Stunting selalu menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama daerah pedesaan. Saat ini angka prevalensi stunting sudah menurun dalam beberapa tahun terakhir. Melalui program Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah Aisyah (KKN MAs) 2025 hadir sebagai intervensi berbasis komunitas yang menekankan edukasi gizi, peningkatan praktik pemberian makan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan penguatan peran keluarga serta masyarakat. KKN MAs 2025 ini dilaksanakan di Kabupaten Siak, Riau tepatnya di Desa Rawang Air Putih.

Kabupaten Siak pada tahun 2021, sesuai data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) berhasil menurunkan angka prevalensi stunting menjadi 19%, setelah sebelumnya pada tahun 2019 sebesar 27,29%. Prevalensi stunting di Siak ditargetkan pada tahun 2022-2026 mengalami penurunan sebesar 13,79% setara dengan prevalensi stunting nasional. Saat ini Kabupaten Siak menjadi daerah terendah kedua di Provinsi Riau, setelah Kota Pekanbaru (11,4%).
Upaya penanggulangan stunting mendapat perhatian secara nasional. Hasil SSGI terbaru menunjukkan penurunan prevalensi nasional menjadi sekitar 19,8% (2024), namun angka ini masih memerlukan upaya lebih untuk mencapai target kesehatan anak dan SDGs. Penurunan nasional perlu didukung intervensi di tingkat keluarga dan komunitas, di sinilah peran program berbasis pendidikan seperti KKN MAs menjadi penting.
Melalui program “Pentingnya Gizi Seimbang untuk mencegah Stunting” dari kelompok 8 KKN MAs di Desa Rawang Air Putih, diberikan kegiatan sosialisasi yang terdiri dari:
- Penyuluhan gizi seimbang untuk Ibu Hamil, Balita, Lansia dan Keluarga
- Praktik Demo MP-ASI bergizi dari bahan lokal
- Pemantauan pertumbuhan pada balita dan anak

Penyuluhan gizi seimbang untuk Ibu Hamil, Balita, Lansia dan Keluarga
Gizi seimbang merupakan dasar bagi metabolisme dan keseimbangan tubuh: makronutrien (protein, lemak, karbohidrat) menyediakan substrat dan energi untuk pembentukan serta pemeliharaan jaringan, sedangkan mikronutrien (vitamin, mineral) berfungsi sebagai kofaktor enzim dan pendukung proses biologis seperti sintesis molekul dan kerja sistem imun. Kekurangan zat besi atau folat, misalnya, dapat mengganggu sintesis DNA dan proliferasi sel sehingga berdampak langsung pada pertumbuhan, terutama selama kehamilan dan masa kanak-kanak. Pemberian suplemen perlu direncanakan dengan memperhatikan bentuk sediaan, dosis, dan potensi interaksi dengan obat lain agar manfaatnya maksimal tanpa menimbulkan efek toksik.
Ibu hamil membutuhkan peningkatan asupan energi dan terutama nutrien spesifik yang berperan langsung pada sintesis jaringan dan pembelahan sel janin: protein, zat besi, asam folat, serta mikronutrien lain seperti kalsium dan vitamin D. Secara fisiologis, perubahan homeostasis pada ibu terjadi peningkatan kebutuhan protein dan mikronutrien. Oleh karena itu ibu hamil membutuhkan suplementasi yang tepat selain pola makan seimbang berbasis sumber protein, sayur-buah, dan karbohidrat kompleks. Balita (khususnya 0–24 bulan) fokus utama adalah ASI eksklusif selama 6 bulan kemudian pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang padat gizi, frekuensi dan tekstur disesuaikan usia, serta sumber zat besi dan protein yang mudah diserap. Rekomendasi WHO menekankan pengenalan makanan pelengkap sejak 6 bulan dengan frekuensi dan diversity yang meningkat sampai usia 2 tahun. Lansia menghadapi tantangan metabolik berbeda “resistensi anabolik”, penurunan massa otot, dan penurunan absorpsi beberapa vitamin sehingga kebutuhan protein per kg berat badan cenderung lebih tinggi daripada dewasa muda, serta perhatian khusus pada vitamin D, kalsium, dan hidrasi untuk mencegah fragilitas dan kehilangan fungsi.
Dalam konteks keluarga, prinsip gizi seimbang yang sederhana (proporsi sayur-buah setengah piring, separuh lainnya kombinasi sumber karbohidrat dan lauk konsep “Isi Piringku”) ditambah penyesuaian untuk fase hidup masing-masing anggota (ibu hamil, balita, lansia) membuat intervensi gizi menjadi praktis dan terjangkau; pendidikan keluarga, pemanfaatan bahan lokal berprotein tinggi, dan koordinasi dengan pelayanan kesehatan memastikan pemenuhan kebutuhan metabolik spesifik semua anggota keluarga.
Praktik Demo MP-ASI bergizi dari bahan lokal
MP-ASI ideal mengkombinasikan sumber energi, protein lengkap, lemak esensial dan makanan yang kaya mikronutrien (mis. hati ikan kecil, telur, kacang-kacangan, sayur berwarna) agar mendukung pertumbuhan linier dan perkembangan kognitif. Pada kegiatan pengabdian di Desa Rawang Air Putih, tim KKN MAs mengadakan demo MP-ASI bergizi yang mengedepankan pemanfaatan bahan pangan lokal, seperti telur puyuh, ikan air tawar (mis. patin), sayur-sayuran pekarangan seperti daun kelor atau wortel, dan buah-buahan lokal yang kaya vitamin C seperti jeruk. Demo dimulai dengan penyuluhan interaktif mengenai pentingnya MP-ASI yang padat energi dan mikronutrien dalam mencegah stunting pada balita di masa keemasan tumbuh-kembang.
Globalisasi yang semakin pesat banyak dari Ibu Muda memilih bahan makanan dari bahan impor atau bahan instan. Akibatnya, terjadi over konsumsi pangan impor yang menyebabkan perubahan iklim. Padahal penggunaan bahan lokal sangat penting yaitu; 1) kandungan gizi yang tak kalah saing, 2) ketersediaan dan keberlanjutan bahan pangan, 3) keamanan dan penerimaan budaya, dan 4) pemberdayaan ekonomi lokal. Penggunaan pangan lokal biasanya lebih mudah diterima oleh bayi, balita dan anak, karena sudah familiar. Selain itu, pangan lokal lebih segar dan mini risiko penurunan kualitas gizi atau kontaminasi.
Pemantauan pertumbuhan pada balita dan anak
Pemantauan pertumbuhan adalah proses mengukur dan menilai perkembangan fisik anak secara berkala untuk memastikan mereka tumbuh sehat sesuai standar usia. Pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari masa kehamilan hingga usia dua tahun pertumbuhan anak berlangsung sangat cepat dan rentan terhadap gangguan gizi. Pemantauan ini biasanya mencakup pengukuran berat badan, tinggi/panjang badan, dan lingkar kepala untuk anak di bawah dua tahun, serta Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut umur untuk anak yang lebih besar. Data yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan standar pertumbuhan WHO atau KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk mendeteksi potensi masalah seperti stunting sedini mungkin.

Kekuatan dari program KKN MAs 2025 melalui pendekatan community-based yang mudah diterima masyarakat, biaya relatif rendah dan potensi berkelanjutan melalui kader lokal. Keberlanjutan penanganan stunting diperlukan kesinambungan program, dukungan kebijakan dan evaluasi jangka panjang. Program KKN MAs menjadi wadah penting bagi pengembangan intervensi berbasis bukti yang dapat diadopsi di skala lebih luas.
Oleh: Kelompok 8 KKN MAs 2025
Kabupaten Siak, Riau – Desa Rawang Air Putih
Isdatul Izati (UMRI); Hilma Fitriana (UMRI); M Nanda Ikhsanul Hasbi (UMRI); Rahmat Ardiansyah (UMRI); Nova Wahyu Anis Istiqomah (UMRI); Victria Haristi (UMRI); Everest Alkautsar (UMRI); Mutia Dewinta Maharani (UMRI); M Tauhid (UMRI); Nico Aditiya (UMJA); Suci Sri Andriyani (UMP); dan Widhia Gustiyanti (UM Muara Bungo).
