Lidah buaya selama ini dikenal sebagai tanaman yang kaya manfaat untuk kesehatan dan kecantikan. Banyak orang memanfaatkan gel bening di dalam daunnya untuk meredakan iritasi kulit, mempercepat penyembuhan luka ringan, hingga menjadi bahan minuman dan produk kosmetik. Namun, para ilmuwan kini menemukan kemampuan baru yang jauh lebih mengejutkan. Gel lidah buaya ternyata dapat menjalankan fungsi penting di dalam perangkat elektronik modern. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gel alami ini mampu menggantikan salah satu komponen utama pada transistor elektrokimia organik, sebuah teknologi yang diperkirakan akan memainkan peran besar dalam pengembangan sensor kesehatan, perangkat medis yang dapat dikenakan, hingga elektronik ramah lingkungan pada masa depan.
Temuan tersebut dipublikasikan pada tahun 2026 dalam jurnal ACS Applied Materials and Interfaces. Para peneliti menunjukkan bahwa gel lidah buaya yang digunakan tanpa proses pengolahan kimia yang rumit mampu berfungsi sebagai elektrolit kuasi padat pada transistor elektrokimia organik atau Organic Electrochemical Transistor yang sering disingkat OECT. Hasil penelitian ini menarik perhatian karena selama ini sebagian besar elektrolit untuk perangkat elektronik menggunakan bahan sintetis yang memerlukan proses pembuatan lebih kompleks dan belum tentu ramah lingkungan.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Bagi masyarakat umum, istilah transistor mungkin terdengar asing. Padahal hampir semua perangkat elektronik modern bergantung pada komponen kecil ini. Telepon pintar, komputer, televisi, kendaraan listrik, hingga berbagai alat elektronik rumah tangga menggunakan jutaan bahkan miliaran transistor yang bekerja secara bersamaan. Transistor berfungsi sebagai sakelar elektronik yang mengatur kapan arus listrik boleh mengalir dan kapan harus dihentikan. Kemampuan mengendalikan aliran listrik inilah yang memungkinkan sebuah perangkat menjalankan berbagai perintah dengan sangat cepat.
Penelitian ini tidak menggunakan transistor silikon seperti yang terdapat pada prosesor komputer. Tim peneliti memilih transistor elektrokimia organik yang memiliki prinsip kerja berbeda. Transistor jenis ini memanfaatkan pergerakan ion, bukan hanya elektron, sehingga sangat cocok digunakan pada lingkungan yang mengandung air atau cairan biologis. Karakteristik tersebut membuat transistor elektrokimia organik menjadi kandidat ideal untuk berbagai perangkat medis yang harus bersentuhan langsung dengan tubuh manusia.
Salah satu komponen terpenting dalam transistor elektrokimia organik adalah elektrolit. Elektrolit merupakan bahan yang memungkinkan ion bergerak dari satu bagian ke bagian lain sehingga transistor dapat bekerja dengan baik. Selama bertahun tahun para peneliti menggunakan larutan garam khusus, cairan ionik, maupun hidrogel sintetis sebagai elektrolit. Meskipun mampu menghasilkan performa tinggi, bahan bahan tersebut sering kali memerlukan proses sintesis yang rumit, menggunakan senyawa kimia tertentu, serta tidak selalu mudah terurai di lingkungan.
Kondisi tersebut mendorong para ilmuwan mencari alternatif yang berasal dari alam. Gel lidah buaya menjadi pilihan yang sangat menarik karena memiliki kandungan air yang sangat tinggi serta mengandung berbagai mineral alami seperti natrium, kalium, kalsium, dan magnesium. Mineral mineral tersebut berada dalam bentuk ion yang memang diperlukan untuk menghantarkan muatan listrik. Dengan kata lain, lidah buaya telah menyediakan elektrolit alami tanpa perlu penambahan bahan kimia lain dalam jumlah besar.
Para peneliti kemudian mengambil gel lidah buaya segar dan menggunakannya secara langsung sebagai elektrolit kuasi padat. Istilah kuasi padat mengacu pada sifat material yang berada di antara cair dan padat. Gel tetap memiliki kandungan air yang tinggi sehingga ion dapat bergerak dengan bebas, tetapi bentuknya tidak mudah mengalir seperti cairan biasa. Karakteristik tersebut sangat menguntungkan karena mengurangi risiko kebocoran elektrolit yang sering menjadi kendala pada perangkat elektronik berbasis cairan.

Selain menguji kemampuan menghantarkan ion, para peneliti juga mempelajari sifat mekanik gel lidah buaya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa gel memiliki struktur lunak, elastis, dan mampu mempertahankan bentuknya dengan baik. Karakteristik seperti ini sangat penting bagi perkembangan perangkat elektronik fleksibel yang dapat ditekuk, dilipat, bahkan ditempelkan pada permukaan kulit manusia. Material yang terlalu kaku akan mudah retak ketika dibengkokkan, sedangkan material yang terlalu cair akan sulit dipertahankan di dalam perangkat. Gel lidah buaya memberikan keseimbangan yang sangat baik antara fleksibilitas dan kestabilan.
Pengujian berikutnya menghasilkan temuan yang semakin menarik. Gel lidah buaya menunjukkan konduktivitas ion sekitar 6,1 milisiemens per sentimeter. Nilai tersebut tergolong tinggi untuk sebuah material alami yang digunakan hampir tanpa modifikasi. Selain itu, gel juga memiliki kapasitansi antarmuka sekitar 58,5 mikrofarad per sentimeter persegi. Kedua parameter tersebut menunjukkan bahwa ion di dalam gel mampu bergerak secara efisien sehingga transistor dapat bekerja dengan respons yang cepat.
Ketika para peneliti memasukkan gel lidah buaya ke dalam transistor elektrokimia organik, performanya ternyata sangat mengesankan. Perangkat menghasilkan transkonduktansi maksimum sekitar 11 milisiemens dan arus aktif sekitar 6,5 miliampere. Nilai tersebut sebanding dengan transistor yang menggunakan larutan fosfat penyangga atau phosphate buffered saline, yaitu elektrolit standar yang selama ini banyak digunakan dalam penelitian bioelektronik. Hasil ini membuktikan bahwa bahan alami sederhana mampu memberikan kinerja yang tidak kalah dengan material sintetis yang telah lama digunakan.
Kecepatan kerja transistor juga menjadi salah satu aspek penting dalam penelitian ini. Sebuah transistor harus mampu berpindah dari kondisi menyala ke kondisi mati dalam waktu yang sangat singkat agar dapat memproses informasi dengan baik. Pengujian menunjukkan bahwa transistor berbasis gel lidah buaya memiliki respons yang cepat sehingga sesuai untuk berbagai aplikasi elektronik modern. Selain itu, perangkat juga menunjukkan kestabilan yang sangat baik selama penggunaan berulang.
Tim peneliti melakukan pengujian hingga seratus siklus pengoperasian. Setelah seluruh pengujian selesai, transistor masih mempertahankan sekitar 96 persen arus awalnya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa gel lidah buaya mampu bekerja secara stabil tanpa mengalami penurunan performa yang berarti. Ketahanan seperti ini menjadi salah satu syarat penting apabila material ingin digunakan pada perangkat elektronik yang harus beroperasi dalam jangka waktu lama.
Keunggulan lain dari gel lidah buaya terletak pada aspek biokompatibilitas. Banyak perangkat bioelektronik dirancang untuk bersentuhan langsung dengan tubuh manusia, misalnya sensor pemantau detak jantung, sensor kadar glukosa, alat pemantau aktivitas otot, maupun perangkat yang membantu proses rehabilitasi pasien. Material yang digunakan harus aman, tidak memicu reaksi berbahaya, dan tidak merusak jaringan tubuh. Karena berasal dari bahan alami yang telah lama digunakan dalam berbagai produk kesehatan, gel lidah buaya memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Selain aman bagi tubuh, penggunaan gel lidah buaya juga mendukung perkembangan elektronik hijau. Industri elektronik saat ini menghadapi tantangan besar berupa meningkatnya limbah elektronik yang sulit terurai. Banyak komponen masih bergantung pada bahan sintetis yang memerlukan proses produksi intensif dan menghasilkan jejak karbon yang tinggi. Penggunaan material alami yang dapat diperbarui memberikan peluang untuk mengurangi dampak lingkungan tanpa harus mengorbankan performa perangkat.
Walaupun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, para ilmuwan masih harus melakukan berbagai penelitian lanjutan sebelum teknologi tersebut dapat diproduksi secara massal. Mereka perlu memastikan bahwa kualitas gel tetap stabil dalam penyimpanan jangka panjang, mampu diproduksi dalam jumlah besar dengan mutu yang konsisten, serta kompatibel dengan berbagai jenis material elektronik lainnya. Perbedaan varietas lidah buaya, kondisi pertumbuhan tanaman, maupun metode penyimpanan juga perlu dipelajari karena dapat memengaruhi kandungan mineral di dalam gel.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa alam masih menyimpan banyak solusi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Gel lidah buaya yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan perawatan kulit ternyata mampu menjalankan fungsi penting sebagai elektrolit pada transistor elektrokimia organik. Temuan ini membuka peluang lahirnya perangkat elektronik yang lebih aman, lebih fleksibel, lebih ramah lingkungan, dan lebih mudah dipadukan dengan tubuh manusia. Jika pengembangan teknologi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin suatu hari nanti sensor kesehatan yang menempel di kulit atau perangkat medis canggih yang membantu memantau kondisi tubuh akan bekerja berkat gel alami yang berasal dari tanaman lidah buaya.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Kassahun, Getnet dkk. 2026. Unprocessed Aloe Vera Gel as Quasi-Solid-State Electrolyte for High-Performance Organic Electrochemical Transistors. ACS Applied Materials & Interfaces.

