Polusi udara merupakan salah satu masalah lingkungan yang sangat serius, tetapi banyak orang tidak sadar bahwa polusi udara di dalam rumah bisa jauh lebih buruk daripada di luar rumah. Temuan ini datang dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di University of Birmingham yang menggunakan sensor murah dan teknik inovatif untuk mengukur tingkat polusi udara dalam rumah-rumah. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa meskipun kualitas udara di luar rumah terlihat baik, polusi di dalam rumah bisa jauh lebih tinggi dan bervariasi.
Polusi Udara di Dalam Rumah: Lebih Buruk dari yang Kita Pikirkan
Sebuah studi yang dilakukan di Birmingham, Inggris, menunjukkan bahwa polusi udara di dalam rumah bisa lebih buruk daripada di luar rumah, bahkan di area dengan kualitas udara luar yang cukup baik. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sensor murah untuk mengukur partikel-partikel polutan (seperti PM2.5 dan PM10) di dalam tiga rumah yang berbeda selama dua minggu. Hasilnya, polusi di dalam rumah lebih tinggi dan lebih bervariasi dibandingkan dengan polusi udara luar yang diukur di lokasi yang dekat.
PM (Particulate Matter) adalah partikel-partikel kecil yang terdispersi di udara dan dapat berbahaya jika terhirup. Partikel ini bisa berasal dari berbagai sumber, baik itu sumber dari dalam ruangan seperti aktivitas manusia, atau dari luar rumah seperti kendaraan dan industri. PM dibedakan berdasarkan ukuran partikel, misalnya PM10 untuk partikel yang lebih besar dari 10 mikrometer, dan PM2.5 untuk partikel yang lebih kecil dari 2.5 mikrometer. Partikel-partikel ini, khususnya yang lebih kecil seperti PM2.5, dapat masuk ke dalam saluran pernapasan dan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, termasuk masalah jantung, paru-paru, dan bahkan gangguan kognitif.
Metodologi yang Digunakan: Penggunaan Sensor Murah dan Teknik Non-Negatif Matrix Factorization (NMF)
Penelitian ini menggunakan alat sensor murah yang dapat mengukur konsentrasi PM di dalam rumah. Para peneliti mengadopsi teknik Non-Negatif Matrix Factorization (NMF), sebuah metode statistik yang memungkinkan para ilmuwan untuk mengidentifikasi berbagai sumber polusi yang mempengaruhi kualitas udara di dalam rumah. Sensor ini mampu mendeteksi partikel udara yang ada di ruangan selama periode waktu tertentu.
Dengan menggunakan metode ini, para peneliti dapat mengungkapkan bahwa konsentrasi PM di dalam rumah sangat bervariasi antar rumah yang satu dengan yang lainnya. Bahkan, ada rumah yang melebihi batas aman PM2.5 yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia,World Health Organization (WHO) pada sembilan hari berbeda selama periode dua minggu penelitian. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pemantauan kualitas udara di dalam rumah pada tingkat rumah tangga, karena polusi di dalam rumah sering kali lebih tinggi dan lebih berbahaya dibandingkan dengan polusi yang terdeteksi di luar rumah.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Udara di Dalam Rumah
Dalam penelitian ini, ditemukan lima faktor utama yang memengaruhi tingkat PM di dalam rumah. Dua di antaranya terkait dengan aktivitas di dalam rumah, seperti pergerakan penghuni rumah dan aktivitas memasak. Sedangkan tiga lainnya berkaitan dengan faktor luar, seperti ventilasi dari dapur restoran yang dekat dengan rumah. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa partikel yang lebih besar (seperti PM10) cenderung lebih cepat mengendap di dalam ruangan, sementara partikel yang lebih kecil (seperti PM1 dan PM2.5) membutuhkan waktu lebih lama untuk mengendap.
Faktor-faktor lain yang memengaruhi kualitas udara dalam rumah termasuk ventilasi, pola penghuni, serta lokasi rumah itu sendiri. Pola penghuni yang lebih banyak beraktivitas di dalam rumah atau memasak lebih sering, akan meningkatkan jumlah polusi di dalam rumah tersebut. Begitu juga dengan ventilasi yang buruk, yang menghambat sirkulasi udara dari luar ke dalam rumah, sehingga polusi dalam rumah tetap terperangkap.
Variasi Polusi Antar Rumah
Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah perbedaan yang sangat besar dalam konsentrasi PM antar rumah yang berada dalam satu kawasan yang sama. Salah satu rumah bahkan melampaui batas yang disarankan oleh WHO untuk konsentrasi PM2.5 pada sembilan hari selama penelitian berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kita tinggal di kawasan yang memiliki kualitas udara luar yang baik, polusi di dalam rumah bisa jauh lebih tinggi. Dengan adanya perbedaan besar ini, dapat disimpulkan bahwa kualitas udara dalam rumah sangat bergantung pada faktor internal dan eksternal rumah tersebut.

Pentingnya Pemantauan Kualitas Udara Dalam Rumah
Penting untuk diketahui bahwa kualitas udara dalam rumah dapat mempengaruhi kesehatan kita, terutama mengingat banyaknya waktu yang kita habiskan di dalam rumah, terutama pasca-pandemi COVID-19 dengan semakin banyaknya orang yang bekerja dari rumah. Penelitian ini menggarisbawahi bahwa pemantauan kualitas udara dalam rumah harus menjadi prioritas utama dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. Meskipun kita mungkin tinggal di kawasan dengan kualitas udara luar yang baik, polusi yang kita hirup di dalam rumah bisa jadi lebih berbahaya.
Menggunakan teknologi yang terjangkau seperti sensor murah memungkinkan kita untuk memantau kualitas udara di dalam rumah dengan lebih mudah dan lebih terjangkau. Dengan pemantauan yang lebih baik, kita dapat memahami faktor-faktor yang memengaruhi kualitas udara dalam rumah dan membuat kebijakan yang lebih baik untuk melindungi kesehatan manusia. Inilah yang diharapkan para peneliti, yaitu adanya kebijakan yang lebih informatif dan berbasis data untuk meningkatkan kualitas udara dalam rumah di seluruh dunia.
Kesimpulan
Berdasarkan temuan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kualitas udara di dalam rumah dapat lebih buruk daripada di luar rumah. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam rumah itu sendiri, seperti aktivitas penghuni, maupun dari faktor luar seperti sumber polusi di sekitar rumah. Oleh karena itu, pemantauan kualitas udara dalam rumah harus menjadi perhatian utama untuk meningkatkan kesehatan penghuni rumah. Dengan menggunakan sensor murah dan teknik analisis yang tepat, kita dapat lebih memahami dan mengurangi polusi udara dalam rumah, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada kesehatan kita.
Referensi:
[1] https://www.birmingham.ac.uk/news/2025/air-pollution-levels-may-be-higher-inside-your-home-than-outside, diakses pada 18 Februari 2025.
[2] Catrin J. Rathbone, Dimitrios Bousiotis, Owain G. Rose, Francis D. Pope. Using low-cost sensors to assess common air pollution sources across multiple residences. Scientific Reports, 2025; 15 (1) DOI: 10.1038/s41598-025-85985-1

