Selama puluhan tahun, masyarakat bahkan dunia medis percaya bahwa autisme jauh lebih umum terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Rasio yang sering dikutip adalah empat laki-laki untuk setiap satu perempuan yang terdiagnosis.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan: mungkin bukan karena perempuan jarang mengalami autisme, melainkan karena ilmu kita selama ini “tidak melihat” mereka dengan benar.
Sebuah studi besar yang dipublikasikan pada tahun 2025 oleh Sara Cruz dan rekan-rekannya dari Portugal dan Spanyol mencoba menjawab pertanyaan penting:
“Apakah ada bias terhadap laki-laki dalam diagnosis autisme?”
Jawabannya seperti yang mereka temukan setelah meninjau puluhan studi ilmiah ya, ada, dan bias ini bisa menjelaskan mengapa banyak perempuan autistik hidup tanpa diagnosis atau baru menyadarinya di usia dewasa.
Baca juga artikel tentang: Misteri DNA Terpecahkan: Kode Tak Terlihat yang Mengatur Hidup Kita
Autisme Tidak Sama di Semua Otak
Autisme (Autism Spectrum Disorder atau ASD) bukan satu kondisi tunggal, melainkan spektrum luas dari cara otak memproses dunia. Ciri-ciri utamanya meliputi:
- kesulitan dalam interaksi sosial,
- pola perilaku yang berulang atau kaku, dan
- cara berpikir yang sangat fokus atau mendetail.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa cara autisme muncul bisa berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Jika pada laki-laki gejalanya lebih terlihat, misalnya perilaku yang ekstrem atau komunikasi yang sangat terbatas maka pada perempuan, tanda-tandanya sering kali lebih halus dan sosial.
Banyak perempuan autistik yang belajar meniru cara orang lain berperilaku, menjaga kontak mata, dan menyesuaikan ekspresi wajah mereka agar “terlihat normal.
Fenomena ini dikenal sebagai camouflaging atau masking istilah yang berarti “menyembunyikan” atau “menutupi” ciri autistik agar bisa berbaur dengan lingkungan sosial.
Camouflaging: Keterampilan Bertahan Hidup yang Menyesatkan
Dalam tinjauan sistematis mereka, Cruz dan tim meneliti 67 studi tentang perbedaan gejala autisme antara laki-laki dan perempuan, serta 10 studi tambahan khusus mengenai camouflaging. Hasilnya menarik sekaligus mengkhawatirkan.
Perempuan autistik lebih sering menggunakan strategi kompensasi dan penyamaran sosial dibandingkan laki-laki.
Mereka belajar meniru gaya bicara, ekspresi, bahkan hobi teman sebayanya agar diterima.
Namun di balik kemampuan beradaptasi ini, ada harga mahal yang harus dibayar: kelelahan emosional kronis, kecemasan, bahkan depresi.
Banyak perempuan autistik menggambarkan hidup mereka seperti “berakting tanpa naskah sepanjang waktu.”
Mereka mungkin tampak berfungsi dengan baik di luar, tetapi mengalami tekanan mental besar di dalam, karena harus terus menekan keaslian diri mereka.
Akibatnya, ketika mereka akhirnya mencari bantuan profesional, gejala autisme mereka tampak “tidak cukup parah” atau “tidak sesuai kriteria.” Dokter pun sering salah mengira bahwa mereka mengalami gangguan kecemasan, depresi, atau kepribadian ambang, bukan autisme.
Bias dalam Ilmu dan Alat Diagnosis
Cruz dan rekan-rekannya menemukan akar dari masalah ini: alat diagnosis autisme yang kita gunakan selama ini dikembangkan berdasarkan studi terhadap laki-laki.
Sebagian besar kriteria diagnostik termasuk yang tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) didasarkan pada pengamatan terhadap anak laki-laki autistik.
Dengan kata lain, definisi “autisme” yang kita pakai adalah autisme versi laki-laki.
Maka ketika seorang perempuan menunjukkan bentuk autisme yang berbeda, misalnya lebih ekspresif secara emosional, memiliki minat mendalam yang dianggap “normal” (seperti sastra, hewan peliharaan, atau seni), atau pandai meniru percakapan sosial tidak terdeteksi oleh sistem.
Cruz menyebut ini sebagai “female autism phenotype”, yaitu pola autisme khas perempuan yang belum sepenuhnya diakui oleh dunia medis.
Suara dari Mereka yang Terlambat Dikenali
Fenomena ini tidak hanya tercatat di jurnal ilmiah, tapi juga di kehidupan nyata.
Banyak perempuan autistik dewasa menceritakan kisah serupa: mereka tumbuh merasa “berbeda,” tetapi baru mendapat diagnosis setelah usia 30, 40, bahkan 50 tahun.
Salah satu dari mereka berkata:
“Saya selalu merasa seperti alien yang mencoba belajar menjadi manusia. Orang mengira saya baik-baik saja, tapi saya merasa kelelahan setiap hari hanya karena mencoba menjadi ‘normal’.”
Studi Cruz memberi dasar ilmiah bagi pengalaman semacam ini. Ketika perempuan belajar menyamarkan autisme mereka untuk bertahan di dunia sosial, sistem diagnostik yang tidak peka gender justru gagal melihat mereka.
Data yang Menggugah
Hasil meta-analisis menunjukkan beberapa pola menarik:
- Laki-laki autistik cenderung menunjukkan gejala yang lebih mencolok secara sosial dan perilaku, seperti kesulitan interaksi langsung, minat ekstrem, atau rutinitas kaku.
- Perempuan autistik lebih sering memperlihatkan kesulitan internal, seperti kecemasan sosial, kepekaan emosional, atau kelelahan mental.
- Dalam hampir semua studi, perempuan melaporkan lebih banyak strategi masking dan kompensasi dibanding laki-laki.
Secara keseluruhan, data mendukung hipotesis bahwa ada bias sistematis dalam prosedur diagnosis autisme, bias yang berpihak pada laki-laki, karena gejala perempuan dianggap “tidak cukup mencolok.”
Dampak Nyata: Salah Diagnosis, Dukungan yang Hilang
Bias ini bukan sekadar masalah statistik.
Ia memiliki konsekuensi nyata: banyak perempuan autistik tidak pernah mendapatkan diagnosis yang benar, dan akibatnya, tidak pernah menerima dukungan yang tepat.
Tanpa diagnosis, mereka sulit mengakses terapi, layanan pendidikan, atau dukungan komunitas yang seharusnya membantu mereka menavigasi hidup dengan lebih nyaman. Lebih jauh lagi, banyak yang mengalami burnout autistik di usia dewasa akibat bertahun-tahun menekan diri untuk “menyesuaikan diri.”
Cruz dan timnya menegaskan bahwa sistem kesehatan mental perlu memperbarui alat dan pelatihan klinisnya agar lebih peka terhadap variasi gender dalam autisme.
Menuju Diagnosis yang Lebih Adil
Penelitian ini membawa pesan penting: autisme tidak memiliki satu wajah tunggal.
Kita perlu meninggalkan pandangan lama bahwa autisme “milik laki-laki,” dan mulai mengakui bahwa bentuk ekspresi autistik perempuan sama valid dan signifikan.
Langkah-langkah yang diusulkan oleh para peneliti meliputi:
- Mengembangkan alat diagnosis baru yang mempertimbangkan fenomena camouflaging dan perbedaan sosial gender.
- Melatih profesional kesehatan agar memahami variasi gejala autisme pada perempuan dan anak perempuan.
- Melibatkan suara komunitas autistik perempuan dalam penelitian dan kebijakan publik.
Penelitian Sara Cruz dan timnya menyoroti kenyataan pahit namun penting:
Dunia medis terlalu lama menilai autisme dari lensa laki-laki.
Kini, dengan bukti ilmiah yang kuat, saatnya kita mengubah cara pandang itu. Autisme bukan soal jenis kelamin, melainkan tentang keberagaman cara otak memahami dunia.
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, sains mulai benar-benar membuka matanya, agar perempuan autistik tidak lagi harus bersembunyi di balik topeng normalitas.
Baca juga artikel tentang: Pengembangan Bahasa dan Literasi di antara Anak-anak Penderita Autism Spectrum Disorder (ASD)
REFERENSI:
Cruz, Sara dkk. 2025. Is there a bias towards males in the diagnosis of autism? A systematic review and meta-analysis. Neuropsychology review 35 (1), 153-176.

