaya, lingkungan, dan faktor genetik yang berbeda. Penelitian ini juga tidak menentukan jumlah jahe yang paling efektif maupun bentuk olahan jahe yang memberikan manfaat terbaik. Oleh karena itu, hasil penelitian belum dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan rekomendasi konsumsi jahe dalam jumlah tertentu guna mencegah demensia.

Masyarakat juga tidak boleh menafsirkan hasil penelitian ini sebagai bukti bahwa jahe mampu menyembuhkan demensia atau menggantikan terapi medis. Hingga saat ini belum tersedia uji klinis berskala besar yang membuktikan bahwa konsumsi jahe dapat mencegah atau mengobati demensia pada manusia. Jahe tetap dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat dan seimbang, tetapi upaya menjaga kesehatan otak memerlukan pendekatan yang jauh lebih menyeluruh. Aktivitas fisik yang teratur, pola makan bergizi, tidur yang cukup, pengendalian tekanan darah dan kadar gula darah, aktivitas sosial, serta latihan mental tetap menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi otak selama proses penuaan.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan tambahan informasi yang menarik mengenai hubungan antara konsumsi jahe dan kesehatan otak pada kelompok lansia. Hubungan antara konsumsi jahe, skor fungsi kognitif yang lebih baik, serta kadar neurofilament light chain yang lebih rendah membuka peluang baru bagi penelitian mengenai peran pola makan dalam menjaga kesehatan saraf. Namun karena penelitian ini bersifat observasional dan menggunakan desain potong lintang, hasilnya belum dapat membuktikan bahwa jahe secara langsung melindungi otak dari demensia. Para ilmuwan masih memerlukan penelitian jangka panjang dan uji klinis yang dirancang dengan baik agar manfaat konsumsi jahe terhadap kesehatan otak benar benar dapat dipastikan secara ilmiah.

Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

REFERENSI:

Li, Wei dkk. 2026. Relationship Between Ginger Consumption and Dementia/Mild Cognitive Impairment: A Cross‐Sectional Study in Shanghai. Food Frontiers 7 (1), e70155.

Maratus Sholikah
TENTANG PENULIS

Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

✳ SAINS DALAM GAMBAR

Warstek di Instagram

@warstek_com ↗
Artikel ngilmiah ke-8 JOKOWI telah terbit! Abstrak: Di mata masyarakat, meminta maaf merupakan perbuatan terpuji sehingga seharusnya dapat mendorong politikus untuk melakukannya.…▧ Carousel

Artikel ngilmiah ke-8 JOKOWI telah terbit! Abstrak: Di mata masyarakat, meminta maaf merupakan perbuatan terpuji sehingga seharusnya dapat mendorong politikus untuk melakukannya. Namun, nyatanya…

Negara lain berlomba membelah atom. Kita berlomba membelah anggaran untuk kopdes dan dapur MBG. Ada typo, Sinkroton bukan sinklotron #sainstertinggal

Negara lain berlomba membelah atom. Kita berlomba membelah anggaran untuk kopdes dan dapur MBG. Ada typo, Sinkroton bukan sinklotron #sainstertinggal

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign