Coba bayangkan sebuah drone terbang rendah di atas perkebunan nanas tropis. Kamera canggihnya merekam ribuan gambar daun hijau berduri dan buah nanas yang tersembunyi di antaranya. Dalam sekejap, komputer di dalam drone bisa menghitung berapa banyak buah yang sudah siap panen tanpa manusia harus turun ke ladang.
Kedengarannya seperti adegan dari film futuristik? Tidak lagi. Penelitian terbaru yang diterbitkan di Frontiers in Plant Science (2025) oleh Cong Lin, Wencheng Jiang, Weiye Zhao, Lilan Zou, dan Zhong Xue menunjukkan bahwa hal itu kini benar-benar mungkin, berkat algoritma baru bernama DPD-YOLO.
Baca juga artikel tentang: Pengaruh dan Nilai H/CO Pada Proses Gasifikasi Biomassa (Kulit Nanas) Jika Steam atau Udara Bertambah atau Berkurang
Masalah Sederhana yang Tak Semudah Kedengarannya
Mengetahui berapa banyak buah nanas matang di sebuah kebun bukanlah hal sepele.
Bagi petani besar, informasi ini sangat penting untuk memperkirakan hasil panen, menentukan waktu pengiriman, dan menghitung kebutuhan tenaga kerja.
Namun, menilai jumlah nanas secara manual sangat sulit. Buah nanas sering tersembunyi di bawah mahkota daun yang tebal dan berduri, dan warna kulitnya yang hijau-kekuningan kerap menyatu dengan latar belakang kebun. Akibatnya, kamera biasa atau algoritma komputer standar sering gagal mengenali buah nanas di foto udara.
Bahkan sistem deteksi visual modern seperti YOLO (You Only Look Once) salah satu algoritma kecerdasan buatan paling terkenal untuk pengenalan objek, sering kesulitan ketika gambar penuh bayangan, pantulan cahaya, atau buah tertutup sebagian oleh daun.
DPD-YOLO: Otak Digital Baru untuk Melihat di Tengah Daun
Untuk mengatasi semua itu, tim peneliti dari Tiongkok menciptakan versi baru dari algoritma YOLO, yang mereka sebut DPD-YOLO singkatan dari Dense Pineapple Detection-You Only Look Once.
Model ini bukan sekadar pembaruan, melainkan evolusi besar dari sistem deteksi objek dalam pertanian.
DPD-YOLO menggunakan teknologi deep learning sistem pembelajaran mendalam yang meniru cara otak manusia mengenali pola visual.
Dengan kata lain, jika YOLO versi lama seperti “mata tajam tapi terganggu oleh bayangan”, maka DPD-YOLO adalah “mata yang bisa memfokuskan diri bahkan dalam kondisi rumit.”
Rahasia di Balik Kecerdasan DPD-YOLO
DPD-YOLO dibangun di atas arsitektur YOLOv8, versi terbaru dari keluarga YOLO, dan dilengkapi dengan sejumlah inovasi teknis yang membuatnya jauh lebih tangguh.
Berikut empat peningkatan kuncinya yang dijelaskan para peneliti:
- Mekanisme Perhatian (Coordinate Attention)
Sistem ini memungkinkan algoritma “memperhatikan” bagian gambar yang relevan misalnya, pola kulit nanas dan mengabaikan bagian yang tidak penting seperti bayangan daun. Ibarat manusia yang belajar fokus di tengah keramaian. - Lapisan Deteksi Multi-Skala (BiFPN)
Nanas tidak selalu berukuran sama dan bisa muncul dalam berbagai jarak pandang drone. Lapisan ini membuat model mampu mendeteksi buah besar maupun kecil secara bersamaan tanpa kehilangan akurasi. - Kepala Deteksi Baru (RT-DETR)
Bagian ini bertugas mengenali dan menandai buah dengan kotak deteksi.
Peneliti mengganti sistem lama dengan RT-DETR yang menggunakan Cross-Attention dan Self-Attention teknologi yang juga digunakan dalam model bahasa canggih seperti ChatGPT. Hasilnya: deteksi lebih cepat dan lebih tepat. - Focaler-IoU
Komponen ini membantu model fokus pada buah-buah kecil yang sering terlewat, sekaligus mengurangi kesalahan deteksi.
Bagaimana AI Ini Dilatih?
Tim peneliti mengumpulkan gambar udara beresolusi tinggi dari drone yang terbang di berbagai perkebunan nanas. Kondisinya dibuat se-realistis mungkin: pencahayaan alami, daun yang menutupi buah, tanah lembap, bahkan pantulan sinar matahari.
Setiap gambar kemudian dilabeli secara manual ratusan jam kerja untuk menandai posisi nanas satu per satu. Dataset inilah yang menjadi “buku pelajaran” bagi DPD-YOLO untuk belajar mengenali nanas dari berbagai sudut dan kondisi.
Setelah pelatihan, sistem diuji kembali menggunakan gambar baru untuk melihat seberapa akurat dan cepat ia bisa bekerja dalam kondisi nyata.
Hasil yang Mengagumkan
Hasil uji menunjukkan bahwa DPD-YOLO jauh lebih unggul dibanding model pendeteksi buah konvensional. Beberapa angka pentingnya:
- Akurasi mAP (mean Average Precision) meningkat hingga 62%, atau naik 6,6% dibanding YOLOv8 biasa.
- Tingkat presisi naik 2,7% artinya, lebih sedikit kesalahan dalam mengenali objek yang bukan nanas.
- Kemampuan mengenali buah tersembunyi (recall) melonjak 13%.
- Skor F1, yang menggabungkan kedua metrik di atas, meningkat 10,3%.
Dalam bahasa sederhana: DPD-YOLO bisa mengenali lebih banyak buah nanas yang tersembunyi, sambil mengurangi kesalahan dalam identifikasi daun atau bayangan.

Mengapa Ini Penting bagi Pertanian Modern
Keunggulan utama teknologi seperti DPD-YOLO bukan hanya soal keren atau canggih, tetapi soal efisiensi dan keberlanjutan.
Dengan sistem ini, drone bisa menghitung jumlah buah siap panen dalam hitungan menit di area perkebunan yang luas, sesuatu yang biasanya membutuhkan hari atau bahkan minggu jika dilakukan manual.
Informasi dari drone dan algoritma ini dapat membantu petani:
- Menentukan kapan waktu panen terbaik.
- Mengoptimalkan jumlah pekerja lapangan.
- Meminimalkan kehilangan hasil panen akibat keterlambatan.
- Meningkatkan perencanaan ekspor atau distribusi lokal.
Selain itu, karena data dikumpulkan dari udara, sistem ini tidak merusak tanaman dan bisa digunakan berulang kali untuk memantau pertumbuhan buah.
Langkah Menuju Pertanian Berbasis AI dan Drone
Penelitian DPD-YOLO hanyalah bagian kecil dari revolusi besar di dunia pertanian transformasi digital berbasis kecerdasan buatan.
Jika dulu petani mengandalkan intuisi dan pengalaman turun-temurun, kini mereka bisa memanfaatkan AI, kamera, dan robotika untuk membuat keputusan yang lebih cepat dan akurat.
Bayangkan di masa depan:
- Drone terbang secara otomatis di atas kebun setiap pagi.
- Sistem AI menghitung jumlah buah matang dan memperkirakan hasil panen.
- Data langsung dikirim ke aplikasi di ponsel petani.
- Bahkan lengan robot pemetik (seperti penelitian MAISNet dari studi sebelumnya) bisa diarahkan ke lokasi buah yang sudah siap.
Semuanya terintegrasi dari langit hingga tanah.
Penelitian DPD-YOLO bukan hanya soal meningkatkan akurasi deteksi buah, tapi juga tentang bagaimana teknologi memahami alam tropis yang kompleks. Dengan kemampuan membaca pola daun, cahaya, dan bentuk buah secara real-time, sistem ini membawa kita satu langkah lebih dekat menuju otomatisasi penuh di sektor pertanian.
Dalam waktu dekat, drone dan AI bukan lagi alat bantu mahal, tapi menjadi asisten digital para petani membantu mereka menanam, memantau, dan memanen dengan lebih bijak.
Jadi, lain kali kamu menikmati sepotong nanas segar, mungkin buah itu sudah terlebih dulu “dilihat” dan dihitung oleh mata cerdas buatan yang terbang di langit kebun tropis.
Baca juga artikel tentang: 5 Kelompok Pengidap Penyakit yang Harus Hati-Hati Mengonsumsi Nanas
REFERENSI:
Lin, Cong dkk. 2025. DPD-YOLO: dense pineapple fruit target detection algorithm in complex environments based on YOLOv8 combined with attention mechanism. Frontiers in Plant Science 16, 1523552.

