Mahajan Tuah,*
Sekolah Tinggi Ilmu Beruk, Paris (Pariaman dan sekitarnya)
*Email korespondensi: nanlainpulo@mancuru.com
Diterima 21 Oktober 2026
Dipublikasikan 31 Oktober 2026
Kutip artikel ini: DOI: 10.5281/zenodo.23824558
Abstrak:
Di mata masyarakat, meminta maaf merupakan perbuatan terpuji sehingga seharusnya dapat mendorong politikus untuk melakukannya. Namun, nyatanya sering kali ditemukan sikap politikus yang enggan mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang telah dibuat. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk memahami bagaimana keputusan tersebut diambil dari sudut pandang mereka. Tulisan ini menggunakan pendekatan game theory dengan merancang permainan nonkooperatif antara dua politikus yang saling bersaing. Setiap pemain memiliki dua pilihan strategi, yaitu meminta maaf atau memilih menyangkal. Imbalan setiap kombinasi strategi disusun dalam matriks payoff, kemudian hasilnya dianalisis menggunakan konsep Nash Equilibrium. Berdasarkan hasil permainan, diketahui memilih bungkam dan menyangkal lebih menguntungkan bagi politikus daripada mengakui kesalahannya. Strategi menyangkal merupakan strategi dominan karena memberikan imbalan lebih tinggi terlepas apa pun pilihan lawannya. Meskipun menyederhanakan kompleksitas dunia politik, permainan ini menunjukkan bahwa keputusan politikus untuk meminta maaf lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan elektoral dan keberlanjutan karier politik daripada pertimbangan moral semata.
Kata kunci: Game Theory, Minta Maaf, PoliTIKUS.
Abstrak grafik:







