Mengulas Astronomi (Ilmu Falak) Dalam Sudut Pandang Islam

blank

Al-Quran sebagai kitab suci yang mengklaim dirinya berlaku hingga akhir zaman, tentunya akan selalu mendapatkan tantangan dari peradaban yang terus berkembang. Perkembangan peradaban menuntut Al-Quran untuk selalu membuktikan kebenaran dan kesuciannya sebagai Firman Allah yang sudah terjamin tidak terdapat kesalahan di dalamnya (Mustofa, 2013).

Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi manusia yang mencakup segala aspek kehidupan. Tidak terkecuali tentang bidang sains seperti astronomi yang menjadi salah satu pilar perkembangan peradaban manusia. Ilmu astronomi sebagai salah satu alternatif tafsir Al-Quran merupakan bentuk penafsiran yang bersifat saintifik atau menggunakan keilmuan kealaman. Kandungan materi dalam ilmu astronomi dapat menolong umat Islam dalam menjalankan ajarannya, contohnya membantu dalam menunjukkan arah kiblat dan menentukan hari raya atau awal Ramadhan.

Ilmuwan muslim lebih banyak mengenal astronomi dengan istilah ilmu falak. Meski begitu, ruang lingkup pembahasan ilmu falak lebih luas daripada astronomi. Namun, ada persamaan tentang pembahasan ilmu yang berkaitan dengan benda-benda langit yang membuat kedua istilah itu bisa saling setara. Ilmu falak merupakan salah satu ilmu langka yang manusia pelajari. Pernyataan ini berdasarkan alasan bahwa hanya 5 program studi yang murni mempelajari ilmu falak di beberapa universitas di Indonesia (Pasaribu, 2020).

Ilmuwan muslim berbicara Ilmu Astronomi

Ada banyak ilmuwan muslim yang mempelajari ilmu astronomi. Salah satunya Al Farabi dalam karyanya Ihsha’ al-‘Ulum (Klasifikasi ilmu). Al Farabi menyebut astronomi dengan ilmu nujum. Al Farabi mengategorikan ilmu nujum ke dalam dua bagian yaitu :

  1. Ilmu nujum peramalan benda-benda langit untuk masa yang akan datang
  2. Ilmu nujum untuk pendidikan (astronomi)

Selanjutnya Al Khawarizmi dalam karyanya Mafatih al-‘Ulum (Kunci-Kunci Ilmu Pengetahuan). Al Khawarizmi menyebut ilmu astronomi dengan hai’ah. Hai’ah artinya ilmu mengetahui tata susun orbit-orbit benda langit. Selain itu, ada beberapa ilmuwan lain yang menyebut ilmu astronomi dengan hai’ah yaitu Al Akfani, Ibnu Khaldun, dan Thasy Kubri Zadah.

Baca juga : Pengembangan dan Pemanfaatan IPTEK dengan Etika Al Quran

Namun, pengembangan ilmu astronomi pada masa ilmuwan islam masih bercampur antara kajian teoretis-matematis dengan kajian mistis. Hal ini tidak lain karena masih adanya praktik astrologi – ilmu tentang ramalan perbintangan. Ilmu astrologi itu pada dasarnya bertentangan dengan sumber hukum Islam yaitu al Quran dan as Sunah.

Ayat astronomi dalam Al Quran

Ada berbagai ayat astronomi yang terukir indah di dalam al Quran. Ayat tersebut tentu perlu ditadzaburi sebagai bagian mempelajari al Quran. Dalam perkembangan teknologi yang begitu pesat, al Quran selalu menunjukkan hal yang baru. Meski al Quran adalah kitab yang diwahyukan sejak 14 abad lalu, justru kebenarannya semakin terungkap dengan berjalannya waktu.

Hal ini tentu sangat menarik kaitannya dengan apakah di masa depan al Quran akan tetap dapat membuktikan kebenarannya? Wallahu’alam. Sebagai seorang pelajar muslim tentu kepercayaan bahwa al Quran benar adalah mutlak. Namun, sebagai pelajar ilmu sains perlu mengawal kebenaran itu melalui kajian-kajian teoretis-matematis yang mendukung kebenaran al Quran. Dengan demikian perspektif dikotomi ilmu-agama dapat dihilangkan melalui kacamata Islam.

Ada berbagai penjelasan ilmu astronomi di dalam al Quran. Salah satunya terkait dengan peredaran benda-benda langit. Namun, al Quran yang menggunakan bahasa amat tinggi membuat manusia terkadang salah dalam memberikan tafsiran sehingga pemaknaannya menjadi multi makna. Tentu dalam memaknai al Quran perlu meluruskan niat untuk menemukan kebenaran agar tafsiran dapat mengarah kepada kebenaran mutlak.

blank

Baca juga : bisakah manusia menjelajah alam semesta

Dalam al Quran surah al Anbiya ayat 33, ada berbagai pengkritik yang menganggap bahwa ayat itu mengandung konsep geosentris. Padahal, pada dasarnya ayat tersebut hanya menjelaskan mengenai matahari dan bulan yang memiliki garis edar masing-masing (Mustofa, 2013).

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Artinya :

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”

Berdasarkan satu contoh tersebut, pencari kebenaran harus berusaha sebaik-baiknya dalam mengartikan ayat. Ketika menadzaburi al Quran pun harus dengan niat yang baik untuk mencari kebenaran. Hal itu sangat penting karena bahasa al Quran merupakan bahasa yang tidak mudah diartikan oleh manusia.

Baca juga:

Daftar Pustaka

  • Mustofa, A. (2013). Menjawab Tudingan Kesalahan Saintifik Al-Quran. Padma Press.
  • Pasaribu, M. (2020). Pembelajaran Ilmu Falak di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Al-Marsyad: Jurnal Astronomi Islam Dan Ilmu-Ilmu Berkaitan, 6(02 Desember). https://doi.org/10.30596/jam.
  •  QS. [21] : 33, lihat https://quran.com/21/33
Firman Hardianto
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *