Menelusuri Akar Krisis Iklim di Indonesia melalui Siklus Karbon dan Karhutla

Krisis iklim global telah menjadi tantangan utama abad ini. Salah satu penyumbang signifikan terhadap percepatan perubahan iklim adalah kebakaran hutan […]

AI-Krisis Iklim di Indonesia

Krisis iklim global telah menjadi tantangan utama abad ini. Salah satu penyumbang signifikan terhadap percepatan perubahan iklim adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Indonesia sebagai negara megabiodiversitas dengan wilayah hutan tropis yang luas menghadapi tantangan besar berupa Karhutla yang terjadi hampir setiap tahun. Di Indonesia, Karhutla kerap terjadi di kawasan lahan gambut yang kaya karbon. Provinsi Riau, dengan luas lahan gambut ±4 juta hektar atau hampir 50% luas wilayahnya, menjadi Kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap Karhutla. Lahan gambut memiliki karakteristik penyimpanan karbon yang tinggi dan sangat rentan terhadap kebakaran saat terjadi penurunan muka air tanah. Ketika terbakar, lahan gambut melepaskan emisi karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar ke atmosfer, yang memperparah efek rumah kaca dan mempercepat perubahan iklim global.

AI-Krisis Iklim di Indonesia

Selain itu, ketidakseimbangan dalam siklus karbon global menjadi akar permasalahan dari krisis iklim. Siklus karbon yang sehat seharusnya menjaga keseimbangan antara serapan dan pelepasan karbon melalui proses fotosintesis, respirasi dan pelapukan alami. Namun, aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi dan karhutla menyebabkan peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer. Karhutla mempercepat pelepasan karbon dari simpanan alami ke atmosfer dalam waktu singkat, sehingga mengganggu siklus karbon yang seimbang dan memicu efek umpan balik berupa peningkatan suhu global.

Krisis ini diperparah oleh faktor alam seperti fenomena El-Nino yang menyebabkan musim kemarau berkepanjangan. El-Nino merupakan fenomena iklim global yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut secara signifikan di wilayah Pasifik bagian Tengah dan Timur. Pemanasan ini mempengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. El-Nino berkontribusi terhadap penurunan curah hujan, kekeringan ekstrem dan memperpanjang musim kemarau. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang sangat rentan terhadap kebakaran, karena vegetasi menjadi kering dan mudah terbakar, serta menghambat upaya pemadaman api akibat terbatasnya sumber air. Selain El-Nino, faktor antropogenik seperti pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan pertanian dengan metode pembakaran terbuka juga memperburuk kondisi. Wilayah seperti Provinsi Riau menjadi sorotan karena kasus Karhutla yang konsisten terjadi dari tahun ke tahun.

Urgensi dari masalah ini mencakup: (1) dampak lingkungan dan global berupa emisi karbon tinggi yang mengganggu siklus karbon dan mempercepat pemanasan global; (2) krisis kesehatan dan sosial akibat polusi asap yang berdampak pada masyarakat lokal dan regional; (3) ancaman terhadap keberlanjutan ekosistem gambut; serta (4) lemahnya penegakan hukum dan efektivitas pencegahan di tingkat lokal. Oleh karena itu, kajian ini penting untuk mendalami faktor-faktor penyebab dan dampak Karhutla serta merumuskan strategi mitigasi yang tepat untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan dan iklim global.

Karakteristik dan Data Karhutla di Indonesia

Karhutla di Indonesia, terutama Riau sudah menjadi fenomena tahunan yang dipicu oleh faktor alam dan aktivitas manusia. Karakteristik Karhutla di Indonesia, terutama Riau sangat unik, karena terjadi di lahan gambut yang menghasilkan asap tebal dan berbahaya. Karhutla menyebakan wabah di Indonesia yang bersifat tahunan pula, yaitu wabah kabut asap. Berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), karhutla pada tahun 2024 diperkirakan terjadi pada 25.193,57 Ha lahan gambut dan 258.426,94 Ha di tanah mineral.

Data lebih luas menunjukkan bahwa pada tahun 2023, Indonesia mengalami lonjakan signifikan luas Karhutla hingga 1.161.192,9 Ha akibat El-Nino, dan pada tahun 2024 menurun menjadi 376.805,05 Ha. Meskipun terjadi penurunan luas area terbakar secara nasional, jumlah kejadian karhutla justru meningkat dari 499 kejadian (2023) menjadi 629 kejadian (2024). Hal ini menunjukkan efektivitas deteksi dan respon dini, tetapi juga bahwa faktor penyebab kebakaran masih aktif dan tersebar. Secara regional, Riau menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Luas Karhutla di Riau tahun 2023 sebesar 7267,03 Ha meningkat menjadi 11.027,96 Ha pada tahun 2024 atau naik sekitar 47%. Meski jumlah kejadian menurun, hal ini tetap menandakan bahwa tiap kebakaran yang terjadi cenderung lebih besar dan sulit dikendalikan. Pada tahun 2025, data KLHK menunjukkan Karhutla di Riau seluas 751,08 Ha. Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis dan Rokan Hilir merupakan daerah dengan luas Karhutla tertinggi di Riau. Kabupaten Kampar, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir menjadi wilayah dengan frekuensi kejadian terbanyak pada tahun 2023. Jumlah jotspot dan firespot juga mencerminkan kerentanan tinggi di Riau, terutama pada musim kemarau.

TahunLuas Karhutla Nasional (Hektar)Jumlah Kejadian NasionalLuas Karhutla di RiauJumlah Kejadian di Riau
20231.161.192,94997.267,03176
2024376.805,0562911.027,96±10 – 11
2025*8.594,49751,08
Keterangan: Data Tahun 2025 bersifat awal tahun hingga Mei

Provinsi Riau menjadi salah satu wilayah rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut, karena memiliki luas lahan gambut ± 50% dari total luas wilayah Riau atau sekitar ± 4 Juta hektar. Lahan gambut di Riau memiliki kedalaman yang bervariasi, mulai dari dangkal hingga lebih dari 4 meter. Ciri khas dari lahan ini adalah kondisi tanahnya yang jenuh air, kaya akan bahan organik karbon serta daya serap air yang tinggi. Namun, ketika dikeringkan atau mengalami penurunan muka air tanah akibat kanal drainase dan musim kemarau, lahan ini menjadi sangat mudah terbakar. Karakteristik ini menjadikan lahan gambut di Riau sebagai salah satu ekosistem paling rentan terhadap Karhutla, sekaligus contributor signifikan terhadap emisi karbon saat terbakar.

Ketidakseimbangan Siklus Karbon akibat Karhutla

Indonesia, yang memiliki wilayah hutan tropis dan lahan gambut yang luas, termasuk salah satu negara dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), khususnya pada musim kemarau yang diperburuk oleh fenomena El Niño. Provinsi Riau tercatat sebagai salah satu daerah prioritas penanganan darurat Karhutla, bersama dengan Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Dalam satu dekade terakhir (2014-2025), bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian bencana di Provinsi Riau, dengan Karhutla menyumbang 41,75% dari total kejadian (sebanyak 374 kasus), sedikit lebih rendah dibandingkan kejadian banjir yang mencapai 42,55%. Periode Karhutla terbanyak di Riau terjadi pada tahun 2023, dengan 176 kejadian. Perubahan iklim merupakan tantangan lingkungan global yang paling mendesak di abad ke-21. Salah satu indikator utama dari fenomena ini adalah meningkatnya konsentrasi karbon dioksida (CO₂) di atmosfer yang telah melampaui angka 420 ppm menurut pengamatan di Mauna Loa tahun 2023.

AI-Ketidakseimbangan Siklus Karbon akibat karhutla

Kenaikan gas rumah kaca seperti CO₂ dan CH₄ telah mendorong peningkatan suhu rata-rata global, mempercepat pencairan es kutub, serta mengubah pola cuaca dan curah hujan di berbagai wilayah dunia. Dalam sistem bumi, siklus karbon global sebagai mekanisme alami yang menyeimbangkan penyerapan (sink) dan pelepasan (source) karbon antara atmosfer, biosfer, dan geosfer, sangat penting dalam menjaga stabilitas iklim. Di ekosistem hutan tropis, karbon tersimpan dalam biomassa hidup dan lapisan tanah selama ratusan hingga ribuan tahun. Namun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di lahan gambut tropis, mengubah biomassa ini menjadi emisi gas rumah kaca terutama CO₂ dan CH₄ dalam waktu singkat, sehingga mengganggu keseimbangan karbon yang telah terbentuk secara alami selama ribuan tahun (Jason Schroeder, 2022).

Siklus karbon merupakan rangkaian proses alamiah yang saling terhubung, mengatur pergerakan karbon di antara atmosfer, biosfer, hidrosfer, dan geosfer, serta memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim global. Proses ini dikelompokkan menjadi dua komponen utama, yaitu biologis dan biogeokimia. Pada siklus biologis, fotosintesis oleh organisme autotrof seperti tumbuhan dan alga mengubah karbon dioksida (CO₂) menjadi senyawa organik menggunakan energi matahari, dan menghasilkan oksigen. Sebaliknya, respirasi oleh organisme autotrof maupun heterotrof mengembalikan CO₂ ke atmosfer. Ketika organisme mati, proses dekomposisi oleh mikroorganisme akan mengubah materi organik menjadi CO₂ atau metana (CH₄), tergantung kondisi oksigen di lingkungan. Pada sisi biogeokimia, lautan berfungsi sebagai penyerap karbon melalui proses pertukaran gas yang dinamis. CO₂ terlarut membentuk asam karbonat yang kemudian berubah menjadi ion bikarbonat dan karbonat, lalu bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium karbonat komponen utama cangkang organisme laut yang dapat terakumulasi menjadi batu kapur. Aktivitas geologis seperti pembentukan bahan bakar fosil dan letusan gunung berapi juga melepaskan karbon kembali ke atmosfer. Interaksi semua proses ini menciptakan sistem pengaturan alami yang kompleks. Namun, gangguan akibat aktivitas manusia seperti deforestasi dan emisi bahan bakar fosil menyebabkan ketidakseimbangan dan menciptakan efek umpan balik yang memperparah krisis iklim, sehingga pemahaman menyeluruh tentang siklus karbon sangat penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim global.

Karhutla, terutama di lahan gambut tropis Indonesia, menyebabkan meningkatnya emisi gas rumah kaca dalam jangka pendek. Biomassa yang menyimpan karbon selama ribuan tahun terbakar dan langsung melepaskan CO₂ dan CH₄ ke atmosfer, sehingga mengganggu keseimbangan siklus karbon alami. Dunia saat ini memanas lebih cepat dari kapan pun dalam sejarah yang tercatat. Dekade terakhir (2011-2020) adalah yang terpanas dalam catatan, dengan setiap dekade sejak 1980-an menunjukkan suhu yang lebih hangat dari sebelumnya. Tahun 2019 mencatat bahwa emisi karbon dari kebakaran gambut melampaui prediksi sebelumnya, sehingga faktor emisi perlu direvisi menjadi lebih besar secara signifikan. Peristiwa kebakaran gambut di Indonesia pada tahun 1997 dan 2006 diperkirakan melepaskan antara 0,81 hingga 2,57 giga ton karbon, setara dengan 13–40% dari emisi tahunan bahan bakar fosil global.

Karhutla sebagai penguat langsung efek rumah kaca (enhanced greenhouse effect), bukan sekadar gejala. Meskipun pembakaran bahan bakar fosil adalah pendorong utama emisi antropogenik, Karhutla (terutama kebakaran gambut) secara langsung melepaskan cadangan karbon kuno yang masif ke atmosfer. Dampaknya sangat signifikan, setara dengan emisi tahunan seluruh negara industri besar. Pelepasan ini secara langsung memperburuk efek rumah kaca yang diperkuat dan berkontribusi pada peningkatan CO2 yang belum pernah terjadi sebelumnya. Karhutla mengubah penyerap karbon menjadi sumber karbon utama, menciptakan lingkaran umpan balik positif yang kuat dalam sistem iklim. Ini berarti bahwa pengendalian Karhutla bukan hanya tentang perlindungan lingkungan lokal, tetapi merupakan strategi mitigasi iklim global yang krusial, terutama bagi negara-negara dengan area gambut yang luas seperti Indonesia. Pencegahan dan mitigasi Karhutla melalui pengelolaan hidrologi gambut, deteksi dini, serta restorasi ekosistem bukan hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga krusial sebagai strategi global untuk menanggulangi krisis iklim sekaligus mendukung target Sustainable Development Goals (SDG).

Dampak Lingkungan dan Iklim Global

Hutan tropis dan lahan gambut memegang peranan esensial dalam sistem penyeimbang karbon global, berfungsi sebagai penyerap karbon alami. Melalui proses fotosintesis, tumbuhan menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer dan menyimpannya dalam jaringan biomassa seperti batang, daun, akar, serta dalam tanah.Secara khusus, tanah hutan menyimpan karbon dalam jumlah yang jauh melebihi akumulasi karbon di atmosfer maupun biomassa di atas permukaan tanah. Peran ekologis ini menjadikan ekosistem hutan sebagai komponen vital dalam pengendalian konsentrasi CO₂ atmosfer secara alami dan berkelanjutan.

Lahan gambut merupakan ekosistem dengan kapasitas penyimpanan karbon terbesar di dunia.Secara spesifik, lahan gambut menyimpan sekitar 25% dari total karbon tanah dunia, dengan lebih dari 600 gigaton karbon terperangkap di dalamnya, yang mewakili hingga 44% dari seluruh karbon tanah.Kondisi alami lahan gambut yang tergenang air mencegah dekomposisi materi organik, sehingga karbon terakumulasi dan tersimpan secara efektif dalam jangka waktu geologis.Ketika lahan gambut dikeringkan, ia menjadi sangat mudah terbakar, mirip dengan batu bara, dan dapat membara di bawah tanah selama berbulan-bulan.Kerusakan lahan gambut telah menjadi salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca global, meskipun hanya mencakup 0,3% dari total luas daratan, tetapi menyumbang hampir 5% dari emisi CO₂ antropogenik global.  Kebakaran gambut melepaskan karbon hingga sepuluh kali lebih besar dibandingkan kebakaran hutan biasa.

Kebakaran lahan gambut merepresentasikan titik balik krusial dalam dinamika siklus karbon global. Tidak seperti kebakaran hutan biasa yang memungkinkan reabsorpsi karbon melalui regenerasi vegetasi, kebakaran pada lahan gambut melepaskan cadangan karbon purba yang telah terakumulasi selama berabad hingga ribuan tahun di bawah permukaan tanah. Karbon ini, yang seharusnya tersimpan secara stabil dalam kondisi anaerobik, dilepaskan secara cepat dalam bentuk gas rumah kaca seperti CO₂ dan CH₄, menjadikan kebakaran gambut sebagai akselerator kuat terhadap percepatan perubahan iklim. Oleh karena itu, mitigasi Karhutla di ekosistem gambut membutuhkan strategi yang spesifik, presisi tinggi, dan mendesak, khususnya di negara-negara tropis seperti Indonesia yang memiliki ekosistem gambut terluas di dunia

Dampak kebakaran gambut tidak terbatas pada aspek ekologi, tetapi juga meluas ke dimensi sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat. Peristiwa Karhutla besar seperti yang terjadi di Indonesia pada tahun 2015 menimbulkan krisis multidimensi: lebih dari 500.000 orang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan kerugian ekonomi baik langsung maupun tidak langsung diperkirakan mencapai 16 miliar dolar AS. Krisis kesehatan dan kerugian ekonomi ini dapat mengalihkan sumber daya dari upaya pencegahan dan mitigasi jangka panjang, yang berpotensi menyebabkan lebih banyak kebakaran di masa depan karena kurangnya investasi dalam solusi akar masalah. Penanganan Karhutla bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga krisis sosial-ekonomi dan kesehatan masyarakat yang mendalam, membutuhkan pendekatan holistik yang mempertimbangkan kesejahteraan manusia dan stabilitas ekonomi.

Ketidakseimbangan dalam siklus karbon, terutama yang diperburuk oleh karhutla berkontribusi langsung terhadap percepatan krisis iklim global yang kompleks dan multidimensi. Pemanasan global sebagai dampak utama telah menyebabkan perubahan drastis dalam pola iklim, termasuk peningkatan kejadian cuaca ekstrem seperti gelombang panas, curah hujan intens, banjir bandang, serta badai tropis yang semakin kuat akibat pemanasan permukaan laut. Selain itu, naiknya permukaan air laut akibat pencairan es kutub dan ekspansi termal air laut mengancam komunitas pesisir. Di sisi lain, laut yang menyerap kelebihan CO₂ atmosfer mengalami peningkatan keasaman yang merusak ekosistem terumbu karang dan organisme laut bercangkang kalsium.

Di sektor sosial, perubahan iklim telah menimbulkan ancaman ketahanan pangan global, mengganggu produksi pertanian, perikanan, dan peternakan akibat kondisi iklim yang semakin tidak menentu. Lebih jauh, paparan asap dan kabut dari Karhutla mengancam kesehatan masyarakat, memperburuk kerentanan sosial dan menurunkan kapasitas adaptasi komunitas terhadap krisis iklim. Perubahan iklim dan peningkatan peristiwa cuaca ekstrem berkontribusi pada peningkatan kelaparan dan gizi buruk secara global. Sektor perikanan, tanaman pangan, dan peternakan dapat hancur atau menjadi kurang produktif akibat kondisi iklim yang tidak menentu.

Karhutla dan aktivitas antropogenik lainnya memicu ketidakseimbangan dalam siklus karbon yang membentuk mekanisme umpan balik positif. Konsekuensi dari gangguan siklus karbon dan pemanasan global bersifat jangka panjang dan meluas.

Strategi Mitigasi dan Solusi Berkelanjutan

Strategi mitigasi Karhutla mencakup pencegahan kebakaran melalui edukasi masyarakat, patroli intensif, dan penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal. Selain itu, restorasi lahan gambut melalui pembasahan kembali (rewetting) dan revegetasi dinilai sangat krusial dalam mengembalikan fungsi ekosistem sebagai penyerap karbon alami.  Penerapan praktik pertanian berkelanjutan tanpa pembakaran dan pemanfaatan teknologi seperti sistem peringatan dini serta operasi modifikasi cuaca juga menjadi komponen penting dalam strategi mitigatif. Selain itu, adaptasi terhadap perubahan iklim perlu difokuskan pada penguatan ketahanan masyarakat lokal melalui pengembangan sistem pangan dan air yang tangguh, serta perbaikan infrastruktur kesehatan untuk menghadapi dampak kabut asap dan penyakit yang meningkat akibat perubahan iklim. 24

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pemulihan fungsi ekosistem gambut melalui rewetting dan revegetasi mampu menurunkan risiko kebakaran hingga 80% dalam jangka waktu 5 tahun, serta meningkatkan kapasitas lahan untuk kembali menyerap karbon secara signifikan. Selain itu, inisiatif internasional seperti REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) terbukti efektif dalam menekan deforestasi di negara tropis melalui insentif berbasis hasil. Dalam konteks lokal, kolaborasi antara pemerintah, komunitas adat, dan sektor swasta terbukti mempercepat pemulihan bentang alam sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana iklim.

Implementasi strategi mitigasi dan adaptasi tidak dapat dilepaskan dari tata kelola yang efektif dan koordinatif. Harmonisasi data Karhutla antar-lembaga diperlukan untuk menghasilkan pelaporan yang akurat dan intervensi kebijakan yang tepat sasaran. Lebih lanjut, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil harus diperkuat untuk mendukung tindakan kolektif dalam pengelolaan risiko Karhutla. Integrasi isu Karhutla ke dalam kebijakan nasional seperti Nationally Determined Contribution (NDC), serta promosi investasi pada solusi berbasis alam (Nature-based Solutions), akan memastikan pendekatan yang berkelanjutan dan selaras dengan agenda pembangunan rendah karbon dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dengan demikian, penanganan Karhutla bukan hanya menjadi prioritas lingkungan, tetapi juga strategi nasional dalam mitigasi perubahan iklim dan perlindungan kesejahteraan publik jangka panjang.

Referensi

Datta, A. and Krishnamoorti, R. (2022) ‘Understanding the Greenhouse Gas Impact of Deforestation Fires in Indonesia and Brazil in 2019 and 2020’, Frontiers in Climate, 4.

Jason Schroeder, A.A.S.M.M.L.F. (2022) ‘ATMOSPHERIC GREENHOUSE GAS CONCENTRATIONS’, Indicators of Climate Change in California, pp. 11–30.

Krisnawati, H. et al. (2021) ‘Carbon balance of tropical peat forests at different fire history and implications for carbon emissions’, Science of the Total Environment, 779.

Oliver Milman (2024) ‘Record-breaking increase in CO2 levels in world’s atmosphere’, https://www.theguardian.com/environment/article/2024/may/09/carbon-dioxide-atmosphere-record?CMP=share_btn_url, 9 May.

Yokelson, R.J. et al. (2022) ‘Tropical peat fire emissions: 2019 field measurements in Sumatra and Borneo and synthesis with previous studies’, Atmospheric Chemistry and Physics, 22(15), pp. 10173–10194.

Yuwati, T.W. et al. (2021) ‘Restoration of degraded tropical peatland in indonesia: A review’, Land. MDPI.

Zhang, Y. et al. (2022) ‘Stimulation of ammonia oxidizer and denitrifier abundances by nitrogen loading: Poor predictability for increased soil N2O emission’, Global Change Biology, 28(6), pp. 2158–2168.

Ditulis bersama:
Daviella David, Malik Al Ghani dan Meidita Kemala Sari

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top