Asma bukanlah penyakit baru. Namun seiring pertumbuhan kota-kota besar dan makin padatnya lingkungan perkotaan, jumlah penderita asma justru makin meningkat. Mengapa? Sebuah studi besar dari 14 negara Eropa menjawab pertanyaan ini secara ilmiah.
Dalam proyek besar bernama EXPANSE, Ecosystem for Sharing and EXchange of Advanced Networked Services and Solutions, peneliti dari berbagai institusi di Eropa mengeksplorasi hubungan antara lingkungan tempat tinggal dan kejadian asma sepanjang hidup. Hasilnya menunjukkan bahwa tinggal di kota yang penuh polusi, minim ruang hijau, dan suhu lingkungan ekstrem bisa meningkatkan risiko terkena asma—baik pada anak-anak maupun orang dewasa.
- Apa Itu EXPANSE?
- Temuan Utama: Lingkungan Kota Bisa Menyebabkan Asma
- Gabungan Faktor Lingkungan Menjadi Skor Risiko
- Siapa yang Paling Rentan?
- Kenapa Ruang Hijau Penting?
- Implikasi Kebijakan: Kota Sehat Harus Menjadi Prioritas
- Keterbatasan dan Kekuatan Studi
- Kesimpulan: Kota Sehat, Paru-Paru Sehat
- Referensi:
Apa Itu EXPANSE?
EXPANSE merupakan proyek riset yang didanai oleh Uni Eropa untuk mengkaji bagaimana “exposome”—total seluruh paparan lingkungan yang kita alami sepanjang hidup—mempengaruhi kesehatan manusia. Dalam studi ini, para ilmuwan menganalisis data dari 349.037 peserta dari 14 kohort atau kelompok studi berbeda yang tersebar di berbagai negara, termasuk Swedia, Belanda, Jerman, Spanyol, dan Polandia.
Tim peneliti menggunakan pendekatan yang canggih: tidak hanya menganalisis satu jenis paparan seperti polusi udara, tapi menggabungkan seluruh paparan dari lingkungan kota secara bersamaan—seperti suhu, polusi, cahaya buatan, hingga ketersediaan ruang hijau. Pendekatan ini disebut multi-exposure exposomic analysis.

Area berwarna biru muda menunjukkan negara-negara yang berpartisipasi dalam studi kohort. Titik merah menunjukkan kohort kelahiran yang diikuti hingga dewasa, sedangkan kotak biru menunjukkan kohort dewasa.
Temuan Utama: Lingkungan Kota Bisa Menyebabkan Asma
Hasilnya, tim peneliti menemukan 7.428 kasus asma baru di antara peserta. Kasus-kasus ini muncul bukan hanya pada anak-anak, tapi juga pada orang dewasa hingga lansia.

Kohort diurutkan dari utara ke selatan; titik merah = kohort kelahiran, kotak biru = kohort dewasa. Kotak menunjukkan Q1–Q3, garis whisker mewakili nilai dalam 1,5x IQR.
Faktor-faktor lingkungan yang ditemukan berkontribusi secara signifikan terhadap risiko asma adalah:
- Polusi Udara Tinggi. Partikel-partikel halus, khususnya yang berukuran kecil seperti PM2.5 dan PM10, serta gas nitrogen dioksida (NO₂). Paparan terhadap zat-zat ini sangat umum di kota besar karena berasal dari kendaraan bermotor, industri, dan pembakaran bahan bakar. Orang dewasa yang tinggal di daerah dengan paparan polusi udara tinggi memiliki risiko asma 13% lebih besar dibandingkan mereka yang tinggal di wilayah dengan kualitas udara lebih baik.
- Minimnya Ruang Hijau. Wilayah dengan sedikit pohon, taman, atau ruang terbuka hijau juga dikaitkan dengan risiko asma yang lebih tinggi. Sebaliknya, wilayah dengan vegetasi tinggi (dihitung dari indeks NDVI atau Normalized Difference Vegetation Index) cenderung lebih melindungi paru-paru dari iritasi lingkungan. Anak-anak yang tinggal di area dengan sedikit ruang hijau dan banyak bangunan padat memiliki risiko 36% lebih tinggi terkena asma.
- Cahaya Buatan di Malam Hari. Area yang terang di malam hari, seperti di pusat kota atau dekat jalan raya, turut menyumbang peningkatan risiko asma. Cahaya ini bisa mengganggu ritme sirkadian (jam biologis tubuh) dan mengurangi kualitas tidur, yang pada akhirnya memengaruhi sistem imun.
- Kepadatan dan Permukaan Tertutup (Impervious Surface). Wilayah yang didominasi beton dan aspal—di mana air tidak bisa menyerap ke tanah—tidak hanya menyebabkan banjir, tapi juga kurang ideal untuk pernapasan. Ini karena lebih sedikit ruang hijau yang bisa menyaring polusi atau menyejukkan udara.
Gabungan Faktor Lingkungan Menjadi Skor Risiko
Tim peneliti kemudian mengembangkan apa yang mereka sebut sebagai Environmental Risk Score (ERS)—sebuah angka yang mewakili tingkat total paparan terhadap lingkungan yang buruk.
Setiap kenaikan 20% skor risiko ini dikaitkan dengan:
- 13% peningkatan risiko asma pada anak-anak
- 15% peningkatan risiko pada orang dewasa
Secara umum, para ilmuwan memperkirakan bahwa sekitar 11,6% kasus asma baru bisa dicegah jika orang tinggal di lingkungan dengan skor ERS di bawah rata-rata.
