Ketika kita bercakap-cakap, ada dua “bahasa” yang bekerja bersamaan. Pertama, bahasa struktural (tata bahasa, kosakata, dan cara menyusun kalimat yang benar. Kedua, bahasa pragmatis) aturan tak tertulis tentang kapan berganti giliran, sejauh apa kita boleh bercerita, bagaimana membaca isyarat halus, menyesuaikan nada, atau menangkap humor dan sindiran. Banyak orang autistik kesulitan pada bahasa jenis kedua ini. Sebuah studi terbaru mencoba menjawab pertanyaan penting: apa yang paling berperan dalam kemampuan bahasa pragmatis, kemampuan tata bahasa, kecerdasan umum, atau sesuatu yang disebut Theory of Mind?
Apa itu Theory of Mind?
Theory of Mind (ToM) adalah kemampuan membayangkan apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain. Ini seperti “mode perspektif orang lain” di dalam otak: menebak apakah teman sedang kesal, memahami maksud seseorang meski tidak diucapkan langsung, atau menyadari bahwa lawan bicara belum tahu informasi tertentu sehingga kita perlu menjelaskannya dari awal.
Di banyak penelitian, ToM sering dianggap pendorong utama bahasa pragmatis. Namun kontribusi bahasa struktural (tata bahasa dan kosakata) sering kali terpisah pengujiannya. Studi baru ini mendudukkan ketiganya di satu meja. ToM, bahasa struktural, dan kemampuan penalaran nonverbal lalu melihat mana yang paling kuat memprediksi kemampuan pragmatis.
Baca juga artikel tentang: Misteri DNA Terpecahkan: Kode Tak Terlihat yang Mengatur Hidup Kita
Siapa yang Diteliti?
Peneliti membagi partisipan menjadi tiga kelompok remaja dan dewasa yang semuanya fasih berbicara:
- Kelompok autisme saat ini (36 orang).
- Kelompok “kehilangan diagnosis” autisme (Loss of Autism Diagnosis, LAD) mereka memiliki riwayat autisme di masa kecil namun kini tidak lagi memenuhi kriteria diagnosis (32 orang).
- Kelompok neurotipikal tanpa riwayat autisme (36 orang).
Susunan seperti ini memungkinkan peneliti melihat, misalnya, apakah kesulitan pragmatis melekat sepanjang hidup, atau justru bisa membaik bersamaan dengan perubahan gejala autisme.
Alat Ukur: dari Mata hingga Tata Bahasa
Untuk ToM, digunakan tugas “Reading the Mind in the Eyes” (meneka emosi hanya dari foto mata) dan “Social Attribution” (memaknai interaksi sosial dari animasi bentuk-bentuk sederhana). Untuk bahasa struktural, peserta diminta menilai kekgramatikalan kalimat, plus tes penalaran matriks (ukuran penalaran nonverbal).
Lalu, kemampuan bahasa pragmatis dinilai dengan ukuran baru yang berakar pada skala penilaian pragmatis, mencakup hal-hal seperti relevansi jawaban, koherensi cerita, dan sensitivitas terhadap konteks sosial.
Hasil Utama: ToM Paling Menentukan
Beberapa temuan kuncinya:
- Kelompok autistik menunjukkan kesulitan bermakna pada bahasa pragmatis dan ToM afektif (membaca emosi/niat), dibanding dua kelompok lainnya. Mereka juga memiliki tantangan pada bahasa struktural dibanding kelompok neurotipikal.
- Kelompok LAD tidak menunjukkan gangguan pada pengukuran-pengukuran tersebut menandakan adanya peningkatan luas pada fungsi sosial-bahasa seiring hilangnya kriteria diagnosis.
- Secara statistik, ketika ToM, bahasa struktural, dan penalaran nonverbal dimasukkan bersama-sama, ToM muncul sebagai satu-satunya prediktor unik untuk kemampuan bahasa pragmatis. Bahasa struktural dan penalaran tetap berasosiasi dengan pragmatis, tetapi kontribusinya tidak lagi berdiri sendiri setelah ToM diperhitungkan.
Dengan kata lain, tata bahasa yang baik memang membantu, tetapi kunci terbesar untuk “bahasa tak tertulis” dalam interaksi sehari-hari adalah kemampuan mengambil perspektif orang lain.
Apa Artinya?
- Bahasa pragmatis bisa membaik bersama perubahan gejala autisme. Fakta bahwa kelompok LAD tampil setara dengan neurotipikal mengisyaratkan bahwa kesulitan pragmatis bukan sesuatu yang pasti menetap. Saat dukungan, pembelajaran, dan perkembangan berjalan dan gejala inti mereda, kemampuan pragmatis ikut terangkat.
- Intervensi yang menargetkan ToM menjanjikan. Latihan yang melatih perspektif, seperti social storytelling, permainan peran, berdiskusi tentang “apa yang diketahui/diinginkan tokoh”, atau menebak emosi dari isyarat wajah dan suara, kemungkinan berdampak langsung pada kelancaran komunikasi sehari-hari, lebih dari sekadar latihan tata bahasa.
- Bahasa struktural tetap penting. Meskipun ToM paling “unik” memprediksi pragmatis, kemampuan menyusun kalimat dan kosakata tetap pondasi. Banyak ujaran pragmatis yang efektif bergantung pada frasa yang tepat, penanda wacana, dan kejelasan struktur.
Mengapa Ada Kelompok “Lepas Diagnosis”?
Istilah Loss of Autism Diagnosis (LAD) sering menimbulkan pertanyaan. Ini tidak berarti “autisme sembuh” seperti demam. Lebih akurat bila dipandang sebagai perubahan lintasan perkembangan: kombinasi faktor biologis, lingkungan, dan dukungan intensif (misalnya intervensi dini, dukungan bahasa, kesempatan praktik sosial) membuat seseorang tidak lagi memenuhi kriteria klinis saat ini. Studi ini menunjukkan bahwa pada kelompok tersebut, kemajuan terjadi luas, bukan hanya pada perilaku yang diukur tes tertentu, tetapi juga pada fungsi pragmatis.
Implikasi Praktis untuk Rumah dan Sekolah
- Ajarkan “cek perspektif”. Biasakan pertanyaan seperti “Apa yang sudah dia tahu?” atau “Kalau kamu di posisi dia, kamu akan merasa apa?”.
- Gunakan isyarat visual dan latihan eksplisit. Aturan percakapan (bergiliran, tetap di topik, menutup percakapan) bisa diajarkan seperti langkah resep, bukan diasumsikan “akan paham sendiri”.
- Latih membaca isyarat halus. Kartu ekspresi mata, audio nada suara, atau cuplikan film tanpa dialog berguna untuk berlatih menebak emosi/niat.
- Bangun kosakata sosial. Frasa penanda konteks (“menurutku”, “mungkin”, “sepertinya kamu merasa…”) membantu menyatakan empati dan ketidakpastian, inti dari pragmatik yang baik.
- Perbanyak praktik aman. Klub minat, permainan kooperatif, atau proyek kelompok memberi kesempatan menguji strategi pragmatis dengan umpan balik ramah.
Catatan Kehati-hatian
Seperti semua riset, ada batasannya. Ukuran sampel tiap kelompok relatif kecil. Penilaian dilakukan lintas-bagian (sekali waktu), sehingga kita tidak bisa memastikan arah sebab-akibat, apakah ToM yang mendorong pragmatis, atau latihan pragmatis memperkuat ToM (kemungkinan keduanya saling menguatkan). Tugas ToM yang dipakai berfokus pada membaca emosi dan atribusi sosial dari petunjuk terbatas; dunia nyata lebih kaya dan kacau. Dan kelompok LAD bisa jadi memiliki riwayat dukungan yang berbeda dari kebanyakan orang autistik, jadi temuan tidak serta-merta berlaku umum.
Bahasa bukan sekadar kata dan tata bahasa, tapi juga kemampuan menyesuaikan diri dengan pikiran orang lain. Studi ini memperkuat gagasan bahwa Theory of Mind adalah kunci spesifik untuk bahasa pragmatis pada autisme. Kabar baiknya, ketika dukungan tepat membuat gejala autisme berkurang hingga tak lagi terdiagnosis, kemampuan pragmatis juga ikut naik. Itu memberi arah jelas bagi orang tua, guru, dan terapis: ajarkan perspektif, latih isyarat sosial, dan tetap bangun pondasi bahasa. Dengan begitu, kita menolong siapa pun, autistik atau tidak menjadi penutur yang tidak hanya fasih, tetapi juga paham konteks dan peka terhadap lawan bicara.
Baca juga artikel tentang: Pengembangan Bahasa dan Literasi di antara Anak-anak Penderita Autism Spectrum Disorder (ASD)
REFERENSI:
Eigsti, Inge-Marie dkk. 2025. Associations between pragmatic language and Theory of Mind in individuals with a history of autism and those who have lost the autism diagnosis. Philosophical Transactions B 380 (1932), 20230504.

