Perubahan iklim menuntut tindakan besar dan berani dari pemerintah di seluruh dunia. Para peneliti, pembuat kebijakan dan aktivis sepakat bahwa masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu jenis kebijakan. Dunia membutuhkan paket kebijakan yang dirancang secara komprehensif, yang bekerja bersama untuk mengurangi polusi, melindungi masyarakat yang rentan dan menciptakan sistem ekonomi yang lebih berkelanjutan. Namun sebuah penelitian terbaru dari Lukas Paul Fesenfeld yang diterbitkan dalam jurnal Behavioural Public Policy menunjukkan bahwa semakin kompleks sebuah paket kebijakan iklim, semakin besar pula risiko turunnya dukungan publik.
Temuan ini penting karena kebijakan iklim pada akhirnya hanya bisa berhasil jika masyarakat mendukungnya. Pemerintah membutuhkan legitimasi politik untuk mengimplementasikan langkah langkah besar seperti perubahan standar energi, pembatasan emisi, atau regulasi terhadap sektor transportasi. Namun dukungan masyarakat tidak hanya bergantung pada dampak ekonominya. Cara kebijakan dirancang juga memengaruhi bagaimana publik memahaminya, merasakannya dan menilainya.
Baca juga artikel tentang: Ketahui Kebijakan Fiskal dalam Perspektif Ekonomi Makro Islam Lebih Dalam!
Penelitian ini berangkat dari pandangan bahwa kebijakan iklim yang efektif biasanya terdiri dari serangkaian instrumen yang saling melengkapi. Sebagai contoh, kebijakan pengurangan emisi mungkin perlu disertai kompensasi bagi kelompok masyarakat tertentu yang terkena dampak biaya transisi energi. Kebijakan transportasi ramah lingkungan mungkin perlu dikombinasikan dengan investasi pada infrastruktur transportasi umum. Pendekatan ini bisa menghasilkan sinergi positif dan membuat kebijakan menjadi lebih adil. Namun pendekatan tersebut juga memiliki sisi lain. Semakin banyak komponen kebijakan yang digabungkan, semakin sulit bagi masyarakat untuk memahami keseluruhan tujuannya.
Di sinilah masalah utama muncul. Kompleksitas desain kebijakan dapat mengaburkan pesan inti dan menciptakan mispersepsi di kalangan masyarakat. Orang mungkin melihat manfaatnya, tetapi mereka juga lebih mudah menangkap bagian bagian kebijakan yang dianggap membatasi atau merugikan. Studi Fesenfeld menemukan bahwa ketika sebuah kebijakan terdiri dari banyak instrumen, warga cenderung lebih fokus pada biaya nyata yang harus mereka tanggung dibandingkan pada manfaat jangka panjang yang sifatnya lebih abstrak.
Dalam penelitiannya, Fesenfeld melibatkan lebih dari sembilan ribu responden dari Amerika Serikat dan Jerman. Responden diminta menilai berbagai jenis usulan kebijakan iklim yang disajikan dalam dua bentuk. Pertama, kebijakan individu seperti pembatasan emisi sektor transportasi atau insentif untuk energi terbarukan. Kedua, paket kebijakan kompleks yang menggabungkan beberapa instrumen dalam satu usulan besar. Dengan metode eksperimental ini, peneliti dapat melihat bagaimana cara penyusunan kebijakan memengaruhi persepsi responden.
Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten. Ketika kebijakan dikemas sebagai paket besar, responden menganggapnya lebih efektif dalam mengurangi polusi. Ini kabar baik bagi pembuat kebijakan. Namun responden juga menganggap paket kebijakan tersebut lebih mengekang gaya hidup mereka. Mereka melihat lebih banyak batasan dan biaya dibandingkan jika kebijakan disajikan secara terpisah satu per satu. Akibatnya, meskipun kebijakan kompleks dipandang lebih kuat dalam menangani perubahan iklim, tidak semua orang mau mendukungnya.
Temuan menarik lainnya adalah bahwa kompleksitas desain kebijakan tidak sepenuhnya mengubah preferensi dasar masyarakat. Artinya, meskipun orang menganggap kebijakan kompleks lebih membatasi, mereka tidak otomatis menolak semua bentuk kebijakan. Mereka hanya lebih berhati hati ketika melihat terlalu banyak komponen yang digabungkan. Hal ini memberi peluang bagi pembuat kebijakan untuk menyusun paket kebijakan dengan lebih cermat sehingga tetap komprehensif namun tidak membingungkan.
Studi ini mengusulkan bahwa pembuat kebijakan dapat menggunakan mekanisme kompensasi dan persepsi publik untuk meningkatkan dukungan. Jika sebuah paket kebijakan dianggap memiliki beberapa bagian yang kurang disukai, bagian tersebut perlu diseimbangkan dengan instrumen yang secara langsung memberikan manfaat kepada masyarakat. Contohnya, pembatasan emisi yang dapat menaikkan harga bahan bakar bisa diimbangi dengan insentif penggunaan kendaraan listrik atau peningkatan akses transportasi umum. Dengan cara ini, publik tidak hanya melihat pengorbanan tetapi juga kesempatan untuk merasakan manfaat nyata.
Fesenfeld juga menekankan bahwa cara komunikasi kebijakan memainkan peran besar. Kebijakan kompleks tidak otomatis buruk. Namun tanpa penjelasan yang jelas, publik bisa merasa terbebani oleh aspek yang tampak mengganggu kehidupan sehari hari. Pemerintah perlu menjelaskan bagaimana setiap komponen kebijakan saling berhubungan dan mengapa kombinasi kebijakan tersebut lebih efektif dibandingkan instrumen tunggal. Penjelasan yang baik dapat mengurangi kekhawatiran publik dan menumbuhkan rasa percaya bahwa kebijakan iklim memang dirancang untuk kebaikan bersama.
Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa desain kebijakan yang kompleks sebenarnya dapat meningkatkan dukungan publik jika bagian bagiannya dikemas dengan cermat. Pembuat kebijakan perlu memahami bahwa masyarakat menanggapi kebijakan tidak hanya melalui analisis rasional tetapi juga melalui persepsi emosional dan penilaian intuitif. Ketika sebuah paket terlihat terlalu rumit, orang merasa kehilangan kendali. Ketika sebuah paket terlihat jelas, masuk akal dan adil, dukungan dapat meningkat secara signifikan.
Dalam konteks tantangan iklim global, temuan ini sangat relevan. Dunia membutuhkan kebijakan iklim yang kuat dan terkoordinasi. Namun kekuatan kebijakan tidak hanya harus dibangun di atas fondasi teknis, tetapi juga pada keterlibatan publik. Jika masyarakat merasa tidak dilibatkan atau tidak memahami kebijakan yang dibuat, implementasi bisa terhambat. Sebaliknya, ketika publik merasa menjadi bagian dari proses, dukungan dapat menjadi motor perubahan yang sangat kuat.
Penelitian Fesenfeld memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara desain kebijakan dan perilaku masyarakat. Penelitian ini juga membuka ruang bagi diskusi lebih lanjut mengenai bagaimana pemerintah dapat merancang kebijakan iklim yang tidak hanya efektif tetapi juga mendapat penerimaan luas. Kompleksitas bukan selalu masalah. Cara kompleksitas itu dikelola adalah faktor yang menentukan keberhasilan sebuah kebijakan.
Di tengah semakin mendesaknya krisis iklim, pembuat kebijakan harus mempertimbangkan pelajaran penting dari penelitian ini. Kebijakan yang baik tidak hanya perlu bekerja di atas kertas, tetapi juga harus dapat dipahami dan didukung oleh masyarakat. Dengan keseimbangan antara efektivitas, keadilan dan komunikasi yang jelas, dunia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dengan dukungan publik yang jauh lebih kuat.
Baca juga artikel tentang: Menyatukan Kebijakan di Dunia yang Terpecah: Pelajaran dari Arktik untuk Adaptasi Iklim Global
REFERENSI:
Fesenfeld, Lukas Paul. 2025. The effects of policy design complexity on public support for climate policy. Behavioural Public Policy 9 (1), 106-131.

