Dari Ledakan ke Luka Batin: Sisi Psikologis Hidup di Zona Konflik

Pada 7 Oktober 2023, dunia kembali menyaksikan salah satu babak paling kelam dalam sejarah modern: serangan besar-besaran di Israel bagian […]

Pada 7 Oktober 2023, dunia kembali menyaksikan salah satu babak paling kelam dalam sejarah modern: serangan besar-besaran di Israel bagian selatan yang menewaskan banyak warga sipil dan membuat ribuan lainnya kehilangan keluarga, teman, atau rumah. Bagi sebagian orang, perang mungkin tampak sebagai berita jauh di layar televisi. Namun bagi mereka yang hidup di tengahnya, konflik bukan sekadar ledakan bom dan reruntuhan bangunan, melainkan luka batin yang mengendap dan tak mudah sembuh.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di Scientific Reports (Nature, 2025) menelusuri bagaimana pengalaman terkait perang (seperti kehilangan orang yang dicintai, pengungsian paksa, dan kesulitan ekonomi) memengaruhi kesehatan mental mereka yang tinggal di zona konflik. Studi ini tidak hanya menggambarkan penderitaan jangka pendek, tetapi juga memperlihatkan bagaimana trauma perang dapat berlarut-larut dan membentuk kehidupan seseorang jauh setelah suara tembakan berhenti.

Baca juga artikel tentang: Dari Tanaman ke Terapi: Perjalanan Ibogaine dalam Dunia Kesehatan Mental

Meneliti Trauma di Tengah Kekacauan

Riset ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari Israel, dipimpin oleh Doron Amsalem dan rekan-rekannya, yang berfokus pada efek jangka panjang pengalaman perang terhadap gejala klinis kecemasan (anxiety), depresi, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Penelitian ini melibatkan 1.052 orang berusia 18 hingga 40 tahun yang tinggal di wilayah konflik Israel, termasuk kelompok etnis minoritas. Mereka diwawancarai secara daring selama tiga bulan, dari Februari hingga Mei 2024 untuk menilai perubahan gejala psikologis seiring waktu.

Para peserta diminta mengisi tiga instrumen psikologi yang banyak digunakan secara internasional:

  • GAD-7 (Generalized Anxiety Disorder-7) untuk mengukur kecemasan,
  • PHQ-9 (Patient Health Questionnaire) untuk menilai gejala depresi,
  • dan PC-PTSD (Primary Care PTSD Screen) untuk mendeteksi stres pascatrauma.

Hasilnya sungguh mengkhawatirkan.

Gelombang Kecemasan dan Depresi di Tengah Kehilangan

Individu yang mengalami kehilangan traumatis, seperti anggota keluarga atau teman dekat yang terbunuh atau diculik menunjukkan tingkat kecemasan, depresi, dan PTSD yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang tidak mengalami langsung peristiwa semacam itu.

Namun bukan hanya kehilangan yang meninggalkan luka. Mereka yang terpaksa mengungsi, kehilangan mata pencaharian, atau hidup dalam kesulitan ekonomi ekstrem juga melaporkan gejala stres berat yang konsisten sepanjang waktu penelitian.

Menariknya, hasil studi menunjukkan bahwa perempuan memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi dibanding laki-laki di setiap titik waktu pengamatan. Faktor sosial dan beban ganda, seperti tanggung jawab keluarga di tengah situasi genting diyakini memperburuk tekanan yang mereka alami.

Luka yang Tak Terlihat di Kalangan Minoritas

Salah satu temuan penting dalam riset ini adalah kesenjangan psikologis antara kelompok etnis. Individu dari etnis minoritas, baik Arab maupun lainnya, melaporkan gejala kecemasan dan depresi yang lebih berat dibanding peserta dari kelompok mayoritas Yahudi dan perbedaan ini terlihat di setiap tahap waktu penelitian.

Kesenjangan ini mencerminkan bagaimana konflik bersinggungan dengan ketidaksetaraan sosial. Dalam situasi perang, kelompok minoritas sering kali menghadapi lapisan tekanan tambahan (diskriminasi, akses terbatas ke layanan kesehatan, dan ketidakpastian ekonomi) yang memperparah efek psikologis dari konflik itu sendiri.

Dengan kata lain, perang bukan hanya melukai tubuh, tapi juga memperdalam luka sosial yang sudah ada.

Krisis yang Butuh Respons Serius

Peneliti menekankan bahwa temuan ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk intervensi kesehatan mental yang terarah dan berkelanjutan di wilayah konflik. Sayangnya, dalam banyak kasus, dukungan semacam ini minim. Prioritas biasanya diberikan pada kebutuhan fisik (makanan, tempat tinggal, keamanan) sementara aspek psikologis sering kali dianggap “nanti saja”.

Padahal, seperti yang diingatkan oleh Amsalem dan timnya, tanpa pemulihan mental, tidak ada pemulihan sosial yang benar-benar utuh. Orang yang menderita PTSD berat cenderung mengalami gangguan tidur, kesulitan bekerja, hingga kehilangan motivasi hidup. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperlambat rekonstruksi sosial dan ekonomi suatu komunitas setelah perang usai.

Penelitian ini juga menggarisbawahi pentingnya dukungan berbasis komunitas, termasuk pelatihan tenaga kesehatan lokal untuk mengenali tanda-tanda gangguan mental, serta pemberian akses terapi berbasis teknologi (telehealth) bagi mereka yang sulit menjangkau fasilitas medis.

Trauma Kolektif, Pemulihan Kolektif

Mungkin yang paling menyentuh dari penelitian ini bukanlah data statistiknya, tetapi kesadarannya bahwa trauma perang adalah trauma kolektif.

Ketika satu keluarga kehilangan anggota, satu komunitas kehilangan rasa aman. Ketika satu anak tumbuh dengan mimpi buruk setiap malam, seluruh generasi kehilangan sebagian dari masa depannya.

Namun di sisi lain, penelitian ini juga memberi secercah harapan: bahwa pemulihan pun bisa bersifat kolektif. Dukungan sosial, dari keluarga, tetangga, lembaga, hingga organisasi kemanusiaan terbukti dapat menurunkan risiko gangguan mental di tengah kekacauan. Solidaritas, empati, dan rasa kebersamaan bisa menjadi “obat” yang tak kalah penting dari terapi klinis.

Lebih dari Sekadar Statistik

Hasil studi ini bukan hanya relevan bagi Israel atau Timur Tengah. Ia menggambarkan realitas yang dialami oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia, dari Gaza hingga Ukraina, dari Myanmar hingga Sudan.

Dalam semua konteks itu, perang selalu meninggalkan luka yang lebih dalam daripada yang terlihat oleh mata. Dan jika dunia sungguh ingin berbicara tentang “rekonstruksi”, maka yang harus dibangun pertama bukan hanya rumah dan jalan, tetapi juga jiwa manusia yang hancur di dalamnya.

Seperti ditulis oleh peneliti dalam kesimpulannya, “Kita perlu memperluas pemahaman tentang dampak perang pada kesehatan mental, dan memastikan intervensi yang tepat bagi mereka yang paling terdampak.”

Pesan ini sederhana tapi kuat: mereka yang hidup di tengah konflik tidak hanya butuh bertahan, mereka butuh didengar, didukung, dan disembuhkan.

Karena pada akhirnya, setiap konflik berakhir bukan ketika senjata berhenti menembak, tetapi ketika manusia di dalamnya bisa kembali merasa aman di luar dan di dalam dirinya sendiri.

Baca juga artikel tentang: Perbedaan Respons Stres antara Pria dan Wanita: Temuan yang Bisa Mengubah Pengobatan Gangguan Mental

REFERENSI:

Amsalem, Doron dkk. 2025. The effects of war-related experiences on mental health symptoms of individuals living in conflict zones: a longitudinal study. Scientific reports 15 (1), 889.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top