Lidah buaya selama ini lebih dikenal sebagai tanaman yang membantu meredakan iritasi kulit, mempercepat penyembuhan luka, dan menjaga kelembapan kulit. Gel bening di dalam daunnya menjadi bahan utama berbagai produk kosmetik, minuman kesehatan, hingga obat tradisional. Namun, para ilmuwan kini mulai menemukan bahwa manfaat tanaman ini mungkin jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ekstrak lidah buaya mampu menghambat pertumbuhan sel kanker kandung kemih sekaligus memengaruhi sistem kekebalan tubuh agar lebih siap mengenali dan melawan sel kanker. Walaupun penelitian ini masih berada pada tahap laboratorium, hasilnya membuka peluang baru dalam pengembangan terapi kanker yang berasal dari bahan alami.
Penelitian tersebut dipublikasikan pada tahun 2026 dalam jurnal Anticancer Research. Tim peneliti ingin mengetahui apakah ekstrak lidah buaya dapat memengaruhi pertumbuhan sel kanker kandung kemih sekaligus mengubah aktivitas beberapa molekul penting yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak lidah buaya tidak hanya mengurangi kemampuan sel kanker untuk berkembang biak, tetapi juga mengubah ekspresi molekul yang selama ini menjadi target utama berbagai obat imunoterapi modern. Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa tanaman sederhana ini mungkin memiliki peran sebagai pendukung terapi kanker pada masa depan.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Kanker kandung kemih merupakan salah satu jenis kanker yang paling sering menyerang saluran kemih. Penyakit ini muncul ketika sel yang melapisi bagian dalam kandung kemih mengalami perubahan genetik sehingga terus membelah tanpa terkendali. Pada tahap awal, penderita sering mengalami gejala berupa darah dalam urine, nyeri saat buang air kecil, atau keinginan buang air kecil yang lebih sering. Apabila tidak segera ditangani, sel kanker dapat menyebar ke lapisan otot kandung kemih bahkan ke organ lain sehingga pengobatan menjadi jauh lebih sulit.
Selama beberapa dekade terakhir, dokter menggunakan operasi, kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi untuk menangani kanker kandung kemih. Masing masing metode memiliki kelebihan dan keterbatasan. Operasi dapat mengangkat jaringan kanker yang terlihat, tetapi tidak selalu mampu menghilangkan seluruh sel ganas. Kemoterapi dapat membunuh sel kanker, tetapi juga dapat memengaruhi sel sehat sehingga menimbulkan berbagai efek samping. Imunoterapi menjadi salah satu perkembangan paling menjanjikan karena memanfaatkan sistem kekebalan tubuh untuk menyerang kanker secara lebih spesifik.
Sistem kekebalan sebenarnya memiliki kemampuan mengenali dan menghancurkan sel yang tidak normal. Akan tetapi, sel kanker sangat pintar beradaptasi. Mereka mampu menyembunyikan diri sehingga lolos dari pengawasan sistem imun. Salah satu cara yang digunakan adalah menghasilkan protein tertentu yang mengirimkan sinyal kepada sel kekebalan agar tidak menyerang. Akibatnya, sel kanker dapat terus berkembang meskipun tubuh sebenarnya memiliki mekanisme pertahanan yang kuat.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan sel kanker kandung kemih manusia yang dikenal sebagai sel T24. Sel tersebut merupakan salah satu model penelitian yang paling banyak digunakan karena memiliki karakteristik yang mirip dengan kanker kandung kemih pada manusia. Para peneliti kemudian memberikan ekstrak lidah buaya pada sel tersebut dan membandingkannya dengan kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan.
Langkah pertama yang dilakukan adalah mengamati kemampuan sel kanker membentuk koloni baru. Semakin banyak koloni yang terbentuk, semakin tinggi kemampuan sel kanker untuk berkembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak lidah buaya mampu mengurangi jumlah koloni yang terbentuk secara nyata. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan sel kanker menjadi lebih lambat setelah mendapatkan perlakuan dengan ekstrak lidah buaya.
Para peneliti kemudian mengukur kadar protein yang disebut PCNA atau Proliferating Cell Nuclear Antigen. Protein ini sering digunakan sebagai penanda aktivitas pembelahan sel. Sel yang sedang aktif membelah biasanya menghasilkan PCNA dalam jumlah tinggi. Sebaliknya, penurunan kadar PCNA menunjukkan bahwa aktivitas pertumbuhan sel mulai melambat. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ekstrak lidah buaya menurunkan intensitas PCNA pada sel kanker kandung kemih. Dengan kata lain, sel kehilangan sebagian kemampuannya untuk terus memperbanyak diri.
Bagian yang paling menarik dari penelitian ini berkaitan dengan hubungan antara sel kanker dan sistem kekebalan tubuh. Para ilmuwan mempelajari empat molekul penting yang berperan dalam komunikasi tersebut, yaitu PDL1, PDL2, ICAM2, dan 4 1BBL. Molekul molekul ini menjadi perhatian besar dalam dunia imunoterapi karena sangat menentukan keberhasilan sistem imun mengenali sel kanker.
PDL1 dan PDL2 merupakan protein yang sering dimanfaatkan sel kanker sebagai alat penyamaran. Ketika kedua protein ini muncul dalam jumlah tinggi, sel T yang bertugas menyerang kanker menerima sinyal untuk menghentikan serangannya. Kondisi tersebut membuat sel kanker dapat bertahan hidup lebih lama dan terus berkembang. Tidak mengherankan apabila banyak obat imunoterapi modern dirancang khusus untuk menghambat jalur PDL1 dan PD1 sehingga sistem kekebalan dapat kembali bekerja secara optimal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak lidah buaya mampu menurunkan ekspresi PDL1 dan PDL2 pada sel kanker kandung kemih. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa sel kanker kehilangan sebagian kemampuan untuk menyembunyikan diri dari sistem kekebalan. Walaupun penelitian ini belum membuktikan bahwa sistem imun benar benar menjadi lebih aktif, perubahan tersebut memberikan petunjuk bahwa ekstrak lidah buaya dapat memengaruhi mekanisme penting yang selama ini menjadi sasaran terapi kanker modern.
Sebaliknya, para peneliti menemukan peningkatan ekspresi ICAM2 dan 4 1BBL. Kedua molekul ini memiliki peran yang berbeda dibandingkan PDL1 dan PDL2. ICAM2 membantu memperkuat interaksi antara sel imun dan sel target sehingga proses pengenalan menjadi lebih efektif. Sementara itu, 4 1BBL membantu meningkatkan aktivasi dan daya tahan sel T ketika melawan sel kanker. Peningkatan kedua molekul tersebut menunjukkan bahwa ekstrak lidah buaya mungkin mampu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung aktivitas sistem kekebalan tubuh.
Untuk memastikan hasil tersebut, para peneliti menggunakan dua metode pengujian yang berbeda. Metode pertama mengukur perubahan ekspresi gen menggunakan teknik RT PCR. Metode kedua mengamati perubahan protein melalui pemeriksaan imunohistokimia. Kedua teknik menghasilkan pola yang sama sehingga memperkuat keyakinan bahwa perubahan yang diamati memang benar benar terjadi pada sel kanker setelah mendapatkan perlakuan ekstrak lidah buaya.
Para ilmuwan menduga bahwa efek tersebut berasal dari berbagai senyawa bioaktif yang terkandung di dalam lidah buaya. Tanaman ini diketahui mengandung polisakarida, flavonoid, antrakuinon, senyawa fenolik, vitamin, serta berbagai antioksidan alami. Berbagai penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa beberapa senyawa tersebut memiliki aktivitas antiperadangan, antioksidan, dan antikanker. Kemungkinan besar, manfaat yang terlihat pada penelitian ini bukan berasal dari satu senyawa saja, melainkan dari kerja sama berbagai komponen yang terdapat di dalam ekstrak lidah buaya.
Walaupun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, masyarakat perlu memahami bahwa penelitian masih berada pada tahap kultur sel di laboratorium. Para ilmuwan belum menguji efektivitas ekstrak lidah buaya pada hewan maupun pasien kanker kandung kemih. Oleh karena itu, hasil penelitian ini belum dapat dijadikan dasar untuk menggunakan lidah buaya sebagai pengobatan kanker secara mandiri. Penelitian lanjutan pada hewan percobaan dan uji klinis pada manusia tetap diperlukan untuk memastikan keamanan, dosis yang tepat, efektivitas, serta kemungkinan interaksi dengan terapi kanker yang sudah digunakan saat ini.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman yang selama ini identik dengan perawatan kulit ternyata memiliki potensi yang jauh lebih luas dalam dunia kesehatan. Ekstrak lidah buaya tidak hanya menghambat pertumbuhan sel kanker kandung kemih, tetapi juga memengaruhi molekul molekul penting yang mengatur hubungan antara kanker dan sistem kekebalan tubuh. Jika penelitian berikutnya berhasil membuktikan manfaat yang sama pada hewan dan manusia, lidah buaya berpeluang menjadi sumber senyawa alami yang dapat mendukung imunoterapi modern. Penemuan ini sekaligus mengingatkan bahwa alam masih menyimpan banyak potensi yang belum sepenuhnya dipahami, dan tanaman yang tumbuh di sekitar kita mungkin menjadi inspirasi bagi lahirnya terapi kanker generasi berikutnya.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Gutiu, Arturo G dkk. 2026. Allow Aloe to Do the Work: Aloe vera Constrains Growth of Bladder Cancer Cells and Modulates Expression of Key Costimulatory Molecules. Anticancer Research 46 (4), 1883-1892.

