Bocah Sang Pemberi Nama Planet Pluto

Pluto, planet yang dinamakan bocah tersebut
Bagikan Artikel ini di:

Apa yang telah kalian lakukan ketika baru berumur 11 tahun?. Ada sebuah kisah unik dari Venetia Burney, ia memberi nama planet saat masih berumur 11 tahun secara tidak sengaja dan sedikit keberuntungan.

Bermula saat tahun 1846, astronom menemukan ketidakteraturan orbit planet Uranus yang akhirnya disebut “Planet X” . Percival Lowell adalah salah satu orang yang mencari planet ini. Pada Tahun 1905 sampai akhir hayatnya ia melakukan perhitungan matematis dan pengamatan menggunakan observatoriumnya untuk menemukan planet X tersebut. Pada 1915 ia memperkirakan lokasi planet X dalam Memoir on a Trans-Neptunian Planet. Sayangnya pada 1916 ia meninggal sebelum ia menyelesaikan pencarian fotografi di daerah yang ditargetkan di langit.

Percival Lowell

Sebelas tahun setelah kematian Percival Lowell, keponakannya yaitu Roger Lowell Putnam menjadi pengawas satu-satunya observatorium Lowell. Abbott Lawrence Lowell,saudara Percoval yang merupakan presiden Harvard University memberikan $10000 untuk membangun teleskop baru. Untuk pengoperasian teleskop tersebut, ia memperkerjakan seorang pekerja, Clyde Tambough. Clyde melakukan pencarian di lokasi yang telah diprediksi oleh Percival Lowell dan menemukan planet X (yang nantinya dinamakan Pluto) berdasarkan hasil foto 23 dan 29 Januari 1930. Berita penemuan ini selanjutnya dikirim ke Harvard Collage Observatiom.

Clyde Tombaugh

Berita penemuan Planet ini tersebar di seluruh dunia. Pihak observatorium Lowell memiliki hak untuk menamainya dan menerima 1000 saran nama dari seluruh dunia.

Pada 14 Maret 1930, Venetia, seorang bocah yang berasal dari Oxford, Inggris yang saat itu berumur 11 tahun sedang sarapan dengan ibu dan kakeknya. Kakeknya membacakan sebuah berita penemuan planet baru dan bertanya apa nama panggilannya. Kemudian Venetia berkata “kenapa tidak menyebutnya Pluto? “. Venetia mungkin berkata demikian karena ia suka membaca tentang mitologi Yunani dan Romawi.

 

Venetia Burney

Kakeknya ( Falconer Madan) adalah seorang pustakawan yang memiliki banyak teman sebagai astronom. Kemudian kakeknya menyarankan nama itu kepada astronom Herbert Hall Turner yang kemudia menyarankan kepada astronom di observatorium Lowell.

Dari seluruh penjuru dunia menyumbangkan nama hingga 1000. Pada 24 Maret 1930, setiap anggota observatorium Lowell diberi hak untuk memilih diantara 3 nama yaitu Cronus, Minerva, dan Pluto. “Pluto” memperoleh hasil bulat karena didorong oleh dua huruf pertamanya adalah inisial dari pendiri observatorium Lowell, Percival Lowell. Keputusan tersebut diumumkan kepublik pada 1 Mei 1930. Setelah diumumkan, Madan (kakeknya) menghadiahi Venetia sebesar $450.

Namun tahukah kamu? Pada tahun 2006, sidang umum Perhimpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) ke-26 di Praha, Republik Ceko, menetapkan definisi baru tentang planet yang kemudian menyebabkan Pluto dikeluarkan dari daftar planet tata surya.

Dalam definisi IAU, sebuah planet haruslah mengorbit matahari, berukuran cukup besar sehingga dapat mempertahankan bentuk bulatnya dan memiliki jalur orbit yang jelas dan bersih (tidak terhalang benda langit lain). Sementara Pluto, ukurannya terlalu kecil untuk disebut sebagai planet dan orbitnya bersinggungan dengan planet lain yakni Uranus.

