Katak Kota dan Inovasi Alaminya: Bertahan Hidup dengan Sarang Busa

Perkembangan kota-kota modern tidak hanya mengubah wajah bumi, tetapi juga menantang kemampuan makhluk hidup untuk beradaptasi. Urbanisasi, atau perluasan wilayah […]

Perkembangan kota-kota modern tidak hanya mengubah wajah bumi, tetapi juga menantang kemampuan makhluk hidup untuk beradaptasi. Urbanisasi, atau perluasan wilayah perkotaan, menjadi salah satu penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati di seluruh dunia. Ketika hutan, rawa, dan padang rumput diubah menjadi permukiman dan jalan raya, banyak spesies kehilangan tempat tinggal dan sumber makanannya. Namun, tidak semua makhluk menyerah. Beberapa berhasil beradaptasi dan menemukan cara unik untuk bertahan di “hutan beton” yang baru ini.

Salah satu contoh menarik datang dari dunia amfibi, yaitu katak Pleurodema borellii, yang hidup di kota San Salvador de Jujuy, Argentina. Spesies ini dikenal sebagai salah satu katak yang cukup tahan terhadap lingkungan perkotaan. Dalam penelitian yang diterbitkan di Journal of Thermal Biology tahun 2025, para ilmuwan Ana Boggio dan Laura Pereyra mencoba memahami bagaimana katak ini mampu bertahan di kota yang suhunya ekstrem dan kondisi lingkungannya tidak stabil.

Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa

Sarang Busa, Bukan Sekadar Tempat Telur

Berbeda dengan kebanyakan hewan, katak memiliki cara yang beragam untuk berkembang biak. Salah satu strategi unik yang dimiliki Pleurodema borellii adalah membuat sarang dari busa, yang dihasilkan dari campuran lendir dan udara saat betina bertelur. Sarang ini berbentuk seperti gumpalan busa putih yang mengapung di atas air atau menempel di permukaan lembab.

Bagi manusia, mungkin tampak aneh. Namun bagi katak, sarang busa ini adalah inovasi alami yang menakjubkan. Ia bukan hanya berfungsi melindungi telur dari predator, tetapi juga dari perubahan suhu yang ekstrem. Dalam lingkungan perkotaan, di mana siang bisa sangat panas dan malam sangat dingin, busa tersebut berperan seperti selimut termal alami, menjaga suhu telur tetap stabil agar embrio bisa tumbuh dengan baik.

Meneliti Kehangatan Sarang di Kota

Dalam penelitiannya, Boggio dan Pereyra mempelajari 48 sarang busa katak Pleurodema borellii yang ditemukan di dalam dan sekitar wilayah kota Jujuy. Mereka mengukur tinggi, panjang, serta suhu bagian dalam sarang selama beberapa hari berturut-turut. Suhu air dan udara di sekitar sarang juga dipantau dengan teliti untuk melihat bagaimana kondisi lingkungan memengaruhi perkembangan telur.

Selain itu, peneliti mengambil empat hingga lima embrio dari setiap sarang setiap hari untuk mempelajari tahapan pertumbuhan mereka. Dengan cara ini, mereka dapat membandingkan seberapa baik embrio berkembang dalam berbagai kondisi lingkungan.

Hasilnya menunjukkan bahwa sarang busa tidak hanya melindungi telur dari dingin, tetapi juga membantu menahan panas di siang hari. Artinya, sarang tersebut bekerja ganda: menjaga embrio dari suhu rendah pada malam hari dan melindunginya dari panas berlebihan pada siang hari. Dalam ekosistem kota yang suhunya sering berubah drastis, fungsi ini menjadi kunci penting bagi kelangsungan hidup katak.

Gambar peta area dengan tingkat urbanisasi yang berbeda, diikuti dengan gambar kodok (b) dan busa sarang (c) yang menunjukkan peran busa sarang sebagai pelindung termal di lingkungan urban.

Adaptasi di Tengah Beton

Penemuan ini memberi petunjuk bahwa kemampuan Pleurodema borellii untuk membuat sarang busa bisa menjadi salah satu rahasia ketahanannya terhadap urbanisasi. Sementara banyak spesies lain kesulitan bertahan di lingkungan yang panas, bising, dan tercemar, katak ini berhasil menyesuaikan diri dengan memanfaatkan strategi biologis yang sudah dimilikinya sejak lama.

Fenomena ini menggambarkan bagaimana evolusi dan perilaku hewan dapat menjadi alat bertahan yang ampuh di tengah perubahan global. Dalam istilah ekologi, Pleurodema borellii disebut sebagai spesies toleran kota organisme yang mampu hidup di daerah yang telah dimodifikasi manusia tanpa kehilangan kemampuan reproduksinya.

Pelajaran dari Katak untuk Dunia

Penelitian Boggio dan Pereyra bukan hanya menarik bagi ahli biologi, tetapi juga penting bagi siapa pun yang peduli pada masa depan kehidupan di bumi. Urbanisasi tidak bisa dihindari, tetapi memahami bagaimana hewan beradaptasi dapat membantu manusia merancang kota yang lebih ramah bagi keanekaragaman hayati.

Sarang busa si katak kecil ini memberi pelajaran besar: bahwa inovasi alami bisa menjadi kunci untuk bertahan di tengah perubahan lingkungan yang ekstrem. Dengan memahami strategi bertahan hidup seperti ini, kita bisa belajar menciptakan ruang hidup yang lebih seimbang antara manusia dan alam, bahkan di tengah hutan beton yang terus tumbuh.

Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas

REFERENSI:

Boggio, Ana & Pereyra, Laura. 2025. Surviving in the urban jungle: The role of foam nests as thermal insulator in Pleurodema borellii (anura: Leptodactylidae). Journal of Thermal Biology 127, 104022.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top