Baca juga: Panduan Pengobatan Demam dan Asma pada Anak
Siapa yang Paling Rentan?
Penelitian ini juga menemukan bahwa:
- Perempuan lebih rentan terkena dampak lingkungan terhadap asma dibanding laki-laki. Ini mungkin disebabkan oleh perbedaan hormonal atau fisiologis, meskipun mekanisme pastinya belum dipahami sepenuhnya.
- Semua kelompok usia berisiko, termasuk anak-anak, remaja, dewasa muda, dan lansia.
- Orang yang tidak pindah rumah selama masa studi memiliki risiko lebih tinggi, karena paparan mereka lebih konsisten dari waktu ke waktu.
Kenapa Ruang Hijau Penting?
Banyak orang mengira ruang hijau hanya sekadar memperindah kota. Tapi manfaatnya jauh lebih besar:
- Menyaring polusi udara seperti ozon, nitrogen dioksida, dan partikel halus.
- Menurunkan suhu kota, terutama saat gelombang panas.
- Meningkatkan kesehatan mental dan kualitas tidur.
- Menjadi tempat olahraga dan interaksi sosial.
Sebaliknya, lingkungan kota yang didominasi bangunan padat, jalanan beraspal, dan minim vegetasi justru memperburuk kualitas udara dan meningkatkan stres fisiologis.
Implikasi Kebijakan: Kota Sehat Harus Menjadi Prioritas
Apa arti temuan ini untuk masa depan?
Kesehatan masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada layanan kesehatan dan obat-obatan. Lingkungan hidup adalah bagian dari “obat” itu sendiri. Karena itu, studi ini memberikan rekomendasi kuat kepada para pembuat kebijakan, arsitek kota, dan perencana tata ruang untuk:
- Menambah ruang hijau di tengah kota
- Mengurangi polusi udara dari kendaraan dengan memperluas transportasi umum dan jalur sepeda
- Membatasi pembangunan berlebihan di area yang sudah padat
- Mengelola pencahayaan kota secara lebih bijak agar tidak mengganggu ritme tidur warga
Keterbatasan dan Kekuatan Studi
Kekuatan studi ini:
- Jumlah peserta besar: lebih dari 349.000 orang
- Data dikumpulkan dari masa kanak-kanak hingga lansia
- Analisis dilakukan secara terstandarisasi di 14 negara Eropa
- Menggabungkan berbagai jenis paparan secara bersamaan
Keterbatasan:
- Tidak bisa memastikan hubungan sebab-akibat karena bersifat observasional
- Paparan hanya diukur berdasarkan alamat rumah (belum mencakup tempat kerja atau sekolah)
- Definisi asma tidak seragam di semua negara
Namun, meski dengan keterbatasan ini, pesan studi ini tetap kuat dan relevan, khususnya di tengah laju urbanisasi global yang cepat.
Kesimpulan: Kota Sehat, Paru-Paru Sehat
Lingkungan tempat kita tinggal memengaruhi kesehatan jauh lebih besar dari yang selama ini kita sadari. Dari polusi udara, suhu lingkungan, cahaya buatan, hingga ruang hijau—semuanya berdampak nyata pada risiko asma.
Kini, saat lebih dari 50% populasi dunia tinggal di kota (dan diprediksi mencapai 70% pada 2050), penting bagi kita untuk memastikan bahwa kota-kota itu bukan hanya pusat ekonomi, tapi juga tempat tinggal yang aman dan sehat bagi paru-paru kita.
Jika Anda memiliki anak kecil, atau keluarga dengan riwayat asma, perhatikan lingkungan tempat tinggal Anda. Dan jika Anda bekerja di pemerintahan, arsitektur, atau pengembangan properti—ingatlah bahwa keputusan Anda membentuk masa depan pernapasan banyak orang.
Referensi:
[1] https://news.ki.se/one-in-ten-asthma-cases-can-be-avoided-with-a-better-urban-environment, diakses pada 23 Juli 2025.
[2] Zhebin Yu, Sara Kress, Natalia Blay, Petr Gregor, Hanna-Maria Kukk, Miriam Leskien, Renata Majewska, Max J. Oosterwegel, Daniel Szabó, Margreet ten Have, Jana Klánová, Ondřej Mikeš, Anna Bergström, Alonso Bussalleu, Rafael de Cid, Andrea Dalecka, Payam Dadvand, Saskia van Dorsselaer, Krista Fischer, Kees de Hoogh, Gerard H. Koppelman, Jaanika Kronberg, Andres Metspalu, Lili Milani, Tõnu Esko, Mait Metspalu, Jeroen Lakerveld, Petter Ljungman, Simon Kebede Merid, Pawel Macek, Marta Manczuk, Anne-Sophie Merritt, Agnieszka Pac, Priit Palta, Göran Pershagen, Annette Peters, Hynek Pikhart, Apolline Saucy, Tamara Schikowski, Youchen Shen, Marie Standl, Cathryn Tonne, Roel Vermeulen, Jelle Vlaanderen, Judith M. Vonk, Kathrin Wolf, Carl Henrik Ek, Olena Gruzieva, Ulrike Gehring, Erik Melén. External exposome and incident asthma across the life course in 14 European cohorts: a prospective analysis within the EXPANSE project. The Lancet Regional Health – Europe, 2025; 101314 DOI: 10.1016/j.lanepe.2025.101314