Baca juga: Penelitian Terbaru Desak agar Pluto Kembali Diklasifikasikan Sebagai Planet

Referensi :

  • Brad Mager. 1994. Pluto: The Discovery of Planet X. Diakses dari http://www.discoveryofpluto.com/pluto04.html pada tanggal 24 Juni 2019.
  • Charles Q. Choi . 2017. Dwarf Planet Pluto: Facts About the Icy Former Planet. Diakses dari https://www.space.com/43-pluto-the-ninth-planet-that-was-a-dwarf.html pada 21 Desember 2018.
  • Brian Dunbar. 2007. NASA – Transcript: The Girl Who Named Pluto. Diakses dari https://www.nasa.gov/multimedia/podcasting/transcript_pluto_naming_podcast.html pada 22 Desember 2018.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Wawancara Eksklusif dengan Irmandy Wicaksono – Lulusan S3 MIT dengan Full Research Scholarship

Bagikan Artikel ini di:

Dibalik banyaknya acara TV yang tidak mendidik, banyaknya video trending di YouTube yang kurang bahkan tidak berfaedah, dan orang “tanda petik” yang viral dan terkenal, kita sebagai generasi penerus Indonesia tidak boleh ikut terwarnai, ikut arus, apalagi ikut-ikutan. Sebenarnya ada banyak sosok inspiratif dan prestatif yang jarang diliput TV maupun trending di Youtube, serta jauh dari kata viral. Namun sosok prestatif dan inspiratif tersebut bisa kita jadikan role model atau panutan. Salah satunya adalah kak Irmandi Wicaksono. Irwandi adalah pemuda Indonesia, bersekolah di SMA Lab School Jakarta, kemudian melanjutkan S1 ke Universitas Southampton Inggris, S2 di ETH Zurich, dan S3 di MIT Cambridge Amerika*. Emejing nggak tuh prestasinya?

Momen wisuda Irmandy Wicaksono dari S3 Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 9 Juni 2019 . Sumber: Instagram @irmandyw

Tampilan Google Scholar Irmandy Wicaksono yang memuat berbagai artikel jurnal yang telah ia buat. Sumber: Google Scholar

Di MIT, Irmandy Wicaksono menggeluti bidang fabric and soft wearable electronic. Sumber: Instagram @MITMediaLab

Nah, tim Warstek berhasil mewawancarai kak Mandy (panggilan akrabnya) dan berikut ini adalah hasilnya:

  1. Sebelumnya Warstek ingin tahu sekilas tentang biodata kak Irmandy seperti lahir dimana, tempat tinggal di Indonesia dimana, dan sekolahnya di Indonesia dimana sebelum berkarir di luar negeri.

Halo Warstek, nama saya Irmandy Wicaksono, kelahiran 1993 di Birmingham, Inggris. Saya sekarang Research Assistant di MIT, Cambridge, Amerika. Keluarga saya menetap di Jakarta. Sebelum berkuliah dan berkarir di luar negeri, saya bersekolah di SMA Labschool Jakarta. Profil lengkapnya dapat dibaca di LinkedIn Irmandy Wicaksono.

Kak Mandy sebagai bagian dari tim MIT Media Lab, salah satu laboratorium dan kelompok riset terbaik di dunia. Sumber: Instagram @irmandyw

  1. Apa cita-cita kak Irmandy semenjak kecil? Dan siapa orang yang paling berperan untuk mendorong kak Irmandy merealisasikan cita-cita tersebut?

Sejak kecil saya menyukai berbagai hal, jadi cita-cita saya selalu tidak tentu. Tetapi, dulu saya sangat gemar belajar fisika dan matematika. Saya juga suka mengkoleksi gadget baru. Sebagai penggemar musik, saya ingat betul rasa kebahagiaan saya saat saya menerima iPod pertama saya. Selain itu, saya banyak menghabiskan waktu menonton dan main game superheroes dan sci-fi yang memperlihatkan dampak inovasi teknologi untuk masa depan. Karena ini semua, saya mempunyai cita-cita untuk menjadi technologist atau engineer agar bisa menciptakan teknologi-teknologi terbaru yang dapat memberikan dampak besar dan baik dalam kehidupan manusia. Juga dapat merealisasikan sci-fi atau dunia masa depan yang suka saya impikan saat saya masih kecil.

Lembaran chip yang difabrikasi oleh kak Mandy di MIT Media Lab. Sumber: Instagram @irmandyw

Selain orang tua saya yang selalu mendukung saya, orang yang paling berperan secara tidak langsung adalah guru-guru saya dulu. Saya selalu ingat pesan mereka, yaitu untuk selalu mencoba keluar dari comfort zone dan terus mencari tantangan. Pesan ini memotivasi saya untuk merantau berkuliah di luar negeri untuk menimba ilmu, berkarya, dan membawa nama bangsa di tempat-tempat yang terbaik.

Selama berkuliah di Amerika, kak Mandy juga aktif mengenalkan budaya Indonesia pada dunia, keren banget kan guys? Sumber: Instagram @irmandyw

  1. Warstek lihat bahwa kak Irmandy mengenyam S1 di Universitas Southampton, Inggris kemudian dilanjutkan mengenyam Pendidikan (master) di kampusnya Albert Einstein (ETH Zurich, Swiss), dan sekarang menjadi graduate researcher di MIT, Amerika, apa sih kak rahasianya bisa se-“wow” itu? Dan apakah itu dengan beasiswa atau mandiri?

Kalau dipikirkan, sebenarnya tidak ada rahasianya. Yang terpenting adalah pastikan hal yang kamu lakukan benar-benar apa yang kamu peduli dan sukai, dan cobalah dengan keras untuk tekuni hal itu. Setiap orang memiliki keunikannya sendiri dan jalannya masing-masing. Jika belum menemukan apa yang kamu ingin lakukan, selalu berani untuk melakukan hal yang baru dan mencari kesempatan. Saya yakin bila kamu terus berjuang, suatu saat, kamu akan menemui lingkungan dan orang-orang yang benar-benar positif dan seirama dengan pola pikir dan budaya kerja kamu. Di sini, teman, kolega, dan profesor di lingkungan ETH maupun MIT selalu menginspirasi saya untuk melakukan riset yang tidak konvensional dan membantu saya untuk merealisasikan ide-ide saya yang berhubungan dengan human-machine interfaces.

Jujur kadang saya masih tidak percaya dan saya selalu bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk studi dan riset di institusi-institusi ini. Sebelumnya saya mendapat Zepler scholarship selama tiga tahun untuk S1. Kemudian karena mendapatkan funding yang signifikan dari pemerintah, biaya kuliah di ETH Zurich bisa dibilang affordable, lebih murah dari kebanyakan top-tier university di Indonesia. Jadi, waktu itu hanya menanggung biaya hidup disana. Saat ini, alhamdulilah saya diberikan full research scholarship dari MIT selama S3. Di MIT dan beberapa graduate-level universitas di Amerika, universitas tersebut biasanya menanggung biaya hidup dan kuliah jika kamu diterima masuk dan disetujui oleh Professor di universitas yang terkait untuk mengenyam S3. Oleh karena itu, disamping menjadi Ph.D. student, saya juga bekerja menjadi research assistant di MIT.

Kak Mandy berfoto bersama salah satu karya seni MIT yang bernama The Alchemist. Sumber: Instagram @irmandyw

  1. Kadang di Indonesia ada istilah study oriented atau mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang) bagi yg fokus di akademis, bagaimana kultur di luar negeri dan bagaimana opini kak Irmandy tentang itu?

Kehidupan kampus di sini memang vibrant, disiapkan untuk semua kalangan mahasiswa. Kulturnya bebas, disamping pelajaran kelas, banyak student groups dan event di kampus seperti seminar, conference, workshop, talks, maupun hackhaton. Organisasi dan kegiatan-kegiatan ini menurut saya sangatlah penting untuk mempersiapkan kehidupan kita setelah kuliah. Dari mengikuti kegiatan ini, kita bisa mendapat pengalaman baru, menambah koneksi dengan orang-orang industri dan akademia atau venture capitalist, mungkin kita juga bisa bertemu dengan orang-orang yang akan bekerja dengan kita di masa depan. Karena kehidupan akademik MIT sangatlah demanding, sangat disarankan juga disini untuk membuat study circles sendiri, karena bisa belajar, berdiskusi, dan saling mengingatkan dengan satu sama lain tentang problem sets, exams, etc.

Kalau untuk saya sendiri, karena fokus saya di riset dan teaching, setiap harinya saya tidak hanya kerja di lab dan mengajar kelas, tetapi saya harus sering berdiskusi dengan banyak orang, dari Professor, kolega-kolega, sampai industri sponsor. Saya juga secara teratur mengikuti seminar, workshop, dan konferensi di dalam dan luar kampus. Time-management sangatlah penting, agar kita bisa tetap melakukan hobi kita di waktu luang, dan mendapatkan keseimbangan antara kehidupan kampus dan personal life, antara karir dan self-growth.

Menyeimbangkan aktivitas kuliah dan self growth termasuk salah satu rahasia kak Mandy. Sumber: Instagram @irmandyw

  1. Warstek pertama tahu kak Irmandy dari IG MIT Media Lab, kak Irmandy sedang riset fabric and soft wearable electronic, bisa dijelaskan mengapa kak Irmandy tertarik untuk meneliti hal tersebut? Kira-kira nanti produk pamungkas dari riset tersebut apa kak?

Ketertarikan saya dengan wearable electronics dimulai saat saya mengambil kelas micro dan nanotechnology di S1 Universitas Southampton. Karena kemajuan di bidang material science dan fabrication technology ini, diperkirakan bahwa elektronik kedepannya akan tertanam di mana-mana, sesuai dengan konsep “Internet of Things”. Oleh karena itu, saya mulai mengeksplorasi tentang subyek human-machine interfaces. Bagaimana di masa depan manusia akan berhubungan dengan komputer yang akan berada di berbagai tempat, dari kulit, pakaian, lingkungan, sampai luar angkasa. Waktu S1, saya juga pernah bekerja sebagai Technology Intern di Studio XO, sebuah fashion technology lab di London. Kliennya adalah Lady Gaga, dan saya mendapat kesempatan untuk bekerja dengan fashion designers dan industrial engineers untuk membuat kostum robotik [1] yang dipakainya saat iTunes festival 2013.

Setelah itu, saya memutuskan untuk mengambil Master degree in Electrical Engineering and Information Technology, khususnya di bidang Wearable Computing di ETH Zurich dan sekarang di MIT Media Lab. Mulailah di sini passion saya untuk menyatukan elektronik dengan berbagai media. Saya sangat tertarik untuk mengubah electronic devices saat ini yang kebanyakan rigid agar menjadi soft, flexible, dan stretchable supaya bisa diintegrasikan ke tekstil atau tubuh kita. Aplikasinya banyak, salah satu contohnya adalah proyek saya yang bernama FabricKeyboard [2]. Kalau saat ini, fokus saya adalah wearable electronics untuk biomedical applications. Bagaimana bila alat-alat kesehatan di rumah sakit yang bulky, ribet karena banyak kabel dan tidak nyaman bisa diubah bentuknya menjadi miniatur, tipis, dan nyaman dipakai layaknya stiker atau kain. Dengan ini, future medical monitoring dan treatment akan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, tanpa harus langsung ke rumah sakit.

Salah satu produk dari riset kak Mandy dalam bidang fabric and soft wearable electronic. Sumber: Instagram @irmandyw

  1. Banyak mahasiswa Indonesia yang juga ingin studi lanjut di luar negeri kak, apakah ada saran bagi mereka?

Saran saya adalah rencanakan dari awal mungkin. Cobalah terus untuk apply dan jangan takut gagal. Carilah program-program dan universitas yang cocok dengan passion kamu dan persiapkan juga source of funding, apakah dari beasiswa, grants, atau research assistantship. Untuk yang ingin mengambil doctoral research, melalangbuanalah ke konferensi dunia, buatlah banyak koneksi dengan researcher luar negeri dan belajarlah dari pengalaman mereka. Lebih baik lagi kalau profesor yang akan menjadi supervisor kamu sudah tahu kenal dari awal, misalnya, dengan bertemu di konferensi, mensitasi paper mereka, atau mengikuti exchange program universitas untuk intern riset di grup profesor tersebut, karena ini akan menambah kesempatan kamu untuk diterima.

Kak Mandy bersama mahasiswa asal Indonesia lainnya yang berkuliah di Amerika, ada Pak Jusuf Kalla ikut berfoto. Sumber: Instagram @irmandyw

Di samping kompetensi, salah satu syarat dari admission, dan yang kadang-kadang dilihat lebih adalah personal statement. Yang saya pelajari dari pengalaman saya adalah universitas di sini tidak hanya melihat skill dan accompIlishment kamu, tetapi mereka ingin melihat juga keunikan dari para kandidat, apakah dirimu dan background kamu tambahan yang bagus untuk meragamkan komunitas dan ekosistem mereka, dan apakah visi dan misi kamu sesuai dengan prinsip mereka. Usahakanlah agar cerita di esai ini, entah pengalaman atau opini kamu tentang suatu hal menggambarkan persona atau karakter diri kamu yang menarik dan stand-out dari applicant lainnya.

