Lidah buaya terus menunjukkan potensi yang semakin mengejutkan di dunia sains. Selama ini tanaman tersebut dikenal sebagai bahan alami untuk meredakan iritasi kulit, melembapkan kulit kering, atau membantu mempercepat penyembuhan luka ringan. Namun, para ilmuwan kini menemukan bahwa manfaat lidah buaya ternyata tidak hanya berasal dari gel yang selama ini digunakan masyarakat. Di dalam tanaman ini terdapat partikel berukuran sangat kecil yang mampu berkomunikasi dengan sel tubuh dan membantu mengurangi peradangan, melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar ultraviolet, serta mempercepat proses perbaikan jaringan. Penemuan ini membuka peluang baru bagi pengembangan kosmetik dan terapi medis berbasis bahan alami pada masa depan.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Future Science OA pada tahun 2026. Tim peneliti berhasil mengisolasi partikel nano yang disebut plant derived exosome like nanovesicles atau nanovesikel mirip eksosom yang berasal dari lidah buaya. Melalui serangkaian pengujian di laboratorium, mereka menemukan bahwa partikel ini memiliki aktivitas antioksidan, antiperadangan, serta kemampuan mendukung penyembuhan luka yang sangat menjanjikan. Walaupun penelitian masih berada pada tahap kultur sel, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tanaman yang telah lama digunakan sebagai obat tradisional ini masih menyimpan banyak rahasia ilmiah yang belum sepenuhnya terungkap.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Untuk memahami mengapa penelitian ini begitu menarik, kita perlu mengenal terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan eksosom. Eksosom merupakan kantong sangat kecil yang dilepaskan oleh sel sebagai media komunikasi. Ukurannya hanya berkisar puluhan hingga ratusan nanometer, sehingga tidak dapat dilihat dengan mikroskop biasa. Meskipun sangat kecil, eksosom membawa berbagai molekul penting seperti protein, lipid, serta materi genetik yang digunakan untuk mengirimkan pesan dari satu sel ke sel lainnya. Melalui sistem komunikasi inilah tubuh mengatur berbagai proses penting, mulai dari pertumbuhan jaringan hingga respons terhadap cedera dan infeksi.
Para ilmuwan kemudian menemukan bahwa tumbuhan juga menghasilkan partikel yang sangat mirip dengan eksosom pada manusia. Partikel tersebut dikenal sebagai nanovesikel mirip eksosom. Fungsinya tidak jauh berbeda, yaitu membawa berbagai molekul biologis yang membantu tumbuhan beradaptasi terhadap lingkungan. Karena berasal dari bahan alami dan mengandung banyak senyawa aktif, para peneliti mulai mempelajari apakah partikel tersebut juga dapat memberikan manfaat ketika berinteraksi dengan sel manusia.
Lidah buaya menjadi salah satu tanaman yang paling menarik untuk diteliti. Selama ratusan tahun masyarakat memanfaatkan gel lidah buaya sebagai bahan alami untuk merawat kulit dan mengatasi luka ringan. Berbagai penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa lidah buaya mengandung polisakarida, vitamin, mineral, asam amino, dan senyawa fenolik yang memiliki aktivitas biologis. Namun, penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa manfaat lidah buaya ternyata tidak hanya berasal dari kandungan kimianya, tetapi juga dari partikel nano yang membawa berbagai molekul penting ke dalam sel.
Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan memisahkan nanovesikel dari gel lidah buaya menggunakan metode presipitasi dengan polietilen glikol. Setelah berhasil diperoleh, partikel tersebut dianalisis menggunakan berbagai peralatan modern untuk mengetahui ukuran, bentuk, dan kandungannya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa nanovesikel memiliki bentuk bulat dengan diameter rata rata sekitar 173 nanometer. Analisis lebih lanjut juga menemukan adanya berbagai protein yang berhubungan dengan kemampuan tumbuhan merespons tekanan lingkungan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa nanovesikel membawa komponen biologis yang berpotensi memengaruhi aktivitas sel manusia.

Langkah berikutnya adalah menguji kemampuan nanovesikel dalam mengurangi peradangan. Peradangan sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk melawan infeksi atau memperbaiki jaringan yang rusak. Namun, apabila berlangsung terlalu lama, peradangan justru dapat merusak sel sehat dan memperlambat proses penyembuhan. Kondisi inilah yang sering ditemukan pada berbagai penyakit kronis maupun proses penuaan kulit.
Para peneliti menggunakan sel makrofag RAW 264.7 sebagai model penelitian. Sel ini merupakan salah satu jenis sel imun yang berperan penting dalam mengatur respons peradangan. Ketika sel tersebut dirangsang untuk mengalami inflamasi, produksi berbagai molekul penyebab peradangan meningkat secara drastis. Setelah diberikan nanovesikel lidah buaya dengan konsentrasi 40 mikrogram per mililiter, hasilnya menunjukkan penurunan kadar nitrogen monoksida hingga sekitar 46,9 persen. Molekul ini merupakan salah satu penanda utama terjadinya inflamasi sehingga penurunannya menunjukkan bahwa nanovesikel mampu meredam respons peradangan secara efektif.
Selain itu, jumlah reactive oxygen species atau ROS juga turun sekitar 28,67 persen. ROS merupakan kelompok radikal bebas yang dapat merusak protein, membran sel, bahkan materi genetik apabila jumlahnya terlalu tinggi. Tubuh sebenarnya memerlukan ROS dalam jumlah kecil untuk menjalankan beberapa fungsi normal. Namun, kelebihan ROS akan menyebabkan stres oksidatif yang mempercepat kerusakan jaringan dan proses penuaan. Penurunan ROS menunjukkan bahwa nanovesikel lidah buaya memiliki kemampuan antioksidan yang cukup kuat untuk membantu melindungi sel dari kerusakan tersebut.
Penelitian ini juga menemukan adanya kecenderungan penurunan kadar interleukin enam serta berkurangnya polarisasi makrofag tipe M1. Makrofag M1 dikenal sebagai kelompok sel yang mendorong terjadinya peradangan. Ketika jumlahnya menurun, lingkungan di sekitar jaringan menjadi lebih kondusif bagi proses penyembuhan. Hal ini menunjukkan bahwa nanovesikel tidak hanya bekerja melalui satu mekanisme, tetapi memengaruhi beberapa jalur biologis secara bersamaan.
Para peneliti kemudian menguji kemampuan nanovesikel dalam melindungi sel kulit dari kerusakan akibat sinar ultraviolet. Untuk tujuan tersebut mereka menggunakan sel fibroblas manusia 1BR3. Fibroblas merupakan sel yang bertanggung jawab menghasilkan kolagen, yaitu protein utama yang menjaga kekuatan, elastisitas, dan kekenyalan kulit. Paparan sinar ultraviolet yang berlangsung terus menerus dapat meningkatkan pembentukan radikal bebas sehingga produksi kolagen menurun dan tanda tanda penuaan muncul lebih cepat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanovesikel lidah buaya dengan konsentrasi 80 mikrogram per mililiter mampu menurunkan pembentukan ROS pada sel fibroblas hingga sekitar 43,55 persen setelah paparan sinar ultraviolet. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa partikel nano dari lidah buaya mampu membantu melindungi sel kulit dari kerusakan oksidatif yang dipicu oleh radiasi ultraviolet.
Menariknya, konsentrasi yang lebih rendah justru memberikan hasil terbaik dalam memperbaiki jaringan. Pada dosis 40 mikrogram per mililiter, nanovesikel mampu mengembalikan ekspresi kolagen tipe satu dan meningkatkan sekresi kolagen sekitar 40,2 persen. Kolagen tipe satu merupakan komponen utama penyusun kulit sehingga peningkatan produksinya menjadi tanda bahwa proses regenerasi jaringan berlangsung lebih aktif. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan dosis yang tepat sangat penting untuk memperoleh manfaat maksimal.
Para ilmuwan juga melakukan pengujian menggunakan metode goresan pada lapisan sel. Dalam metode ini, mereka membuat celah kecil pada lapisan fibroblas untuk menyerupai luka, kemudian mengamati kecepatan sel menutup celah tersebut. Hasilnya sangat menjanjikan. Nanovesikel lidah buaya pada konsentrasi 40 mikrogram per mililiter mampu menghasilkan penutupan luka hingga sekitar 90 persen dalam waktu 96 jam. Bahkan, hasil tersebut lebih baik dibandingkan konsentrasi yang lebih tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa lebih banyak tidak selalu berarti lebih efektif, terutama pada sistem biologis yang sangat kompleks.
Keunggulan lain dari teknologi ini terletak pada sumber bahannya. Lidah buaya merupakan tanaman yang mudah dibudidayakan di berbagai wilayah tropis termasuk Indonesia. Tanaman ini juga relatif murah dan tersedia dalam jumlah melimpah. Apabila penelitian lanjutan berhasil membuktikan keamanan dan efektivitasnya pada manusia, nanovesikel lidah buaya berpotensi menjadi bahan aktif alami yang lebih ramah lingkungan dibandingkan beberapa bahan sintetis yang digunakan saat ini.
Meskipun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa seluruh pengujian masih dilakukan pada kultur sel di laboratorium. Uji pada hewan dan manusia masih diperlukan untuk memastikan keamanan, dosis yang paling tepat, serta manfaat jangka panjangnya sebelum dapat diterapkan dalam produk kosmetik maupun terapi medis.
Penelitian ini menunjukkan bahwa lidah buaya masih menyimpan potensi yang jauh lebih besar daripada yang selama ini dikenal masyarakat. Tanaman yang identik dengan gel penyegar kulit tersebut ternyata mengandung partikel nano yang mampu berkomunikasi dengan sel, mengurangi peradangan, melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar ultraviolet, meningkatkan produksi kolagen, dan mempercepat penyembuhan luka. Jika penelitian selanjutnya berhasil membuktikan manfaat tersebut pada manusia, bukan tidak mungkin nanovesikel lidah buaya akan menjadi generasi baru bahan aktif alami yang membawa dunia perawatan kulit dan pengobatan menuju era yang lebih canggih sekaligus lebih ramah lingkungan.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Barlian, Anggraini dkk. 2026. Isolation of plant-derived exosome-like nanovesicles (PDENs) from Aloe vera and their effect on RAW 264.7 and 1BR3 cells as a potential anti-inflammatory and anti-photoaging agent. Future Science OA 12 (1), 2641016.

