Lidah buaya dan putih telur sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari hari. Banyak orang memanfaatkan lidah buaya sebagai bahan alami untuk merawat kulit, sementara putih telur dikenal sebagai sumber protein yang sering digunakan dalam berbagai jenis makanan. Tidak banyak yang menyangka bahwa kedua bahan sederhana ini ternyata memiliki potensi besar dalam dunia medis. Para ilmuwan kini berhasil menggabungkan gel lidah buaya dan putih telur menjadi hidrogel bioaktif yang berpotensi membantu penyembuhan luka kronis dengan cara yang lebih efektif dibandingkan pembalut luka konvensional.
Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam jurnal Materials NanoScience menunjukkan bahwa kombinasi kedua bahan alami tersebut mampu menghasilkan hidrogel dengan kemampuan menjaga kelembapan luka, menghambat pertumbuhan bakteri, serta melepaskan senyawa bioaktif secara bertahap. Hasil penelitian ini membuka peluang baru dalam pengembangan pembalut luka yang lebih murah, lebih ramah lingkungan, dan lebih efektif untuk membantu proses penyembuhan.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Luka kronis masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia kesehatan. Berbeda dengan luka biasa yang umumnya sembuh dalam beberapa hari atau minggu, luka kronis dapat bertahan selama berbulan bulan bahkan lebih dari satu tahun. Kondisi ini sering dialami oleh penderita diabetes, gangguan sirkulasi darah, pasien lanjut usia, maupun orang yang memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh. Luka yang tidak kunjung sembuh bukan hanya menyebabkan rasa nyeri, tetapi juga meningkatkan risiko infeksi yang dapat berujung pada komplikasi serius hingga amputasi pada kasus tertentu.
Selama bertahun tahun tenaga medis menggunakan kasa steril dan perban sebagai pembalut luka. Cara tersebut memang mampu melindungi luka dari debu dan kotoran. Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa luka tidak selalu sembuh lebih cepat ketika dibiarkan kering. Sebaliknya, jaringan kulit baru justru tumbuh lebih baik pada lingkungan yang lembap. Lingkungan yang terlalu kering dapat memperlambat pembentukan sel baru, sedangkan lingkungan yang terlalu basah tanpa perlindungan terhadap bakteri dapat meningkatkan risiko infeksi. Karena alasan inilah para ilmuwan mulai mengembangkan material pembalut luka yang mampu menjaga keseimbangan kelembapan sekaligus melindungi luka dari mikroorganisme.
Salah satu material yang mendapat perhatian besar adalah hidrogel. Hidrogel merupakan bahan lunak yang mampu menyimpan air dalam jumlah sangat tinggi. Struktur tiga dimensinya menyerupai jaringan tubuh manusia sehingga mampu mempertahankan kelembapan di sekitar luka. Selain itu, hidrogel juga dapat menjadi tempat penyimpanan berbagai senyawa aktif yang dilepaskan secara perlahan selama proses penyembuhan berlangsung. Karakteristik tersebut membuat hidrogel menjadi salah satu kandidat terbaik sebagai pembalut luka modern.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan memilih gel lidah buaya sebagai salah satu bahan utama. Gel lidah buaya mengandung polisakarida, vitamin, mineral, asam amino, enzim, serta berbagai senyawa fenolik yang telah lama diketahui memiliki aktivitas biologis. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gel lidah buaya mampu membantu menjaga kelembapan kulit, mendukung regenerasi jaringan, serta memberikan efek antioksidan yang bermanfaat selama proses penyembuhan luka.
Namun, para peneliti menyadari bahwa gel lidah buaya saja belum cukup untuk menghasilkan hidrogel dengan kekuatan mekanik yang baik. Oleh karena itu mereka menambahkan putih telur sebagai bahan pendamping. Putih telur mengandung berbagai protein penting, terutama albumin dan lisozim. Albumin membantu membentuk struktur hidrogel yang lebih kuat dan stabil, sedangkan lisozim dikenal sebagai protein alami yang mampu merusak dinding sel beberapa jenis bakteri. Kombinasi kedua bahan tersebut diharapkan mampu menghasilkan efek yang saling memperkuat.
Tim peneliti kemudian membuat lima formulasi hidrogel dengan perbandingan gel lidah buaya dan putih telur yang berbeda. Masing masing formulasi menjalani serangkaian pengujian untuk mengetahui kemampuan menyerap air, kekuatan struktur, aktivitas antibakteri, serta kemampuan melepaskan senyawa bioaktif secara bertahap. Pengujian yang menyeluruh seperti ini penting karena pembalut luka yang ideal tidak hanya harus mampu melindungi luka, tetapi juga harus tetap stabil selama digunakan dan memberikan manfaat biologis secara berkelanjutan.
Salah satu sifat pertama yang diuji adalah hidrofilisitas atau kemampuan material berinteraksi dengan air. Kemampuan ini sangat penting karena jaringan yang sedang mengalami penyembuhan memerlukan kelembapan yang stabil. Hidrogel yang terlalu sedikit menyerap air akan membuat luka cepat mengering. Sebaliknya, hidrogel yang tidak mampu mempertahankan air akan kehilangan fungsinya dalam waktu singkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formulasi hidrogel memiliki kemampuan mempertahankan air yang baik sehingga mampu menciptakan lingkungan yang mendukung proses regenerasi jaringan.
Pengujian berikutnya berfokus pada kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri. Para peneliti menggunakan bakteri Escherichia coli sebagai salah satu mikroorganisme uji karena bakteri ini sering ditemukan pada berbagai infeksi luka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi dengan perbandingan gel lidah buaya dan putih telur satu banding satu menghasilkan aktivitas antibakteri paling tinggi. Zona hambat yang terbentuk mencapai sekitar tiga puluh tiga milimeter, menunjukkan bahwa kombinasi kedua bahan alami tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri secara efektif.
Keberhasilan tersebut kemungkinan berasal dari kerja sama berbagai senyawa aktif yang terdapat di dalam kedua bahan. Gel lidah buaya menyediakan berbagai senyawa fenolik dan polisakarida yang mendukung proses penyembuhan jaringan. Pada saat yang sama, protein lisozim dalam putih telur membantu melemahkan dinding sel bakteri sehingga pertumbuhan mikroorganisme menjadi lebih sulit. Para ilmuwan menyebut fenomena saling memperkuat seperti ini sebagai efek sinergis. Efek tersebut membuat kemampuan hidrogel menjadi lebih baik dibandingkan apabila setiap bahan digunakan secara terpisah.
Selain menguji aktivitas antibakteri, para peneliti juga mengevaluasi kemampuan hidrogel melepaskan senyawa bioaktif secara bertahap. Pelepasan yang berlangsung perlahan memiliki keuntungan besar karena luka memperoleh pasokan senyawa aktif dalam waktu yang lebih lama. Kondisi tersebut membantu menjaga proses penyembuhan tetap berlangsung tanpa memerlukan pemberian bahan aktif secara berulang dalam waktu singkat.

Formulasi dengan kandungan gel lidah buaya dua kali lebih banyak daripada putih telur menghasilkan pelepasan senyawa fenolik yang paling optimal. Senyawa fenolik dikenal memiliki aktivitas antioksidan yang membantu mengurangi kerusakan sel akibat radikal bebas. Sementara itu, formulasi dengan kandungan putih telur lebih tinggi menghasilkan pelepasan protein terbesar hingga sekitar 143,75 mikrogram per mililiter. Protein tersebut berpotensi membantu pembentukan jaringan baru sekaligus mempertahankan struktur hidrogel selama digunakan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa setiap formulasi memiliki karakteristik yang berbeda. Komposisi dengan aktivitas antibakteri terbaik belum tentu menjadi formulasi dengan pelepasan senyawa bioaktif terbaik. Temuan tersebut memberikan peluang bagi para peneliti untuk menyesuaikan komposisi hidrogel sesuai kebutuhan pasien. Luka yang memiliki risiko infeksi tinggi mungkin memerlukan formulasi dengan aktivitas antibakteri maksimal, sedangkan luka yang membutuhkan regenerasi jaringan lebih intensif dapat menggunakan formulasi dengan pelepasan senyawa bioaktif yang lebih tinggi.
Keunggulan lain dari hidrogel ini berasal dari bahan bakunya yang mudah diperoleh. Lidah buaya tumbuh dengan baik di berbagai daerah tropis, termasuk Indonesia. Putih telur juga tersedia dalam jumlah melimpah sebagai bahan pangan sehari hari. Penggunaan bahan alami seperti ini berpotensi menekan biaya produksi dibandingkan material sintetis yang memerlukan proses manufaktur lebih rumit. Selain itu, bahan alami umumnya memiliki tingkat biokompatibilitas yang baik sehingga lebih mudah diterima oleh tubuh.
Meskipun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, para ilmuwan menegaskan bahwa seluruh pengujian masih dilakukan di laboratorium. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan keamanan, efektivitas, daya tahan, serta manfaat hidrogel pada pasien dengan berbagai jenis luka kronis. Uji praklinis dan uji klinis akan menjadi tahap penting sebelum teknologi ini benar benar dapat digunakan di rumah sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi besar tidak selalu berasal dari bahan yang mahal atau teknologi yang sangat rumit. Gel lidah buaya dan putih telur yang selama ini hadir di dapur dan halaman rumah ternyata dapat dipadukan menjadi hidrogel bioaktif yang mampu menjaga kelembapan luka, menghambat pertumbuhan bakteri, serta mendukung proses penyembuhan secara bertahap. Jika penelitian ini terus berkembang hingga tahap penerapan klinis, bukan tidak mungkin perban modern pada masa depan akan memanfaatkan dua bahan alami yang selama ini sudah sangat akrab dalam kehidupan manusia.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Chalukya, Gunjan dkk. 2026. Assessment of hydrophilicity, antimicrobial potency and synergism in Aloe vera–Egg white Hybrid Hydrogels. Materials NanoScience 13 (1), 1803-1803.

