Dari Kota hingga Hutan: Bagaimana Polusi dan Urbanisasi Mengubah Tanaman

Kita sering berpikir bahwa kehancuran alam yang disebabkan manusia seperti penebangan hutan, pembangunan kota dan pertanian akan mengurangi keanekaragaman hayati […]

Kita sering berpikir bahwa kehancuran alam yang disebabkan manusia seperti penebangan hutan, pembangunan kota dan pertanian akan mengurangi keanekaragaman hayati hanya di sekitar lokasi perubahan itu sendiri. Namun, sebuah studi internasional besar yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa dampak aktivitas manusia terhadap keanekaragaman tanaman dapat terdeteksi hingga ratusan kilometer dari sumbernya, bahkan sampai ke dalam kawasan yang secara fisik tidak disentuh langsung oleh manusia. Temuan ini sangat mengejutkan karena menunjukkan bahwa cara manusia memengaruhi lingkungan bisa bersifat jauh lebih luas dan tersebar daripada yang kita kira sebelumnya.

Apa Itu Keanekaragaman Tanaman dan Mengapa Itu Penting?

Keanekaragaman tanaman adalah variasi jumlah dan jenis tanaman yang hidup dalam suatu ekosistem atau wilayah tertentu. Ini bukan hanya soal jumlah total spesies yang ada, tetapi juga seberapa lengkap suatu komunitas tumbuhan itu mencerminkan seluruh spesies yang secara ekologis cocok hidup di sana. Keanekaragaman ini penting karena tanaman adalah dasar bagi ekosistem: seperti menyediakan makanan, tempat hidup, dan keseimbangan lingkungan yang diperlukan untuk hewan, mikroba tanah, serangga penyerbuk dan organisme lain.

Tanpa keanekaragaman tanaman yang sehat, suatu wilayah bisa kehilangan fungsi-fungsi penting seperti penyerapan karbon, penahan erosi tanah, dan penyediaan habitat. Penurunan keanekaragaman juga dapat melemahkan ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim atau hama.

Baca juga: Manajemen Sumber Daya Alam: Pengertian, Ruang Lingkup, Faktor dan Strategi Berkelanjutan.

Dari Melihat Tanaman yang Ada di Lokasi ke Memahami “Kelengkapan Komunitas”

Dalam studi ini, tim peneliti tidak hanya menghitung jumlah spesies tanaman yang terlihat pada satu titik tertentu (yang biasa disebut alpha diversity atau keanekaragaman lokal), tetapi juga membandingkannya dengan potensi komunitas tanaman yang seharusnya bisa hidup di wilayah itu menurut kondisi ekologisnya. Tim memperkenalkan konsep yang disebut dark diversity—spesies tanaman yang secara ekologis cocok untuk hidup di lokasi tersebut, tetapi saat ini tidak ditemukan di sana.

Konsep dark diversity membantu ilmuwan memahami seberapa lengkap komunitas tanaman di suatu tempat. Bayangkan sebuah habitat yang ideal untuk 100 jenis tanaman berdasarkan iklim, tanah, kelembapan dan kondisi lain di sekitarnya, tetapi hanya 20 yang benar-benar hidup di sana. Maka komunitasnya hanya 20 persen lengkap, padahal 80 persen potensinya tidak hadir dan itu bisa berarti gangguan ekologis yang luas.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan

Penelitian ini merupakan kolaborasi global melalui jaringan DarkDivNet, yang mengumpulkan data dari hampir 5.500 lokasi di 119 wilayah di seluruh dunia. Di setiap lokasi, tim mencatat semua spesies tanaman yang ada di dalam area standar tertentu serta menghitung dark diversity berdasarkan data regional yang lebih luas. Tim kemudian mengukur Human Footprint Index untuk setiap wilayah, sebuah indeks yang memperkirakan sejauh mana tekanan manusia hadir di suatu daerah. Indeks ini mencakup faktor-faktor seperti jumlah penduduk, perubahan penggunaan lahan (misalnya konversi hutan jadi kebun atau lahan pertanian), pembangunan jalan dan infrastruktur serta aktivitas lain yang mengubah lanskap.

Dengan cara ini, tim bisa menghubungkan seberapa besar pengaruh manusia di sebuah wilayah dengan berapa banyak spesies tanaman yang benar-benar bisa hidup atau justru hilang dari berbagai lokasi—termasuk lokasi yang secara langsung tidak dibangun atau dihuni manusia.

Temuan Utama yang Mengejutkan

Hasil penelitian global ini menunjukkan sesuatu yang mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan: di wilayah yang dihuni manusia dengan intensitas rendah, komunitas tanaman lokal rata-rata mengandung lebih dari sepertiga dari semua spesies yang secara ekologis cocok hidup di sana. Ini berarti bahwa tanaman-tanaman yang diperkirakan bisa hidup di sana benar-benar hadir dalam jumlah yang relatif tinggi.

Sebaliknya, di wilayah yang sangat terpengaruh oleh aktivitas manusia, seperti perubahan lahan besar, polusi, pembukaan lahan, dan pembangunan, komunitas tanaman hanya mencakup sekitar satu dari lima spesies yang seharusnya hidup di sana menurut kondisi ekosistemnya. Artinya, daerah-daerah yang “terlihat hijau dan alami” bisa saja kehilangan hingga 80 persen dari potensi keanekaragaman tanaman mereka.

Perkiraan dark diversity dan berbagai metrik keanekaragaman hayati terkait dalam komunitas ekologis.

Fenomena ini menunjukkan bahwa indikator tradisional yang hanya menghitung jumlah tanaman yang terlihat tidak cukup untuk memahami dampak manusia terhadap keanekaragaman hayati, karena banyak spesies yang seharusnya hidup di wilayah itu sudah hilang dan tidak teridentifikasi dalam pengamatan biasa.

Bagaimana Dampak Itu Bisa Terjadi Jauh dari Sumbernya?

Salah satu pertanyaan penting yang dijawab oleh penelitian ini adalah: bagaimana dampak manusia pada suatu tempat bisa terasa ratusan kilometer jauhnya? Jawabannya terletak pada cara sistem ekologis terhubung dan cara perubahan lahan memengaruhi sebaran tanaman secara luas. Ketika manusia mengubah lahan, misalnya melalui deforestasi, pertanian intensif, urbanisasi, atau pembangunan infrastruktur, hal itu dapat menciptakan fragmentasi habitat—fragmen-fragmen kecil dari habitat asli yang tidak lagi terhubung satu sama lain.

Fragmentasi seperti ini bukan hanya mengurangi jumlah habitat yang tersedia, tetapi juga memutus jalur penyebaran benih antara satu wilayah dengan wilayah lain. Banyak spesies tanaman bergantung pada perantara seperti serangga, burung atau hewan lain untuk menyebarkan benih mereka. Ketika habitat dipecah-pecah oleh manusia, hubungan ekologis ini terganggu, sehingga benih tidak lagi tersebar secara efektif di seluruh wilayah. Ini membuat populasi tanaman lokal lebih rentan terhadap punah dan membuat dark diversity menjadi lebih tinggi—banyak spesies yang sebenarnya cocok hidup di sana tetapi sudah hilang atau tidak bisa kembali lagi.

Selain itu, efek lain seperti polusi udara dan air, perubahan iklim lokal, kebakaran hutan yang dipicu manusia, dan penggunaan pestisida yang luas dapat menciptakan kondisi yang tidak lagi cocok bagi banyak tanaman, bahkan jika lokasi tersebut berada jauh dari aktivitas manusia langsung. Akibatnya, tanaman yang unik dan sensitif bisa hilang dari daerah yang tampaknya alami, sementara hanya spesies yang tahan terhadap gangguan tetap ada.

