Kombinasi Sederhana Ini Berpotensi Membuat Mangga Lebih Awet dan Mengurangi Kehilangan Hasil Panen

Mangga menjadi salah satu buah tropis yang paling digemari di berbagai belahan dunia karena memiliki rasa manis, aroma khas, dan […]

Mangga menjadi salah satu buah tropis yang paling digemari di berbagai belahan dunia karena memiliki rasa manis, aroma khas, dan kandungan gizi yang tinggi. Buah ini mengandung vitamin, mineral, serat, serta berbagai senyawa antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan. Meskipun demikian, mangga juga termasuk buah yang mudah mengalami kerusakan setelah dipanen. Dalam hitungan hari, buah akan kehilangan kadar air, teksturnya menjadi lunak, warnanya berubah, dan akhirnya membusuk. Kondisi tersebut menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi petani, pedagang, maupun konsumen karena sebagian hasil panen tidak sempat terjual sebelum kualitasnya menurun. Para ilmuwan terus mencari cara untuk memperpanjang umur simpan mangga menggunakan metode yang aman, murah, dan ramah lingkungan. Salah satu penelitian terbaru menunjukkan bahwa kombinasi pembungkusan buah saat masih berada di pohon dan pelapisan menggunakan gel lidah buaya setelah panen mampu menjaga kualitas mangga lebih lama dibandingkan metode penyimpanan biasa.

Selama ini petani di berbagai negara telah menggunakan teknik pembungkusan buah ketika masih berada di pohon. Teknik sederhana tersebut dilakukan dengan menutup buah menggunakan kantong kertas sehingga buah terlindungi dari serangan serangga, debu, hujan, angin, maupun paparan sinar matahari yang terlalu kuat. Selain melindungi buah dari kerusakan fisik, pembungkusan juga membantu menghasilkan warna kulit yang lebih merata dan mengurangi kebutuhan penggunaan pestisida. Namun, perlindungan tersebut hanya bekerja selama buah masih berada di pohon. Setelah dipanen, mangga tetap mengalami proses pematangan yang menyebabkan kualitasnya terus menurun. Oleh karena itu, para peneliti mencoba mengombinasikan teknik pembungkusan tersebut dengan lapisan alami berbahan gel lidah buaya.

Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada

Lidah buaya selama ini lebih dikenal sebagai tanaman obat, bahan kosmetik, dan minuman kesehatan. Gel bening yang terdapat di bagian dalam daunnya mengandung berbagai senyawa alami seperti polisakarida, vitamin, mineral, asam amino, serta antioksidan. Ketika gel lidah buaya dioleskan pada permukaan buah, gel tersebut membentuk lapisan tipis yang hampir tidak terlihat. Lapisan ini membantu memperlambat penguapan air dari dalam buah sekaligus mengurangi pertukaran gas antara buah dan lingkungan sekitarnya. Akibatnya, laju respirasi dan proses pematangan berlangsung lebih lambat sehingga kesegaran buah dapat dipertahankan lebih lama. Selain itu, berbagai penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa lidah buaya memiliki aktivitas antimikroba yang dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab pembusukan.

Penelitian ini menggunakan mangga varietas Haribhanga yang merupakan salah satu varietas unggulan dari Bangladesh. Para peneliti mulai membungkus buah menggunakan kantong kertas berwarna cokelat ketika buah masih berada pada tahap perkembangan di pohon. Setelah buah mencapai tingkat kematangan yang sesuai untuk dipanen, buah dipetik kemudian diberi perlakuan berupa pelapisan menggunakan gel lidah buaya dengan konsentrasi sepuluh persen dan dua puluh persen. Sebagai pembanding, para peneliti juga menyimpan buah yang tidak dibungkus dan tidak diberi lapisan gel. Seluruh sampel kemudian disimpan pada suhu ruang sekitar dua puluh lima derajat Celsius dengan kelembapan relatif sekitar tujuh puluh lima persen selama dua belas hari.

Selama masa penyimpanan, para ilmuwan mengamati berbagai parameter yang menggambarkan kualitas buah. Mereka mengukur kehilangan bobot akibat penguapan air, tingkat kekerasan buah, kandungan gula, tingkat keasaman, perubahan warna kulit, kandungan senyawa fenolik, aktivitas antioksidan, aktivitas beberapa enzim penting, serta tingkat pembusukan. Pengamatan yang menyeluruh tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana kombinasi pembungkusan dan pelapisan gel lidah buaya memengaruhi proses pematangan mangga dari hari ke hari.

Grafik menunjukkan bahwa perlakuan pelapisan berbasis biopolimer yang diperkaya lidah buaya, terutama konsentrasi 20%, mampu mempertahankan nilai parameter b (kekuningan) buah lebih baik selama penyimpanan dibandingkan kontrol, dengan puncak tertinggi pada hari ke-8 (Abida, dkk. 2026).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik diperoleh pada buah yang dibungkus saat masih berada di pohon kemudian dilapisi gel lidah buaya dengan konsentrasi dua puluh persen setelah dipanen. Buah yang memperoleh perlakuan tersebut mengalami kehilangan bobot yang jauh lebih rendah dibandingkan kelompok tanpa perlakuan. Kehilangan bobot terutama terjadi akibat penguapan air dari jaringan buah. Semakin banyak air yang hilang, semakin cepat buah menjadi layu, mengerut, dan kehilangan kesegarannya. Lapisan gel lidah buaya berhasil memperlambat proses tersebut sehingga kadar air di dalam buah dapat dipertahankan lebih lama.

Tekstur buah juga menunjukkan perbedaan yang cukup jelas. Mangga yang tidak diberi perlakuan menjadi lebih cepat lunak selama penyimpanan. Sebaliknya, buah yang dibungkus dan dilapisi gel lidah buaya tetap mempertahankan tekstur yang lebih padat hingga akhir masa pengamatan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses pelunakan jaringan berlangsung lebih lambat. Tekstur yang tetap baik sangat penting karena menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kualitas buah di mata konsumen. Buah yang terlalu lunak sering dianggap sudah terlalu matang atau mulai mengalami pembusukan sehingga nilai jualnya menurun.

Selain mempertahankan tekstur, perlakuan tersebut juga membantu menjaga kandungan senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan dalam buah. Senyawa fenolik merupakan kelompok senyawa alami yang berperan melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Aktivitas antioksidan yang tinggi membantu memperlambat berbagai reaksi oksidasi yang menyebabkan penurunan mutu selama penyimpanan. Dengan mempertahankan kandungan senyawa tersebut, kualitas nutrisi mangga juga dapat dipelihara lebih baik dibandingkan buah yang tidak memperoleh perlakuan.

Perubahan warna kulit mangga juga berlangsung lebih lambat pada buah yang diberi perlakuan. Selama proses pematangan, warna kulit mangga akan berubah secara bertahap. Namun, perubahan yang terlalu cepat sering kali menandakan bahwa buah akan segera mengalami pembusukan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembungkusan di pohon yang dilanjutkan dengan pelapisan gel lidah buaya mampu memperlambat perubahan warna sehingga penampilan buah tetap menarik lebih lama. Bagi pedagang, penampilan yang baik merupakan salah satu faktor penting karena sangat memengaruhi keputusan konsumen ketika memilih buah.

Para peneliti juga mempelajari aktivitas beberapa enzim yang berkaitan dengan proses penuaan buah. Salah satunya adalah enzim polifenol oksidase yang berperan dalam proses pencokelatan jaringan. Aktivitas enzim ini menurun pada buah yang mendapat perlakuan gel lidah buaya. Sebaliknya, aktivitas enzim katalase dan peroksidase yang berfungsi sebagai bagian dari sistem pertahanan antioksidan justru meningkat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa buah memiliki kemampuan lebih baik untuk menghadapi stres oksidatif selama penyimpanan. Selain itu, kadar malondialdehida dan hidrogen peroksida yang merupakan penanda kerusakan oksidatif juga lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Temuan ini menunjukkan bahwa perlakuan mampu membantu menjaga kondisi sel buah agar tetap stabil selama masa penyimpanan.

Tingkat pembusukan juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Setelah dua belas hari penyimpanan pada suhu ruang, buah yang memperoleh kombinasi pembungkusan dan pelapisan gel lidah buaya menunjukkan tingkat kerusakan yang lebih rendah dibandingkan buah tanpa perlakuan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa lapisan alami tidak hanya memperlambat pematangan, tetapi juga membantu menekan faktor faktor yang menyebabkan pembusukan. Dengan umur simpan yang lebih panjang, peluang buah tetap berada dalam kondisi layak jual juga menjadi lebih besar sehingga kerugian pascapanen dapat dikurangi.

Penelitian ini memberikan gambaran bahwa perpaduan teknik pertanian sederhana dengan bahan alami mampu menghasilkan manfaat yang cukup besar. Pembungkusan buah ketika masih berada di pohon melindungi buah selama proses pertumbuhan, sedangkan gel lidah buaya melanjutkan perlindungan tersebut setelah panen. Kedua metode tersebut saling melengkapi sehingga mampu menjaga kualitas buah lebih baik dibandingkan apabila digunakan secara terpisah.

Walaupun penelitian ini masih dilakukan pada satu varietas mangga dan dalam kondisi penyimpanan tertentu, hasilnya memberikan harapan besar bagi pengembangan teknologi pascapanen yang lebih ramah lingkungan. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menguji efektivitas metode ini pada varietas mangga lain, kondisi iklim yang berbeda, serta distribusi dalam skala komersial. Namun, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa bahan alami seperti lidah buaya dapat dimanfaatkan sebagai solusi sederhana untuk membantu mempertahankan kesegaran buah, mengurangi kehilangan hasil panen, meningkatkan pendapatan petani, serta mendukung sistem pangan yang lebih berkelanjutan di masa depan.

Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

REFERENSI:

Abida, Afia dkk. 2026. Enhancing Postharvest Quality and Shelf Life of “Haribhanga” Mango Using On‐Tree Bagging and Aloe Vera Gel. Journal of Food Processing and Preservation 2026 (1), 5093310.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top