Cerita fiksi sering kali menjadi cermin yang memantulkan kenyataan hidup manusia. Di dalamnya, penulis menyimpan potret emosi, konflik batin, dan pertanyaan filosofis yang sulit dijelaskan hanya dengan teori ilmiah. Novel Nightwoods karya Charles Frazier adalah salah satu contoh menarik. Ketika dibaca sekilas, karya ini tampak seperti kisah kriminal yang gelap. Namun, jika diamati lebih dalam, cerita ini menawarkan gambaran tentang bagaimana trauma, kehilangan arah, dan cara manusia memaknai kebenaran dapat membentuk perilaku seseorang hingga tampak seolah tidak memiliki moral.
Penelitian yang dilakukan Terrell Tebbetts mencoba memahami hubungan antara kondisi emosional tokoh antagonis bernama Bud dan cara pandangnya terhadap dunia. Bud menolak gagasan bahwa kebenaran dapat ditemukan. Baginya, kebenaran bukan sesuatu yang dapat dipegang atau dipahami secara objektif. Pandangan seperti ini tidak hanya berdampak pada cara ia mengambil keputusan, tetapi juga mengubah caranya memandang orang lain. Ketika seseorang percaya bahwa kebenaran tidak ada, maka batas antara benar dan salah pun ikut mengabur. Dari sinilah lahir sikap yang dapat melukai orang lain tanpa rasa bersalah.
Baca juga artikel tentang: Efek Psikologis dari Balasan Singkat: Ketika “Oke” Menjadi Sumber Stres Sosial Digital
Bud tidak hanya mempertanyakan kebenaran, tetapi juga menunjukkan pola pikir yang dekat dengan apa yang disebut sebagai sikap postmodern ekstrem. Dalam pendekatan ini, semua nilai dianggap relatif. Tidak ada aturan moral yang benar secara universal. Tidak ada kebenaran tunggal. Semua hanya interpretasi. Ketika pandangan ini melekat pada seseorang yang mengalami trauma atau rasa keterasingan, dampaknya dapat menjadi jauh lebih gelap.
Dalam Nightwoods, trauma memainkan peran penting. Trauma tidak pernah hadir begitu saja, melainkan tumbuh dari pengalaman yang menyakitkan. Tokoh Bud mengalami keterasingan sosial dan beban emosional yang tidak pernah ia selesaikan. Trauma menciptakan jarak antara dirinya dan orang lain. Tanpa kemampuan untuk membangun hubungan yang sehat, seseorang cenderung terjebak dalam lingkaran isolasi emosional. Isolasi ini bisa berubah menjadi cara berpikir yang curiga, kaku, dan penuh kemarahan.
Ketika seseorang merasa terasing, ia dapat mengembangkan mekanisme bertahan hidup yang ekstrem. Ia mungkin menolak empati karena menganggap dunia tidak layak dipercaya. Ia bisa saja memegang keyakinan bahwa moralitas hanyalah topeng yang dipakai orang lain. Dalam kondisi seperti itu, perilaku menyimpang bukan lagi dipandang sebagai sesuatu yang salah, tetapi sebagai reaksi wajar terhadap dunia yang ia anggap kacau.
Melalui tokoh Bud, Nightwoods menunjukkan bagaimana kombinasi trauma dan keyakinan bahwa kebenaran tidak dapat diakses dapat melahirkan tindakan yang merusak. Penelitian Tebbetts mengaitkannya dengan konsep postmodern dalam filsafat yang menolak realitas objektif. Konsep ini sebenarnya tidak selalu negatif. Dalam dunia seni dan sastra, postmodernisme membantu kita memahami bahwa manusia bisa memiliki pengalaman yang sangat berbeda mengenai hal yang sama. Namun, ketika diterapkan secara ekstrem ke dalam perilaku manusia, penolakan terhadap kebenaran dapat menciptakan kekacauan moral.
Ketidakpercayaan Bud terhadap kebenaran bukan sekadar teori. Ketika ia meyakini bahwa tidak ada yang benar secara pasti, ia merasa bebas dari tanggung jawab moral. Dari sinilah muncul perilaku berbahaya dalam novel tersebut, termasuk tindakan kriminal yang menjadi inti cerita. Bud tidak merasa bersalah, bukan karena ia lahir tanpa rasa empati, tetapi karena ia telah menutup pintu terhadap gagasan bahwa tindakan manusia seharusnya memiliki standar moral tertentu.
Tebbetts menekankan bahwa Nightwoods menggambarkan hubungan antara sikap postmodern ekstrem dan keterasingan yang dialami tokoh utamanya. Bud bukan hanya seorang antagonis, tetapi juga gambaran dari seseorang yang tenggelam dalam krisis identitas dan krisis makna. Dunia yang ia lihat adalah dunia yang tidak bisa dipercaya. Orang lain baginya hanyalah ancaman atau alat. Nilai moral hanya dianggap sebagai aturan buatan yang bisa ditolak kapan pun ia inginkan.
Kajian seperti ini memberikan pelajaran penting bagi kita yang hidup di era modern. Banyak orang mengalami keterasingan sosial, terutama ketika tekanan ekonomi, masalah keluarga, atau kecemasan sosial membuat hubungan antarmanusia terasa semakin rapuh. Ketika seseorang mengalami trauma namun tidak mendapatkan dukungan emosional atau lingkungan yang membantu, ia mungkin mengembangkan pandangan negatif terhadap dunia. Cerita Bud memperlihatkan bagaimana trauma yang tidak tertangani dapat menggerogoti moralitas.
Masyarakat perlu memahami bahwa perilaku buruk tidak selalu muncul dari kejahatan bawaan. Terkadang perilaku itu merupakan hasil dari luka emosional yang tidak pernah diatasi. Dampaknya dapat menjadi sangat besar ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk percaya pada hal yang dianggap benar. Penolakan terhadap kebenaran dapat mengubah cara seseorang melihat dirinya sendiri dan melihat orang lain.
Melalui pendekatan sastra, penelitian Tebbetts mengingatkan bahwa fiksi dapat menjadi ruang untuk memahami sisi gelap manusia. Fiksi membuka ruang aman untuk melihat bagaimana ide, trauma, dan lingkungan dapat membentuk seseorang. Cerita seperti Nightwoods tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga membantu kita belajar memahami perilaku manusia dengan cara yang tidak bisa diberikan oleh data statistik semata.
Pada akhirnya, artikel ini mengajak pembaca untuk melihat pentingnya keterhubungan manusia, keyakinan terhadap nilai-nilai kebenaran, serta perlunya menghadapi trauma secara terbuka. Kebenaran mungkin memiliki banyak wajah, tetapi bukan berarti kebenaran tidak ada sama sekali. Ketika seseorang kehilangan pijakan moral, ia akan tersesat dalam pikirannya sendiri, sebagaimana yang terjadi pada Bud.
Fiksi dan penelitian sastra memberi kita kesempatan untuk merenungkan bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan segala kompleksitasnya. Melalui kisah yang gelap, kita dapat menemukan pelajaran terang tentang pentingnya empati, kejujuran, dan hubungan antarmanusia yang sehat.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kita Suka Mendengarkan Lagu Sedih Saat Galau? Jawaban dari Psikologi, Biologi, dan Ilmu Otak
REFERENSI:
Tebbetts, Terrell. 2025. Abiding Truth or No Truth: The Intersection of Alienation and a Tenet of Postmodernism in Charles Frazier’s Nightwoods. Mississippi Quarterly 77 (2), 123-139.

