Pengembangan dan Pemanfaatan IPTEK Dengan Etika Al Quran

blank

“Science without religion is lame, religion without science is blind.”

(Sains tanpa agama menjadi lumpuh, agama tanpa sains menjadi buta)

Albert Einstein

blank

Pengembangan dan pemanfaatan IPTEK memerlukan suatu bentuk etika. IPTEK sebagai sains dan nilai etika yang terwakili oleh agama memiliki hubungan korelatif. Albert Einstein menjelaskan hubungan agama dan sains sebagai kesatuan yang padu. Kalimat tersebut memberikan gambaran apa yang terjadi jika keduanya saling terpisahkan. Barbour dalam kajian When Science Meets Religion : Enemies, Strangers, or Partners? memetakan hubungan antara agama dan sains ke dalam empat tipologi :

  1. Conflict (ketika sains dan agama saling bertentangan)
  2. Independence (ketika sains dan agama tidak saling bersinggungan, berjalan sesuai tujuan masing-masing)
  3. Dialogue (ketika sains dan agama saling terbuka dan menghormati satu sama lain)
  4. Integration (ketika sains dan agama saling memiliki keyakinan bahwa tujuan keduanya adalah satu)

Para cendekiawan muslim memberikan gagasan unity of science yang menyatakan bahwa agama (Islam) dan sains merupakan satu kesatuan. Agama sebagai ilmu mutlak dan sains sebagai ilmu relatif yang mencoba menjelaskan ayat-ayat alam semesta.

Rifqi (2020) menjelaskan bahwa sains adalah setetes ilmu Allah yang diajarkan-Nya pada manusia untuk memahami perilaku alam. Melalui sains, manusia hanya menjelaskan kejadian yang secara alami telah ada di alam. Tetapi pemahaman alam dapat dipahami tanpa harus mempelajari sains terlebih dahulu. Misalkan ketika seseorang belum memahami hukum Archimides, orang itu tetap dapat memahami bahwa dahan pisang akan mengambang jika berada di sungai.

Allah menciptakan manusia dengan segenap potensi yang lebih daripada makhluk lain di  muka bumi. Manusia tercipta dengan akal dan nafsu. Akal sebagai petunjuk untuk berpikir dan nafsu sebagai penggugah gairah dalam memenuhi kebutuhannya. Dilansir dari republika.co.id (2009) di setiap zaman justru sebagian besar manusia lebih tidak terkendali dalam memenuhi kebutuhan hawa nafsunya daripada dengan binatang. Hal tersebut terjadi karena manusia tidak bisa mengendalikan diri dan hawa nafsunya. Dalam hal demikian fungsi akal sebagai alat berpikir kurang terlihat karena justru tertutup oleh hawa nafsu. Ini semua bisa terjadi jika tidak ada kendali agama dalam kehidupan.

Pengembangan IPTEK

Dewasa ini pengembangan dan pemanfaatan IPTEK terjadi secara masif. Zar (2017) menyatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang dilandasi paham sekuler dapat menyebabkan tindakan yang keliru. Ketika terjadi tindakan yang keliru maka sangat riskan membawa manusia pada kesengsaraan. Sedikit contoh yang dapat kita renungkan adalah mengenai senjata. Senjata canggih merupakan salah satu hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan. Sisi positifnya, senjata dapat memperkuat pertahanan manusia dari bahaya yang mengancam. Namun sisi negatifnya senjata yang disalahgunakan oleh manusia dapat menjadi bumerang bagi kehidupan manusia.

Dalam situasi keilmuan, Islam dan Al Quran hadir sebagai nilai etika pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Kusuma (2020) menjelaskan bahwa karya sains harus memuat nilai etika. Ketika ilmuwan menciptakan karya sains untuk menghancurkan umat manusia, maka hal tersebut sangat terlarang dalam Islam. Artinya sebuah karya sains harus bertujuan untuk kebermanfaatan umat sehingga tidak menimbulkan kerusakan.

blank

Pemuatan nilai etika tidak hanya terkhususkan pada satu bidang ilmu saja tetapi semuanya. Setiap pengembangan ilmu pengetahuan sangat memerlukan nilai kebermanfaatan bagi umat di dalamnya. Nilai etika juga berlaku dalam penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penempatan nilai etika dalam pengembangan dan pemanfaatan ilmu akan membawa ilmu kembali pada fitrahnya. Sebagaimana penjelasan Al Ghazali yaitu ilmu bukan untuk ilmu, tapi ilmu untuk kemakmuran manusia (Muhaya, 2015).

Daftar Pustaka

  • https://www.republika.co.id/berita/49199/manusia-dan-akal diakses pada 31 Maret 2021
  • Kusuma, H. H. (2020). Kajian Sains Dalam Perspektif Al-Qur’an (Cetakan Pe). Lawwana.
  • Muhaya, A. (2015). Unity of Sciences According To Al-Ghazali. Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 23(2), 311. https://doi.org/10.21580/ws.23.2.281
  • Rifqi, M. (2020). Tuhan Dalam Rumus-Rumus Fisika (Cetakan Pe). Ellunar Publisher.
  • Zar, S. (2017). Internalisasi Nilai-Nilai Al-Qur’an Terhadap Ilmu dan Pendidikan Dalam Islam. Majalah Ilmu Pengetahuan Dan Pemikiran Keagamaan Tajdid, 20(1). https://doi.org/10.1088/1751-8113/44/8/085201

Firman Hardianto
Latest posts by Firman Hardianto (see all)
Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar