Sejak lama, ilmuwan mempertanyakan dari mana air di Bumi berasal. Berdasarkan model pembentukan planet, Bumi seharusnya terbentuk dari material kering yang berada dekat Matahari. Artinya, air yang melimpah di planet kita kemungkinan besar datang dari luar, dibawa oleh objek langit seperti asteroit atau komet.
Komet menjadi kandidat awal karena terkenal kaya akan es. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa air di komet umumnya memiliki rasio isotop deuterium/hidrogen (D/H) yang berbeda dari air laut di Bumi. Perbedaan ini membuat para peneliti sempat mengesampingkan peran komet sebagai pemasok utama air Bumi.
Pons-Brooks: Komet yang Mengubah Pandangan
Komet 12P/Pons-Brooks adalah salah satu komet periodik artinya, ia kembali melintas di dekat Bumi secara teratur setiap beberapa dekade. Dalam kasus komet ini, siklusnya sekitar 71 tahun sekali. Setiap kali ia mendekat ke Matahari, es di permukaannya mulai memanas, lalu berubah menjadi gas dan membentuk ekor bercahaya yang indah.
Selama ini, para ilmuwan menjadikan komet sebagai semacam “kapsul waktu kosmik” karena mereka menyimpan material purba sejak awal pembentukan Tata Surya, sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Salah satu pertanyaan besar yang terus dicari jawabannya adalah: apakah air di Bumi berasal dari komet semacam ini?
Untuk mencari petunjuk, para peneliti melakukan studi terbaru terhadap komet 12P/Pons-Brooks menggunakan dua instrumen canggih:
Teleskop radio ALMA (Atacama Large Millimeter/submillimeter Array) di Chile, yang sensitif menangkap gelombang radio dari molekul di angkasa.
Teleskop inframerah IRTF (Infrared Telescope Facility) milik NASA di Hawaii, yang dapat mengukur cahaya inframerah, radiasi panas yang tidak terlihat oleh mata manusia.
Dengan kombinasi dua teleskop ini, ilmuwan berhasil mengukur rasio D/H pada air yang dilepaskan komet ketika mendekati Matahari.
Apa itu rasio D/H?
D adalah deuterium, “versi berat” dari atom hidrogen karena memiliki satu neutron tambahan di intinya.
H adalah hidrogen biasa.
Perbandingan jumlah deuterium terhadap hidrogen dalam molekul air dapat digunakan sebagai “sidik jari kosmik”. Jika sidik jari air dari komet sama dengan air di Bumi, ada kemungkinan besar bahwa kometlah yang dulu membawa sebagian besar air ke planet kita.
Dengan kata lain, penelitian ini bukan sekadar mengukur kandungan es di sebuah komet, tetapi juga menyelidiki asal-usul salah satu elemen paling penting bagi kehidupan di Bumi: air.
Hasilnya mencengangkan: rasio D/H Pons-Brooks adalah (1,71 ± 0,44) × 10⁻⁴, nilai terendah yang pernah ditemukan pada komet tipe Halley. Angka ini berada dalam kisaran ketidakpastian yang tumpang tindih dengan rasio D/H di lautan Bumi (1,558 × 10⁻⁴).
Dengan kata lain, komposisi air komet ini nyaris identik dengan air di planet kita.
Baca juga artikel tentang: 3I/ATLAS: Komet Antarbintang Yang Di Temukan Oleh NASA
Mengapa Rasio D/H Penting?
Rasio deuterium terhadap hidrogen adalah semacam sidik jari kosmik.
- Deuterium adalah isotop hidrogen yang memiliki satu neutron tambahan.
- Rasio ini terbentuk pada awal alam semesta dan cenderung tetap konstan di objek-objek tata surya.
- Dengan membandingkan rasio D/H antara Bumi dan benda langit lain, ilmuwan bisa menelusuri apakah sumber air tersebut berasal dari tempat yang sama.
Jika sebuah komet memiliki rasio D/H yang sama dengan air laut di Bumi, sangat mungkin bahwa komet itu atau jenis komet yang serupa pernah menyumbang air ke planet kita miliaran tahun lalu.
Konteks Penelitian Sebelumnya
Tidak semua komet menunjukkan kecocokan seperti ini. Misi Rosetta pada tahun 2014, misalnya, menemukan rasio D/H pada komet 67P/Churyumov–Gerasimenko yang jauh lebih tinggi dari Bumi, sehingga memperlemah teori “air dari komet”.
Beberapa komet keluarga Jupiter, seperti 103P/Hartley 2, memang menunjukkan rasio mirip Bumi, tetapi temuan ini jarang terjadi. Fakta bahwa Pons-Brooks yang berasal dari wilayah berbeda di Tata Surya memiliki kecocokan ini memperluas kemungkinan bahwa sumber air Bumi berasal dari kombinasi berbagai jenis benda langit.
Implikasi Ilmiah: Menghidupkan Kembali Hipotesis Komet
Hasil pengukuran Pons-Brooks membuka kembali peluang besar bagi hipotesis bahwa komet adalah pengirim “paket air” ke Bumi muda.
Temuan ini juga menegaskan pentingnya melakukan pengukuran isotop pada lebih banyak komet, karena variasi yang ada memberi gambaran kompleks tentang sejarah migrasi air di Tata Surya.
Selain itu, data ini mendukung pendekatan astronomi multimessenger menggabungkan pengamatan berbagai panjang gelombang cahaya dengan data kimia, partikel, dan bahkan misi robotik untuk memecahkan misteri kosmik.
Teknologi di Balik Penemuan
- ALMA (Atacama Large Millimeter/submillimeter Array): Jaringan teleskop radio di ketinggian 5.000 meter di Gurun Atacama, mampu mendeteksi molekul-molekul dalam gas tipis di sekitar komet dengan presisi tinggi.
- IRTF (Infrared Telescope Facility): Teleskop NASA di Hawaii yang mengamati cahaya inframerah untuk mengidentifikasi molekul air dan turunannya.
Kombinasi keduanya memungkinkan pengukuran rasio D/H yang akurat meski volume air yang terdeteksi sangat kecil.
Apakah Ini Jawaban Akhir?
Jawaban singkatnya: belum.
Meski data dari Pons-Brooks mendukung ide bahwa komet bisa menjadi pemasok air Bumi, fakta bahwa banyak komet lain memiliki rasio D/H yang berbeda berarti sumber air Bumi kemungkinan merupakan campuran dari komet, asteroid, dan sumber primordial lainnya.
Air adalah syarat mutlak bagi kehidupan seperti yang kita kenal. Menemukan objek di Tata Surya yang memiliki “sidik jari” air sama seperti Bumi tidak hanya menjawab sebagian misteri sejarah planet kita, tapi juga memberi petunjuk tentang bagaimana kehidupan bisa muncul di tempat lain.
Komet Pons-Brooks kini menjadi salah satu bukti terkuat bahwa benda langit yang tampak seperti bola es kotor ini mungkin berperan penting menjadikan Bumi sebagai dunia biru yang penuh kehidupan.
Di masa depan, penelitian serupa pada lebih banyak komet bisa membawa kita selangkah lebih dekat untuk memahami dari mana asal air dan mungkin juga kehidupan di planet kita.
Baca juga artikel tentang: Penemuan Komet Raksasa, Diameternya Ratusan Kilometer
REFERENSI:
Carpineti, Alfredo. 2025. The Water In Comet Pons-Brooks Matches The Oceans – Did Comets Help Make Earth Habitable?. IFL Science: https://www.iflscience.com/the-water-in-comet-pons-brooks-matches-the-oceans-did-comets-help-make-earth-habitable-80415 diakses pada tanggal 15 Agustus 2025.
Garcia, RS dkk. 2025. Comet 12P/Pons-Brooks: Dust properties. Planetary and Space Science, 106181.
Gritsevich, Maria dkk. 2025. Mass of particles released by comet 12P/Pons–Brooks during 2023–2024 outbursts. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society 538 (1), 470-479.

