Jika merunut kilas balik ketenaran eco-enzyme, jejaknya dapat ditarik ke masa sebelum pandemi COVID-19. Jauh sebelum penerapan kebijakan PPKM yang membuat sebagian besar masyarakat memiliki banyak waktu luang di rumah dan mendadak gemar menerapkan pola hidup sehat, eco-enzyme sudah sering dituangkan ke sungai-sungai di Indonesia oleh para pegiat lingkungan dalam jumlah yang tidak sedikit dengan harapan dapat memperbaiki kualitas air.
Eco-enzyme pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, seorang praktisi pertanian organik dan pengobatan alternatif asal Thailand. Ia mengembangkannya sebagai cairan enzim hasil fermentasi sisa dapur dan kulit buah dengan klaim segudang manfaat.
Berawal dari sana, pemberitaan mengenai eco-enzyme pun meledak. Narasi yang beredar mengklaim bahwa cairan ini dapat diminum, diusapkan ke kulit wajah, hingga dipakai untuk perawatan rambut. Eco-enzyme bahkan kerap dijadikan bahan praktik sains siswa. Hanya dalam beberapa tahun, citra eco-enzyme menjelma menjadi cairan ajaib serbaguna dengan segudang khasiatnya, hingga menjadi science project paling umum yang dapat ditemukan di sekolah, komunitas, maupun acara konservasi lingkungan di Indonesia.
Agar bisa lebih bijak dalam menyikapi eco enzyme ini, terlebih dahulu kita harus paham mekanisme kerjanya. Dalam tulisan ini, penulis ingin terfokus dulu untuk mempersoalkan efektivitas kerja eco enzyme dalam membersihkan lingkungan. Kita akan fokus terlebih dahulu pada efektivitas eco-enzyme dalam urusan pembersihan lingkungan. Bagi pembaca yang bergerak di bidang pertanian atau peternakan, Anda tentu tidak asing dengan EM4 atau bioaktivator pengurai sampah lainnya.
Cara kerja eco-enzyme berbeda dari EM4 yang mengandalkan mikroorganisme hidup pengurai sampah organik. Eco-enzyme bekerja melalui kandungan enzim protease dan tripsin terlarut yang memotong rantai protein membran sel bakteri serta molekul kompleks menjadi senyawa sederhana. Kandungan asam asetat hasil fermentasi menciptakan lingkungan asam yang membatasi perkembangan patogen (bakteriostatik). Selain itu, enzim lipase bertindak memecah molekul minyak dan lemak menjadi gliserol serta asam lemak, sekaligus berfungsi sebagai koagulan (zat penggumpal). Dengan kata lain, jika EM4 bekerja melalui proses biologi, eco-enzyme bekerja melalui reaksi kimia dan masih membutuhkan agen biologis lingkungan untuk menyelesaikan proses dekomposisi akhir.

Ada dua masalah umum terkait eco-enzyme ini. Pertama, ketiadaan proses produksi terstandarisasi, karena dibuat dalam skala rumah tangga. Kedua, oleh orang awam penggunaannya sering kali tanpa takaran atau rasio yang pas. Tanpa uji laboratorium dan pengukuran alat yang presisi, efektivitas eco-enzyme akan menurun atau malah berbahaya.
Daftar isi
Mitos dan Misinformasi yang Beredar
Setidaknya ada tiga klaim utama eco-enzyme yang tersebar di media sosial:
- Sebagai disinfektan dan pembersih rumah tangga (lantai, toilet, pengganti deterjen/sabun).
- Sebagai pengolah limbah dan pembersih lingkungan (parit, sungai, danau).
- Sebagai bahan perawatan tubuh (rambut, kulit wajah, gigi/obat kumur, hingga diminum).
Pada klaim pertama, benar eco enzyme bisa dipakai sebagai sabun cuci piring atau pembersih lantai atau benda lainnya (disinfektan alternatif), karena mengandung enzim yang menghambat perkembangan mikroba (bakteriostatik). Klaim kedua benar bisa membersihkan lingkungan, tetapi terbatas pada skala kecil, untuk membantu pencegahan pembentukan fatberg pada pipa pembuangan, namun memperbaiki kualitas air pada sungai dan danau secara signifikan hampir mustahil. Klaim ketigalah yang paling berisiko. Mengonsumsi eco-enzyme dengan cara diminum sangat berbahaya karena berisiko keracunan mikroba liar dari wadah yang tidak steril, karena eco enzyme juga belum terbukti secara klinis dan sifatnya yang asam dapat mengakibatkan iritasi kulit jika dipakai tanpa dilarutkan terlebih dulu dengan air.
Efektivitas eco-enzyme pada dasarnya terbatas. Dalam urusan pembersihan lingkungan, eco-enzyme memang memiliki khasiat pada kadar dan skala tertentu jika diaplikasikan secara tepat. Namun, ketika dituangkan ke ekosistem perairan lepas yang luas, dampaknya menjadi tidak efektif. Apabila konsentrasinya dinaikkan secara masif, keasamannya justru berpotensi merusak ekosistem dan menurunkan oksigen terlarut dalam air. Bagaimanapun juga, untuk urusan pemulihan lingkungan secara masif, eco-enzyme hanyalah alternatif pendukung yang tidak dapat menggantikan peran bioaktivator terstandarisasi pabrik seperti EM4.
Penulis sendiri memiliki pengalaman buruk berhubungan dengan eco-enzyme ini. Saat itu penulis sedang menjalani PKL di sebuah kantor perusahaan, dan di sana terdapat humidifier, semacam mesin yang mengeluarkan uap air untuk melembabkan ruangan. Petugas kebersihan di sana sering menuangkan larutan eco-enzyme ke dalam humidifier ini. Kebetulan sekali tempat duduk penulis tepat di depan mesin humidifier tersebut. Suatu waktu penulis baru saja sembuh dari flu dan batuk karena kecapekan, dan saat menghirup udara di dekat humidifier itu rasanya sangat pedas dan menusuk, penulis seketika tidak tahan dan batuk-batuk mencium udara eco-enzyme tersebut, terlepas memang karena baru pulih dari batuk sehingga mungkin tenggorokan terasa lebih sensitif dari biasanya. Namun, jika kita mencermati salah satu sifat dari eco-enzyme yaitu bersifat korosif dan asam, penggunaan larutan eco-enzyme yang tidak sesuai takaran pada humidifier dapat mengakibatkan gangguan pernapasan dan efek negatif bagi paru-paru, apalagi jika dibuat tanpa takaran yang tepat.
Referensi
- Vidalia, Cindy & Angelina, Emily & Hans, Joenni & Field, Lin & Santo, Nathania & Rukmini, Elisabeth. (2023). Eco-enzyme as disinfectant: a systematic literature review. International Journal of Public Health Science (IJPHS). 12. 1171. 10.11591/ijphs.v12i3.22131.
- Putri, Ayu Octavia Tanjung. (2023). Pembuatan dan Pemanfaatan Eco Enzyme. https://bpplampung.bppsdmp.pertanian.go.id/page/lihat/artikel-2023/Pembuatan-dan-Pemanfaatan-Eco-Enzyme diakses pada 28 September 2026
- Eco Enzyme: Cairan Serbaguna dari Sampah Organik. (2023). Waste4Change. https://waste4change.com/blog/eco-enzyme/






