Riset Psikologi Terbaru Buktikan Bahwa Perempuan Lebih Baik dalam Hal Baca Tulis dibanding Laki-Laki

Bagikan Artikel ini di:

Oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, keberhasilan siswa di sekolah masih dijadikan sebagai salah satu indikator kesuksesan hidup. Padahal faktanya kesuksesan tidak hanya bergantung pada keberhasilan belajar di sekolah. Perilaku, mentalitas, ketangguhan, networking, dll sangatlah berperan dalam kesuksesan hidup seseorang yang mana hal-hal tersebut tidak diajarkan di bangku sekolah.

Kembali ke dunia sekolah, jika Anda jeli memperhatikan, ternyata siswa perempuan cenderung lebih mudah untuk belajar membaca dan menulis dibandingkan laki-laki, juga cenderung untuk lebih cepat dalam membaca dan menulis. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Sebenarnya seberapa penting perbedaan kemampuan tersebut berdampak pada kegiatan belajar dan mengajar (KBM)?

Tahukah Anda bahwa siswa perempuan menunjukkan kemampuan lebih baik daripada laki-laki dalam hal membaca dan menulis?

Telah kita ketahui bersama bahwa baca tulis termasuk dalam kemampuan kognitif. Beberapa peneliti mencoba mengungkapkan secara empiris perbedaan kemampuan kognitif tersebut. Salah satunya oleh peneliti bidang psikologi dari Glasgow University. Mereka menemukan bahwa  perbedaan kemampuan kognitif siswa perempuan dan laki-laki adalah benar adanya, meskipun penelitian tersebut dilakukan di negara maju. Bahkan, angka perbedaan tersebut semakin mengecil pada negara yang diketahui memiliki kesetaraan gender yang rendah seperti Qatar, Jordan dan Uni Emirat Arab, yang artinya laki-laki diprioritaskan untuk bersekolah dengan optimal dibandingkan perempuan. Hal ini menandakan bahwa perbedaan capaian akademik pada masing-masing jenis kelamin tidak dipengaruhi oleh politik, ekonomi dan kesetaraan sosial. [1]

Secara fungsi, otak laki-laki dan perempuan dinilai tidak berbeda. Oleh karena itu, penelitian dilakukan lebih spesifik. Salah satunya dilakukan oleh peneliti lainnya yang berasal dari Griffith University. Peneliti tersebut mengungkapkan bukti perbedaan kemampuan membaca dan menulis antara laki-laki dan perempuan didasarkan hasil penilaian National Assessment of Educational Progress (NAEP) dari Departemen Edukasi Amerika Serikat yang mengukur capaian siswa dalam membaca, matematika, pengetahuan alam dan area lainnya. Sayangnya, laporan hanya menunjukkan perbedaan signifikan antar capaian jenis kelamin tanpa menampilkan berapa besar perbedaan tersebut. [1]

Sebenarnya, sebelum penelitian tentang kemampuan baca tulis pada siswa laki-laki dan perempuan dilakukan, sudah ada beberapa ahli mencoba mengungkapkan fakta perbedaan tersebut dari berbagai bidang. Alasan-alasan tersebut antara lain:

  1. Perbedaan tingkat kecepatan kedewasaan antara laki-laki dan perempuan.
  2. Perbedaan fungsi lateralisasi fungsi otak laki-laki dan perempuan.
  3. Perbedaan variabilitas antara laki-laki dan perempuan.
  4. Perbedaan adanya gangguan eksternal dalam berperilaku dan berbahasa
  5. Strereotype gender bahwa membaca dan berbahasa termasuk ciri-ciri feminim

Pada artikel ini akan dielaborasikan lebih jauh mengenai penelitian yang dilakukan oleh peneliti Griffith University yang berjudul “Gender Differences in Reading and Writing Achievement: Evidence From the National Assessment of Educational Progress (NAEP)” dan dipublikasikan di jurnal American Psychologist. Penelitian yang dipublikasikan pada 20 September 2018 tersebut dirancang dengan data dari NAEP yang berupa data penilaian secara periodik. Penilaian membaca dilakukan setiap 2-3 tahun sekali sedangkan penilaian menulis dilakukan setiap 4-5 tahun sekali dan biasanya dilakukan pada ukuran sampel yang lebih kecil dari penilaian membaca. Data yang digunakan dari penilaian ini dari tahun 1998-2015 dengan jumlah sampel 3.035.000 siswa untuk data penilaian membaca. Sedangkan data penilaian menulis melibatkan 934.800 siswa pada tahun 1988-2011. Target sampel merupakan siswa tingkat 4 (kelas  4 SD atau usia 9-10 tahun ), 8 (kelas VIII SMP atau usia 13-14 tahun) dan 12 (kelas XII SMA atau usia 17-18)).

Penelitian ini memberikan bukti bahwa siswa perempuan mendapatkan nilai membaca dan menulis lebih tinggi dalam setiap jenis penilaian di setiap tingkat kelas dibandingkan dengan siswa laki-laki. Hasil pengukuran tersebut kemudian dibandingkan dari tahun ke tahun. Uniknya, tidak ada perbedaan yang signifikan hasil penilaian tersebut.

Peneliti kemudian membandingkan hasil penilaian dengan standar terendah kemampuan membaca dan menulis sehingga siswa dapat digolongkan menjadi siswa dengan kemampuan rendah atau mahir. Secara angka, siswa perempuan lebih banyak masuk dalam kategori pembaca dan penulis yang mahir sedangkan siswa laki-laki lebih banyak masuk kategori berkemampuan rendah. Bahkan pada tingkat 12 (kelas XII SMA), jumlah siswa perempuan yang masuk dalam kategori pembaca mahir lebih banyak 2 kali lipat daripada siswa laki-laki. Hasil lainnya yang menarik adalah siswa perempuan tingkat 8 (kelas VIII SMP) mengungguli siswa laki-laki berada di tingkat 12 (kelas XII SMA).

Peneliti juga menemukan bahwa seiring berjalannya waktu, perbedaan jumlah siswa kemampuan baca rendah berdasarkan jenis kelamin semakin mengecil tetapi membesar pada tingkat mahir. Perbedaan kemampuan membaca akan berdampak pada kemampuan literasi. Salah satunya adalah kesulitan dalam menjalankan tugas berkaitan dengan kemampuan membaca.

Evaluasi juga dilakukan pada kemampuan menulis siswa. Secara angka, perbedaan kemampuan menulis siswa laki-laki dan perempuan lebih besar daripada kemampuan membaca. Bahkan pada tingkat 12, siswa perempuan lebih banyak 2,54 kali terkategori mahir menulis daripada siswa laki-laki. Semakin tinggi tingkat siswa, semakin besar perbedaan kemampuan menulis berdasarkan jenis kelamin ini. Kemampuan menulis siswa laki-laki sebagian besar berada di bawah standart dan sedikit meningkat pada tingkatan kelas tertentu. Seiring bertambahnya tahun penilaian yang dilakukan, tidak ada perubahan terhadap ratio siswa yang berkemampuan menulis rendah.

Kenapa perbedaan kemampuan menulis lebih besar dibandingkan membaca? Kemampuan menulis merupakan kemampuan aktif yang melibatkan tantangan yang lebih kompleks. Menulis menggabungkan kemampuan verbal dan bahasa. Oleh karena itu, perbedaan yang didapatkan semakin besar. Peningkatan kemampuan menulis bisa dilakukan melalui praktik yang dirancang dalam kurikulum. Meskipun angka statistik menunjukkan signifikan, perbedaan kemampuan baca tulis berdasarkan jenis kelamin dinilai sangat kecil, ada faktor lainnya seperti sosial, budaya, dan tingkat kemajuan masyarakat tersebut.

Lantas, bagaimana implikasinya dalam dunia pendidikan?

Siswa laki-laki yang terlihat memiliki kesulitan belajar

Bentuk komunikasi dalam bentuk verbal akan lebih banyak mengarahkan siswa belajar secara mandiri pada buku teks dan jam belajar di luar sekolah. Sedangkan kesulitan yang dialami sebagian siswa tentu akan menjadi penghalang yang serius dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Kemampuan menulis juga berdampak besar pada penilaian siswa terutama pada tugas-tugas berbentuk esai dan laporan. Rendahnya kemampuan baca akan menghalangi siswa menyerap ilmu lebih banyak sehingga berpengaruh pada kemampuan menulis. Hal ini juga disebabkan defisiensi bahasa karena banyaknya buku teks yang sulit untuk dipahami.

Kemampuan membaca dan menulis menjadi menjadi kritis dalam pengembangan pembelajaran. Masalah terkait rendahnya kemampuan tersebut akan bertambah besar saat pendidikan tinggi di Universitas menjadi salah satu tujuan jenjang pendidikan. Alasannya, kemampuan komunikasi secara verbal dalam bentuk tulisan formal akan menjadi bentuk dari tugas siswa sekolah tinggi. Dampaknya, siswa laki-laki tidak siap untuk sekolah tinggi. Hal ini juga memberikan alasan mengapa lebih banyak siswa perempuan yang mendapatkan nilai lebih baik daripada laki-laki pada jenjang universitas.

Hasil penelitian seolah menunjukkan siswa laki-laki membutuhkan kelas khusus yang dibedakan dengan perempuan. Peneliti dengan tegas membantah hal tersebut. Salah satu penelitian berhasil menjawab secara empiris dampak negatif keberadaan sekolah pemisahan jenis kelamin. Praktik pembedaan perlakuan justru akan melemahkan kepercayaan diri dan melemahkan motivasi untuk berkembang siswa. [2] Oleh karena itu, fokus pengembangan sebaiknya diarahkan pada kurikulum. Hal ini ditawarkan pada semua murid sehingga siswa perempuan juga akan memperoleh manfaat.

Yang perlu diperhatikan dari hasil riset tersebut adalah bahwa keberhasilan siswa di sekolah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan baca tulis. Kemampuan lainnya seperti logika abstrak, visual-spasial, numerik, dll juga turut serta. Penelitian tersebut juga dilakukan di Amerika yang merupakan negara maju, hasilnya tentu akan berbeda pada negara berkembang seperti Indonesia.

Penelitian tersebut patut dikembangkan lebih jauh untuk mengetahui penyebab secara biologis mengapa siswa perempuan lebih baik dalam hal baca tulis dibandingkan siswa laki-laki.

Referensi

[1] Reilly, David., Neumann, David L., Andrews, Glenda. (2018). Gender differences in Reading and Writing Achievement: Evidence from the National Assessment of Educational Progress (NAEP). American Psychologist

[2] Halpern, D. F., Eliot, L., Bigler, R. S., Fabes, R. A., Hanish, L. D., Hyde, J. S., . . . Martin, C. L. (2011). The pseudoscience of single-sex schooling. Science, 333(6050), 1706-1707. doi: 10.1126/science.1205031

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Industri 4.0 – Menakar Kebermanfaatan dan Menjawab Tantangan

Bagikan Artikel ini di:

Berkenalan dengan Industri 4.0

Adakah kamu merasa kehidupan sehari-hari kita saat ini yang berhubungan dengan teknologi telah mengubah bagaimana kita berkoordinasi? Yang mungkin agak luput dari kesadaran kita adalah bagaimana teknologi kini membentuk perilaku yang tidak sama dengan orang tua kita terdahulu. Misalnya, bagaimana miliaran orang di dunia kini dapat saling terhubung dalam platform-platform sosial media dengan fitur dan kegunaannya yang semakin beragam.

Bersosialisasi melalui Facebook, terhubung secara profesional melalui LinkedIn, semakin beragam dan mudahnya cara komunikasi pribadi maupun kelompok melalui WhatsApp, menonton siaran tunda semakin mudah dengan akses gratis melalui Youtube, memesan beragam menu santap harian atau sekadar kudapan melalui Go-Food, memesan transportasi melalui Grab. Dan kamu mungkin bisa menyebutkan lebih banyak lagi platform saat ini yang happening dengan berbagai fitur yang menawarkan kemudahan akses barang/ jasa yang kita nyaman menggunakannya.

Gambar 1. Lingkungan Industri 4.0 [Deloitte AG, 2015]

Disadari maupun tidak, kini kita memasuki era otomasi dimana mesin telah berintegrasi dengan koneksi internet yang ditunjang oleh akses data serba cepat, yang juga mempengaruhi peran kita sebagai produsen, distributor maupun konsumen produk/ jasa. Yap!, selamat berkenalan dengan era Industri 4.0.

Istilah Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan dalam Hannover Fair, Industrie 4.0, di Jerman pada tahun 2011. Sekelompok perwakilan orang dari beragam latar belakang, dari bisnis, politik dan akademisi berkumpul membahas bagaimana  meningkatkan daya saing negara Jerman di bidang industri yang mengacu pada “High-Tech Strategy for 2020”. Industri 4.0 yang diinisiasi tersebut memiliki visi Cyber-Physical Systems, dimana suatu sistem yang berjalan dan didukung oleh teknologi mutakhir terkini, seperti mesin cerdas (smart machines), sistem penyimpanan data (storage systems) dan fasilitas produksi yang selanjutnya meletakkan dasar untuk perkembangan proses di industri, baik di bidang manufaktur, teknik, penggunaan material, rantai penyediaan barang/ jasa dan manajemen siklus hidup [5].

Industri 4.0, di beberapa belahan negara lain memiliki istilah yang lebih populer digunakan untuk memperbincangkan era tersebut, semisal di Amerika Serikat lebih dikenal dengan era “Internet of Things“[2].

Sejak Kapan Industri 4.0 Memasuki Kehidupan Manusia?

Klaus Schwab dalam bukunya yang juga merupakan kompilasi artikel yang ditulis olehnya di weforum.org, berjudul “The Fourth Industrial Revolution”, Schwab menjelaskan pembagian empat era industri berdasarkan teknologi yang berkembang  di masing-masing era.

Gambar 2. Grafik Pembagian Era Industri 1.0 hingga 4.0 [Deloitte AG, 2015]

Dimulai dari Revolusi industri pertama yang terjadi antara tahun 1760 – 1840 yang ditandai dengan penemuan mesin uap dan pembangunan rel kereta api. Revolusi industri kedua yang dimulai pada awal abad ke – 19  sampai memasuki awal abad ke – 20 ditandai dengan mulai maraknya pemasangan instalasi listrik yang memungkinkan berbagai jenis produk dapat diproduksi secara massal. Sementara memasuki tahun 1960-an, era revolusi industri ketiga yang diwarnai dengan perkembangan semikonduktor, digunakannya alat-alat digital dan internet yang mulai digunakan banyak orang di awal tahun 1990-an. Era revolusi industri keempat sendiri, di samping perdebatan kapan dan apa yang menandainya, Schwab mendeskripsikan era revolusi industri keempat sebagai era yang berkembang dari pondasi era revolusi industri ketiga, era yang ditunjang dengan berbagai teknologi mutakhir dan mampu menjangkau serta menyelesaikan tugas di banyak aspek kehidupan manusia [8].

Menakar Kebermanfaatan 

Mari ambil contoh dari beberapa artikel yang terbit di  Warung Sains Teknologi. Sahabat pembaca tentu mendapati beberapa artikel yang membahas beragam teknologi yang berkembang dan memiliki kemampuan melakukan pekerjaan dengan handal, seperti bagaimana  kecerdasan buatan (Artificial intelligence) yang salah satunya diaplikasikan untuk memecahkan kasus hukum dengan performa identifikasi dan mampu mengulas permasalahan kasus lebih handal dari seorang pengacara manusia [1].

Lalu, mulai ramainya pembahasan trend Big Data,  sebagai teknologi penyimpanan data dalam jumlah besar dan mampu melakukan pengolahan data dengan cepat yang menunjang pekerjaan di berbagai sektor bisnis dalam mengumpulkan, menganalisis dan hasilnya kemudian dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan/ kebijakan dalam berbisnis. Selanjutnya aplikasi cyber-physical systems ini juga merambah pada bidang lain yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, seperti bagaimana petani kini memiliki kesempatan untuk menggunakan acuan data dalam mengatur, mengoptimalkan sekaligus melakukan efisiensi produksi pertaniannya.

Masyarakat perkotaan pun memiliki kesempatan menikmati akses layanan barang/ jasa lebih mudah dan cepat, seperti yang penulis sempat paparkan mengenai platform teknologi terkini pada awal artikel ini, dimana ternyata di tingkat pemerintahan, teknologi cerdas dapat dioptimalkan untuk kebutuhan pelayanan kepada masyarakat, semisal di Kota Barcelona yang sempat ramai menjadi perhatian dan perbincangan dunia akan betapa saat ini teknologi internet telah terintegrasi dengan banyak infrastruktur dan pelayanan pemerintahannya,  setidaknya ada 22 program yang menjadikan Kota Barcelona sebagai salah satu smart city di dunia [4].

Di Indonesia sendiri, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian Indonesia telah mencanangkan 10 strategi prioritas nasional dalam menyiapkan Indonesia menyambut tantangan era Industri 4.0 dengan tiga prioritas utama adalah memperbaiki alur aliran material, mendesain ulang zona industri dan peningkatan kualitas SDM. Lima  sektor industri prioritas dari segi kontribusi terhadap total PDB akan dimaksimalkan dalam upaya menghadapi kompetisi manufaktur di era Industri 4.0.

Gambar 3. 10 Strategi dan Sektor Prioritas Nasional Indonesia di Era Industri 4.0 [Kementerian Perindustrian RI, 2018]

Tidak dapat dipungkiri dengan berkembangnya teknologi dan semakin banyaknya sektor ekonomi-bisnis yang terintegrasi dengan sistem (cyber-physical systems) dan berhubungan langsung dengan kehidupan kita sehari-hari, kemudian memunculkan banyak tanggapan mengenai potensi perubahan yang akan muncul dan eksistensi yang akan hilang seiring dengan perkembangan dan meluasnya pengaruh Industri 4.0.

 

Menjawab Tantangan

Pakar sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali, mengemukakan pendapat jika era Industri 4.0 merupakan suatu era disruptif yang akan dirasakan dalam waktu panjang dan menyebabkan banyak sektor industri berbasis teknologi IT akan musnah [7]. Namun, di sisi lain, secara lebih optimis oleh pakar dan pelaku bisnis, Ahmad Faiz Zainuddin, mengemukakan jika era disrupsi yang saat ini banyak dijadikan topik perbincangan sebagai sosok menakutkan di era Industri 4.0, menyatakan jika disrupsi  hanyalah satu fase (fase ketiga) dari enam fase kejadian Exponential Shock yang pasti dihadapi dalam era tantangan dan perubahan yang ditawarkan dalam persaingan Industri 4.0, dimana pada akhirnya, era tantangan dan perubahan ini akan membawa keberlimpahan bagi semua orang [11].

Membahas apa yang akan hilang atau kesempatan apa yang akan datang. Memperdebatkan bagaimana menghadapi perubahan dan pergeseran pola kehidupan. Sebagai manusia, kita pasti akan merasa terancam ataupun tertantang oleh keadaan yang tidak dapat dihindari karena kemajuan bidang sains dan teknologi kini memungkinkan banyak penyesuaian dan hal-hal baru yang mungkin tidak sempat terpikir sebelumnya. Lalu, dimanakah peran kita sebagai makhluk paling sempurna dalam tatanan semesta di era dimana di banyak sektor dapat menggantikan peran kita sebagai pemeran utama roda kehidupan?.

Harapan datang dari mana saja. Rania Al-Abdullah membawa keoptimisan di panggung forum EBRD Annual Meeting and Business Forum Speech dengan menyampaikan pesan sarat motivasi, jika peran dan kesempatan yang mampu kita kreasikan sebagai manusia di era Industri 4.0 akan lebih banyak didominasi oleh sesuatu yang hanya dianugerahkan oleh sang pencipta semesta kepada manusia. Sesuatu itu tidak dimiliki oleh mesin-mesin yang dibekali teknologi cerdas, sesuatu yaitu manusia dengan kecerdasan emosional dan kreativitas nya dalam membuat peluang baru bagi sesama yang tidak dapat dilakukan oleh teknologi mutakhir yang hanya mampu menyelesaikan tugas sudah di desain peruntukannya.

Tidak bisa dielakkan dengan perkembangan sains dan teknologi kini, di sisi lain, juga menimbulkan tantangan baru bagi masyarakat di negara berkembang, seperti Indonesia. Dengan total penduduk usia produktif di tahun 2018 dengan kategori usia 14-64 tahun mencapai 179,13 juta jiwa dari total penduduk 265 juta jiwa [3]. Dengan keadaan tersebut, perekonomian yang digerakkan oleh cyber-physical systems menjadi gagasan yang “tidak ramah” bagi iklim ketenagakerjaan masyarakat Indonesia. Namun, permasalahan yang ada bukan untuk dihindari. Menjadi bagian masyarakat yang proaktif dan keinginan untuk maju bersama, kita pasti mampu menghadapi tantangan yang ada.

Lebih lanjut, mengenai tantangan ketenagakerjaan yang disorot pula oleh Challenge Advisory adalah mengenai keterampilan pekerja [1]. Tentu penyesuaian adalah keharusan seiring banyak pekerjaan-pekerjaan yang berpotensi hilang dan diambil alih oleh mesin, terutama pekerjaan yang bersifat administratif dan dilakukan oleh seseorang secara repetitif (semisal juru ketik dan kasir). Oleh karenanya, peningkatan keterampilan tenaga kerja perlu dilakukan secara kooperatif melibatkan mulai dari pengambil kebijakan hingga pemilik usaha untuk tetap memberdayakan dan memperkaya tenaga kerja dengan pelatihan dan pengetahuan baru terkini untuk dapat bersinergi menjawab tuntutan pelayanan dan bersama-sama siap menghadapi tantangan perubahan Industri 4.0.

 

 

Sumber:

[1] Challenge Advisory. The Challenges of Industry 4.0/ IIOT. https://www.challenge.org/industry-4-0-3-3/challenges/

[2] Dadang, Wayan. Aplikasi Kecerdasan Buatan dalam Dunia Hukum, Pengacara Kecerdasan Buatan Lebih Cepat  dan Akurat dibanding Pengacara Manusia. https://warstek.com/2018/04/12/hukum/

[3] Databoks. 2018, Jumlah Penduduk Indonesia Mencapai 265 Juta Jiwa. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/05/18/2018-jumlah-penduduk-indonesia-mencapai-265-juta-jiwa

[4] Deliotte AG. Industry 4.0 Challenges and solutions for the digital transformation and use of exponential technologies. 2015.

[5] Dadang, Wayan. Memahami Kecerdasan Buatan berupa Deep Learning dan Machine Learning. https://warstek.com/2018/02/06/deepmachinelearning/

[6] Kurnia, Muhamad Asep. Barcelona 5.0 Smart City. https://warstek.com/2018/05/24/barcelona/

[7] Martin, Industry 4.0: Definiton, Design Principles, Challenges, and the Future of Employment. https://www.cleverism.com/industry-4-0/

[8] Pasinggi’, Eko Suripto. Agriculture 4.0: Revolusi Pertanian Tahap Keempat. https://warstek.com/2018/05/22/agri/

[9] Sam, Nurandini Alya. Rhenald Kasali: Disrupsi Akan Semakin Kuat. https://ekonomi.kompas.com/read/2017/12/07/051800626/rhenald-kasali–disrupsi-akan-semakin-kuat

[10] Schwab, Klaus. The Fourth Industrial Revolution. 2016. World Economic Forum

[11] Queen Rania. EBRD Annual Meeting and Business Forum Speech. Youtube.

[12] World Economic Forum. The Fourth Industrial Revolution | At a glance (Subtitled). Youtube.

[13] Zainuddin, Ahmad Faiz. Era Disrupsi atau Era Kreasi?. https://warstek.com/2017/12/08/erakreasi1/

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Riset Psikologi Terbaru Mengungkap Alasan Dibalik Mengapa Pria Mapan Masih Melajang

Bagikan Artikel ini di:

Setiap spesies membutuhkan pasangan untuk mempertahakan keturunannya. Hasil riset psikologi memberi tahu kita bahwa keterampilan menggoda yang payah dapat mencegah tertariknya lawan jenis. Sebagai konsekuensinya, mereka yang kurang terampil tersebut menjadi orang-orang yang menyandang status lajang. Menelaos Apostolou, asisten profesor untuk Sekolah Humaniora, Ilmu Sosial dan Hukum di University of Nicosia Siprus, mengatakan bahwa tiga alasan mengapa seorang dewasa masih melajang ialah ketidakcocokan, memiliki kemampuan menggoda yang buruk, dan kesehatan yang buruk.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan pada tanggal 8 Agustus 2018 pada jurnal Evolutionary Psychological Science menggunakan metode penelitian kualitatif dan mengidentifikasi 76 alasan berbeda yang mendorong seorang  pria dewasa dan mapan untuk tetap melajang. Selanjutnya dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif, diklasifikasikan untuk 31 faktor alasan dan dikerucutkan menjadi tiga domain alasan. Yang perlu digarisbawahi disini adalah objek riset adalah pria mapan, artinya tidak ada alasan karena kurangnya finansial atau keuangan sehingga menyebabkan mereka terus melajang.

Peneliti psikologi tersebut menganalisa tanggapan dari sebuah pertanyaan di situs Reddit. Peneliti menganalisa 13.429 tanggapan utama, yaitu tanggapan terhadap pertanyaan awal. Tanggapan yang tersisa adalah komentar tentang tanggapan terhadap pertanyaan asli yang memiliki nilai terbatas untuk penelitian. Ada beberapa tanggapan yang disaring oleh peneliti seperti tanggapan yang tidak relevan dengan pertanyaan yang diajukan, tanggapan dengan makna yang tidak jelas, tanggapan di mana peserta menunjukkan bahwa mereka tidak tunggal, tanggapan di mana peserta menunjukkan bahwa mereka adalah perempuan, dan tanggapan yang telah dihapus oleh pemilik akun.

Tiga domain alasan yang telah dikerucutkan yang pertama adalah “Freedom of Choice“, yakni pilihan untuk tetap melajang untuk menikmati lebih banyak kebebasan, memiliki banyak teman lawan jenis, dan menangani prioritas lain seperti memajukan karier. Domain alasan yang kedua adalah “Difficulties with relationship“, yakni mengalami kesulitan dalam memulai dan menjaga hubungan, termasuk keterampilan menggoda yang buruk dan kurangnya kepercayaan kepada anggota lawan jenis. Domain alasan yang ketiga adalah “Constraints,” yakni adalanya masalah seksual, masalah kesehatan, dan memiliki anak dari hubungan sebelumnya.

Gambar 1. Tiga Puluh satu alasan mengapa seorang pria mapan masih melajang, dimana uang dan kekayaan bukan lagi penyebab untuk terus melajang. Sumber: Evolutionary Psychological Science

 

Salah satu penyebab terbesar mengapa pria mapan tetap melajang adalah introvert dan socially awkward. Introvert adalah kondisi dimana seseorang lebih menyukai lingkungan tenang dan minim berinteraksi di lingkungannya. Introvert cenderung merasa terkuras energinya setelah bersosialisasi dan mendapatkan kembali energinya dengan menghabiskan waktu sendirian. Seorang introvert kebanyakan terlihat pendiam atau menarik diri ketika berada diantara orang-orang yang tidak mereka kenal secara baik. Selain itu mereka juga cenderung menghindari kontak mata dengan orang yang belum mereka kenal. Sifat tersebut akan mempersulit orang introvert ketika ingin berkenalan dengan wanita yang belum dikenal. Jika hal itu berlanjut, maka si introvert tetap melajang.

Gambar 2. Mengenal Introvert. Sumber: Tirto

 

Gambar 3. Respons Tubuh Akibat Patah Hati. Sumber: Tirto

Patah hati adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari jatuh cinta. Move on juga bukan perkara yang mudah, terutama jika hubungan Anda dengan pasangan Anda sudah terjalin cukup lama dan memiliki banyak kenangan. Helen Fisher, seorang profesor, peneliti, dan anggota dari Human Evolutionary Studies di Rutgers Bersama Lucy L. Brown dari Einstein College of Medicine of Yeshiva University, New York melakukan riset terhadap 15 orang mahasiswa dan mahasiswi heteroseksual. Mereka diketahui masih secara intens mencintai pasangan mereka meski telah putus serta masih berusaha mengingat dan mengenang kebersamaan mereka hampir setiap saat ketika mereka tidak melakukan apa-apa. Riset tersebut menunjukkan bahwa orang yang baru putus/berpisah masih mengharapkan pasangan mereka untuk kembali.

Gambar 4. Merindu Mantan. Sumber: Tirto

Referensi:

  • Apostolou Menelaos. Agustus 2018. “Why Men Stay Single? Evidence from Reddit”, Evolutionary Psychological Science. Dilihat pada Minggu, 26 Agustus 2018.
  • Kumparan Sains. Agustus 2018. “Penyebab Ada Banyak Pria Jomblo Menurut Sains”. Diakses pada Minggu, 26 Agustus 2018 melalui https://kumparan.com/@kumparansains/penyebab-ada-banyak-pria-jomblo-menurut-sains-1534408693848552283
  • Anonymous. “What Is An Introvert? Definition & Guide To Introversion”. Diakses pada Senin, 27 Agustus 2018 melalui https://introvertdear.com/what-is-an-introvert-definition/
  • Joseph Novita. Mei 2018. “Mengenal Kepribadian Introvert Lebih Dalam”, Hello Sehat. Diakses pada Senin, 27 Agustus 2018 melalui https://hellosehat.com/uncategorized-id/tentang-kepribadian-introvert/
  • Wulan Annissa. Februari 2018. “Sulit Move On? Ini Alasannya Mengapa”, Liputan 6. Diakses pada Selasa, 28 Agustus 2018 melalui https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3304460/sulit-move-on-ini-alasannya-mengapa
  • Andiani Fitri. Maret 2018. “Cowok Juga Susah Move On, Ini Penjelasannya Kalau Kamu Butuh Bukti”, Line. Diakses pada Selasa, 28 Agustus 2018 melalui https://today.line.me/id/pc/article/Cowok+Juga+Susah+Move+On+Ini+Penjelasannya+Kalau+Kamu+Butuh+Bukti-EGX0nn
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: