Ketika mendengar nama Charles Darwin, kita seringkali langsung diingatkan pada teori evolusi dan buku legendaris On the Origin of Species. Namun jauh sebelum gagasan besarnya mengguncang dunia sains, Darwin adalah seorang naturalis muda yang menghabiskan bertahun-tahun berlayar mengelilingi dunia, mengumpulkan ribuan spesimen makhluk hidup. Banyak dari spesimen itu disimpan dalam toples kaca berisi cairan pengawet dan kemudian menjadi bagian dari koleksi museum. Selama hampir dua abad, toples-toples tersebut dipandang sebagai saksi bisu sejarah ilmu pengetahuan, tetapi ironisnya menyimpan satu pertanyaan mendasar yang belum terjawab: cairan apa sebenarnya yang ada di dalamnya? Catatan tertulis yang tidak lengkap, usia koleksi yang sangat tua, serta risiko merusak spesimen membuat pertanyaan ini lama dibiarkan menggantung. Baru di abad ke-21, dengan bantuan teknologi laser modern, sebuah tim peneliti yang merupakan kolaborasi antara ilmuwan dari Natural History Museum di London, Agilent Technologies (sebuah perusahaan teknologi di Inggris), dan Central Laser Facility di Harwell yang merupakan bagian dari Science and Technology Facilities Council (STFC)/UK Research and Innovation akhirnya menemukan cara aman untuk mengungkap isi toples-toples bersejarah itu tanpa membukanya. Dari sinilah sebuah misteri museum berusia hampir 200 tahun mulai terpecahkan.
Misteri Toples Charles Darwin yang Terungkap Setelah 200 Tahun
Bayangkan sebuah rak besar di dalam gudang museum yang berisi barisan toples kaca kuno. Di dalam setiap toples itu terdapat binatang-binatang kecil yang tampak seperti “hantu” dari masa lalu—ikan, udang, ubur-ubur, bahkan mamalia dan reptil yang dikumpulkan hampir dua abad yang lalu. Toples-toples ini adalah bagian dari koleksi bersejarah yang dikumpulkan oleh ilmuwan terkenal Charles Darwin selama pelayaran HMS Beagle antara tahun 1831 dan 1836. Selama hampir 200 tahun, toples-toples ini tetap tersegel rapat, menyimpan rahasia tentang bagaimana makhluk-makhluk itu diawetkan. Namun sampai sekarang, para ilmuwan tidak benar-benar tahu dengan pasti apa isi cairan dalam toples-toples itu—sampai sebuah teknik baru berhasil memecahkan misteri itu tanpa membuka toples-toples tersebut.
Mengapa Isinya Menjadi Misteri?
Darwin, yang terkenal karena teorinya tentang evolusi melalui seleksi alam, juga membawa puluhan ribu spesimen dari berbagai tempat di dunia, termasuk dari Kepulauan Galapagos yang ikonik. Banyak dari spesimen tersebut diawetkan dalam cairan di dalam toples kaca. Cairan ini digunakan untuk menjaga organisme tetap utuh bagi penelitian di masa mendatang. Namun dalam buku catatannya, Darwin tidak mencatat secara detail tentang cairan apa yang digunakan untuk setiap spesimen, atau catatan itu tidak bertahan sampai hari ini. Akibatnya, setelah berabad-abad, museum dan para peneliti tetap tidak yakin apa sebenarnya yang ada di dalam setiap toples.
Masalah utama adalah bahwa membuka toples-toples itu untuk mengetahui isi cairannya bisa merusak spesimen berharga di dalamnya. Cairan pengawet bisa mudah menguap atau terkontaminasi ketika terbuka, dan beberapa cairan bersejarah mungkin juga beracun atau berbahaya jika terpapar. Karena itu, para kurator museum mencari cara yang lebih aman untuk “melihat” ke dalam toples tanpa menyentuh isi di dalamnya.
Baca juga: Ilmuwan Terkejut! Fosil Kuno Ini Bisa Jadi Jejak Manusia Tertua di Jepang
Teknik Laser: Cara Baru Melihat Tanpa Membuka
Solusi untuk misteri ini datang dari teknologi yang mungkin terdengar seperti sesuatu dari film fiksi ilmiah. Tim peneliti menggunakan teknik yang disebut spektroskopi Raman offset spasial, atau Spatially Offset Raman Spectroscopy (SORS). Teknik ini memanfaatkan cahaya laser untuk melihat komposisi kimiawi sebuah benda melalui kaca tanpa membuka penutupnya. Dengan menggunakan SORS, cahaya laser ditembakkan ke dalam toples, dan sensor kemudian membaca perubahan energi cahaya saat cahaya itu terpantul kembali. Dari sinyal tersebut, tim dapat menentukan zat kimia apa yang ada di dalam cairan tanpa menyentuh cairan atau membuka toplesnya.

Alat ini penting karena memungkinkan analisis yang sangat sensitif terhadap molekul-molekul di dalam cairan. Perubahan kecil dalam panjang gelombang cahaya ketika laser dipantulkan dari cairan memberi tahu tim tentang komponen kimia apa saja yang ada di dalamnya. Teknik ini awalnya dikembangkan di Central Laser Facility, dan versi portabelnya kini bisa dibawa ke dalam museum untuk digunakan langsung pada koleksi yang tersimpan.
Meneliti 46 Spesimen Bersejarah
Tim memakai teknik SORS untuk memeriksa 46 spesimen bersejarah yang masih tersegel di museum. Spesimen-spesimen ini termasuk berbagai binatang yang dikumpulkan oleh Darwin dan rekan-rekannya: mamalia kecil, reptil, ikan, ubur-ubur, dan udang. Analisis menunjukkan bahwa cara binatang-binatang ini diawetkan tidak sama untuk semuanya. Itu berarti tidak ada satu “resep” tunggal yang digunakan Darwin atau orang lain di masa lalu untuk semua jenis organisme.

Temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa sekitar 80 persen dari cairan di dalam toples berhasil diidentifikasi dengan jelas, dan sekitar 15 persen lainnya diidentifikasi sebagian. Ini sudah sangat membantu para kurator museum untuk memahami bahan apa yang ada di dalamnya tanpa membuka semuanya. Selain mengidentifikasi cairan pengawet, tim juga mendeteksi apakah wadahnya terbuat dari kaca atau plastik, yang memberikan petunjuk tambahan tentang bagaimana cara penyimpanan berubah dari waktu ke waktu.
Ragam Cara Pengawetan dari Masa ke Masa
Ternyata cara orang mengawetkan binatang berbeda tergantung jenis binatangnya dan periode waktu saat cairan itu digunakan. Untuk mamalia dan reptil, biasanya binatang itu pertama-tama direndam dalam formalin dan kemudian dipindahkan ke dalam etanol untuk penyimpanan jangka panjang. Formalin merupakan larutan kimia berdasarkan formaldehida yang sering digunakan untuk menjaga jaringan tetap utuh. Etanol adalah jenis alkohol yang sama yang sering kita sebut sebagai alkohol dalam minuman, tetapi dalam pengawetan dipakai dalam bentuk murni untuk mencegah bakteri dan jamur tumbuh.
Sementara itu, binatang tanpa tulang belakang seperti udang dan ubur-ubur kadang dipertahankan dalam berbagai larutan lain, termasuk larutan dengan bahan tambahan seperti gliserol, yang bisa membantu menjaga struktur lembut tubuh mereka. Ini menunjukkan bahwa orang pada masa lalu mencoba berbagai kombinasi bahan untuk mendapatkan hasil pengawetan terbaik.
Dampak untuk Dunia Museum
Penemuan ini penting bukan hanya untuk koleksi Darwin, tetapi juga untuk puluhan juta spesimen yang disimpan di museum di seluruh dunia. Diperkirakan ada lebih dari 100 juta spesimen yang diawetkan dalam cairan di museum di seluruh dunia. Banyak dari spesimen ini tidak memiliki catatan lengkap tentang apa yang ada di dalam cairan pengawetnya, dan membuka wadahnya bisa berisiko.
Dengan adanya teknik seperti SORS, para kurator museum kini bisa memantau kondisi spesimen tanpa merusaknya. Mereka dapat melihat bagaimana keadaan cairan pengawet berubah dari waktu ke waktu dan mulai mengambil tindakan sebelum ada kerusakan yang serius terjadi. Ini merupakan langkah penting dalam menjaga warisan ilmu pengetahuan untuk generasi mendatang, karena spesimen-spesimen ini sering kali masih dipakai dalam penelitian ilmiah modern.
Kesimpulan: Membuka Jendela ke Masa Lalu Tanpa Merusaknya
Apa yang dilakukan oleh tim peneliti ini merupakan contoh bagaimana teknologi modern bisa membantu kita memahami sejarah alam tanpa merusak artefak berharga. Dengan laser dan teknik spektroskopi yang canggih, tim berhasil mengungkap cairan yang digunakan lebih dari 180 tahun yang lalu untuk mengawetkan binatang-binatang yang dikumpulkan oleh Charles Darwin. Ini tidak hanya menjawab pertanyaan lama tentang koleksi Darwin, tetapi juga memberi alat baru bagi museum di seluruh dunia untuk merawat koleksi mereka dengan lebih baik. Tradisi ilmiah masa lalu kini dapat dilihat lebih jelas daripada sebelumnya, tanpa harus mengorbankan keberadaan fisik dari spesimen itu sendiri.
Referensi:
[1] https://scitechdaily.com/whats-in-charles-darwins-jars-scientists-solve-a-200-year-old-museum-mystery/, diakses pada 23 Februari 2026.
[2] https://www.nhm.ac.uk/discover/news/2026/january/contents-jars-collected-by-charles-darwin-revealed-new-scans, diakses pada 23 Februari 2026.
[3] Blanco, Ana, Wren Montgomery, Sam Walker, Chelsea McKibbin, Robert Stokes, Pavel Matousek, dan Sara Mosca. In Situ Analysis of Historical Preservation Fluids in Sealed Containers with Spatially Offset Raman Spectroscopy. ACS Omega (13 Januari 2026). https://doi.org/10.1021/acsomega.5c09045.

