Lompat ke konten

Al-Biruni, Ilmuwan Muslim Terkemuka Abad Pertengahan

Print Friendly, PDF & Email
blank
Sumber Gambar: https://islamkita.co/wp-content/uploads/2020/10/al-biruni-740×385.jpg

Hallo Sahabat Warstek, pernah mendengar nama Al-Biruni belum? Siapa sih Al-Biruni itu? Apa saja kontribusinya dalam dunia sains? Kok bisa menjadi ilmuwan terkemuka di abad pertengahan? Yuk kita cari tahu dalam artikel ini, cekidot!

Al-Biruni memiliki nama lengkap Abu Ar-Raihan Muhammad bin Ahmad Al-Khawarizmi Al-Biruni. Lahir pada tanggal 4 September 973 M, di salah satu pinggiran kota Kats yang merupakan pusat kota Khawarizm di Asia Tengah, sekarang berganti nama menjadi kota Khiva, Uzbekistan. Karena dilahirkan di pinggiran kota tersebutlah yang membuat ia dipanggil dengan nama Al-Biruni, karena Birun dalam bahasa Persia berarti pinggiran kota. Orang-orang berilmu pada masanya memanggilnya dengan “ustadz” (guru besar) sebagai bukti tingkat keilmuwannya yang tinggi. Sedangkan orang-orang barat mengenalnya dengan panggilan Master Aliboron.

Giat Belajar Sejak Kecil

Sejak kecil, Al-Biruni sangat mencintai ilmu pengetahuan. Di kampungnya, Al-Biruni berguru pada An-Nashr bin Arraq. Ia menunjukkan potensi yang besar sejak usia dini dalam bidang matematika, astronomi, geografi, sejarah, dan berbagai macam ilmu lainnya. Al-Biruni juga menguasai banyak bahasa, di antaranya bahasa Arab, bahasa Persia (bahasa kampung halamannya), bahasa Yunani, bahasa Suryani, bahasa Sansekerta, dan juga bahasa Iberia. Karena penguasaan terhadap banyak bahasa membuat Al-Biruni mudah mempelajari banyak ilmu, membaca buku-buku dengan bahasa yang berbeda, dan berguru kepada guru yang berbeda. Al-Biruni terkenal sangat giat belajar dan hampir tidak pernah lalai serta hampir tidak pernah tangannya lepas dari pena.

blank
Sumber Gambar: https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fgeotimes.id%2Fkolom%2Fagama%2Fal-biruni-antropolog-pertama%2F&psig=AOvVaw3ESTCKJAFhv7FBljS9nKpR&ust=1654261290475000&source=images&cd=vfe&ved=0CAwQjRxqFwoTCJjGtdnpjvgCFQAAAAAdAAAAABAJ

Pertemuan dengan Ibnu Sina

Al-Biruni mulai menyadari pentingnya merantau, dengan merantau ia berharap dapat belajar banyak ilmu. Di usia 20 tahun, ia memutuskan untuk merantau ke negeri Jurjan dan bekerja pada pangeran Syamsul Ma’ali Qabus bin Wasykamir. Itu menjadi peluang terbaik baginya untuk bertemu dengan para ilmuwan besar yang bekerja di istana. Salah satu ilmuwan besar yang ditemuinya kala itu adalah Ibnu Sina (ilmuwan hebat yang digelari Bapak Kedokteran Dunia). Al-Biruni dan Ibnu Sina kemudian menjalin persahabatan baik, menjadi teman diskusi yang menyenangkan, saling mendukung dalam ilmu pengetahuan dan juga membuahkan korespondensi ilmiah yang sangat bernilai antara mereka. Di istana Jurjan juga Al-Biruni mulai menulis buku, ia bekerja di istana selama 10 tahun, kemudian kembali ke Khawarizm sekitar tahun 1010 M.

Hampir dibunuh

Sekembalinya dari istana Jurjan, di Khawarizm, Al-Biruni bekerja di istana Abu Al-Abbas sebagai penasihat khusus. Selama berada di istana, kehidupan Al-Biruni dipenuhi dengan kegiatan melakukan penelitian hingga terjadi sesuatu yang tidak terduga, yaitu berubahnya sistem politik akibat terbunuhnya Abu Al-Abbas, kekuasaan Abu Al-Abbas diambil alih oleh sultan Ghaznah atau Mahmud Al-Ghaznawi. Tentara sultan Ghaznah menahan semua tawanan termasuk para ilmuwan yang berada di istana.