Ancaman Tidak Terlihat: Dark Diversity sebagai Indikator Baru

Salah satu kontribusi utama studi ini adalah penggunaan konsep dark diversity sebagai indikator kesehatan ekosistem yang lebih jujur dibanding metode sederhana seperti menghitung jumlah spesies yang terlihat. Dark diversity memperhitungkan spesies-spesies yang seharusnya hidup di suatu tempat menurut kondisi ekologisnya, tetapi tidak ada lagi di sana. Dengan demikian metode ini memberikan gambaran yang lebih kaya dan memungkinkan para ahli konservasi mengidentifikasi spesies yang hilang yang potensial bisa direintroduksi atau dijaga keberadaannya.

Tim mencatat bahwa wilayah dengan setidaknya sepertiga area tetap terjaga secara alami cenderung menunjukkan dampak manusia yang lebih rendah pada dark diversity, mendukung tujuan global untuk melindungi sekitar 30 persen wilayah planet agar tetap alami dan sehat.

Dampak dan Pentingnya Temuan Ini

Temuan ini sangat penting bagi upaya konservasi global dan perencanaan kebijakan lingkungan. Jika dampak manusia pada keanekaragaman tanaman dapat terasa ratusan kilometer jauhnya, bahkan mencapai kawasan yang dianggap dilindungi, maka upaya perlindungan harus mencakup manajemen lanjutan atas wilayah di luar kawasan lindung serta pengurangan dampak dari aktivitas manusia tersebut secara terkoordinasi, bukan hanya fokus pada penyangga lokal.

Selain itu, pendekatan dark diversity membuka peluang baru untuk memahami ekosistem yang sehat dan apa yang hilang dari mereka. Ini memberi para konservasionis alat yang lebih kuat untuk merencanakan restorasi habitat, memperkirakan potensi spesies yang bisa kembali setelah kondisi diperbaiki, dan menetapkan prioritas konservasi berdasarkan kebutuhan ekologis riil, bukan sekadar apa yang terlihat.

Kesimpulan

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pengaruh aktivitas manusia terhadap keanekaragaman tumbuhan jauh lebih luas dan kompleks dibandingkan perkiraan sebelumnya. Bahkan kawasan yang tampak alami dan tidak mengalami pembangunan secara langsung tetap berisiko kehilangan sebagian besar kekayaan jenis tanamannya ketika berada di sekitar wilayah dengan tekanan manusia yang tinggi.

Melalui pendekatan dark diversity, yang menyoroti spesies-spesies yang seharusnya dapat hidup namun kini tidak ditemukan, para peneliti menunjukkan bahwa wilayah dengan gangguan manusia tinggi hanya mempertahankan sekitar seperlima dari potensi keanekaragaman tanamannya. Sebaliknya, daerah yang relatif minim tekanan manusia mampu mempertahankan proporsi spesies yang lebih besar, meskipun tetap belum sepenuhnya utuh.

Temuan ini menekankan pentingnya strategi konservasi yang melihat dampak manusia secara lebih luas, tidak terbatas pada lokasi yang terdampak langsung. Selain itu, penilaian keanekaragaman hayati perlu dilakukan secara lebih menyeluruh dengan memperhitungkan bukan hanya spesies yang masih ada, tetapi juga spesies yang hilang meskipun kondisi lingkungannya sebenarnya masih memungkinkan untuk ditinggali.

Referensi

[1] https://www.ehu.eus/en/web/campusa-magazine/-/human-activity-reduces-plant-diversity-hundreds-of-kilometres-away, diakses pada 25 Januari 2026

[2] https://www.eurekalert.org/news-releases/1078990, diakses pada 25 Januari 2026.

[3] Meelis Pärtel et al. Global impoverishment of natural vegetation revealed by dark diversityNature, 2025; DOI: 10.1038/s41586-025-08814-5

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top