Bunga telang menarik perhatian banyak orang karena warna birunya yang mencolok dan alami. Tanaman tropis bernama ilmiah Clitoria ternatea ini sejak lama dimanfaatkan sebagai pewarna alami minuman dan makanan tradisional di Asia Tenggara. Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti semakin serius mengkaji bunga telang sebagai sumber pewarna biru alami yang aman, stabil, dan kaya manfaat kesehatan. Salah satu penelitian terbaru membahas bagaimana waktu dan suhu ekstraksi memengaruhi kualitas warna biru alami dari bunga telang berkelopak ganda.
Warna biru bunga telang berasal dari senyawa antosianin. Antosianin merupakan pigmen alami yang juga terdapat pada buah blueberry, anggur, dan kol merah. Selain memberi warna, antosianin dikenal sebagai antioksidan yang membantu tubuh melawan radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul tidak stabil yang dapat merusak sel dan berkontribusi pada penuaan serta berbagai penyakit. Oleh karena itu, pewarna alami dari bunga telang tidak hanya berfungsi sebagai pewarna visual, tetapi juga memiliki nilai tambah bagi kesehatan.
Baca juga artikel tentang: Menyelamatkan Phewa, Menyelamatkan Sumber Kehidupan di Nepal
Penelitian ini berfokus pada bunga telang berkelopak ganda yang diekstrak menggunakan air. Para peneliti mengatur dua faktor utama, yaitu suhu dan lama ekstraksi. Suhu ekstraksi dibuat bervariasi dari suhu sedang hingga tinggi, sementara waktu ekstraksi berlangsung dari beberapa jam hingga satu hari penuh. Tujuannya untuk mengetahui kombinasi terbaik yang menghasilkan warna biru paling stabil, kandungan antosianin tinggi, dan aktivitas antioksidan optimal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu memiliki pengaruh besar terhadap jumlah antosianin yang terekstraksi. Ketika suhu dinaikkan, jumlah antosianin yang keluar dari jaringan bunga meningkat. Pada suhu sekitar 75 derajat Celsius selama enam jam, ekstrak segar menunjukkan kandungan antosianin tertinggi. Hal ini terjadi karena panas membantu membuka struktur sel bunga sehingga pigmen lebih mudah larut ke dalam air.
Namun, panas juga memiliki sisi negatif. Pemanasan terlalu lama justru menurunkan aktivitas antioksidan. Pada tahap konsentrasi ekstrak, pemanasan selama sepuluh jam pada suhu tinggi meningkatkan kadar antosianin tetapi menurunkan kemampuan antioksidan secara signifikan. Fenomena ini menunjukkan bahwa tidak semua antosianin yang tersisa tetap aktif secara biologis. Panas berlebih dapat merusak struktur kimia senyawa bioaktif meskipun warnanya masih terlihat kuat.
Peneliti juga mempelajari ekstrak bunga telang dalam bentuk segar, pekat, dan setelah direhidrasi. Ekstrak segar berasal langsung dari hasil perendaman bunga dalam air. Ekstrak pekat diperoleh dengan menguapkan sebagian air menggunakan pemanasan terkendali. Setelah itu, ekstrak pekat ditambahkan kembali air hingga volumenya menyerupai ekstrak awal, sehingga diperoleh ekstrak rehidrasi. Metode ini penting karena produk pewarna alami sering diproduksi dalam bentuk konsentrat atau bubuk yang kemudian dilarutkan kembali saat digunakan.
Menariknya, ekstrak rehidrasi menunjukkan kadar antosianin yang hampir sama dengan ekstrak segar. Namun, aktivitas antioksidannya lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemanasan dan pengeringan dapat mengubah sebagian sifat fungsional senyawa aktif. Dari sudut pandang industri pangan, temuan ini sangat penting karena menekankan perlunya keseimbangan antara stabilitas produk dan manfaat kesehatan.
Selain kandungan kimia, penelitian ini juga menilai sifat warna menggunakan analisis kolorimetri. Warna tidak hanya dilihat secara subjektif, tetapi diukur berdasarkan tingkat kecerahan dan intensitas warna biru serta nuansa kehijauan atau kemerahan. Hasilnya menunjukkan bahwa suhu dan waktu ekstraksi memengaruhi tingkat kecerahan dan kejernihan warna. Ekstrak yang diproses pada suhu sedang dalam waktu cukup lama menghasilkan warna biru yang lebih seimbang dan stabil.
Salah satu perlakuan yang dianggap optimal menggunakan suhu sekitar 50 derajat Celsius selama 24 jam. Perlakuan ini menghasilkan kualitas ekstrak yang baik secara keseluruhan, baik dari segi warna, kandungan antosianin, maupun aktivitas antioksidan. Kombinasi ini dinilai paling menjanjikan untuk aplikasi pangan karena menghasilkan ekstrak yang relatif stabil tanpa merusak terlalu banyak senyawa bioaktif.
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi industri makanan dan minuman. Pewarna sintetis biru masih sering digunakan karena warnanya kuat dan konsisten. Namun, kekhawatiran terhadap keamanan pewarna buatan mendorong pencarian alternatif alami. Bunga telang menawarkan solusi yang menarik karena menghasilkan warna biru alami yang jarang ditemukan pada tanaman lain. Selain itu, bunga telang mudah dibudidayakan di daerah tropis dan memiliki nilai budaya yang kuat di Indonesia.
Produk minuman seperti teh bunga telang, sirup, dan minuman fermentasi dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk meningkatkan kualitas dan daya simpan warna. Industri makanan ringan, kue, dan produk susu juga berpotensi menggunakan ekstrak bunga telang sebagai pewarna alami yang aman. Dengan pengolahan yang tepat, produsen dapat menjaga keseimbangan antara tampilan menarik dan manfaat kesehatan.
Dari sisi konsumen, penggunaan pewarna alami memberi rasa aman dan kepercayaan lebih tinggi terhadap produk pangan. Konsumen modern semakin peduli terhadap bahan yang mereka konsumsi, termasuk asal usul dan dampaknya bagi kesehatan jangka panjang. Pewarna dari bunga telang menjawab kebutuhan ini dengan menawarkan keindahan visual sekaligus potensi manfaat antioksidan.
Penelitian ini juga membuka peluang riset lanjutan. Stabilitas warna selama penyimpanan jangka panjang masih perlu dikaji lebih mendalam. Interaksi antara ekstrak bunga telang dengan bahan pangan lain seperti gula, asam, dan protein juga menarik untuk diteliti. Selain itu, pengembangan teknologi ekstraksi yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan dapat meningkatkan daya saing pewarna alami di pasar global.
Secara keseluruhan, penelitian tentang karakteristik pewarna biru alami dari bunga telang menunjukkan bahwa sains dapat membantu memaksimalkan potensi tanaman tradisional. Dengan memahami pengaruh suhu dan waktu ekstraksi, peneliti dan pelaku industri dapat menghasilkan pewarna alami yang stabil, aman, dan bernilai tambah. Bunga telang tidak lagi sekadar tanaman hias atau bahan minuman tradisional, tetapi menjadi simbol inovasi pangan berbasis alam yang berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan
REFERENSI:
Santosa, Arif P dkk. 2025. Characteristics of natural blue dye of double-petaled butterfly pea flower (Clitoria ternatea L.) on different extraction time and temperature: Comparative study on fresh extract, concentrated extract, and rehydrated extract. Egyptian Journal of Botany 65 (4).