Sultan Ghaznah adalah orang yang keras dan tidak paham agama Islam yang sebenarnya, sehingga ia memerintahkan untuk membunuh para ilmuwan tersebut. Al-Biruni termasuk di antara yang hampir saja dibunuh kala itu. Beruntungnya, ada ilmuwan pengikut sultan Ghaznah yang mengenal Al-Biruni dan juga pengalamannya dalam ilmu perbintangan, sehingga Al-Biruni dibiarkan hidup dan disuruh bekerja di istana Ghaznah.

Merantau ke India

Al-Biruni selama bekerja di istana Ghaznah juga ikut melakukan penaklukan yang dilakukan oleh sultan Ghaznah di Utara India. Setelah berada di India, Al-Biruni mempelajari bahasa penduduk setempat, agama, filsafat, ilmu, dan kebudayaan India. Di sana, Al-Biruni menulis buku-buku tentang sejarah mereka yang menjadi rujukan terpenting bagi India hingga waktu belakangan.

Al-Biruni tinggal di India dalam waktu yang sangat lama, bahkan ada yang mengatakan hampir empat puluh tahun lamanya. Al-Biruni kemudian kembali ke Ghaznah dan memfokuskan diri melakukan penelitian dan menulis, setelah wafatnya sultan Ghaznah, Al-Biruni tetap menjaga hubungan baiknya dengan istana Ghaznah pada masa pemerintahan anaknya, sultan Mas’ud. Al-Biruni menghadiahkan bukunya yang berjudul “Al-Qanun Al-Mas’udi” pada sultan, sehingga sang sultan membalasnya dengan memberinya banyak koin emas, namun Al-Biruni menolaknya dan mengembalikannya ke Baitulmal.

Sikap tawadhu’ merupakan sifat yang sangat dominan pada Al-Biruni. Ia berpendapat bahwa seorang ilmuwan hendaknya melepaskan diri dari kecenderungan hawa nafsu dan keinginan pribadi, lalu dia melakukan penelitian dengan objektif, karena itulah memang tugas hakiki dari seorang ilmuwan, dan bukan untuk membanggakan diri dengan Penemuannya. Sikap tawadhu’ inilah yang membuatnya tidak ingin populer di kalangan umum dan mendapatkan pujian dari mereka, sekalipun ia memiliki hubungan dekat dengan sultan-sultan dan memiliki jabatan yang tinggi.

Penelitian dan Penemuan Ilmiah Al-Biruni

blank
Sumber Gambar: http://www.skyscript.co.uk/im/alb1.gif

Al-Biruni merupakan ilmuwan serbabisa, sehingga ia juga dijuluki sebagai “Guru Segala Ilmu”. Al-Biruni tidak mempelajari dan menguasai suatu ilmu dalam bidang apa pun kecuali dia akan menulis buku tentang hal tersebut. Berikut beberapa penelitian dan penemuannya:

1. Ilmu Matematika: Ajabar, Geometri, Hitungan Trigonometri, Kalkulus, Aritmatika.

a. Aljabar: Al-Biruni mempelajari karya Al-Khawarizmi dalam Aljabar dan memberikan penambahan padanya, ia juga menyusun kaidah-kaidah geometri.

b. Geometri: Al-Biruni membuat dasar-dasar gambar pada permukaan bola, membuat rumus-rumus matematika untuk menghitung lingkaran bumi dan diameternya yang dikenal dengan rumus Al-Biruni, ia juga menyelesaikan soal-soal yang dikenal dengan sebutan soal-soal Al-Biruni, yaitu soal-soal yang tidak dapat diselesaikan dengan penggaris dan jangka.

c. Hitungan Trigonometri: Al-Biruni berhasil menemukan rumus-rumus yang sesuai dengan sinus, ia membuat tabel-tabel matematika bagi sinus sudut dan bayangannya, ia membahas sudut segitiga dan membaginya secara rata.

d. Kalkulus: Al-Biruni berhasil membuat rumus kalkulus yang ditemukan oleh Tsabit bin Qurah dengan menggunakan bukti-bukti geometris. Penemuan ini akhirnya diklaim sebagai penemuan Isaac Newton oleh orang Barat.

e. Aritmatika (ilmu hitung): Al-Biruni memiliki beberapa buku yang dikarangnya dalam aritmatika, ia juga menulis buku tentang sejarah angka India dan perpindahannya ke Arab serta Pengembangannya seperti yang kita kenal sekarang.

2. Bidang Fisika: Al-Biruni mengembangkan cara dan menemukan peralatan untuk menentukan timbangan logam dengan tingkat akurasi yang tinggi mendekati cara-cara yang ada pada masa sekarang, ia menerangkan fenomena khusus yang berhubungan dengan tekanan zat cair gas dan keseimbangannya. Ia juga menjelaskan mengapa air menguap dan mata air naik ke atas. Untuk mengetahui fenomena ini, ia menggunakan rumus-rumus hidrostatistik.

Al-Biruni juga telah mendahului para ilmuwan pada masanya dalam menyimpulkan bahwa kecepatan cahaya melebihi kecepatan suara. Ia sependapat dengan Ibnul Haitsam dalam menentang pendapat Galenus, dan mengatakan bahwa sinar cahaya bersumber dari objek benda yang dilihat ke mata.

3. Bidang Geologi dan Ilmu Pertambangan: Al-Biruni memperingatkan terjadinya dua fenomena, yaitu; “terbenamnya daratan oleh air laut” dan “penyurutan air laut” baik pada masa lampau sebelum terciptanya manusia, maupun setelahnya. Ia menjelaskan secara khusus bahwa jazirah Arab telah ditenggelamkan oleh air laut sebelum air laut itu menyusut kembali dan meninggalkan bekas-bekasnya pada lapisan bumi dan tanda-tandanya di batu dan karang.

Sebagaimana dia juga menjelaskan bahwa lembah sungai As-Sanad sebelumnya adalah laut sebelum ditanami pohon-pohon yang akhirnya menutupi sungai itu selamanya. Dari tulisan-tulisan Al-Biruni nampak jelas bahwa ia mengetahui hakikat perubahan yang terjadi pada kulit bumi, dan bahwa perubahan itu terjadi secara pelan dan bertahap dalam jangka waktu yang sangat paniang, atau seperti yang kita ketahui dengan istilah sekarang “Eon dan masa geologi.” Bahkan dia juga mengetahui hakikat dan sisa-sisa kehidupan masa lalu di bumi dari hasil penggalian. Kedua hal ini tidak diketahui oleh bangsa Eropa kecuali setelah masa kebangkitan, dengan selisih waktu bertahun-tahun.

Dalam bukunya, ” Al-lamahir Ei Ma’rifatil lawahir,” Al-Biruni telah menggagas dasar-dasar ilmiah bagi ilmu pertambangan dan cara menambang. Ia kemudian menulis buku tentang logam berdasarkan fungsinya secara fisika. Ia juga membuat dasar-dasar ukuran kekerasan logam yang dipergunakan sekarang. Buku ini terdiri dari penielasan tentang berbagai macam logam, tempat-tempat asalnya, cara mengeluarkannya dari tambang, campuran dan jenis kotoran yang ada padanya, dan berbagai macam manfaatnya.

Sedangkan dalam buku “Maqalah Fin Nasab Allati Baina Al-Falzat Wal lawahir Eil Haim,” Al-Biruni memaparkan hasil penelitiannya tentang timbangan delapan belas jenis logam dan batu. Timbangan-timbangan ini sangat mendekati hasil penelitian modern, sekalipun telah berlalu seribu tahun antara masa Al-Biruni dengan masa kita. Karena itu, tidak diragukan bahwa hal ini merupakan suatu penemuan ilmiah yang besar.

4. Ilmu Astronomi: Al-Biruni adalah orang yang pertama kali menyimpulkan adanya pergerakan titik matahari yang terjauh dari bumi. Sebagaimana ia juga membuat tabel-tabel astronomi baru berdasarkan hasil penelitiannya dalam meneropong bintang-bintang. Ia bahkan mengkritisi tabel-tabel astronomi yang dibuat oleh para ilmuwan sebelumnya dan memperbaikinya.

Dalam dua bukunya yang berjudul, “Al-Qanun Al-Mas’udi Fi Al-Hai’ah Wa An-Nujum” dan “At-Tafhim li Awa’il Shina’at At-Tanjim,” Al-Biruni menulis sebagian besar hasil penelitiannya dalam ilmu astronomi. Sebagaimana juga dalam buku yang pertama ini, ia mengumpulkan hasil penelitiannya dalam meneropong bintang-bintang dan berbagai teori astronomi yang dikritisinya secara objektif.

Berikut sebagian karya Al-Biruni dalam ilmu astronomi:

  • Al-Qanun Al-Mas’udi Fi AL-Hai’ah Wa An-Nujum
  • At-TafhimLi Awa’il Shina’at At-Taniim
  • Kitab Maqalid Al-llmi Al-Hai’ah Wa Ma Yahduts Fi Basithat Al-Kurrah
  • Kitab Istisyhad Bi lkhtilaf Al-Arshad
  • Kitab Ath-Thatbiq llaTahqiq Harakat Asy-Syams
  • Kitab Fi Tahqiq Manazil Al-Qamar
  • Kitab Kurriyat As-Sama
  • Kitab Ru’yat Al-Ahillah
  • Kitab Al-Amal Bi Al-lstharlab
  • Kitab Dawa’ir As-Samawat Ei Al-lstharlab
  • Kitab lsti’ab Al-Wujuh Al-Mumkinah Fi Shifat Al-lstharlab
  • lfrad Al-Maqal Fi Amri Azh-Zhilal
  • Kitab Tashwir Al- Amri Al-Fajri Wa Asy-Syafqi Fi Jihati Asy-syarqi Wa Al-Gharbi Min Al-Ufuq.
  • Dan masih banyak lagi kitab karyanya yang lain.

5. Bidang Geografi: Al-Biruni menjelaskan bahwa planet-planet yang kita kenal beredar di sekitar matahari, dan bahwa perbedaan antara malam dan siang disebabkan oleh perputaran bumi pada dirinya dan bukan karena perputaran matahari. Ini merupakan suatu penemuan wawasan yang baru mendahului para astronom Barat seperti Copernicus dan Galelio dengan selisih jarak sekitar 5 abad. Itupun kalau pemikiran keduanya bukan berasal dari pemikiran Al-Biruni yang didapatkan dari buku-bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Buku Al-Biruni yang berjudul ” Shifatul Mamurah” dianggap sebagai sumber rujukan penting bagi ilmu pengetahuan geografi, terutama karena ia banyak mengkritisi buku-buku geografi yang ada pada masanya.

Secara khusus, Al-Biruni unggul dalam geografi matematika, terutama yang berhubungan dengan penentuan garis lintang dan bujur serta jarak antara negara yang satu dengan lainnya, dan ilmu topografi (Ilmu pergerakan bumi). Al-Biruni juga mengukur lingkaran bumi dengan menggunakan matematika geografi. Di Barat, cara ini dikenal dengan sebutan “teori Al-Biruni.” Menurut seorang orientalis, Nallino, “Pengukuran yang dilakukan oleh Al-Biruni pada lingkaran bumi merupakan salah satu efek dari peradaban Islam.” Al-Biruni juga menguasai studi tentang pemerataan bola bumi, memindahkan gambar bumi yang berbentuk bola ke atas kertas dengan membuatnya secara rata dan lurus, tanpa menghilangkan keserasian bagian-bagiannya.

blank
Patung Al-Biruni di Park-e Laleh, Teheran, Iran. Sumber Gambar: https://asset.kompas.com/crops/SBkUHyo_234zzoCekvzM36vP2iE=/0x36:800×570/750×500/data/photo/2022/04/23/62631c8e8a05e.jpg

Dalam sebagian bukunya, Al-Biruni mengkritisi pendapat para ilmuwan Yunani dan India tentang pembagian bola bumi dan penyebaran pemukiman di atas bumi. Hasilnya, dia menolak pemikiran orang-orang Yunani dan India yang mengatakan bahwa separuh bagian dari bumi di sebelah Barat tidak dapat ditempati. Sebagai bukti dari kelirunya pendapat orang-orang India ini, ternyata Columbus menemukan dunia baru di belahan Barat bumi.

6. Bidang Biologi: Al-Biruni dalam buku-bukunya memaparkan tentang perilaku menyimpang pada tumbuh-tumbuhan dan hewan (seperti fenomena kembar siam), dan menerangkan fenomena perkawinan pada beberapa jenis daun bunga.

7. Bidang Farmakologi: Al-Biruni menulis buku berjudul “Kitab Ash-Shaidalah Fith Thib” yang disusun berdasarkan huruf abjad dan berisi tentang berbagai macam obat-obatan serta pendapat orang-orang terdahulu tentang obat-obatan tersebut.

8. Bidang Humaniora dan Sastra: Bidang sejarah, bidang filsafat, bidang sastra

a. Bidang sejarah: Al-Biruni menulis buku “Tahqiq Ma Li Al-Hindi Min Maqulah Maqbulah Fi Al-Aqli Au Mardzautilah,” atau yang lebih dikenal dengan nama “Thariq Al-Hindi.” Buku ini berisi pengetahuan yang benar dan akurat yang ia kumpulkan dari India selama empat puluh tahun. Buku ini mengupas permasalahan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya di India, seperti sastra, kehidupan beragama, filsafat, adat, dan tradisi masyarakat setempat. Buku ini menjadi rujukan dunia tentang India dan seluk beluk kondisi negaranya, serta diterjemahkan oleh seorang orientalis Jerman, Schau, ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan di London pada tahun 1887 M.

Al-Biruni juga menulis buku yang berjudul “Al-Atsar Al-Baqiyah Min Al-Qurun Al-Khaliyah” pada masa mudanya ketika ia masih berada di Istana Jurjan. Buku ini menjadi dasar penentuan berbagai kalender dari semua suku bangsa di dunia, hari raya, dan musim-musimnya. Ia melakukan studi banding antara kondisi sebelumnya dengan keadaan pada masanya. Ia menjelaskan tentang bagaimana sejarah yang bermacam-macam bisa bertemu. Di samping itu, ia juga membuat tabel-tabel khusus tentang nama-nama bulan Persia, Turki, India, Iberia dan Romawi. Penulisan buku ini sebenarnya tidak terlepas dari penelitiannya dalam ilmu astronomi, matematika, dan fisika.

b. Bidang Filsafat: Al-Biruni memiliki beberapa karya dalam bidang filsafat, karena ketika menetap di India dia belajar ilmu filsafat India dan mengajarkan filsafat Yunani kepada orang-orang India. Selain itu, Al-Biruni juga melakukan korespondensi dengan Ibnu Sina yang membahas tentang perbandingan antara berbagai aliran filsafat dan sufi di kalangan orang-orang India, umat kristiani, dan masyarakat muslim.

c. Bidang Sastra: Al-Biruni banyak mendapatkan pengalaman di bidang kebudayaan dan sastra, dan menulis buku tentang hal itu, seperti ” Syarhu Syi’ri Abi Tamam,” dan ” Mukhtar Al- Asy’ar Wa Al-Atsar. “

Kawah Al-Biruni

Pada tahun 1970 M, International Astronomical Union (IAU) menyematkan nama Al-Biruni pada salah satu kawah di bulan untuk menghormati dan mengenang Al-Biruni.

blank
Kawah bulan yang diberi nama Al-Biruni. Sumber Gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/6a/Al-Biruni_crater_AS16-P-5532_ASU.jpg

Referensi:

1. Muhammad Gharib Jaudah. 147 Ilmuwan Terkemuka dalam Sejarah Islam. Terjemahan oleh H. Muhyiddin Mas Rida, Lc. Pustaka Al-Kautsar-Penerbit Buku Islam Utama

2. Muhammad Khalil. 2018. Wonderful Islam, Penemuan dan Fakta-fakta Mengagumkan Tentang Dunia Islam. QultumMedia

3. Wikipedia The Free Encyclopedia. Al-Biruni. (https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni). Diakses 03 Juni 2022.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 1

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Era Jumiati M. Saleh
Follow me
Cari artikel lain: Baca artikel lain:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.