Pendidikan sains di Indonesia menghadapi tantangan besar di era modern. Hasil penilaian internasional seperti PISA menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains siswa Indonesia masih tergolong rendah. Banyak siswa mampu menghafal konsep, tetapi kesulitan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah minimnya bahan ajar yang dekat dengan realitas budaya dan lingkungan lokal siswa. Sains sering terasa jauh, abstrak, dan tidak relevan dengan pengalaman hidup mereka.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 2025 mencoba menawarkan pendekatan berbeda untuk menjawab masalah tersebut. Para peneliti mengembangkan sebuah modul pembelajaran berbasis Project Based Learning dan STEAM yang mengangkat kearifan lokal, khususnya pewarna alami Sasirangan. Sasirangan adalah kain tradisional khas Kalimantan Selatan yang memiliki nilai budaya tinggi dan dibuat menggunakan pewarna alami dari tumbuhan. Modul ini dirancang untuk meningkatkan literasi sains siswa dengan cara menghubungkan konsep ilmiah dengan praktik budaya yang sudah dikenal masyarakat.
Baca juga artikel tentang: Jangan-jangan Gorengan yang Anda Beli Mengandung Plastik
Literasi sains tidak hanya berarti memahami rumus atau definisi. Literasi sains mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami proses ilmiah, membaca data, serta menerapkan pengetahuan untuk memecahkan masalah nyata. Ketika siswa belajar sains tanpa konteks, mereka cenderung menganggapnya sebagai pelajaran yang sulit dan membosankan. Sebaliknya, ketika sains dikaitkan dengan tradisi lokal seperti pembuatan pewarna alami, siswa dapat melihat bahwa sains hadir dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Modul yang dikembangkan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan PJBL STEAM. Project Based Learning mendorong siswa belajar melalui proyek nyata, bukan hanya mendengarkan penjelasan guru. STEAM mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika dalam satu kesatuan pembelajaran. Dalam konteks Sasirangan, siswa tidak hanya mempelajari reaksi kimia pada pewarna alami, tetapi juga memahami nilai seni kain, proses teknologinya, serta perhitungan sederhana yang terlibat dalam produksi.
Kearifan lokal pewarna alami Sasirangan menjadi inti dari modul ini. Pewarna alami berasal dari berbagai tanaman yang tumbuh di lingkungan sekitar, seperti kayu secang, daun, kulit batang, atau akar tumbuhan tertentu. Secara turun-temurun, masyarakat telah mengetahui cara mengekstrak warna, mengikat warna pada kain, dan menjaga kestabilannya. Pengetahuan ini sesungguhnya merupakan hasil observasi dan eksperimen panjang, meskipun tidak pernah dituliskan dalam bahasa ilmiah modern.
Melalui modul ini, siswa diajak untuk mengeksplorasi proses pembuatan pewarna alami sebagai sebuah proyek. Mereka mengamati bahan, mencatat perubahan warna, mengukur suhu, dan mendiskusikan faktor-faktor yang memengaruhi hasil pewarnaan. Dari sini, siswa belajar konsep dasar kimia seperti larutan, reaksi, dan pH, sekaligus memahami prinsip fisika dan matematika secara sederhana. Seni hadir melalui desain motif Sasirangan, sementara aspek teknologi dan rekayasa muncul dalam perencanaan alat dan proses kerja.
Penelitian ini menggunakan metode pengembangan pendidikan dengan model ADDIE, yang mencakup tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Pada tahap awal, peneliti menganalisis kurikulum, karakteristik siswa, dan bahan ajar yang sudah ada. Hasil analisis menunjukkan bahwa modul yang mengintegrasikan kearifan lokal masih sangat terbatas, padahal potensinya besar.
Tahap desain difokuskan pada penyusunan modul dan instrumen penilaian. Modul dirancang dengan bahasa yang sederhana, ilustrasi yang menarik, dan aktivitas proyek yang realistis untuk dilakukan di sekolah. Pada tahap pengembangan, modul dinilai oleh para ahli dan praktisi pendidikan untuk memastikan kelayakan isi, bahasa, tampilan, dan kesesuaian dengan tujuan literasi sains.

Hasil penilaian menunjukkan bahwa modul ini memiliki tingkat validitas yang sangat tinggi. Isi materi dinilai akurat dan relevan, bahasa mudah dipahami oleh siswa, penyajian menarik, dan tampilan grafis mendukung proses belajar. Aspek literasi sains juga dinilai sangat baik, yang berarti modul ini mampu mendorong siswa untuk berpikir ilmiah, bukan sekadar menghafal.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa pengintegrasian kearifan lokal dalam pembelajaran sains bukan sekadar wacana, tetapi dapat diwujudkan dalam bentuk bahan ajar yang konkret dan berkualitas. Modul seperti ini membantu siswa melihat bahwa sains bukan ilmu asing, melainkan bagian dari kehidupan dan budaya mereka sendiri. Dengan demikian, rasa percaya diri dan minat siswa terhadap sains dapat meningkat.
Selain berdampak pada siswa, modul ini juga memberi manfaat bagi guru. Guru mendapatkan alternatif bahan ajar yang kontekstual dan fleksibel. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada ceramah, tetapi pada aktivitas siswa. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses eksplorasi dan diskusi. Hal ini sejalan dengan tuntutan pendidikan abad ke-21 yang menekankan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi.
Dari sudut pandang yang lebih luas, penelitian ini juga berkontribusi pada pelestarian budaya. Dengan memasukkan Sasirangan dan pewarna alami ke dalam pembelajaran, generasi muda diperkenalkan pada warisan budaya daerahnya. Mereka tidak hanya mengenal Sasirangan sebagai kain tradisional, tetapi juga memahami nilai ilmiah dan lingkungan di balik proses pembuatannya. Ini dapat menumbuhkan rasa bangga dan tanggung jawab untuk menjaga budaya dan alam.
Modul ini juga sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pewarna alami lebih ramah lingkungan dibandingkan pewarna sintetis yang dapat mencemari air dan tanah. Dengan mempelajari pewarna alami melalui pendekatan sains, siswa juga belajar tentang pentingnya menjaga lingkungan dan memilih teknologi yang berkelanjutan.
Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan literasi sains tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau bahan impor yang mahal. Sumber belajar yang ada di sekitar kita, jika dikemas dengan pendekatan yang tepat, justru dapat menjadi sarana pembelajaran yang sangat efektif. Kearifan lokal bukan penghambat kemajuan sains, melainkan jembatan yang menghubungkan sains dengan kehidupan nyata.
Ke depan, modul seperti ini masih dapat dikembangkan dan diadaptasi untuk berbagai daerah lain di Indonesia dengan kearifan lokal yang berbeda. Setiap daerah memiliki kekayaan budaya dan alam yang dapat dijadikan konteks pembelajaran sains. Dengan demikian, pendidikan sains di Indonesia dapat menjadi lebih inklusif, relevan, dan bermakna bagi seluruh siswa.
Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa ketika sains diajarkan melalui budaya dan pengalaman lokal, siswa tidak hanya belajar tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang jati diri, lingkungan, dan masa depan mereka sendiri.
Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan
REFERENSI:
Sholahuddin, Arif & Fuad, Zainal. 2025. Validity of the PJBL-STEAM Teaching Module Containing Local Wisdom of Sasirangan Natural Dye to Increase Scientific Literacy. Eduvest-Journal of Universal Studies 5 (6), 6725-6744.






