Bayangkan sebuah film musikal dari era 1930-an, di mana seorang penyanyi opera terkenal menyamar menjadi gadis burung dari Afrika demi menarik perhatian publik. Kisah ini bukan sekadar hiburan ringan, tetapi juga cerminan dari pandangan masyarakat tentang ras, kelas sosial, dan posisi perempuan pada zamannya. Inilah yang dibahas oleh Gina Bombola dalam tulisannya berjudul Prima Donna in the Jungle: Opera, Class, and Race in RKO Pictures’ Hitting a New High (1937) yang terbit di jurnal Music and the Moving Image tahun 2025.
Melalui kajiannya, Bombola mengajak pembaca untuk melihat bagaimana film yang tampak ringan dan penuh lagu ternyata menyimpan kompleksitas sosial yang besar. Film ini memperlihatkan bagaimana dunia hiburan membentuk, sekaligus menegaskan, cara pandang masyarakat terhadap perbedaan ras dan status sosial.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Dunia Opera yang Bertemu dengan Dunia Eksotis
Film Hitting a New High diproduksi oleh RKO Pictures dan dibintangi oleh penyanyi sopran asal Prancis, Lily Pons, yang saat itu dikenal luas sebagai bintang opera internasional. Ia berperan sebagai seorang penyanyi muda ambisius yang ingin mencapai ketenaran tertinggi sebagai prima donna. Namun jalan menuju panggung besar tidak berjalan seperti yang diharapkan. Dalam film tersebut, sang tokoh justru menyamar sebagai seorang gadis burung dari Afrika, sebuah identitas palsu yang digunakan untuk menarik perhatian dunia hiburan dan pers.
Penyamaran ini membawa nuansa eksotis yang sengaja dikemas untuk memikat penonton Barat. Pada masa itu, gambaran tentang “dunia hutan” atau “dunia primitif” sering digunakan oleh industri film Hollywood sebagai simbol dari sesuatu yang liar, misterius, dan penuh daya tarik. Di sisi lain, gambaran ini juga memperlihatkan cara pandang kolonial yang menempatkan dunia non-Barat sebagai sesuatu yang asing dan lebih rendah dibanding peradaban Eropa.
Kritik terhadap Ras dan Kelas
Gina Bombola menunjukkan bahwa para kritikus film pada masa itu banyak mengecam Hitting a New High, bukan hanya karena jalan ceritanya aneh, tetapi karena film tersebut memunculkan ketegangan sosial yang sensitif. Analisis Bombola mengungkap dua hal penting yang membuat film ini menjadi bahan perbincangan.
Pertama, film ini menggambarkan sosok “ratu hutan berkulit gelap” yang diperankan oleh aktris kulit putih. Hal ini menegaskan praktik yang kini dikenal sebagai whitewashing, di mana karakter yang seharusnya mewakili ras tertentu justru dimainkan oleh orang dari ras dominan. Praktik semacam ini memperkuat stereotip bahwa hanya aktor kulit putih yang layak tampil di layar utama, sementara ras lain direduksi menjadi citra atau kostum belaka.
Kedua, film ini memperlihatkan ketegangan antara kelas sosial tinggi dan rendah. Dunia opera diidentikkan dengan kalangan elit yang terdidik dan berbudaya tinggi. Ketika penyanyi opera dalam film ini berpura-pura menjadi sosok yang dianggap primitif, ia seolah-olah menyeberangi batas sosial dan estetika yang tegas. Di satu sisi, tindakan itu menantang hierarki budaya, tetapi di sisi lain justru memperlihatkan betapa kuatnya batas tersebut karena penyamaran itu hanya bisa terjadi dalam konteks lelucon atau tontonan.
Hiburan yang Tak Pernah Netral
Mengapa film seperti Hitting a New High penting untuk dipelajari di masa kini? Gina Bombola berpendapat bahwa budaya populer seperti film dan musik tidak pernah benar-benar netral. Film semacam ini membantu membentuk cara masyarakat memandang dunia di sekitarnya, termasuk cara mereka memaknai ras, kelas, dan gender.
Pada dekade 1930-an, Amerika Serikat sedang menghadapi depresi ekonomi yang berat. Perubahan sosial yang cepat membuat masyarakat gelisah terhadap pergeseran kekuasaan, baik dalam ekonomi maupun budaya. Dalam konteks itu, film seperti Hitting a New High dapat dilihat sebagai cermin dari kegelisahan masyarakat terhadap perubahan.
Ketika penonton melihat seorang penyanyi opera yang elegan berubah menjadi “ratu hutan”, mereka menyaksikan fantasi tentang naik turunnya status sosial dan pergeseran identitas. Namun fantasi tersebut tetap dikendalikan oleh struktur sosial yang membatasi siapa yang dianggap beradab dan siapa yang tidak. Dengan demikian, film ini memperkuat gagasan tentang superioritas budaya Barat dan mempertahankan batas-batas sosial yang sudah mapan.
Perempuan di Tengah Panggung dan Hutan
Tokoh utama yang diperankan oleh Lily Pons tidak hanya mewakili sosok seniman berbakat, tetapi juga cerminan kompleksitas peran perempuan dalam dunia hiburan. Sebagai penyanyi opera, ia tampil di ruang yang sarat aturan dan dominasi laki-laki. Namun ketika ia menyamar menjadi gadis burung dari hutan, ia menampilkan sisi yang dianggap liar, bebas, dan sensual.
Bombola menyoroti kontradiksi ini sebagai bentuk ambiguitas posisi perempuan di masyarakat. Perempuan bisa menjadi simbol kemajuan dan modernitas, tetapi pada saat yang sama tetap terjebak dalam pandangan patriarkal yang menilai mereka berdasarkan penampilan dan eksotisme. Dalam film ini, kebebasan perempuan menjadi semu karena masih bergantung pada citra yang dibentuk oleh laki-laki dan industri hiburan.
Hutan sebagai Cermin Sosial
Istilah “jungle” dalam judul penelitian Bombola tidak hanya merujuk pada lokasi eksotis dalam film, tetapi juga memiliki makna simbolik yang lebih dalam. Hutan menjadi metafora bagi dunia sosial yang liar dan tidak teratur, tempat di mana batas-batas sosial dapat dilanggar, tetapi juga ditegaskan kembali.
Dalam budaya populer Barat, hutan sering digambarkan sebagai ruang yang berlawanan dengan peradaban. Ia bisa menjadi tempat petualangan dan kebebasan, tetapi juga sumber ketakutan karena melambangkan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. Dengan menggunakan latar “jungle”, film ini menampilkan ketegangan antara keinginan untuk melampaui batas dan kebutuhan untuk mempertahankan tatanan sosial yang stabil.
Pelajaran dari Film Lama untuk Dunia Modern
Gina Bombola menunjukkan bahwa Hitting a New High bukan sekadar film musikal yang gagal di pasaran, tetapi juga dokumen sosial yang mencerminkan pandangan masyarakat terhadap ras, kelas, dan perempuan. Melalui analisisnya, Bombola mengajak kita melihat kembali bagaimana media hiburan berperan dalam membentuk persepsi publik terhadap perbedaan dan hierarki sosial.
Meskipun film ini dibuat hampir satu abad lalu, tema yang diangkat tetap relevan. Isu representasi ras di layar, stereotip budaya, dan objektifikasi perempuan masih menjadi perdebatan hangat hingga kini. Kajian Bombola membantu kita memahami bahwa persoalan ini bukan hal baru, melainkan warisan panjang dari cara pandang kolonial dan sosial yang dibentuk sejak awal abad ke-20.
Melihat kembali film lama seperti Hitting a New High berarti menengok cermin sejarah budaya populer. Kita diajak untuk bertanya, sejauh mana pandangan kita terhadap ras dan kelas telah berubah, dan sejauh mana hiburan modern masih memelihara pola pikir lama. Di balik nyanyian merdu dan panggung gemerlap Hollywood, terdapat lapisan makna yang dalam tentang bagaimana masyarakat mendefinisikan diri dan orang lain.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
Bombola, Gina. 2025. Prima Donna in the Jungle: Opera, Class, and Race in RKO Pictures’ Hitting a New High (1937). Music and the Moving Image 18 (1), 50-71.