  1. Pertanyaan yang agak susah nih, apakah kak Irmandy nantinya akan berkarir di luar negeri apa di Indonesia?

Saya tidak ada preferensi untuk berkarir di luar negeri atau di Indonesia. Selama ini hidup saya nomaden, karena saya sangat suka untuk mencari pengalaman yang baru. Beberapa tahun yang akan datang, kemungkinan besar saya masih bolak-balik Indonesia dan Amerika. Yang pasti, suatu saat nanti saya akan kembali ke tanah air dan mendirikan sesuatu yang baru untuk Indonesia.

Meskipun karirnya fokus di dunia akademik, kak Mandy juga tidak canggung dalam dunia industri. Sumber: Instagram @MITMediaLab

Referensi dalam wawancara:

[1] Pakhchyan, S. 2013. Lady Gaga’s Bubble Machine Dress

[2] Miller, M. 2017. MIT’s Experimental Keyboard Is Unlike Any Instrument You’ve Seen (Or Heard)

Bagaimana apakah Sahabat Warstek termotivasi? Hmm. Kira-kira siapa sosok inspiratif lainnya yang akan Warstek wawancarai nih? Sampaikan namanya di kolom komentar ya gaes, juga pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan pada orang tersebut.


*FYI, Albert Einstein adalah alumni dari ETH Zurich tahun 1900 dan istrinya (Mileva Maric) juga alumni dari ETH Zurich, sedangkan MIT adalah kampus yang menempati peringkat 1 terbaik di dunia secara 8 tahun berturut-turut, termasuk di tahun 2019. Ranking tersebut dirilis pada 19 Juni 2019 oleh Quacquarelli Symonds (QS). QS merupakan perusahaan di bidang pendidikan yang membantu puluhan juta calon mahasiswa membuat pilihan universitas yang tepat. Peringkat universitas terbaik yang dirilis oleh QS termasuk salah satu sistem pemeringkatan yang populer di masyarakat dunia, disamping ada sistem perangkingan lainnya seperti CWUR, Webometrics, Times Higher Education (THE), dll.

Berikut ini adalah 5 kampus terbaik dunia versi QS World University Ranking:

Diakses pada 22 Juni 2019. Sumber: QS World University Ranking

 

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Andrew Szydlo dan Hiskia Achmad – Pakar Demo Kimia

Bagikan Artikel ini di:

Zbigniew Andrew Szydlo atau Dr. Andrew Szydlo, DIC, ACGI, CChem, FRSC, lahir tahun 1949 di Inggris dari orang tua asal Polandia. Ia menempuh pendidikan sekolah di Latymer Upper School, lalu melanjutkankan ke Imperial College London dan University College London. Sampai saat ini semenjak tahun 1972 ia mengajar ilmu kimia di Highgate School, London Utara, Inggris. Andrew merupakan anggota Royal Society of Chemistry (RSC) dan juga dianugerahi penghargaan bergengsi Chartered Chemist (CChem) [1].

Masa kecil dan sekolah

Semenjak usia dini oleh orang tuanya ia dikenalkan kepada ilmu kimia. Pada usia ke sembilan, mereka membelikan sebuah “Kay’s Chemistry Set“, yang memberinya kesempatan pertama untuk menikmati apa yang menjadi gairah untuk seumur hidupnya – percobaan kimia. Ketertarikan Andrew terhadap kimia semakin kuat ketika dia menyaksikan seorang penjaja obat keliling di pasar, yang mempertunjukan kepada khalayak ramai bagaimana cairan asam dapat terbakar. Penjaja obat tersebut kemudian membuat api dari campuran obat batuk sirup dan sejenis kristal ungu. Andrew saat itu terpukau dengan percobaan tersebut dan kemudian ia mencoba mengulangi kembali demonstrasi dipasar tersebut. Dia kemudian menemukan bahwa zat yang tidak diketahui tersebut adalah kalium permanganat (KMnO4) melalui buku “Chemistry Magic“, yang dia pinjam dari perpustakaan. Dia kemudian membeli beberapa alat dan bahan untuk mengulangi percobaan tersebut. Dimasa sekolah ia terinpirasi oleh guru kimianya yang eksentrik, dimana dia mendemonstrasikan kimia praktis yang mendorong Andrew kecil untuk membangun laboratorium kecil di rumahnya sendiri sebagai pembelajaran [2].

Karir dan mengajar

Andrew mengambil bidang teknik kimia dan keselamatan industri pada saat kuliah, tapi kemudian ia kembali pada aktivitas kesenangannya yaitu percobaan kimia, dimana kelak ia akan menjadi guru kimia. Sambil mengajar, ia melanjutkan studinya ke jenjang doktoral dengan bidang riset kimia dan disertasinya kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Selama berkarir dalam mengajar, Andrew meneruskan mendemonstrasikan percobaan-percobaaan diluar kelas yang asalnya merupakan aktivitas klub kimia kecil yang kemudian berkembang pesat menjadi pengajaran untuk publik. Dalam waktu 20 tahun, kegiatan demonstrasinya meraih perhatian yang lebih besar, termasuk sekolah dasar dan menengah, mahasiswa, perkumpulan keluarga, dan khalayak umum. Ia juga sering diundang sebagai pembicara dan memberikan kuliah umum dengan topik sejarah kimia di acara ulang tahun, festival dan konferensi di berbagai lokasi, seperti laboratorium, aula sekolah, teater kuliah, ruang olahraga, lapangan, tempat bermain, kolam renang yang tidak terpakai, dapur dan bahkan di bengkel mobil [2].

Andrew Szydlo (Gambar dari rsc.org)

Selain menjadi narasumber untuk umum, Andrew seringkali memberikan kuliah di Universitas Cambridge, Universitas Durham, Universitas College London, Royal Institution, Festival Sains Cheltenham dan Istana Hampton Court untuk di negara Inggris. Selain itu ia pernah diundang sebagai pembicara di Polandia, Mauritius dan Namibia.

Gaya Demonstrasi

Dalam peragaannya, Andrew menggunakan peralatan kimia sederhana yang terdapat di laboratorium dan alat-alat lain yang terdapat disekitar rumah. Ia menyajikan kuliah kimia praktis, sejarah kimia zaman abad pertengahan, penemuan oksigen, mesin pembakaran internal, dan terkadang memainkan alat musik seperti violin, piano, terumpet dan akordion.

Andrew Szydlo perfoming experiments on-stage

Penampilan Andrew Szydlo saat demonstrasi (Gambar dari rsc.org)

Andrew dengan gaya yang mengalir dan penuh semangat menceritakan reaksi kimia besi dan baja, reaksi yang melibatkan api, cairan yang bisa berubah warna, ledakan dari penggunaan bubuk mesiu, lelehan mirip lahar gunung berapi, yang semua triknya dapat memukau siapapun yang menyaksikan. Dia berharap usaha yang dilakukannya dapat menginspirasi guru-guru dan memberikan persepsi berbeda mengenai ilmu kimia kepada para murid dan orang tua.

Penampilan

Andrew tampil pada enam serial televisi di Inggris sebagai guru kimia pada acara That’ll Teach ’em (Channel 4, tahun 2006) dan Sorcerer’s Apprentice (CBBC, tahun 2007); sebagai sejarahwan sains pada acara Absolute Zero (BBC4, tahun 2007); sebagai ahli kimia pada Generals at War (National Geographic, tahun 2009); pada acara Big, Bigger, Biggest (Channel 5, tahun 2009); dan sebagai “The Doc” dalam acara Secrets of Everything (BBC3, tahun 2012). Penampilan Andrew dapat disaksikan di Youtube yaitu pada channel Royal Institution yaitu Magic of Chemistry (2014)[3], Blaze of Steel (2015)[4], Fireworks and Waterworks (2016) [5], Bonfires with a Bang (2017) [6] dan Chemistry of Coal (2018) [7]. Dia juga adalah salah satu pengisi Royal Society : Chemistry’s 175 Faces of Chemistry.

Pakar Demonstrasi Kimia di Indonesia

Indonesia pernah memiliki sosok pengajar kimia dan praktisi demonstrasi kimia legendaris yang tidak kalah hebat seperti Dr. Andrew Szydlo. Beliau adalah almarhum Drs. Hiskia Achmad, dosen Kimia ITB (lahir di Timor 9 Juni 1932 – wafat di Bandung 9 Juli 2014). Selain mengajar mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama, beliau membuat beberapa seri buku teks Penuntun Kimia Dasar dan juga diktat kuliah Kimia Dasar. Beliau juga dedikasi sebagai penyusun buku teks Kimia nasional dalam paket Kimia 1, Kimia 2, dan Kimia 3 yang menjadi standar pada tahun 1985 [8]. Kelebihan dari buku-buku beliau adalah cara penyampaiannya enak dibaca dan mudah dipahami. Ilmu kimia yang sulit menjadi mudah dan sederhana dengan cara penyampaiannya. Bagi siswa IPA dan mahasiswa pelajaran Kimia merupakan momok dan kurang disukai, tetapi di tangan beliau penyampaian materi Kimia menjadi lugas dan jelas [9].

Kompetensi dan kontribusi Drs. Hiskia Achmad di bidang pendidikan Kimia juga telah mendapat pengakuan secara luas yang dapat dilihat dari berbagai posisi dan penghargaan yang pernah diraihnya. Beliau juga  aktif dalam memberikan Demonstrasi Kimia untuk anak-anak sekolah semenjak beliau masih mengajar di ITB. Beliau juga menggagas kegiatan bertajuk “Demonstrasi Kimia dan Sains di Sekitar Kita” yang dimulai bahkan sebelum masa pensiunnya, yakni sejak tahun 1989. Terhitung hingga Oktober 2011, tidak kurang dari 90 kali beliau melakukan kegiatan Demonstrasi Kimia ini di 16 provinsi di Indonesia mulai dari Sumatera Utara hingga Maluku, bahkan pernah dua kali di Timor Leste, dengan dihadiri oleh tidak kurang dari 82.000 siswa [8]. Warisan beliau mengenai demonstrasi kimia dicurahkan dalam buku  “Demonstrasi Sain Kimia Kimia Deskriptif melalui Demo Kimia” Jilid 1 dan 2 yang ditulis bersama Dra. Lubna Baradja, M.Si.

Referensi

[1] Wikipedia, Zbigniew Szydlo, https://en.wikipedia.org/wiki/Zbigniew_Szydlo, (diakses 12 Januari 2019).
[2] Royal Society of Chemistry, Royal Society of Chemistry’s 175 Faces of Chemistry, http://www.rsc.org/diversity/175-faces/all-faces/dr-andrew-szydlo-dic-acgi-cchem-frsc/, (diakses 12 Januari 2019).
[3] Youtube, The Magic of Chemistry – with Andrew Szydlo, https://www.youtube.com/watch?v=0g8lANs6zpQ.
[4] Youtube, Blaze of Steel: Explosive Chemistry – with Andrew Szydlo, https://www.youtube.com/watch?v=Na7Bp4frYGw.
[5] Youtube, Fireworks and Waterworks – with Andrew Szydlo, https://www.youtube.com/watch?v=HRBVfqhPQQ8.
[6] Youtube, The Chemistry of Fire and Gunpowder – with Andrew Szydlo, https://www.youtube.com/watch?v=OYZT3opLedc.
[7] Youtube, Andrew Szydlo’s Chemistry of Coal, https://www.youtube.com/watch?v=1Qi4rrQoruQ.
[8] Institut Teknologi Bandung, Obituari: Drs. Hiskia Achmad, Dedikasi Sepanjang Hayat untuk Pendidikan Kimia di Indonesia, https://www.itb.ac.id/news/read/4431/home/obituari-drs-hiskia-achmad-dedikasi-sepanjang-hayat-untuk-pendidikan-kimia-di-indonesia, (diakses 13 Januari 2019).
[9] Munir, Rinaldi, Mengenang Drs. Hiskia Achmad, Dosen Kimia ITB yang Legendaris, https://rinaldimunir.wordpress.com/2014/07/11/mengenang-prof-hiskia-ahmad-dosen-kimia-legendaris-itb/, (diakses 13 Januari 2019).

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: