Fahrul Nurkolis: Ilmuwan Muda Indonesia Penemu Senyawa Antikanker dan Antidiabetes dari Tanaman Lokal

Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan lebih dari 30.000 jenis tanaman, yang banyak di antaranya memiliki potensi sebagai sumber obat alami. Namun, pemanfaatan potensi ini masih belum optimal, baik dari segi riset maupun hilirisasi produk.

Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan lebih dari 30.000 jenis tanaman, yang banyak di antaranya memiliki potensi sebagai sumber obat alami. Namun, pemanfaatan potensi ini masih belum optimal, baik dari segi riset maupun hilirisasi produk. Di tengah tantangan ini, hadir sosok Fahrul Nurkolis, peneliti muda dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang berhasil menemukan senyawa alami dari tanaman lokal dengan potensi antikanker dan antidiabetes, serta telah memperoleh hak paten atas penemuannya.

Biodiversitas Indonesia: Laboratorium Alam yang Belum Tergali Optimal

Tanaman obat tradisional telah digunakan selama ribuan tahun dalam pengobatan masyarakat Indonesia. Namun, hanya sebagian kecil yang sudah diteliti secara ilmiah hingga ke tingkat senyawa aktif dan mekanisme kerjanya. Fahrul Nurkolis berfokus pada pengembangan fitofarmaka berbasis kombinasi tanaman herbal asli Indonesia, yaitu:

  1. Echinacea purpurea

Tanaman ini berasal dari Amerika Utara dan telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh. Senyawa aktifnya meliputi polisakarida, alkilamida, dan asam kafeat derivatif (seperti chicoric acid), yang berperan dalam merangsang fagositosis, meningkatkan produksi sitokin, dan aktivasi makrofag.

Studi menunjukkan bahwa ekstrak Echinacea purpurea dapat mengurangi durasi dan keparahan infeksi saluran pernapasan atas, serta menunjukkan aktivitas antivirus dan antiradang (Shah et al., 2007).

  1. Eleutherine palmifolia (Bawang Dayak)

Bawang Dayak dikenal dalam pengobatan tradisional Kalimantan sebagai antiinfeksi, antipiretik, dan antikanker. Kandungan utamanya adalah flavonoid (seperti quercetin, luteolin), naftokuinon, dan alkaloid, yang memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker.

  1. Caulerpa sp. (Anggur Laut)
    Caulerpa adalah genus alga hijau laut yang kaya akan fenolik, karotenoid, vitamin C, dan senyawa polisakarida sulfat. Studi terbaru menyebutkan adanya kandungan senyawa peptida bioaktif yang berpotensi sebagai antidiabetes melalui mekanisme penghambatan enzim α-glukosidase.

Gambar (a) Echinacea purpurea (bunga kerucut ungu); (b) Eleutherine palmifolia (Bawang Dayak); dan (c) Caulerpa sp. (Anggur Laut)

Ketiga tanaman ini diekstraksi dan dikombinasikan dalam bentuk kapsul herbal yang dikembangkan secara ilmiah melalui berbagai uji farmakologi dan in silico.

Penemuan Peptida Pudjialanine Rudyline dari Anggur Laut

Salah satu inovasi Fahrul yang berhasil dipatenkan adalah senyawa peptida Pudjialanine Rudyline, hasil isolasi dari Caulerpa sp., yang memiliki aktivitas menurunkan kadar gula darah. Penelitian dilakukan dengan pendekatan in silico menggunakan metode molecular docking terhadap enzim α-glukosidase, yang berperan penting dalam metabolisme karbohidrat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa ini memiliki afinitas pengikatan yang kuat terhadap α-glukosidase, yang berpotensi menurunkan glukosa darah dengan mekanisme serupa seperti obat acarbose, namun dengan efek samping yang lebih minimal karena berasal dari bahan alami.

“Senyawa ini menginduksi penghambatan α-glukosidase dan berpotensi menekan lonjakan glukosa postprandial,” ujar Fahrul dalam wawancaranya bersama Kompas Edu (2025).

Potensi Antikanker: Induksi Apoptosis pada Sel Abnormal

Selain efek antidiabetes, senyawa gabungan dari tiga tanaman herbal tersebut juga menunjukkan aktivitas antikanker. Berdasarkan studi sitotoksik terhadap beberapa garis sel kanker (seperti sel kanker payudara dan kanker serviks), ekstrak gabungan menunjukkan kemampuan dalam:

  • Menghambat proliferasi sel kanker
  • Menginduksi apoptosis (kematian sel terprogram)
  • Menghambat angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru yang memberi makan tumor)

Mekanisme ini menjadikan formulasi herbal Fahrul sebagai kandidat terapi kanker berbasis bahan alam yang menjanjikan.

Baca juga artikel tentang artikel antikanker

Validasi Ilmiah dan Hak Paten

Penemuan Fahrul telah melalui proses pengujian farmakologi in vitro dan in silico, dan kini tengah bersiap memasuki tahap uji praklinik. Pada 24 November 2024, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkumham resmi mengeluarkan sertifikat paten atas invensi peptida Pudjialanine Rudyline untuk indikasi antidiabetes dengan nomor paten IDP000092119.

Selain itu, Fahrul juga tengah mengajukan paten atas kombinasi tiga bahan herbal sebagai agen antikanker dan antidiabetes. Menurutnya, kombinasi senyawa bioaktif secara sinergis dapat menghasilkan efek farmakologi yang lebih kuat dibanding penggunaan tunggal.

Tantangan Hilirisasi dan Harapan untuk Riset Herbal Indonesia

Meskipun telah memperoleh paten, Fahrul menyadari tantangan besar dalam hilirisasi produk riset di Indonesia. Mulai dari keterbatasan infrastruktur laboratorium, pendanaan, hingga regulasi BPOM yang cukup kompleks menjadi hambatan bagi para peneliti muda untuk membawa inovasinya ke pasar.

“Saya berharap riset ini tidak berhenti di jurnal, tetapi bisa menjadi produk nyata di masyarakat,” tutur Fahrul.

Ia juga aktif mengampanyekan pentingnya hilirisasi riset bahan alam melalui kerja sama antara universitas, industri farmasi, dan pemerintah. Dengan demikian, inovasi lokal bisa menjadi solusi kesehatan yang murah, efektif, dan berbasis kearifan lokal.

Dedikasi dalam Dunia Sains

Fahrul Nurkolis bukan hanya penemu, tetapi juga seorang peneliti produktif. Di usia 25 tahun, ia telah memiliki lebih dari 105 publikasi ilmiah, baik di jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi. Ia juga aktif menjadi pembicara dalam berbagai forum ilmiah nasional dan internasional, serta pembimbing mahasiswa dalam riset herbal dan bioinformatika.

Penemuan Fahrul Nurkolis menjadi bukti bahwa kekayaan alam Indonesia dan keilmuan anak bangsa bisa bersinergi menghasilkan inovasi farmasi yang relevan secara global. Dalam era meningkatnya resistensi obat dan efek samping terapi modern, pendekatan berbasis herbal yang ilmiah menjadi harapan baru dalam dunia kesehatan.

Melalui kerja keras, dedikasi, dan dukungan lintas sektor, kita berharap lebih banyak peneliti muda Indonesia seperti Fahrul yang mampu mengangkat riset lokal ke panggung dunia.

Referensi

  1. Kompas.com. (7 Maret 2025). Sosok Fahrul, Peneliti Muda UIN Sunan Kalijaga Raih Paten Antikanker dan Antidiabetes. Diakses dari https://www.kompas.com/edu/read/2025/03/07/071400471/sosok-fahrul-peneliti-muda-uin-sunan-kalijaga-raih-paten-antikanker-dan pada 17 April 2025
  2. Tempo.co. (4 Maret 2025). Peneliti Muda UIN Sunan Kalijaga Raih Paten Senyawa Anti Diabetes, Serukan Hilirisasi Riset. Diakses dari https://www.tempo.co/sains/peneliti-muda-uin-sunan-kalijaga-raih-paten-senyawa-anti-diabetes-serukan-hilirisasi-riset-1215050 pada 17 April 2025
  3. Radar Lawu. (7 Maret 2025). Fahrul Nurkolis Kantongi Hak Paten Senyawa Antikanker dan Antidiabetes, Gagas Hilirisasi Riset Bahan Alam Indonesia. Diakses dari https://radarlawu.jawapos.com/nasional/2205732181/fahrul-nurkolis-kantongi-hak-paten-senyawa-antikanker-dan-antidiabetes-gagas-hilirisasi-riset-bahan-alam-indonesia pada 17 April 2025
  4. Shah, S. A., Sander, S., White, C. M., Rinaldi, M., & Coleman, C. I. (2007). Evaluation of echinacea for the prevention and treatment of the common cold: a meta-analysis. The Lancet Infectious Diseases, 7(7), 473–480. https://doi.org/10.1016/S1473-3099(07)70160-3​
  5. Harlita, T. D., Oedjijono, & Asnani, A. (2018). The Antibacterial Activity of Dayak Onion (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) towards Pathogenic Bacteria. Tropical Life Sciences Research, 29(2), 39–52. https://doi.org/10.21315/tlsr2018.29.2.4
  6. Zubia, M., Robledo, D., & Freile-Pelegrin, Y. (2007). Antioxidant activities in tropical marine macroalgae from the Yucatan Peninsula, Mexico. Journal of Applied Phycology, 19(5), 449–458. https://doi.org/10.1007/s10811-006-9152-5
  7. Burlou-Nagy, C., Bănică, F., Jurca, T., Vicaș, L. G., Marian, E., Mureșan, M. E., Bácskay, I., Kiss, R., & Fehér, P. (2022). Echinacea purpurea (L.) Moench: Biological and Pharmacological Properties. A Review. Plants, 11(9), 1244. https://doi.org/10.3390/plants11091244

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top