Plastik dan Aku: Lebih Dekat daripada Aku dan Kamu

Ditulis oleh Cahyaningrum Naning Akhir-akhir ini panas sangat menyengat, selayaknya hawa yang muncul ketika hujan mulai menjelang. Mery yang kelelahan […]

blank

Ditulis oleh Cahyaningrum Naning

Akhir-akhir ini panas sangat menyengat, selayaknya hawa yang muncul ketika hujan mulai menjelang. Mery yang kelelahan setelah main basket di lapangan sekolah memilih lari ke kantin untuk memanjakan tenggorokannya dengan segelas es teh Bang Jhon. Lima belas menit lagi sudah pergantian pelajaran yang membuatnya harus segera ganti baju jika ingin masih diperbolehkan amsuk kelas Bahasa inggris pak Yudi. Es teh yang dibungkus plastik yang dilengkapi sedotan menjadi pilihan praktis alih-alih minum di tempat dengan gelas. Rasa haus hilang, efisiensi waktu terjaga, karena Mery bisa minum sambil lari memasuki ruang ganti.

Situasi di atas adalah gambaran sederhana yang  bisa dialami semua orang. Dengan alasan kepraktisan segala sesuatu yang memudahkan menjadi pilihan. Plastik dianggap menjadi solusi. Sekarang mari kita berandai-andai. Anggaplah Mery adalah siswa SMU kelas X, pelajaran olahraga seminggu sekali akan di dapat selama tiga tahun. Bisa di hitung berapa banyak sampah plastik dan sedotan yang Mery hasilkan. Itu baru Mery, belum Erika, Dina, Frans, Ezra, dan seluruh siswa SMA seluruh Indonsia. Kemudian berapa banyak jika ditambahkan dengan siswa SD, SMP atau bahkan mahasiswa. Sudah berhitung sampai mendapatkan berapa digit?

Fenomena diatas sebenarnya telah kita rasakan sejak pertama kali plastik ditemukan pada 5  Februari 1907. Plastik yang terbuat dari bahan bernama “blakelite” yang  ditemukan oleh seorang ilmuwan kenaman Belgia bernama Leo Hendrik Baekeland. Lewat kejeniusannya, ia berhasil membuat plastik sintesis yang berbahan bakar fosil. (Pratama, 2019). Plastik yang memudahkan manusia menjadi solusi atas digunakannya bahan dari tumbuhan sebagai pembungkus keperluan manusia termasuk makanan dan minuman. Hingga kini plastik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. dari pembungkus makanan hingga peralatan rumah tangga tidak akan terlepas dari yang namanya plastik. Plastik dianggap menjadi pahlawan dan solusi atas semua masalah yang manusia hadapi.

Seiring dengan perkembangan zaman, masalah baru muncul kemudian. Diawali dari penggunaan plastik sekali pakai, sampah plastik merupakan hal yang paling hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Dilansir dari dbs.com sampah plastik terus meningkat jumlahnya sejak tahun 1950 hingga 2015. Jika pada tahun 1950 hanya ada 2 juta ton per tahun, pada 2015 jumlahnya meningkat 190 kali lipat atau sama dengan 381 juta ton per tahunnya. Fakta berikutnya menyatakan bahwa terdapat 150 jutaton sampah dilautan, yang dapat membahayakan biota laut (anonim, 2019).

Bahaya plastik sudah menjadi ancaman serius, karena dapat menyebabkan perubahan iklim. Tersumbatnya selokan dan badan air, termakan oleh hewan, rusaknya ekosistem di sungai dan laut, merupakan sebagian kecil dari efek menumpuknya sampah plastik. Kantong plastic yang dibakar juga dapat membahayakan pernapasan manusia. Kantong plastik (dan jenis plastik lainnya) sulit terurai di tanah karena rantai karbonnya yang panjang, sehingga sulit diurai oleh mikroorganisme. Kantong plastik akan terurai ratusan hingga ribuan tahun kemudian (anonim, dietkantongplastik.info, 2016)

Referensi

  • anonim. (2019, februari 2019). dbs.com. Retrieved from https://www.dbs.com/spark/index/id_id/site/pillars/2019-suram-ini-4-fakta-sampah-plastik-di-laut.html
  • Pratama, A. N. (2019, Nopember 13). Kompas.com. Retrieved from https://internasional.kompas.com/read/2019/02/05/17590051/hari-ini-dalam-sejarah-penemuan-plastik-sintetis-pertama-di-dunia?page=all

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *