Pada pertengahan 2025, dunia disuguhi pemandangan langka dari luar angkasa. Seorang astronaut NASA, Jonny Kim, merekam video time-lapse Bumi dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Dalam video itu, Bumi tampak seperti bola bercahaya yang dihiasi kelap-kelip petir, lampu kota, dan yang paling memukau aurora berwarna hijau dan ungu yang menari-nari di atmosfer atas.
Aurora sering disebut sebagai “pertunjukan cahaya alami terbesar di Bumi.” Namun, apa sebenarnya aurora itu? Bagaimana mereka bisa terlihat dari luar angkasa? Dan mengapa ilmuwan sangat tertarik mempelajarinya?
Aurora: Fenomena Alam yang Bukan Sekadar Indah
Aurora yang dikenal sebagai Aurora Borealis di belahan bumi utara dan Aurora Australis di selatan adalah pancaran cahaya di langit malam yang muncul akibat interaksi antara partikel bermuatan dari Matahari dan atmosfer Bumi.
Fenomena ini terjadi saat partikel dari angin matahari menghantam lapisan atas atmosfer Bumi, lalu bereaksi dengan gas seperti oksigen dan nitrogen. Hasilnya adalah cahaya berwarna-warni:
- Hijau: paling umum, berasal dari oksigen di ketinggian ~100 km.
- Merah: dari oksigen pada ketinggian > 200 km.
- Ungu dan biru: dari nitrogen yang tereksitasi.
Aurora muncul di sekitar kutub magnetik Bumi, karena medan magnet planet kita mengarahkan partikel matahari ke sana. Maka tak heran jika aurora hanya bisa disaksikan dari wilayah lintang tinggi, seperti Alaska, Norwegia, Islandia, atau Antarktika.
Biasanya aurora terlihat dari bawah, yakni dari permukaan Bumi. Namun Jonny Kim, yang saat itu berada di ISS pada ketinggian sekitar 400 km dari permukaan, memperlihatkan sudut pandang terbalik: dari atas ke bawah.
Dari orbit, aurora terlihat sebagai pita cahaya yang melengkung di atas atmosfer, mengikuti kontur lengkung Bumi. Kilauannya bergerak dinamis, mengikuti aktivitas geomagnetik yang sedang berlangsung.
Dalam video yang dibagikan Kim, selain aurora, juga terlihat:
- Lampu kota yang menyala terang di Asia dan Australia.
- Petir dari badai tropis yang muncul sebagai kilatan putih di awan.
- Kurva horison Bumi yang membentuk pemandangan luar biasa dari luar angkasa.
Semua ini direkam dalam satu sekuens time-lapse berdurasi singkat, namun menggambarkan interaksi besar antara cuaca, kehidupan manusia, dan aktivitas luar angkasa.
Tantangan Teknis: Memotret Aurora di Antariksa
Mengambil gambar aurora dari luar angkasa bukanlah hal mudah. Meskipun teknologinya canggih, fotografer antariksa harus memperhitungkan banyak hal:
- ISS bergerak sangat cepat, sekitar 28.000 km per jam. Untuk menghasilkan gambar yang tajam, kamera harus benar-benar stabil dan sinkron dengan gerakan stasiun.
- Cahaya aurora cenderung redup dibanding lampu kota atau petir. Perlu pengaturan eksposur yang hati-hati agar aurora tetap terlihat jelas tanpa overexposure.
- Kondisi mikrogravitasi membuat pemasangan kamera di dinding stasiun tidak semudah seperti di Bumi.
Jonny Kim menyamakan proses merekam aurora dari ISS seperti “memancing”: butuh kesabaran, ketelitian, dan sedikit keberuntungan.
Mengapa Aurora Penting untuk Ilmu Pengetahuan?
Lebih dari sekadar tontonan memukau, aurora menyimpan banyak informasi penting bagi sains:
- Aurora adalah indikator langsung aktivitas Matahari dan bagaimana energi dari Matahari memengaruhi Bumi.
- Aurora sering muncul selama badai geomagnetik, yaitu saat semburan massa korona (CME) dari Matahari menghantam medan magnet Bumi.
Fenomena ini bisa berdampak besar pada kehidupan modern: gangguan GPS, komunikasi satelit, navigasi penerbangan, dan bahkan jaringan listrik.
Dengan merekam dan menganalisis aurora dari orbit, para ilmuwan dapat memprediksi dampak badai Matahari, mengembangkan sistem peringatan dini, dan memahami struktur medan magnet Bumi lebih dalam.
Kombinasi Ilmiah dan Estetik
Video aurora dari ISS tak hanya memberi data, tetapi juga narasi visual yang kuat. Kita melihat Bumi sebagai planet yang hidup, berkilau, dan rapuh terus berinteraksi dengan lingkungannya di tata surya.
Pemandangan ini juga memperkuat misi ISS bukan hanya sebagai laboratorium eksperimen fisika dan biologi, tapi juga sebagai titik pengamatan terbaik untuk memantau planet asal kita dari perspektif global.
Karya seperti yang diabadikan Jonny Kim menjadi materi pembelajaran sains yang luar biasa. Anak-anak sekolah bisa belajar tentang:
- Struktur atmosfer,
- Fisika partikel bermuatan,
- Interaksi Matahari-Bumi,
- Dan cara kerja teknologi observasi di luar angkasa.
Lebih jauh, video ini juga menginspirasi, mengingatkan kita bahwa eksplorasi antariksa bukan hanya soal roket dan planet jauh, tapi juga tentang memahami dan menjaga Bumi dengan lebih bijak.
Aurora dari luar angkasa bukan hanya pemandangan indah, tetapi juga jendela sains. Di dalamnya, kita melihat perpaduan antara fisika, teknologi, dan kepekaan manusia dalam menangkap keajaiban alam semesta.
Video dari Jonny Kim adalah salah satu contoh terbaik bagaimana sains dan estetika bisa berpadu, menciptakan pemahaman yang lebih dalam tentang tempat kita di alam raya.
Di balik aurora yang menari, terdapat cerita tentang Matahari, medan magnet, atmosfer, dan teknologi manusia. Sebuah simfoni kosmik yang terus mengingatkan kita bahwa Bumi, dengan segala dinamikanya, adalah rumah yang layak untuk dipahami dan dilindungi.
Referensi
Nanjo, S., Hozumi, Y., Hosokawa, K., Kataoka, R., Miyoshi, Y., Oyama, S. I., … & Kurita, S. (2020). Fine‐scale visualization of aurora in a wide area using color digital camera images from the international space station. Journal of Geophysical Research: Space Physics, 125(3), e2019JA027729.
Kallio, E., Harri, A. M., Knuuttila, O., Jarvinen, R., Kauristie, K., Kestilä, A., … & Syrjäsuo, M. (2023). Auroral Imaging With Combined Suomi 100 Nanosatellite and Ground‐Based Observations: A Case Study. Journal of Geophysical Research: Space Physics, 128(5), e2023JA031414.

