Selama bertahun-tahun, meningkatnya kasus rabun jauh sering dikaitkan dengan kebiasaan menatap layar ponsel, tablet, dan komputer terlalu lama. Anak-anak yang menghabiskan banyak waktu dengan perangkat elektronik pun kerap dianggap lebih berisiko mengalami gangguan penglihatan. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa persoalannya mungkin jauh lebih rumit daripada sekadar seberapa lama seseorang melihat layar.
Peneliti dari SUNY College of Optometry mengusulkan mekanisme baru yang dapat membantu menjelaskan mengapa aktivitas melihat dari jarak dekat, kondisi pencahayaan dalam ruangan, hingga berbagai terapi untuk memperlambat rabun jauh tampaknya saling berhubungan. Penelitian yang dipimpin Urusha Maharjan bersama Hamed Rahimi-Nasrabadi, Sabina Poudel, Farzaneh Olianezhad, Jianzhong Jin, Mitchell W. Dul, dan Jose-Manuel Alonso tersebut diterbitkan dalam Cell Reports pada Februari 2026 dengan judul “Human accommodative visuomotor function is driven by contrast through ON and OFF pathways and is enhanced in myopia.”
Menariknya, penelitian tersebut mengarahkan perhatian bukan hanya pada layar, melainkan pada sesuatu yang dilakukan mata hampir tanpa kita sadari setiap hari: mengatur fokus, menggerakkan kedua mata, dan mengubah ukuran pupil ketika melihat benda pada jarak yang berbeda.
Miopia Bukan Sekadar Penglihatan Jauh yang Buram
Miopia merupakan istilah ilmiah untuk rabun jauh, yaitu kondisi ketika seseorang dapat melihat benda dekat dengan relatif jelas tetapi benda yang lebih jauh terlihat buram. Secara umum, kondisi ini berkaitan dengan sistem optik mata yang membuat cahaya terfokus di depan retina, bukan tepat pada retina.
Retina sendiri adalah lapisan peka cahaya di bagian belakang mata. Secara sederhana, retina dapat dibayangkan seperti sensor pada kamera digital. Cahaya yang masuk melalui mata akan diterima retina, diubah menjadi sinyal saraf, kemudian diteruskan ke otak sehingga kita dapat melihat dunia di sekitar kita.
Miopia kini menjadi perhatian besar karena prevalensinya meningkat dengan cepat. Tim peneliti dari SUNY College of Optometry menyebut kondisi ini telah ditemukan pada hampir separuh orang dewasa muda di Amerika Serikat dan Eropa, bahkan mendekati 90 persen di beberapa wilayah Asia Timur. Perubahan yang terjadi hanya dalam beberapa generasi membuat faktor genetik saja sulit menjelaskan peningkatan tersebut. Lingkungan dan pola aktivitas manusia diduga memainkan peranan penting.
Salah satu petunjuk terbesarnya adalah aktivitas di luar ruangan. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar ruangan, khususnya anak-anak, cenderung memiliki risiko miopia yang lebih rendah. Sebaliknya, aktivitas melihat dekat dalam waktu lama berkaitan dengan peningkatan risiko miopia.
Pertanyaannya kemudian adalah: apa yang sebenarnya terjadi di dalam mata?
Mata Kita Terus Berubah Saat Melihat Benda Dekat
Ketika membaca buku atau melihat ponsel dari jarak dekat, mata tidak hanya diam dan menerima gambar. Beberapa sistem bekerja secara bersamaan.
Salah satunya disebut akomodasi. Akomodasi merupakan kemampuan mata mengubah kekuatan lensa agar benda pada jarak tertentu tetap terlihat tajam. Saat melihat benda dekat, lensa mata menyesuaikan bentuk dan meningkatkan kekuatan optiknya sehingga gambar dapat kembali difokuskan.
Pada saat yang hampir bersamaan, kedua mata juga bergerak sedikit ke arah dalam agar pandangan kanan dan kiri tertuju pada objek yang sama. Gerakan ini disebut vergence atau, dalam konteks melihat dekat, convergence. Sederhananya, convergence merupakan gerakan kedua mata menuju arah hidung ketika kita melihat sesuatu yang dekat.
Ada satu perubahan lain yang sangat penting: pupil ikut mengecil.
Pupil merupakan bagian gelap di tengah mata yang berfungsi seperti bukaan atau aperture pada kamera. Semakin besar pupil, semakin banyak cahaya yang dapat masuk. Sebaliknya, ketika pupil mengecil, jumlah cahaya yang masuk ke mata berkurang.
Pupil memang mengecil ketika kita berada di tempat terang. Namun, pupil juga dapat mengecil sebagai bagian dari respons mata ketika melihat objek dekat. Penelitian terbaru ini menyoroti konsekuensi dari proses tersebut.
Masalahnya Mungkin Muncul Saat Melihat Dekat di Ruangan Redup
Bayangkan seseorang sedang membaca pesan di ponsel pada malam hari di sebuah kamar dengan pencahayaan yang relatif redup. Karena benda berada dekat dengan wajah, mata melakukan akomodasi untuk mempertahankan fokus. Sebagai bagian dari respons melihat dekat tersebut, pupil juga dapat menyempit.
Pada kondisi seperti ini terjadi kombinasi yang menarik. Lingkungan memang sudah menyediakan cahaya lebih sedikit dibandingkan kondisi di luar ruangan. Pada saat yang sama, penyempitan pupil membuat jumlah cahaya yang masuk ke mata semakin berkurang. Akibatnya, jumlah cahaya yang akhirnya mencapai retina dapat turun.
Menurut hipotesis yang diajukan Maharjan dan rekan-rekannya, kondisi seperti inilah yang mungkin menjadi salah satu penghubung antara kebiasaan melihat dekat di dalam ruangan dan perkembangan miopia. Tim mengusulkan bahwa stimulasi retina yang rendah dalam waktu lama dapat mengubah keseimbangan aktivitas jalur saraf tertentu yang terlibat dalam pemrosesan visual. Artinya, persoalannya mungkin bukan karena layar ponsel memiliki suatu sifat khusus yang secara langsung membuat mata menjadi minus. Membaca buku dengan jarak sangat dekat dalam ruangan redup juga menuntut proses akomodasi. Dengan kata lain, konteks bagaimana mata digunakan mungkin sama pentingnya dengan benda apa yang sedang dilihat.
Eksperimen Mengungkap Respons Mata yang Berlebihan pada Miopia
Untuk mempelajari mekanisme tersebut, para peneliti mengamati respons visuomotor ketika mata harus melakukan akomodasi. Visuomotor berarti hubungan antara informasi yang diterima sistem penglihatan dan respons gerakan yang kemudian dilakukan mata.

(B) Gambar memperlihatkan posisi mata saat kondisi fokus dan saat diberi pengaburan −5 dioptri, serta perubahan arah pandangan mata secara vertikal dan horizontal selama stimulus diberikan selama 5 detik.
Dalam eksperimen, tim menggunakan lensa yang kekuatannya dapat diubah secara elektronik untuk menghasilkan defocus optik hingga −5 dioptri pada salah satu mata. Defocus adalah keadaan ketika gambar tidak jatuh tepat pada bidang fokus retina sehingga terlihat kabur. Mata kemudian harus meningkatkan akomodasinya agar target kembali terlihat jelas. Pada saat yang sama, peneliti dapat mengamati perubahan arah mata dan ukuran pupil.
Penelitian tersebut melibatkan kelompok peserta dengan miopia dan kelompok tanpa miopia atau emmetropia. Emmetropia merupakan keadaan ketika mata dapat memfokuskan objek jauh dengan baik tanpa memerlukan koreksi refraksi seperti kacamata minus atau plus. Salah satu laporan metodologis mengenai penelitian tersebut menyebutkan 34 peserta, terdiri atas 13 orang dengan emmetropia dan 21 orang dengan miopia.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan miopia memperlihatkan accommodative eye vergence yang lebih besar, penurunan dominasi jalur ON, serta penyempitan pupil akibat akomodasi yang lebih kuat dibandingkan peserta tanpa miopia.
Temuan mengenai pupil sangat penting karena pupil yang semakin kecil berarti semakin sedikit cahaya mencapai retina.
Para peneliti juga menemukan bahwa penyempitan pupil tersebut dapat menjadi semakin kuat ketika tuntutan akomodasi meningkat, misalnya ketika jarak melihat menjadi semakin pendek. Respons itu juga dapat semakin menguat ketika akomodasi dipertahankan selama puluhan menit.
Dengan demikian, membaca sangat dekat selama beberapa menit tidak persis sama dengan mempertahankan aktivitas melihat dekat dalam waktu panjang. Durasi tampaknya menjadi salah satu bagian penting dari hipotesis yang sedang dikembangkan.
Apa Itu Jalur ON dan OFF pada Retina?
Salah satu bagian paling menarik dari penelitian ini berkaitan dengan jalur ON dan OFF pada sistem penglihatan. Retina bukanlah kamera pasif yang sekadar merekam cahaya. Di dalamnya terdapat jaringan saraf yang mulai mengolah informasi bahkan sebelum sinyal mencapai otak. Salah satu cara sistem visual memproses dunia adalah dengan membedakan perubahan menuju kondisi yang lebih terang dan perubahan menuju kondisi yang lebih gelap. Secara sederhana, jalur ON terutama merespons peningkatan cahaya atau bagian gambar yang menjadi lebih terang, sedangkan jalur OFF terutama merespons penurunan cahaya atau bagian gambar yang menjadi lebih gelap. Kedua jalur bekerja bersama sehingga otak dapat mengenali tepi benda, tekstur, pola, dan kontras. Kontras sendiri adalah perbedaan antara bagian terang dan gelap dalam suatu gambar. Tanpa kontras yang cukup, sebuah objek menjadi lebih sulit dibedakan dari latar belakangnya.
Penelitian sebelumnya dari kelompok ini telah menunjukkan adanya perbedaan fungsi jalur ON dan OFF pada orang dengan miopia. Dalam studi terbaru, peneliti menunjukkan bahwa gangguan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan sensorik untuk melihat, tetapi juga muncul dalam respons visuomotor selama akomodasi. Individu dengan miopia menunjukkan berkurangnya dominasi jalur ON ketika respons akomodasi berlangsung.
Para peneliti kemudian mengajukan kemungkinan adanya lingkaran mekanisme: penyempitan pupil yang berlebihan mengurangi cahaya menuju retina, rendahnya iluminasi retina dapat melemahkan respons saraf tertentu termasuk jalur ON, sementara gangguan sistem tersebut pada akhirnya dapat berkaitan dengan perkembangan miopia. Namun, bagian ini masih merupakan mekanisme yang diusulkan, bukan bukti bahwa urutan tersebut pasti menyebabkan bola mata seseorang memanjang.
Mengapa Berada di Luar Ruangan Mungkin Membantu?
Hipotesis ini juga memberikan penjelasan menarik mengenai salah satu teka-teki terbesar dalam penelitian miopia: mengapa menghabiskan waktu di luar ruangan tampaknya memberikan efek perlindungan?
Sekilas, hal ini terlihat bertentangan dengan pembahasan mengenai pupil. Cahaya luar ruangan yang terang juga membuat pupil mengecil. Jika pupil kecil mengurangi cahaya, bukankah efeknya sama? Jawabannya terletak pada jumlah cahaya yang tersedia. Di luar ruangan pada siang hari, intensitas cahaya jauh lebih tinggi daripada sebagian besar lingkungan dalam ruangan. Walaupun pupil mengecil sebagai respons terhadap cahaya terang, retina masih menerima stimulasi cahaya yang besar. Sebaliknya, ketika pupil mengecil akibat aktivitas melihat dekat di ruangan yang jauh lebih gelap, jumlah cahaya yang mencapai retina dapat menjadi relatif rendah.
Selain itu, aktivitas luar ruangan biasanya memberi lebih banyak kesempatan untuk memandang benda pada jarak jauh sehingga tuntutan akomodasi juga lebih rendah. Inilah alasan peneliti tidak sekadar mengatakan bahwa “pupil kecil menyebabkan miopia”. Yang menjadi perhatian adalah interaksi antara ukuran pupil, kekuatan akomodasi, jarak melihat, durasi, dan tingkat pencahayaan lingkungan.
Mengapa Atropine dan Lensa Khusus Bisa Memperlambat Miopia?
Hipotesis ini bahkan berpotensi membantu menjelaskan mengapa beberapa metode yang sangat berbeda ternyata sama-sama dapat memperlambat perkembangan miopia. Salah satunya adalah atropine. Dalam konteks pengendalian miopia, atropine dosis rendah telah digunakan untuk memperlambat progresivitas rabun jauh pada sebagian pasien. Salah satu efek atropine adalah memengaruhi sistem yang mengontrol pupil dan akomodasi. Dalam kerangka hipotesis terbaru ini, berkurangnya kemampuan pupil untuk menyempit secara berlebihan dapat membuat lebih banyak cahaya mencapai retina.
Pendekatan lain menggunakan lensa multifokal dan berbagai desain optik pengendalian miopia. Menurut mekanisme yang diusulkan peneliti, beberapa pendekatan tersebut dapat mengurangi tuntutan akomodasi atau mengubah stimulus visual sehingga penyempitan pupil akibat akomodasi menjadi lebih terbatas.
Menariknya, berbagai pendekatan yang sebelumnya tampak bekerja melalui mekanisme berbeda mungkin memiliki satu benang merah: mempertahankan stimulasi retina sambil mencegah respons melihat dekat menjadi terlalu kuat. Ini masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut, tetapi memberi para ilmuwan sebuah kerangka baru untuk menyusun eksperimen berikutnya.
Apakah Ini Berarti Ponsel Tidak Menyebabkan Rabun Jauh?
Temuan ini bukan berarti masyarakat boleh menyimpulkan bahwa penggunaan ponsel sama sekali tidak berhubungan dengan miopia. Yang berubah adalah cara kita memandang hubungan tersebut. Ponsel hampir selalu digunakan dari jarak dekat. Seseorang juga dapat menatapnya terus-menerus selama puluhan menit atau bahkan berjam-jam. Aktivitas tersebut sering dilakukan di dalam ruangan, terkadang dengan tingkat pencahayaan yang jauh lebih rendah daripada lingkungan luar.
Dengan demikian, layar dapat menjadi bagian dari pola perilaku yang meningkatkan tuntutan melihat dekat, tetapi penelitian ini tidak mendukung kesimpulan sederhana bahwa sifat layar itu sendiri merupakan penyebab tunggal miopia. Tim peneliti secara khusus menekankan bahwa studi tersebut tidak menyatakan layar secara langsung menyebabkan miopia, tidak mengatakan cahaya merupakan satu-satunya faktor, dan tidak menganggap faktor genetik tidak penting.
Miopia kemungkinan merupakan kondisi multifaktorial. Artinya, banyak faktor dapat berinteraksi, termasuk genetika, perkembangan mata, lingkungan visual, aktivitas melihat dekat, pencahayaan, dan waktu yang dihabiskan di luar ruangan.
Temuan Menarik, tetapi Belum Menjadi Jawaban Akhir
Ada perbedaan penting antara menemukan mekanisme fisiologis yang menarik dan membuktikan penyebab suatu penyakit. Penelitian Maharjan dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa respons akomodasi, gerakan mata, ukuran pupil, kontras, serta jalur ON dan OFF memang saling berhubungan dan menunjukkan perbedaan pada individu dengan miopia. Tim kemudian menggunakan hasil tersebut untuk menyusun hipotesis yang dapat menjelaskan berbagai observasi mengenai perkembangan dan pengendalian miopia.
Namun, hasil tersebut belum membuktikan bahwa seorang anak yang membaca di ruangan redup selama periode tertentu pasti akan menjadi miopia. Penelitian juga belum menunjukkan bahwa sekadar meningkatkan lampu kamar dapat mencegah rabun jauh pada semua orang.
Jose-Manuel Alonso, senior author penelitian ini, secara eksplisit menekankan bahwa mekanisme yang mereka usulkan bukan jawaban akhir. Nilai penting penelitian justru terletak pada kemampuannya menghasilkan hipotesis yang dapat diuji secara eksperimen.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah perubahan iluminasi retina benar-benar memengaruhi pertumbuhan mata dalam jangka panjang, seberapa besar kontribusinya dibanding faktor lain, serta apakah modifikasi pencahayaan dan kebiasaan melihat dapat menjadi intervensi yang efektif.
Dari “Berapa Lama Menatap Layar?” Menjadi “Bagaimana Kita Menggunakan Mata?”
Selama ini diskusi mengenai kesehatan mata sering berpusat pada satu pertanyaan: berapa jam screen time yang aman? Hasil penelitian ini menawarkan cara berpikir yang lebih luas. Dua orang dapat memiliki durasi screen time yang sama, tetapi kondisi penggunaan mata mereka mungkin sangat berbeda. Seseorang dapat menggunakan laptop di ruangan terang dengan jarak pandang relatif jauh dan sering beristirahat. Orang lain mungkin menggunakan ponsel sangat dekat dengan wajah selama berjam-jam di kamar redup. Dalam kerangka hipotesis ini, kedua situasi tersebut tidak harus memberikan stimulus fisiologis yang sama pada mata.
Jarak pandang menentukan kekuatan akomodasi. Durasi menentukan berapa lama respons tersebut dipertahankan. Cahaya lingkungan memengaruhi jumlah cahaya yang tersedia. Pupil menentukan seberapa banyak cahaya dapat masuk. Semua proses ini pada akhirnya menentukan kondisi stimulasi yang diterima retina.
Karena itu, penelitian ini menggeser percakapan dari sekadar menyalahkan perangkat digital menuju pemahaman tentang keseluruhan lingkungan visual manusia modern.
Kesimpulan
Penelitian terbaru dari SUNY College of Optometry yang diterbitkan dalam Cell Reports menawarkan hipotesis baru mengenai meningkatnya kasus miopia. Alih-alih menunjuk layar sebagai penyebab tunggal, penelitian ini menyoroti interaksi antara aktivitas melihat dekat, akomodasi mata, penyempitan pupil, pencahayaan dalam ruangan, jumlah cahaya yang mencapai retina, serta keseimbangan aktivitas jalur ON dan OFF pada sistem penglihatan.
Pada orang dengan miopia, tim peneliti menemukan respons vergence akibat akomodasi dan penyempitan pupil yang lebih kuat serta berkurangnya dominasi jalur ON. Penyempitan pupil menjadi semakin penting ketika aktivitas melihat dekat dilakukan dalam kondisi cahaya rendah, karena retina dapat menerima stimulasi cahaya yang lebih sedikit. Kondisi tersebut diusulkan sebagai salah satu mekanisme yang mungkin membantu menjelaskan hubungan antara near work dan perkembangan miopia.
Hipotesis yang sama juga berpotensi menjelaskan mengapa menghabiskan waktu di luar ruangan, menggunakan atropine, serta beberapa jenis lensa untuk pengendalian miopia dapat memberikan manfaat meskipun pendekatannya sangat berbeda.
Namun, penelitian ini belum membuktikan bahwa pencahayaan redup atau aktivitas melihat dekat secara langsung menjadi penyebab tunggal miopia. Faktor genetik dan mekanisme biologis lain tetap berperan, dan hubungan antara iluminasi retina dengan pertumbuhan bola mata masih membutuhkan penelitian jangka panjang.
Pesan terpenting dari penelitian ini mungkin bukan bahwa kita harus takut pada layar, melainkan bahwa cara manusia menggunakan matanya telah berubah drastis. Kita semakin banyak hidup di dalam ruangan, melihat benda dari jarak dekat, dan mempertahankan fokus tersebut dalam waktu panjang. Jika hipotesis ini akhirnya terbukti, maka masa depan pencegahan miopia mungkin tidak hanya berbicara tentang kacamata atau obat, tetapi juga tentang bagaimana kita merancang pencahayaan, lingkungan belajar, dan kebiasaan visual sehari-hari.
Referensi
[1] https://www.sunyopt.edu/new-research-suggests-myopia-could-be-caused-by-how-we-use-our-eyes-indoors/, diakses pada 17 Agustus 2026
[2] Urusha Maharjan, Hamed Rahimi-Nasrabadi, Sabina Poudel, Farzaneh Olianezhad, Jianzhong Jin, Mitchell W. Dul, Jose-Manuel Alonso. Human accommodative visuomotor function is driven by contrast through ON and OFF pathways and is enhanced in myopia. Cell Reports, 2026; 116938 DOI: 10.1016/j.celrep.2026.116938

