Muhammad Yusuf Caesar,1* Alchemist Hisab2
1Peneliti Independen, Indonesia
2Warung Sains Teknologi, Indonesia
*Email korespondensi: muhammad.yusuf.caesar05@gmail.com
Diterima 3 Oktober 2026
Dipublikasikan 16 Oktober 2026
Kutip artikel ini: DOI: 10.5281/zenodo.23401706
Abstrak:
Kebakaran hutan dan lahan kembali meluas di Kalimantan Barat pada musim kemarau 2026, tetapi memastikan berapa luas lahan yang benar-benar berubah jauh lebih sulit daripada memberitakannya. Penelitian ini memakai citra satelit Landsat 9 untuk mengukurnya. Alat ukurnya disebut Normalized Burn Ratio (NBR), yaitu satu angka yang dihitung dari pantulan cahaya inframerah dan menggambarkan seberapa rapat dan lembap vegetasi di suatu petak lahan. Vegetasi sehat memantulkan cahaya dengan pola khas, dan pola itu berubah ketika lahan terbakar atau mengering. Kondisi 1 Juli–29 September 2025 dipakai sebagai pembanding, lalu dibandingkan dengan periode yang sama pada 2026, dan selisihnya disebut ΔNBR. Hasilnya, 90,02% wilayah hampir tidak berubah (ΔNBR di bawah 0,10), 9,98% berubah cukup jelas (ΔNBR 0,10 ke atas), dan 2,30% atau sekitar 338.600 hektare berubah kuat (ΔNBR 0,27 ke atas). Kelompok terakhir inilah yang paling layak dicurigai sebagai bekas kebakaran. Perlu ditegaskan bahwa ΔNBR bukan angka luas terbakar, karena pembukaan lahan, penebangan, dan perubahan kelembapan juga menurunkan nilai NBR. Karena itu peta ini sebaiknya diperlakukan sebagai penyaring awal, bukan vonis. Pemerintah daerah, BPBD, dan BNPB dapat memakainya untuk menentukan ke mana verifikasi lapangan diarahkan lebih dulu, menyandingkannya dengan titik panas dan laporan kejadian, serta mengulang pengukuran setiap musim kemarau agar tersedia pembanding antartahun yang konsisten.
Kata Kunci: NBR, ΔNBR, karhutla, Landsat 9, Kalimantan Barat, penginderaan jauh
Abstrak grafik:






