Bisakah Memandang Alam Semesta dalam Perspektif Sains & Agama?

Memandang alam semesta dalam perspektif sains dan agama, memangnya bisa?

Renungkanlah alam semesta ini sejenak! Mari lupakan kesibukan sehari-hari, permainan dan senda gurau yang mungkin sedang kita lakukan, dan jangan hiraukan sebentar saja kebisingan yang ada di sekitar kita. Perhatikan lebih saksama, ciptaan Allah yang ada di sekeliling kita.

Perhatikanlah sejenak sang surya, ciptaan Allah yang dahsyat namun seringkali kita lupakan. Mungkin karena ia setiap hari terbit dan tenggelam mengisi hari-hari kita, seakan-akan ia benda yang tidak bermanfaat yang muncul di atas langit, seperti sudah seharusnya. Begitu matahari tenggelam, dan saat menjelang malam, ciptaan Allah yang lain, yaitu bulan mulai menerangi malam kita dengan cahaya yang temaram. Rembulan nan mempesona ini pun sangat jarang kita hiraukan.

Mengapa tak pernah kita perhatikan hujan dengan lebih saksama? Tak pernahkah kita sadari bahwa hujan jatuh dari langit dengan kecepatan yang terukur? Dan sama sekali tidak membahayakan manusia saat jatuh menghujam bumi? Air hujan jatuh dalam tetesan kecil, kemudian meresap ke dalam tanah, dan bisa menyuburkan dan menumbuhkan tanaman. Mekanisme alam yang mencengangkan!

Perhatikan pula angin! Tidakkah sia-sia Allah menciptakan angin. Angin yang jarang kita renungkan keberadaannya, ternyata berembus membawa benih-benih tumbuhan dan mengarak awan yang membawa butiran hujan. Perhatikan juga gunung-gunung yang menusuk langit menjangkau awan dan dasarnya menghujam menjadi pasak bumi! Apakah kita berpikir bahwa semua itu sia-sia dan terjadi begitu saja?

Mungkin kita lebih mengagumi kecanggihan teknologi. Tentang ponsel misalnya, alat komunikasi ajaib ini memang amatlah menajubkan. Betapa tidak? Tulisan melalui SMS, ternyata saudara kita lain negara bisa membacanya hanya dalam hitungan detik saja. Hal lain, misalnya tentang gambar-gambar dalam televisi yang bisa terkirim melalui “udara”, kemudian dapat saudara kita hingga pelosok desa terpencil bisa menyaksikannya.

Jika kita pernah menggunakan teknologi internet, tidakkah menakjubkan? Buku, gambar, dan lagu, bisa kita akses dalam waktu bersamaan. Semua kecanggihan teknologi, ternyata tidak bisa terlepas dari keberadaan alam ini. Melalui pemanfaatan ionosfer, gelombang elektromagnetik, barang tambang, minyak dan gas di perut bumi, tanpa alam yang demikian terencana, berbagai kemajuan teknologi tersebut tak akan pernah ada. Bahkan kehidupan pun tak kan berlangsung lama. Jika saja kita mau sejenak merenung, alam raya dan seisinya adalah sesuatu yang amat dahsyat dan luar biasa.

blank

Sepanjang kita menikmati keindahan dan keteraturan alam semesta ini. Kita merasakan bahwa alam semesta ini begitu teratur, sehingga mustahil jika terjadi begitu saja. Seandainya kita menemukan sebuah mobil mewah dan super canggih di atas pegunungan, yang jauh dari kehidupan masyarakat dan keramaian kota, apakah mungkin jika ada yang mengatakan bahwa mobil tersebut ada begitu saja dan terbentuk dari ranting pepohonan hutan secara kebetulan? Tentu saja itu pertanyaan yang sangat menggelikan dan tidak masuk akal bukan? Nah, begitu juga alam semesta. Alam semesta jauh lebih canggih dan jauh lebih rumit dari sebuah mobil mewah dan canggih yang pernah ada sekalipun. Lalu, apakah mungkin jika keluarbiasaan alam semesta ini ada begitu saja dan tidak ada yang menciptakannya? Tentu saja tidak mungkin, dan tidak masuk akal. Pastilah ada yang menciptakannya, yaitu Allah subhanallahu wa ta’ala. Tuhan pemelihara semesta alam.

Menurut seorang ahli fisika, Paul Davies, terjadinya alam semesta berawal dari sebuah ledakan besar (big-bang). Dari ledakan besar ini lalu muncul keteraturan dan kehidupan. Hal ini adalah sebuah keajaiban yang hanya mungkin terjadi karena perencanaan, “penyetelan”, perhitungan dan pengukuran yang sangat cermat. Ledakan ini bisa terjadi jika melalui perencanaan dengan sangat teliti, karena kemungkinan keberhasilan hanyalah 1:1.000.000.000. Artinya, sangat kecil kemungkinannya jika alam semesta terjadi secara kebetulan atau tanpa perencanaan.

Hal tersebut juga disimpulkan oleh fisikawan terkenal lainnya, Roger Penrose. Beliau mengatakan bahwa kemungkinan terjadinya alam semesta seperti sekarang ini hampir mustahil tanpa suatu kesenjangan dan oleh karena itu, pastilah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa.

blank
Paul Davies, Roger Penrose, Stephen Hawking. Tiga Fisikawan terkemuka
(Sumber: http://news.uns.purdue.edu)

Dari pengalaman kita sehari-hari, dapat kita rasakan bahwa hampir seluruh benda yang pecah atau meledak, akan menjadi hancur berantakan, dan selalu menghasilkan ketidakteraturan serta kekacauan. Namun, alam semesta tidak demikian. Meskipun bermula dari sebuah ledakan yang tak terbayangkan dahsyatnya, justru hasilnya adalah keteraturan dan kehidupan yang kita saksikan saat ini.

Stephen hawking dalam bukunya A Brief History of Time, beliau menyatakan bahwa jika saja kecepatan penyebaran alam semesta setelah ledakan besar 1 detik saja lebih cepat atau lebih lambat, maka alam semesta tidak akan menjadi seperti yang kita saksikan sekarang, melainkan akan hancur berkeping-keping. Subhanallah, betapa menakjubkannya.

Banyak bukti ilmiah yang ditemukan para ilmuwan modern bahwa alam semsta diciptakan dengan sangat teratur dan terencana. Misalnya, dalam penciptaan bumi sebagai tempat tinggal kita. Betapa Allah SWT telah mempersiapkan, mengukur, dan menghitungnya sebaik mungkin sehingga dapat kita diami seperti saat ini. Sebagai contoh, jarak rata-rata bumi terhadap matahari adalah sekitar 150 juta kilometer.

Seandainya planet bumi lebih dekat ke matahari, maka pastilah akan sangat panas, atau mungkin menjadi planet-hangus, seperti halnya merkurius. Sebaliknya, jika jarak bumi ke matahari lebih jauh, maka temperatur bumi akan menjadi sangat dingin, lapisan es akan menyelimuti bumi dan mungkin tidak pernah ada kehidupan. Terjaganya temperatur yang kita rasakan di bumi ini juga berkaitan dengan jumlah panas yang dipancarkan matahari.

Menurut perhitungan para ahli, jika 10% saja dari panas yang dipancarkan matahari berkurang, membuat permukaan bumi ditutupi es setebal beberapa meter. Sebaliknya, jika panas yang dipancarkan matahari naik sedikit saja, seluruh makhluk hidup yang ada di bumi akan hangus dan mati. Kita perhatikan juga bahwa bumi mengelilingi matahari dengan sumbu yang miring sebesar 23o27’. Kemiringan ini mencegah panas yang berlebihan pada atmosfer di wilayah antara kutub dan khatulistiwa. Hal ini membuat temperatur di bumi menjadi sedang (moderat). Jika kemiringan ini tidak ada, perubahan temperatur antara kutub dan khatulistiwa akan jauh lebih tinggi, dan daerah bertemperatur sedang tidak akan ada di bumi.

Perputaran bumi pada sumbunya juga menjaga panas di permukaan menjadi seimbang dan lebih merata. Keadaan di bumi berbeda dengan keadaan di planet merkurius dan planet-planet lain. Di merkurius, perbedaan temperatur antara siang dan malam hampir mencapai 1.000oC. hal ini terjadi karena lamanya waktu siang lebih dari setahun menurut waktu bumi. Penyebab lain, misalnya karena tidak adanya atmosfer yang melindungi merkurius.

Selain jaraknya telah dipersiapkan, Allah SWT juga melindungi bumi dengan berbagai perisai dan pelindung. Diciptakan-Nya atmosfer untuk melindungi bumi dari radiasi cahaya ultraviolet (UV) matahari. Cahaya UV ini berbahaya bagi kesehatan manusia. Penyinaran sinar UV yang berlebihan akan menyebabkan kanker yang akibatnya sangat mengerikan pada kulit kita.

blank
Kanker Kulit karena radiasi UV
(Sumber: www.alodokter.com)

Selain itu, diciptakan-Nya pula semacam sabuk pelindung yang terbuat dari medan magnetik di sekitar bumi. Tujuannya agar planet kita terlindung dari terpaan dan hantaman angin matahari serta lontaran sejumlah gas yang bersal dari korona matahari (Coronal Mass Ejection/CME). Sabuk yang tidak bisa kita lihat dengan mata biasa ini dikenal sebagai sabuk Van Allen.

Angin matahari berasal dari ledakan di permukaan matahari yang melemparkan berton-ton gas yang sangat panas dan memiliki kandungan listrik yang sangat besar. Angin matahari ini sebagian besar dapat ditangkal oleh sabuk Van Allen sehingga tidak sampai ke permukaan bumi, kemudian disalurkan ke kutub-kutub magnetik utara dan selatan bumi sehingga bertumbukan denganatmosfer bumi di bagian kutub. Tumbukan ini menghasilkan cahaya yang sangat indah, berpendar di daerah kutub utara dan selatan dengan warna yang beraneka ragam bergantung pada komposisi udara di atmosfer.

blank
Angin Matahari
(Sumber: www.kafeastronomi.com)

Cahaya indah berwarna-warni ini disebut aurora. Sayang sekali, kita yang tinggal di daerah khatulistiwa tidak pernah melihatnya secara langsung. Kita bisa melihat Aurora hanya di daerah yang dekat dengan kutub utara dan kutub selatan saja.

blank
Beraneka Warna Aurora di Kutub Utara. Perbedaan warna ini bergantung pada kandungan kimiawi atmosfer yang ditumbuk oleh angin matahari (Sumber: www.guidescope.net)

Bayangkan jika sabuk Van Allen ini tidak disiapkan Allah? Seluruh peralatan yang terbuat dari logam pasti akan mencair karena bumi menerima panas dan arus listrik yang sangat besar. Pusat pembangkit tenaga listrik mungkin akan meledak karena kelebihan beban listrik. Kulit kita akan terbakar, sarana komunikasi akan putus, bencana dan kekacauan yang dahsyat akan terjadi di bumi.

blank
Ilustrasi sabuk Van Allen, garis-garis biru-kuning di sekitar bumi menunjukkan pelindung magnetik (Sumber: http://www.windows.ucar.edu)

Banyak juga hewan seperti beberapa jenis burung yang menggunakan arah medan magnet bumi sebagai petunjuk jalan. Seandainya magnet bumi tiba-tiba hilang, mereka tak akan mampu mengarungi samudera, dan menjelajah benua. Mereka akan tersesat dan kehilangan arah.

blank
Bentuk tetesan hujan memungkinkan kecepatannya cukup rendah saat tiba di bumi. Bentuk tetesan hujan ini sekarang ditiru oleh manusia dalam pembuatan parasut (Sumber: http://www.ictblog.it)

Allah juga mengatur kandungan udara yang kita hirup, dengan perbandingan yang sangat penuh perhitungan. Jika saja kandungan oksigen di udara lebih tinggi, maka udara akan sangat mudah terbakar. Sebaliknya, jika oksigen terlalu sedikit, maka manusia akan keracunan dan sulit bernafas. Tidak hanya itu, Allah juga mengatur bentuk tetesan hujan sehingga dapat jatuh dengan kecepatan yang tidak membahayakan saat tiba di bumi dari awan mendung setinggi 1.500 meter. Padahal, kalau saja kita hitung benda lain jatuh dari ketinggian yang sama, maka benda tersebut akan tiba di bumi dengan kecepatan ratusan km/jam, yang tentu saja sangat berbahaya. Bahkan, benda kecil yang menabrak kita dengan kecepatan sebesar itu akan memiliki daya rusak yang cukup besar.

Bentuk tetesan hujan pun dirancang sangat unik. Diameternya kira-kira berukuran 2 mm. Hal ini memungkinkan tetesan air hujan untuk jatuh bebas hanya dengan kecepatan 2-6 m/s. Hal ini karena bentuk tetesan hujan membuat kecepatan akhirnya (kecepatan terminal) menjadi lebih rendah.

blank

Sesungguhnya, masih sangat banyak bukti ilmiah lain yang menunjukkan bahwa kehidupan di alam semesta sedemikian teraturnya, sehingga mustahil jika tidak ada yang menciptakannya. Allah SWT menciptakan alam semesta ini menurut ukuran, sebagaimana dalam Firman-Nya:

blank

blank

Allah SWT memang merancang Alam semesta ini dengan ukuran-ukuran tertentu. Dengan demikian, melalui pengukuran pulalah kita dapat memahami kebesaran ciptaan-Nya secara lebih baik. Seorang pelukis memang dapat mengagumi alam raya melalui keindahan seni. Seorang penyair mengungkapkannya melalui bait-bait puisi, atau seorang biduan melalui lagu dan nyanyian. Melalui ilmuwan alam semesta dapat diungkap jauh lebih terperinci, keteraturan alam dapat dibuktikan dan jejak penciptaan Allah dapat dibaca, dan diselediki. Serta mampu menjelaskan penyebab planet, bintang, dan galaksi dapat “tergantung” di luar angkasa padahal tidak ada tali yang mengikatnya dan tidak ada pula tiang yang menyangganya. Ilmuwan juga yang berhasil memecahkan teka-teki mengapa gunung dapat bergerak dan bagaimana benua menjadi seperti saat ini. Para ilmuwanlah yang berhasil menjawab “teka-teki” Allah SWT melalui ayat-Nya:

blank

blank

Dengan demikian, tujuan utama dari seorang ilmuwan (juga kita sebagai pelajar) yang mempelajari alam semesta, adalah menambah keyakinan kita pada Pencipta alam raya ini. Selain itu, dengan memiliki pengetahuan tentang alam, kita dapat menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan dunia pada umumnya.

Sejarah kemajuan teknologi menunjukkan bahwa ilmu fisika adalah dasar utama dan paling penting di dunia. Yang ditandai dengan dua revolusi, yaitu revolusi industri sejak ditemukan mesin uap oleh James Watt dan revolusi informasi sejak diciptakan semikonduktor, yaitu bagian terpenting dari prosesor dalam komputer.

Awalnya internet bukan dirintis oleh DARPA (Defense Advanced Research Project Agency) Amerika seperti yang selama ini dikenal, tetapi oleh laboratorium fisika nuklir CERN (Conseil Europeen pour la Recherche Nucleaire) di Geneva Swiss (kunjungi www.cern.ch). Hampir seluruh komponen elektronika dan konsepnya dirintis oleh ahli fisika seperti Ohm, Coulomb, Ampere, Volt, Tesla, Maxwell, Gauss, Hertz dan lain-lain. Sedangkan mesin-mesin, kontruksi, dan pemanfaatan gelombang tidak bisa lepas dari dinamika gerak yang disusun oleh Galileo, Newton, Pascal, leibniz, Otto, Carnot, dan lain-lain.

Ilmu fisika adalah jantung dari kemajuan teknologi saat ini. sehingga, mempelajari ilmu fisika akan membuka peluang kita untuk ikut membantu memajukan bangsa, dan membantu saudara-saudara kita yang lain. Dengan demikian, mempelajari fisika juga dapat menjadi bentuk ibadah, sebab Rasulullah SAW pernah bersabda:

blank

Jadi jika ada pertanyaan, bisakah memandang alam semesta dalam perspektif sains & agama secara sekaligus? Jawabannya adalah BISA!

Referensi:

  • Halliday, David dan Resnick, Robert. 1990. Fisika Jilid I Edisi Ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga.
  • Rumi, Jalaluddin. 2001. Kearifan Cinta, Renungan Sufistik Sehari-Hari. Yogyakarta: Penerbit Kreasi Wacana.
  • Shihab, M. Quraish. 2003. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran. Jakarta: Lentera Hati.
  • Tipler, Paul. 2001. Fisika Jilid II Untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 2

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Maratus Sholikah
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *