Mileva Maric, Sosok Cerdas di balik Ketenaran Einstein

Hallo sahabat Warstek, tentunya pernah dong mendengar pepatah “di balik lelaki sukses, ada perempuan hebat di belakangnya“. Nah, rupanya pepatah ini juga berlaku pada sosok genius Albert Einstein. Einstein menikah dengan Mileva Maric, yang merupakan perempuan satu-satunya dalam kelasnya di Politeknik Zurich, Swiss. Yuk simak kisahnya lebih lanjut dalam artikel ini

Politeknik Zurich

Kisah ini berawal dari Politeknik Zurich, Swiss. Pada Oktober 1896, Einstein masuk Politeknik Zurich pada usia 17,5 tahun. Seorang perempuan Serbia yang cerdas juga menjadi Mahasiswa di situ, menjadi satu-satunya perempuan dalam kelasnya Einstein. Perempuan cerdas itu bernama Mileva Maric, Mileva saat itu berusia hampir 21 tahun, lebih tua 3 tahun dari usia Einstein.

Mileva Maric

See the source image
Sumber: https://i.pinimg.com/originals/1a/a4/fa/1aa4faf95b6be9149f13378c4e48bb8e.jpg

Mileva Maric digambarkan sebagai sosok yang sangat cerdas, serius, kecil, rapuh, berambut cokelat dan jelek, menderita kelainan dislokasi pinggul sehingga jalannya pincang, rentan serangan TBC, dan pemurung. Mileva lahir di Titell, Sebia pada tanggal 19 Desember 1875, merupakan anak pertama sekaligus anak kesayangan seorang petani Serbia yang ambisius. Ayahnya menjadi tentara, menikah dan hidup sederhana, lalu mengabdikan diri demi memastikan agar anak perempuannya yang cerdas bisa diterima di dunia Matematika dan Fisika yang dikuasai oleh laki-laki.

Mileva menghabiskan masa kecilnya di Novi sad, sebuah kota di Serbia yang belakangan dikuasai Hongaria. Ia bersekolah di sekolah-sekolah yang penuh tuntutan dan selalu menjadi juara kelas. Puncaknya adalah ketika ayahnya meyakinkan Classical Gymnasium di Zagreb agar mengizinkan Mileva masuk. Setelah lulus dengan nilai-nilai tertinggi pada Fisika dan Matematika, Mileva melanjutkan studinya ke Politeknik Zurich.

Impian Mileva

Mileva memiliki mimpi besar di bidang akademik, Mileva sangat menyukai Fisika dan Matematika. Dengan masuk ke Politeknik Zurich, ia berharap dapat belajar lebih banyak lagi tentang Fisika dan Matematika, Mileva ingin fokus mengejar karirnya, menjadi ahli fisika seperti harapan Ayahnya. Mileva tak sama seperti perempuan kebanyakan, ia berbeda. Sosok pendiam, pemurung bahkan tak modis, yang tiap harinya hanya berteman dengan buku. Mileva dengan keberaniannya berhasil memasuki dan bersaing di dunia Fisika dan Matematika yang didominasi laki-laki. Di mana di negerinya, Serbia, perempuan tidak diizinkan memasuki bidang tersebut, Swiss saat itu sangat menghormati kaum perempuan.

Menjalin Pertemanan

Di masa kecil, Mileva sulit berteman dengan orang lain, ia sering di-bully karena jalannya yang pincang, ia memang sangat cerdas namun rapuh. Orang tuanya selalu berharap agar ia bisa memiliki teman, ketika ia menjadi Mahasiswa dan tinggal di asrama, dunia Mileva pun perlahan berubah, ia mulai menemukan sosok teman yang cocok dengan dirinya. Awalnya, Mileva sangat menutup diri, namun ketulusan hati tiga perempuan bernama Ružica Dražić, Milana Bota dan Helene Kaufler membuat ia tak bisa menolak pertemanan.

Khususnya Helene Kaufler adalah sosok yang sangat dekat dengan Mileva, keduanya digambarkan sebagai sosok yang mirip, jalannya Helene juga pincang, Helene tempat berbagi suka dan dukanya Mileva, saat mereka sudah berkeluarga pun, mereka masih saling bertukar surat.

Pertemuan dengan Einstein

Pada tahun 1896, di tahun pertama di Politeknik Zurich tak ada tanda-tanda yang menyatakan bahwa Einstein dan Mileva hanya teman sekelas, entah itu dari surat maupun dari kenangan. Namun, di tahun kedua pada musim panas 1897 Einstein dan Mileva pergi hiking bersama.

Ketika Mileva menyadari perasaan barunya terhadap Einstein, Mileva memutuskan untuk meninggalkan Politeknik Zurich untuk sementara waktu pada musim gugur, dan mengikuti kuliah di Universitas Heidelberg. Akan tetapi selama di Heidelberg Mileva malah mendapatkan surat empat halaman dari Einstein, pada halaman-halaman surat itu terdapat rincian kelas Profesor Weber yang telah Mileva lewatkan, catatan percakapan dengan Profesor Hurwitz, Herzog, dan Fiedler, dan juga beberapa komentar tentang kuliah teori bilangan. Mileva pada awalnya tak ingin membalasnya. Namun, ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri.

Berikut bunyi surat pertama Mileva kepada Einstein:

“Sudah agak lama semenjak saya menerima surat Anda, saya akan membalas segera dan berterima kasih karena Anda telah mengorbankan waktu untuk menulis empat halaman surat. Saya juga ingin mengungkapkan kebahagiaan yang Anda berikan selama perjalanan bersama kita, tetapi Anda berkata suatu hari nanti saya harus menulis surat ketika saya bosan. Dan, saya sangat patuh, dan saya menunggu dan menunggu hingga kebosanan datang; tetapi sejauh ini saya menunggu dengan sia-sia.”

Surat pertama Mileva tersebut ditulis beberapa minggu setelah ia pindah ke Heidelberg. Surat tersebut menunjukkan tanda-tanda ketertarikan romantis, tetapi juga menonjolkan rasa percaya diri Mileva. Mileva memanggil Einstein dengan kata sie yang formal dalam bahasa Jerman, bukan kata du yang lebih akrab. Dalam surat pertama tersebut, dengan semangat Mileva menceritakan kuliah tentang teori kinetik dari Philipp Lenard, seorang asisten profesor di Heidelberg, yang menjelaskan sifat-sifat gas sebagai akibat gerak jutaan molekul di dalamnya.

“Kuliah Profesor Lenard kemarin benar-benar bagus, ia membahas teori kinetik panas dan gas. Ternyata, molekul oksigen bergerak dengan kecepatan lebih dari 400 meter per detik, lalu Profesor yang baik itu menghitung dan menghitung, dan akhirnya keluar hasil walaupun molekul memang bergerak dengan kecepatan tersebut, tetapi ia hanya bergerak sejauh 1/100 lebar rambut.”

Einstein memaksa Mileva kembali ke Zurich. Menjelang Februari 1898, Mileva memutuskan kembali dan Einstein sangat senang. “Aku yakin kau pasti takkan menyesali keputusanmu,” Kau harus kembali secepat mungkin.”tulis Einstein.

Mileva selalu merasa hidup, dipahami dan diterima saat bersama Einstein. Sensasi yang unik, dan pada saat yang sama, meresahkan. Mileva resah, khawatir kehilangan kesempatan untuk berkarir di dunia akademik apabila melanjutkan hubungannya dengan Einstein. Namun Einstein berhasil meyakinkan Mileva, mereka akan menjadi mitra sains yang luar biasa. Kekhawatiran Mileva pun luntur, ia melanjutkan hubungannya dengan Einstein, mereka berbagi buku, antusiasme intelektual, berbagi kunci apartemen mereka masing-masing.

Suatu hari, ketika Einstein lupa kuncinya lagi dan tidak bisa masuk ke kamarnya, ia pergi ke apartemen Mileva dan meminjam buku pelajaran Fisika. “Jangan marah kepadaku,” tulisnya di sebuah catatan kecil yang ia tinggalkan untuk Mileva. Kemudian, pada tahun tersebut, melalui catatan serupa ia menambahkan, “Jika kau tak keberatan, aku ingin datang malam ini untuk membaca bersamamu.”

Hubungan yang Rumit

Hubungan mereka ternyata tak semulus yang mereka harapkan, ejekan dan pertentangan harus mereka hadapi. Teman-teman Einstein sangat terkejut, bagaimana mungkin lelaki setampan Einstein bisa jatuh hati kepada Mileva? Einstein bisa saja mendapatkan perempuan mana pun, tapi kenapa harus Mileva? Perempuan Serbia bertubuh pendek, berpenampilan biasa, pincang dan menguarkan suasana melankolis. “Aku takkan berani menikahi perempuan kecuali ia benar-benar sehat,” ujar seorang teman kepada Einstein. Namun, Einstein menjawab, “Tapi, suaranya begitu merdu.”

Dan pada musim semi 1899, saat Einstein mengunjungi orang tuanya di Milan, Einstein malah mendapatkan keraguan juga dari Ibunya. Ibu Einstein yang mengagumi Marie Winteler (mantan kekasih Einstein) ragu terhadap perempuan yang telah menggantikan posisi Marie.

“Fotomu sangat memengaruhi Ibuku. “Saat ia mengamati fotomu dengan seksama, dengan simpati terdalam aku berkata: ‘Ya, ya, ia memang perempuan yang cerdas.’ Aku harus menghadapi banyak ejekan karenanya.”

“Lalu, akan jadi apa Dollie sekarang? (Dollie nama panggilan Einstein untuk Mileva) “Istriku”, jawab Einstein, sambil berusaha bersikap acuh tak acuh seperti yang dilakukan ibunya saat bertanya. Pada waktu lain ibunya akan membesar-besarkan kenyataan bahwa Mileva sudah berumur 24 tahun, sedangkan Einstein baru 21 tahun. “Begitu kau berumur 30 tahun, ia sudah seperti nenek sihir,” ujar ibunya.

Pertentangan dari orang tuanya tak membuat Einstein gentar, ia tetap ingin menikah dengan Mileva. Baginya Mileva adalah segalanya, namun pernikahan mereka tertunda karena setelah lulus dari Politeknik Zurich, Einstein tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Mereka menikah tahun 1903, sekitar satu tahun setelah anak tak sah mereka lahir.

Mitra Sains Einstein

Dari seluruh bukti, Mileva adalah teman diskusi walaupun tidak sepenting peran Michele Besso. Ia juga membantu memeriksa perhitungan matematikanya walaupun tidak ada bukti bahwa ia mengusulkan konsep matematika apa pun. Selain itu, Mileva mendukung dan (meskipun terkadang sangat berat) bertahan bersama Einstein.

“Betapa bahagia dan bangganya aku nanti saat kita berdua membawa karya kita tentang gerak relatif menuju kesimpulannya!” tulis Einstein kepada Mileva pada 1901. Karya tersebut sudah sampai pada kesimpulannya dan Einstein begitu kelelahan saat menyelesaikan naskahnya pada Juni sehingga “tubuhnya lemas dan tidur selama dua minggu” sementara Mileva “memeriksa artikel tersebut berulang-ulang”.

Peran Mileva dalam mengembangkan teori-teori pertama yang dikembangkan oleh Einstein, terutama relativitas, telah menciptakan banyak perdebatan di dunia ilmiah. Di satu sisi, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa Mileva layak mendapatkan kredit yang sama dengan Einstein untuk teori, karena mereka adalah teman. Sektor lain mengklaim dia hanya membantu suaminya dalam matematika.

Demi sejarah yang penuh warna  dan getaran emosional yang  pernah ada, akan lebih menyenangkan jika kita bisa menelaah lebih jauh lagi. Namun, kita harus mengikuti arah yang kurang menyenangkan dengan tetap berpegang pada bukti. Tidak satu pun di antara sekian  banyak surat mereka, baik kepada satu sama lain maupun kepada teman, menyebutkan contoh gagasan atau konsep kreatif Mileva tentang relativitas.

Bagaimana Nasib Lieserl?

Lieserl adalah anak perempuan tak sah Mileva dan Einstein, yang kabarnya sangat dirahasiakan, entah Lieserl telah diadopsi atau telah meninggal dunia. Lieserl terkena demam berdarah, kemungkinan besar ia meninggal dunia, yang membuat Mileva meninggalkan Zurich dengan tergesa-gesa untuk kembali ke Serbia.

Referensi:

  1. Walter Isaacson. 2012. Einstein, Kehidupan dan Pengaruhnya bagi Dunia. Terjemahan oleh Mursid Wijanarko & Word++ Translation Service. Bentang Pustaka
  2. Pauline Gagnon. Derrière chaque grand homme, il y a une femme, Le rôle de Mileva Marić Einstein (https://pauline.web.cern.ch/presentations/Mileva.pdf). Diakses 13 Juli 2021.
  3. Marie Benedict. 2017. Senhora Einstein, a história de amor por trás da Teoria da Relatividade. Única Editora
  4. Warbletoncouncil.Милева Марић: биографија и прилози теорији релативности(https://sr.warbletoncouncil.org/mileva-maric-13398). Diakses 01 Agustus 2021.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 4.5 / 5. Banyaknya vote: 2

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Era Jumiati M. Saleh
Follow me
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *