Lantai beralaskan tanah, tikus-tikus berlarian di antara genangan air, di bawah naungan terpal biru yang khas, inilah hal yang umum terlihat dari pasar tradisional di tahun 2026, salah satunya dapat dijumpai di Pasar Pagi Setia Budi Medan atau yang biasa disebut orang Medan sebagai ‘Pajak Setia Budi’. Tempat ini merupakan salah satu dari sekian banyaknya pasar tradisional yang masih eksis di Kota Medan dan beralamat di Jl. Setia Budi Pasar II, Kel. Tanjung Rejo, Kec. Medan Sunggal.
Ketika sebagian dari kita masih terlelap, para pedagang di Pasar Setia Budi ini sudah terlebih dahulu memulai hiruk-pikuknya di kios masing-masing. Suara tawar-menawar bersahutan, langkah kaki pembeli menyusuri lorong pasar, dan tangan-tangan pedagang sibuk menata sayuran segar yang baru saja diturunkan dari becak motor.
Sekilas, memang tidak ada perubahan tampak luar dari pasar yang telah melintasi tiga dekade ini, namun terdapat sebuah kebiasaan para pedagang yang baru-baru saja muncul akibat disrupsi digital di tengah masyarakat kita. Perubahan itu menyusup melalui gawai pintar yang ada di saku celana mereka. Mulai dari pembayaran secara non tunai (QRIS atau e-wallet) hingga pemesanan online. Gawai kini menjelma sebagai asisten pribadi pedagang-pedagang pasar tradisional
Bagi sebagian pedagang yang rata-rata saat ini melanjutkan bisnis keluarganya sejak tahun 1990, ponsel kini bukan sekadar alat komunikasi semata, melainkan cara baru untuk mempertahankan pelanggan. Pesanan mulai berdatangan melalui Whatsapp dan pembayaran tak lagi selalu bergantung pada uang tunai. QRIS perlahan menjadi pilihan favorit bagi pembeli yang ingin bertransaksi lebih praktis. Namun, di balik perubahan tersebut, ada sesuatu yang tetap bertahan, sapaan akrab antara pedagang dan pelanggan, tawar-menawar yang menjadi ciri khas pasar tradisional, serta kepercayaan yang tumbuh dari pertemuan sehari-hari.
Selama kurang lebih 25 tahun berjualan di Pasar Pagi Setia Budi, Rika Ginting telah membangun hubungan dengan pelanggan melalui pertemuan langsung di lapaknya. Ia mengenal pelanggan yang datang, melayani kebutuhan mereka, dan menjalani rutinitas berdagang dari hari ke hari. Kini, kebiasaan tersebut mulai dilengkapi dengan kehadiran WhatsApp. Melalui pesan singkat, pelanggan yang sudah mengenalnya dapat memesan sayuran tanpa harus selalu datang ke pasar. Beberapa di antaranya bahkan memilih membayar melalui transfer sebelum mengambil pesanan.
Di lapak lain, cerita serupa datang dari Novi, pemilik Kedai Novi yang telah berjualan sejak 2015. Usaha tersebut merupakan warisan keluarga yang ia teruskan dari ibunya. Seiring waktu, Novi mulai melayani pesanan dari pelanggan yang telah menyimpan nomor teleponnya. Melalui WhatsApp, mereka dapat memesan kebutuhan lebih dahulu sebelum datang ke pasar, sehingga barang yang diinginkan bisa disiapkan lebih awal.
Selain menerima pesanan, Novi juga menyediakan pembayaran menggunakan QRIS. Meski tidak selalu memajang kode tersebut di lapaknya, Novi akan menunjukkannya ketika ada pelanggan yang ingin menggunakannya. Di tengah perubahan itu, ia tetap menyambut pembeli yang datang langsung, melayani kebutuhan mereka, dan meneruskan usaha keluarga yang telah menjadi bagian dari kehidupannya. Di lapak sederhana itu, kebiasaan lama dan cara baru berjualan berjalan berdampingan.
Sementara Rika dan Novi melayani pesanan melalui WhatsApp untuk melayani pelanggan, Yusril Ginting, pedagang di Kedai Sayur Mamak Alpon, membawa usahanya ke jangkauan yang lebih luas. Usaha keluarga yang telah bertahan selama lebih dari 30 tahun itu kini tidak hanya melayani pembeli yang datang langsung ke kedai, tetapi juga menerima pesanan melalui aplikasi Grab. Bagi pelanggan yang ingin bertransaksi tanpa uang tunai, Yusril turut menyediakan pembayaran menggunakan QRIS.
Penerapan QRIS oleh para pedagang ini bak gayung bersambut dengan kebutuhan dan preferensi pembeli yang berbelanja di Pasar Tradisional Setia Budi Medan ini, seperti Mbak Yuni, ia menyebutkan bahwa kehadiran kode QRIS sudah menjadi kewajiban di tengah era digital seperti saat ini, “Ya wajib-lah, zaman sekarang kan emang maunya main transfer-transfer saja ya kan”.

Meski pesanan kini bisa datang dari layar ponsel, ada kebiasaan yang tetap melekat dalam kesehariannya. Di sela-sela kesibukan melayani pembeli, Yusril masih mencatat keuangan secara manual di atas kertas. Sementara itu, hasil pembayaran dari pesanan melalui aplikasi masuk ke rekening bank secara berkala. Perpaduan cara lama dan baru tersebut menjadi bagian dari perjalanannya meneruskan usaha keluarga, sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen.
Temuan menarik lainnya adalah aktivitas perdagangan yang ada di pasar tradisional ini sebenarnya tidak terpengaruh oleh tren booming-nya e-commerce dan toko online, tantangan yang lebih nyata malah datang dari hal lain yang lebih kompleks. Meskipun kehadiran aktivitas perbelanjaan online tidak mengambil ‘kuenya’ pasar tradisional karena nyatanya memang memiliki target konsumen yang berbeda, tetapi akumulasi dari Pandemi COVID-19 yang telah mengubah lanskap hidup masyarakat dan kebijakan/program pemerintah di bidang ekonomi secara bertahap mulai melemahkan daya beli masyarakat, yang berujung pada efek domino penjualan pedagang di pasar tradisional terus menurun.
Hal ini senada dengan yang disampaikan Rika Ginting, ia merasakan perubahan tersebut dalam kesehariannya sebagai pedagang sayur. Selama kurang lebih 25 tahun berjualan di pasar ini, ia telah menjalani berbagai perubahan dalam aktivitas perdagangan. Namun, kenaikan harga barang dan perubahan permintaan akhir-akhir tahun ini menjadi tantangan berat yang harus dihadapi sampai sekarang.
Pengalaman serupa dirasakan Novi. Ia mengingat penjualan sebelum pandemi COVID-19 yang lebih ramai dibandingkan kondisi sekarang. Kenaikan harga kebutuhan membuat sebagian pelanggan mulai mengurangi jumlah belanjaan mereka. Jika sebelumnya mereka terbiasa membeli sayuran hingga satu kilogram, kini ada yang memilih seperempat kilogram saja.

Berbeda dengan pandangan kedua pedagang sebelumnya, menurut Yusril masalah utama dari berkurangnya penjualan di pasar tradisional ini disebabkan oleh program pemerintah ‘Makan Bergizi Gratis’. “Barang-barang kebutuhan MBG yang mahal, jadi stoknya kurang. Barang mahal, kualitasnya kurang sekarang. Kayak ayam lah, ayam kan sekarang mahal, enggak pernah lagi di bawah Rp30.000-an,” ujar Yusril.
Perubahan jumlah belanja tersebut turut membuat para pedagang ini untuk terus memutar otak, memperlebar jangkauan pasar dan sumber-sumber pembeli yang baru melalui dunia digital. Di tengah kondisi tersebut, media digital menjadi salah satu cara untuk mempermudah pelayanan. Melalui WhatsApp, pedagang dapat menerima pesanan lebih awal, sementara pembayaran digital memberikan kemudahan bagi pelanggan. Meski demikian, kemudahan tersebut tidak selalu membuat pendapatan naik secara signifikan, karena faktor-faktor lainnya seperti daya beli masyarakat dan kebijakan ekonomi juga turut mempengaruhi penjualan.
Di balik notifikasi pesanan yang masuk dan layar ponsel yang sesekali menyala, denyut nadi Pasar Pagi Setia Budi tetaplah sama. Para pedagang seperti Rika, Novi, dan Yusril membuktikan bahwa digitalisasi bukan hadir untuk mencabut akar tradisi, melainkan melengkapi celah yang masih belum efisien. Sayuran tetap ditimbang dengan tangan, tawar-menawar masih menggema di lorong-lorong becek, dan sapaan akrab tetap menjadi mata uang utama pengikat kepercayaan. Di pasar ini, teknologi hanyalah alat bantu, sementara kehangatan interaksi manusia tetap menjadi daya tarik utamanya.






