Kalau kita membicarakan soal kemampuan meniru, biasanya manusia dianggap paling unggul. Sejak masih bayi, kita belajar banyak hal hanya dengan mengamati orang lain. Misalnya, kita memperhatikan bagaimana orang di sekitar berbicara, bagaimana mereka bersikap ketika bersosialisasi, bahkan sampai hal sederhana seperti kapan tepatnya kita harus tersenyum atau tertawa.
Proses belajar dengan cara mengamati ini dalam ilmu pengetahuan disebut third-party imitation atau “peniruan pihak ketiga.” Bedanya dengan sekadar meniru gerakan atau suara, peniruan jenis ini jauh lebih kompleks. Bukan hanya menyalin tindakan yang terlihat, tetapi juga memahami situasi sosial atau konteks di mana tindakan itu tepat dilakukan.
Contohnya begini: seorang anak kecil melihat dua orang dewasa saling berjabat tangan ketika bertemu. Anak tersebut tidak hanya meniru gerakan tangan ke depan dan menggenggam, tetapi juga belajar bahwa jabat tangan adalah sesuatu yang dilakukan pada momen perkenalan atau penyambutan, bukan sembarangan waktu. Dengan kata lain, yang ditiru bukan hanya “apa” yang dilakukan, melainkan juga “kapan” dan “mengapa” hal itu dilakukan.
Jadi, third-party imitation adalah bentuk pembelajaran sosial tingkat tinggi, di mana seseorang bisa memperoleh pengetahuan tanpa perlu mengalami langsung, cukup dengan menjadi pengamat.
Sampai baru-baru ini, para ilmuwan berpikir kemampuan ini hanya dimiliki manusia. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa burung makau (macaws) juga melakukannya. Temuan ini bukan hanya mengejutkan, tapi juga mengubah cara kita memandang kecerdasan hewan.
Apa itu third-party imitation?
Mari kita bedakan dulu. Banyak hewan bisa meniru suara atau gerakan. Burung beo, misalnya, terkenal bisa mengulang kata-kata manusia. Namun, sekadar meniru bunyi bukanlah third-party imitation.
Third-party imitation berarti lebih dari itu: hewan mampu mengamati interaksi dua individu lain, lalu meniru bukan hanya tindakannya, tetapi juga kapan dan bagaimana tindakan itu harus dilakukan.
Contoh pada manusia: anak kecil melihat dua orang bersalaman saat bertemu, lalu ia belajar bahwa berjabat tangan dilakukan pada momen perkenalan. Itu bukan sekadar meniru gerakan tangan, tapi juga mengerti konteks sosialnya.
Baca juga artikel tentang: Evolusi Otak Burung dan Mamalia: Dua Jalan Terpisah Menuju Kompleksitas
Burung makau: pengamat sosial ulung
Dalam studi yang dilakukan oleh tim peneliti di Loro Parque Fundación, Kepulauan Canary, para ilmuwan mengamati burung makau yang tinggal dalam kelompok besar. Burung ini memang terkenal cerdas dan sangat sosial.
Ketika satu burung makau melakukan interaksi tertentu dengan pasangannya, misalnya berbagi makanan atau melakukan kontak paruh burung lain yang hanya menonton kemudian meniru interaksi itu dengan pasangannya sendiri.
Artinya, mereka tidak hanya meniru gerakan, tapi juga memahami situasi sosial di balik gerakan tersebut.
Kenapa ini luar biasa?
Sebelumnya, para ahli berpikir hanya manusia yang mampu melakukan third-party imitation. Bahkan primata lain seperti simpanse lebih banyak belajar melalui pengamatan langsung, bukan menonton interaksi sosial orang lain.
Makau menunjukkan bahwa kecerdasan sosial ternyata bisa muncul di luar garis keturunan primata. Ini menunjukkan bahwa kemampuan belajar sosial yang kompleks mungkin berkembang secara konvergen pada spesies yang hidup dalam kelompok besar.
Dengan kata lain, lingkungan sosial yang menuntut kerja sama bisa memicu munculnya kemampuan meniru konteks sosial baik pada manusia maupun burung.
Apa gunanya bagi makau?
Bagi burung makau, meniru interaksi sosial memberi banyak keuntungan:
- Membangun ikatan sosial: dengan meniru, burung bisa memperkuat hubungannya dengan pasangan atau kelompok.
- Belajar tanpa risiko: mengamati lebih aman daripada mencoba langsung. Dengan menonton, burung bisa tahu kapan interaksi tertentu cocok dilakukan.
- Efisiensi belajar: tidak perlu “trial and error.” Cukup melihat bagaimana burung lain berinteraksi.
Bagi spesies yang hidup dalam koloni besar dan sangat bergantung pada hubungan sosial, kemampuan ini bisa meningkatkan peluang bertahan hidup.
Menyatukan manusia dan burung
Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa kecerdasan sosial tidak eksklusif bagi manusia. Selama ini kita merasa unik karena bisa mengajarkan anak-anak tata krama dan aturan sosial lewat contoh. Ternyata, burung makau pun melakukan hal serupa di komunitasnya.
Ini juga membuat kita lebih berhati-hati dalam memandang hewan. Kecerdasan bukan hanya soal bisa menghitung atau menggunakan alat. Kemampuan memahami interaksi sosial adalah bentuk kecerdasan yang sama pentingnya dan ternyata bisa muncul pada burung.
Implikasi untuk ilmu pengetahuan
Penelitian ini membuka pintu baru untuk studi tentang evolusi kecerdasan sosial. Beberapa implikasi pentingnya adalah:
- Evolusi paralel: manusia dan burung berevolusi sangat jauh berbeda, tetapi keduanya mengembangkan kemampuan sosial kompleks. Ini menunjukkan bahwa ada “jalan” evolusi yang berbeda menuju kecerdasan.
- Model hewan baru: makau bisa jadi model penelitian untuk mempelajari bagaimana otak memproses interaksi sosial. Ini bisa memberi petunjuk untuk psikologi dan neurosains.
- Konservasi: memahami kecerdasan sosial makau juga menambah argumen mengapa spesies ini penting dilindungi. Hilangnya makau berarti hilangnya contoh unik kecerdasan hewan.
Refleksi bagi kita
Kadang manusia merasa terlalu istimewa, seolah hanya kita yang punya budaya, tata krama, atau kemampuan belajar sosial. Penemuan ini mengingatkan kita bahwa batas antara manusia dan hewan tidak setegas yang kita kira.
Burung makau dengan bulu indah dan suara kerasnya ternyata juga punya dunia sosial yang kompleks, penuh aturan dan pola belajar. Mungkin kita tak jauh berbeda dengan mereka: belajar dari mengamati orang lain, meniru perilaku, lalu menempatkannya dalam konteks yang tepat.
Burung makau tidak hanya meniru suara manusia, tapi juga menunjukkan kemampuan sosial yang mirip dengan kita: belajar dari interaksi orang lain.
Penelitian ini memberi pesan besar: kecerdasan sosial adalah sesuatu yang bisa muncul di mana saja, selama ada kebutuhan untuk hidup bersama dalam kelompok.
Jadi, lain kali ketika Anda melihat burung makau, ingatlah mereka bukan sekadar burung berwarna cerah yang pandai bicara, tetapi juga “murid sosial” yang penuh rasa ingin tahu, mirip dengan manusia.
Baca juga artikel tentang: Burung Rüppell’s Griffon: Penjelajah Langit, Penyeimbang dalam Keberlangsungan Ekosistem
REFERENSI:
Funnell, Rachael. 2025. Macaws Learn From Watching Other Macaws Interact – A Kind Of Imitation We Thought Was Unique To Humans. IFLScience: https://www.iflscience.com/macaws-learn-from-watching-other-macaws-interact-a-kind-of-imitation-we-thought-was-unique-to-humans-80668 diakses pada tanggal 5 September 2025.
Haldar, Esha dkk. 2025. Third-party imitation is not restricted to humans. bioRxiv, 2025.03. 14.643244.

