Komentar Terhadap Sanggahan Artikel “Membuang Air Radioaktif Fukushima Daiichi ke Laut, Bahayakah?”

blank

Menarik membaca sanggahan terhadap artikel Penulis berjudul “Membuang Air Radioaktif Fukushima Daiichi ke Laut, Bahayakah?” yang ditulis oleh seorang mahasiswa S3 di Jepang [1]. Dari sanggahan tersebut, tampak bahwa penyanggah membantah dari segi dampak tritium terhadap biota dan manusia, sebagian dari referensi yang cukup obsolete (walau ada juga yang relatif baru). Tampak bahwa penyanggah mendukung argumentasi tentang bioakumulasi tritium pada biota laut.

Dari segi bioakumulasi, penyanggah terlihat memiliki argumentasi cukup logis. Berdasarkan beberapa referensi yang dipelajari Penulis, memang tritium memiliki tendensi untuk mengalami bioakumulasi pada biota laut. Walau tentu saja, tidak semua tritiated water (HTO) yang masuk ke dalam tubuh biota akan mengalami bioakumulasi, sebagian akan tetap terbuang mengikuti waktu paruh biologis tubuh [2-4]. Tritium yang tertinggal dalam organisme, barulah dianggap dapat membahayakan karena potensi dampak negatif pada organisme.

Air laut mendilusi tritium dalam waktu cepat. Tidak ada mekanisme alami yang bisa mengonsentrasikan tritium yang sudah terdilusi [5]. Maka, efek bioakumulasi tritium pada biota lebih rendah lagi dibandingkan aktivitas tritium awal ketika rilis. Jadi, walau memang terjadi bioakumulasi, tetapi tidak semua tritium yang terlepas kemudian terikat pada biota dalam bentuk organism-bound tritium (OBT), yang notabene masih terbagi menjadi quickly recycled OBT (QR-OBT) dengan waktu singgah beberapa minggu sampai bulan, dan slowly recycled OBT (SR-OBT) yang memiliki waktu singgah beberapa tahun sampai dekade [3]. Penyanggah benar ketika menjelaskan bahwa tritium mengalami bioakumulasi, tetapi belum menjabarkan gambaran penuh tentang seberapa besar bioakumulasi tersebut terjadi.

Dari segi dampak, penyanggah menunjukkan berbagai data tentang efek genetik pada berbagai biota yang terpapar tritium. Pertanyaannya adalah, apakah defek bersifat mikro tersebut dapat terlihat secara makro, atau bersifat irreversible? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak terjawab dalam referensi yang dibawa oleh penyanggah.

Baca juga: Mamuju Membuktikan Radiasi Dosis Rendah Tidak Berbahaya

Radiasi nuklir jelas saja dapat menyebabkan kerusakan pada tingkat sel. Hal yang sebenarnya mudah saja dipahami oleh siapapun yang sudah lulus mata kuliah Proteksi Radiasi. Pertanyaannya kemudian, apakah kerusakan tingkat sel tersebut bersifat permanen atau tidak? Kalau iya, seberapa besar dosis yang dibutuhkan agar terjadi kerusakan genetik permanen yang tampak dan berdampak pada suatu spesies?

Penjelasan-penjelasan terhadap hal tersebut sama sekali tidak ada.

Sesungguhnya ketika Penulis berargumen bahwa tidak ada hubungannya dengan defek genetik, maka yang dimaksud adalah defek genetik yang tampak dan berpengaruh pada kehidupan suatu spesies. Organisme termasuk manusia mengalami DNA impairment melalui berbagai proses, termasuk metabolisme tubuh dan paparan radiasi. Namun, organisme memiliki repair mechanism untuk menanggulangi DNA impairment tersebut. Jika laju repair melebih laju impairment, maka bisa dikatakan bahwa defek genetik yang terjadi tidak akan tampak dan menjadi masalah bagi organisme [6].

Pertanyaannya, apakah tritium pernah terbukti menyebabkan defek genetik yang tampak?

Menariknya, ada salah satu referensi yang menunjukkan bahwa paparan in vitro tritium dalam berbagai rentang konsentrasi terhadap sel ikan lele menunjukkan bahwa tidak ada dampak negatif pada pertumbuhan sel, malah justru efek protektif lah yang tampak dari paparan tersebut. Padahal, double strand break pada DNA terobservasi lebih tinggi, demikian pula level ATP meningkat [7].

Tentu saja, itu penelitian in vitro, dan subjeknya adalah ikan lele. Mungkin perlu pembuktian lebih untuk lebih yakin pada hasilnya. Tetapi, dari sini sepertinya ada indikasi bahwa efek tampak dari genetic impairment mungkin tidak seburuk yang dikira.

Concern terhadap dampak radiasi nuklir, dosis rendah sekalipun, pada dasarnya tidak terlepas dari salah satu scientific scandal terbesar dalam dunia fisika, yakni model linear no-threshold (LNT). Model ini mengasumsikan bahwa respon dosis bersifat linier dan tidak memiliki batas selamat [8]. Model LNT digunakan sebagai basis regulasi keselamatan radiasi di berbagai negara, tetapi pada faktanya tidak memiliki landasan ilmiah kuat bahkan cenderung dipenuhi skandal [9]. Model LNT tidak sesuai dengan observasi biologis, yang malah ada kecenderungan menuju model hormesis [10-20]. Yakni, radiasi dosis rendah memicu respon positif terhadap sistem kekebalan dan mekanisme perbaikan, sehingga justru memproteksi sel alih-alih merusaknya.

Paparan radiasi beta tritium adalah paparan radiasi dosis rendah, sekalipun dosis internal. Akumulasi dosis dari lepasan tritium PLTN terhadap manusia pun sangat rendah [21].

Sulit untuk mengasosiasikan radiasi nuklir dosis rendah terhadap defek genetik tampak pada organisme, karena radiasi nuklir sendiri merupakan karsinogenik lemah. Butuh dosis sangat tinggi agar defek genetik dapat tampak secara fisik atau mengganggu siklus kehidupan organisme, khususnya organisme kompleks.

Hingga saat ini, tidak jelas berapa threshold dosis radiasi atau radioaktivitas tritium yang cukup untuk menimbulkan defek genetik tersebut. Karena itulah, standar rilis tritium di tiap negara berbeda. Bahkan Australia, yang tidak memiliki satupun PLTN, memiliki standar rilis tritium paling tinggi di dunia, ± 7 kali lebih tinggi dari standar WHO [22].

Maka, jika sanggahan terhadap penjelasan defek genetik dari tritium dimaksudkan untuk menggugat pelepasan air radioaktif Fukushima Daiichi, dalam hemat Penulis, sanggahan tersebut kurang lengkap menjabarkan argumentasi dari segi level bioakumulasi tritium pada biota dibandingkan konsentrasi lepasan tritium awal, dan kurangnya acuan referensi mengenai interaksi radiasi dengan materi termasuk respon dosis.

Mengingat model proteksi radiasi saat ini dilandaskan pada LNT yang cenderung overestimasi dampak radiasi, dan model itu pula yang menjadi landasan bagi keputusan melepaskan air radioaktif Fukushima Daiichi ke lautan Pasifik, belum terbentuk argumentasi kuat untuk menentang pelepasan air tersebut. Karena jika menggunakan model overestimasi saja bisa dikatakan safe untuk dilepaskan, apalagi menggunakan model yang lebih akurat?

Referensi:

Baca juga:
blank
  1. https://warstek.com/sanggahan-tritium/ diakses 21 April 2021.
  2. Jaeschke, B.C., Bradshaw, C., 2013. Bioaccumulation of tritiated water in phytoplankton and trophic transfer of organically bound tritium to the blue mussel, Mytilus edulis. J. Environ. Radioact. 115, 28–33.
  3. Eyrolle F, et al, 2018. An updated review on tritium in the environment. J. Environ. Radioact. 181, 128-137.
  4. Eyrolle F, et al, 2019. Evidence for tritium persistence as organically bound forms in river sediments since the past nuclear weapon tests. Sci. Rep. 9, 11487.
  5. James Conca, Japan Will Release Radioactive Fukushima Water Into The Ocean, And Why That’s O.K. Diakses dari https://www.forbes.com/sites/jamesconca/2021/04/12/japan-will-release-radioactive-fukushima-water-into-the-ocean/
  6. Wade Allison. 2009. Radiation and Reason: The Impact of Science on a Culture of Fear. York: Wade Allison Publishing.
  7. Stuart, M., et al, 2016. Biological effects of tritium on fish cells in the concentration range of international drinking water standards, Int. J. Radiat. Biol., 92:10, 563-571.
  8. Herman Cember, Thomas E. Johnson. 2009. Introduction to Health Physics, Fourth Edition. New York: McGraw-Hill.
  9. Edward J. Calabrese, 2015. On the origins of the linear no-threshold (LNT) dogma by means of untruths, artful dodges and blind faith. Env. Res., vol. 142, pp. 432-442.
  10. Alexander Vaiserman et al, 2018. Health Impacts of Low-Dose Ionizing Radiation: Current Scientific Debates and Regulatory Issues. Dose-Response, vol. 16, issue 3, pp. 1-27.
  11. Antone L. Brooks, 2019. The impact of dose rate on the linear no threshold hypothesis. Chem.-Biol. Interact., vol. 301, pp. 68-80.
  12. Bobby R. Scott and Sujeenthar Tharmalingam, 2019. The LNT model for cancer induction is not supported by radiobiological data. Chem.-Biol. Interact., vol. 301, pp. 34-53.
  13. David Costantini and Benny Borremans, 2019. The linear no-threshold model is less realistic than threshold or hormesis-based models: An evolutionary perspective. Chem.-Biol. Interact., vol. 301, pp. 26-33.
  14. Edward J. Calabrese, 2019. The linear No-Threshold (LNT) dose response model: A comprehensive assessment of its historical and scientific Chem.-Biol. Interact., vol. 301, pp. 6-25.
  15. Paolo F. Ricci, Sujeenthar Tharmalingam, 2019. Ionizing radiations epidemiology does not support the LNT model. Chem.-Biol. Interact., vol. 301, pp. 128-140.
  16. Rebecca A. Clewell et al., 2019. Dose-dependence of chemical carcinogenicity: Biological mechanisms for thresholds and implications for risk assessment. Chem.-Biol. Interact., vol. 301, pp. 112-127.
  17. Sujeenthar Tharmalingam, 2019. Re-evaluation of the linear no-threshold (LNT) model using new paradigms and modern molecular studies. Chem.-Biol. Interact., vol. 301, pp. 54-67.
  18. Zbigniew Jaworowski, 2010. Observations on Chernobyl After 25 Years of Radiophobia. 21st Century Science and Technology, Summer 2010, pp. 30-45.
  19. Zbigniew Jaworowski, 2010. Observations on the Chernobyl Disaster and LNT. Dose-Response, vol. 8, issue 2, pp. 148-171.
  20. Kabilan U., et al, 2020. Ionizing Radiation and Translation Control: A Link to Radiation Hormesis? Int. J. Mol. Sci. 2020, 21(18), 6650.
  21. Nie B. et al, 2021. Anthropogenic tritium: Inventory, discharge, environmental behavior and health effects. Renew. Sustain. Energy Rev. 135, 110188.
  22. Canadian Nuclear Safety Commission. Standards and Guidelines for Tritium in Drinking Water (INFO-0766). Diakses dari http://nuclearsafety.gc.ca/eng/resources/health/tritium/standards-and-guidelines-for-tritium-in-drinking-water.cfm
R. Andika Putra Dwijayanto
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *