Ketika Autisme Menjadi Tua: Sains di Balik Penuaan yang Terabaikan

Selama bertahun-tahun, pembahasan tentang autisme hampir selalu berpusat pada anak-anak. Ketika seseorang mendengar istilah autism spectrum disorder (ASD), yang terbayang […]

Selama bertahun-tahun, pembahasan tentang autisme hampir selalu berpusat pada anak-anak. Ketika seseorang mendengar istilah autism spectrum disorder (ASD), yang terbayang biasanya adalah anak kecil yang kesulitan berkomunikasi atau memiliki pola perilaku tertentu. Padahal, autisme tidak berhenti di masa kanak-kanak, autisme adalah kondisi seumur hidup.

Namun, bagaimana kehidupan seseorang di spektrum autisme saat mereka beranjak tua? Apa yang terjadi pada kesehatan, hubungan sosial, dan kesejahteraan mereka ketika masa dewasa dan lanjut usia tiba? Pertanyaan-pertanyaan ini selama puluhan tahun nyaris tak tersentuh oleh sains.

Kini, berkat penelitian baru seperti yang dilakukan oleh Gavin R. Stewart dan Francesca Happé, dunia ilmiah mulai menyoroti bab yang terlupakan ini: penuaan dalam spektrum autisme.

Baca juga artikel tentang: Misteri DNA Terpecahkan: Kode Tak Terlihat yang Mengatur Hidup Kita

Mengapa Penelitian tentang Penuaan dan Autisme Penting

Stewart dan Happé memulai kajian mereka dengan satu pengakuan penting: selama ini, hampir semua riset tentang autisme berfokus pada anak-anak. Padahal, generasi pertama individu autistik yang didiagnosis di masa kanak-kanak kini telah memasuki usia lanjut. Mereka hidup lebih lama, bekerja, berkeluarga, dan menua seperti semua orang.

Namun, pengetahuan ilmiah kita tentang bagaimana autisme memengaruhi proses penuaan biologis dan psikologis masih sangat terbatas. Kekosongan pengetahuan ini memiliki dampak besar. Banyak orang autistik dewasa melaporkan bahwa mereka kesulitan mengakses layanan kesehatan yang sesuai, menghadapi stres sosial kronis, dan bahkan tidak mendapatkan dukungan dalam menghadapi perubahan hidup seperti pensiun, kehilangan pasangan, atau penurunan kesehatan fisik.

Dengan kata lain, autisme di usia tua adalah wilayah tak bertanda dalam peta neurosains dan psikologi perkembangan.

Autisme dan Perjalanan Hidup: Dari Anak hingga Lansia

Para peneliti mencoba memetakan perjalanan hidup individu autistik dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut. Salah satu fokus utama kajian ini adalah bagaimana ciri-ciri utama autisme, seperti kesulitan sosial, minat terbatas, dan pola pikir yang kaku dapat berubah (atau justru menetap) seiring waktu.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak orang autistik mengalami perbaikan dalam keterampilan sosial dan komunikasi di usia dewasa, terutama jika mereka mendapat dukungan lingkungan yang baik. Namun, perubahan ini tidak berarti autisme “hilang”. Sebaliknya, banyak yang justru melaporkan kelelahan sosial (social fatigue) karena harus terus “menyesuaikan diri” agar diterima di masyarakat neurotipikal.

Selain itu, pengalaman hidup, seperti diskriminasi, kesulitan pekerjaan, atau kesepian sosial dapat memperburuk stres dan mempercepat penuaan biologis.
Stewart dan Happé menekankan bahwa penuaan dalam spektrum autisme tidak hanya tentang otak dan gen, tetapi juga tentang pengalaman hidup dan sistem sosial yang membentuknya.

Kesehatan Fisik dan Mental di Usia Lanjut

Kajian ini juga menyoroti profil kesehatan unik pada populasi autistik lanjut usia.
Beberapa temuan penting menunjukkan bahwa orang autistik lebih rentan terhadap kondisi seperti:

  • gangguan tidur kronis,
  • penyakit kardiovaskular,
  • gangguan metabolik,
  • kecemasan dan depresi, serta
  • penurunan fungsi kognitif lebih dini dibanding populasi umum.

Namun, para peneliti berhati-hati menekankan bahwa kerentanan ini bukan berasal dari autisme itu sendiri, melainkan dari kurangnya dukungan dan tingginya stres sosial yang dialami seumur hidup.

Menariknya, ada juga sisi positif: beberapa studi menunjukkan bahwa individu autistik memiliki daya tahan mental yang tinggi dan kemampuan fokus luar biasa pada hal-hal yang mereka minati, yang dapat memberikan rasa makna dan kepuasan hidup bahkan di usia tua.

Penuaan Biologis dan Otak Autistik

Secara biologis, penelitian baru mulai mengungkap bagaimana otak autistik menua secara berbeda. Citra otak (neuroimaging) menunjukkan variasi pola konektivitas saraf yang khas, beberapa bagian otak autistik tampak lebih aktif dalam mengolah detail, sementara area yang berkaitan dengan empati sosial cenderung bekerja lebih hemat energi.

Para ilmuwan menduga bahwa perbedaan ini mungkin memengaruhi cara otak menghadapi penuaan alami, seperti penurunan fungsi memori atau kecepatan berpikir. Namun, bukti masih terbatas. Stewart dan Happé menyerukan perlunya studi longitudinal jangka panjang untuk memahami bagaimana perubahan otak autistik berlangsung dari usia muda hingga lanjut usia.

Hidup yang Bermakna: Perspektif dari Komunitas Autistik

Salah satu kekuatan utama dari tinjauan ini adalah bahwa peneliti melibatkan perspektif orang autistik sendiri. Mereka tidak lagi dipandang hanya sebagai “objek penelitian”, tetapi sebagai mitra ilmiah yang menentukan arah riset berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.

Banyak peserta dalam penelitian ini menekankan bahwa penuaan bukan hanya tentang kehilangan fungsi, tetapi tentang menemukan keseimbangan dan penerimaan diri. Mereka menginginkan riset yang berfokus pada kualitas hidup, otonomi, dan kesejahteraan emosional, bukan sekadar gejala medis.

Menuju Paradigma Baru: Dari Defisit ke Keberagaman

Stewart dan Happé mengajak kita untuk mengubah paradigma. Alih-alih melihat autisme sebagai serangkaian “kekurangan”, kini para ilmuwan mulai memahami bahwa autisme mencerminkan keragaman biologis dan kognitif manusia.

Dalam konteks penuaan, pendekatan ini berarti memahami bahwa tidak ada satu cara yang benar untuk menua. Sebagian orang autistik mungkin tetap sangat aktif di komunitas, sebagian lainnya mungkin memilih kehidupan yang lebih tenang dan keduanya sah.

Pendekatan yang berpusat pada keberagaman ini juga membuka peluang bagi layanan kesehatan, pendidikan, dan sosial untuk lebih inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan tiap individu.

Masa Depan Riset: Menua dengan Martabat

Studi ini menutup dengan seruan untuk memperluas penelitian lintas disiplin: menggabungkan psikologi perkembangan, ilmu saraf, biologi penuaan, dan kebijakan sosial. Tujuannya sederhana namun mendalam, memastikan bahwa individu autistik dapat menua dengan martabat, kesehatan, dan rasa makna.

Dengan semakin banyaknya orang autistik yang mencapai usia lanjut, dunia kini menghadapi tantangan baru: bukan lagi bagaimana “mengoreksi” autisme, tetapi bagaimana mendukung kehidupan autistik sepanjang rentang usia.

Penuaan pada spektrum autisme bukan sekadar topik akademik, tetapi cermin dari bagaimana kita, sebagai masyarakat, memperlakukan perbedaan. Stewart dan Happé mengingatkan bahwa memahami proses menua dalam autisme bukan hanya tentang menemukan masalah baru, tetapi tentang memberikan suara kepada mereka yang selama ini diabaikan oleh ilmu pengetahuan.

Autisme tidak berhenti di masa kanak-kanak. Ia tumbuh, beradaptasi, dan berubah sama seperti manusia lainnya. Dan mungkin, dengan memahami bagaimana individu autistik menua, kita juga belajar sesuatu tentang kemanusiaan kita sendiri.

Baca juga artikel tentang: Pengembangan Bahasa dan Literasi di antara Anak-anak Penderita Autism Spectrum Disorder (ASD)

REFERENSI:

Stewart, Gavin R & Happé, Francesca. 2025. Aging Across the Autism Spectrum. Annual Review of Developmental Psychology 7.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top