Bagaimana Kita Menilai Aksen: Studi Baru Mengungkap Pengaruh Budaya dan Media dalam Persepsi Aksen Wilayah

Aksen, dalam konteks bahasa, sering kali dianggap sebagai suatu cara berbicara yang menonjolkan asal usul seseorang, baik itu berdasarkan wilayah, […]

Aksen, dalam konteks bahasa, sering kali dianggap sebagai suatu cara berbicara yang menonjolkan asal usul seseorang, baik itu berdasarkan wilayah, latar belakang sosial, atau bahkan kelas sosial. Namun, bagaimana sebenarnya kita bisa mengetahui apakah seseorang memiliki aksen tertentu? Biasanya, hal ini dilakukan dengan mendengarkan cara seseorang mengucapkan kata-kata dan membandingkannya dengan norma atau cara pengucapan yang dianggap ‘standar’. Tapi, sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Kathryn Campbell-Kibler, seorang ahli linguistik dari The Ohio State University, menantang anggapan ini dengan menunjukkan bahwa penilaian kita terhadap aksen mungkin tidak sepenuhnya berdasarkan cara seseorang berbicara.

Aksen dan Persepsi Sosial

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Sociolinguistics mengungkapkan bahwa penilaian terhadap aksen mungkin lebih berkaitan dengan bagaimana aksen tersebut dipelajari secara budaya daripada apa yang benar-benar terdengar pada cara seseorang berbicara. Para peserta diminta untuk mendengarkan rekaman suara dari berbagai penutur yang berasal dari tiga wilayah berbeda di Ohio: utara, tengah, dan selatan. Meskipun mereka diminta untuk menilai sejauh mana aksen yang dimiliki oleh setiap penutur, yang menarik adalah hasil yang menunjukkan bahwa pengetahuan tentang aksen seseorang atau suatu wilayah sering kali didapat melalui cerita atau gambaran yang mereka terima dari orang lain, bukan hanya melalui pengamatan langsung terhadap cara berbicara.

Baca juga: Menguasai Bahasa dengan Cepat: Strategi Berdasarkan Hasil Riset

Penelitian yang Menggugah Pemahaman Kita tentang Aksen

Penelitian ini melibatkan 1.106 peserta dari berbagai usia, yang sebagian besar berasal dari Ohio. Peserta mendengarkan serangkaian rekaman di mana setiap penutur mengucapkan beberapa kata dengan vokal yang sama. Salah satu contoh adalah perbedaan antara kata “pen” yang diucapkan dengan cara yang mungkin terdengar seperti “pin” bagi sebagian orang. Para peserta diminta untuk menilai seberapa kuat aksen yang dimiliki oleh setiap penutur tersebut.

Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun ada anggapan bahwa orang yang berasal dari wilayah selatan Ohio memiliki aksen yang paling kuat, hal ini tidak selalu tercermin pada penilaian terhadap rekaman yang mereka dengarkan. Bahkan, mereka yang percaya bahwa orang dari utara Ohio memiliki aksen yang kuat, tidak selalu menilai rekaman dari penutur utara Ohio dengan skor yang lebih tinggi dibandingkan penutur dari wilayah lain.

Arsiran merah menunjukkan Ohio.

Aksen dan Pembelajaran Budaya

Temuan ini menunjukkan bahwa kita mungkin lebih cenderung untuk mempelajari aksen secara sosial dan budaya daripada dengan hanya mendengarkan cara berbicara seseorang. Hal ini bisa terjadi karena kita sering mendengar cerita-cerita dari teman atau keluarga tentang orang-orang yang memiliki cara berbicara yang berbeda, atau kita melihat representasi aksen di media, seperti dalam film atau acara televisi. Misalnya, kita mungkin mendengar tentang seseorang yang berasal dari Akron yang berbicara dengan cara yang ‘aneh’, atau kita menonton film yang menggambarkan orang dari Alabama yang berbicara dengan aksen yang khas.

Fenomena ini menggugah pertanyaan besar tentang bagaimana kita membentuk persepsi kita terhadap aksen, dan bagaimana media dan budaya berperan dalam membentuk persepsi tersebut. Meskipun kita mungkin tidak selalu dapat secara langsung mengidentifikasi aksen tertentu, kita menjadi peka terhadapnya karena pengaruh cerita dan gambaran sosial yang kita terima.

Perkembangan Persepsi Aksen

Salah satu hal menarik yang ditemukan dalam penelitian ini adalah bahwa persepsi tentang aksen berkembang seiring bertambahnya usia. Anak-anak yang berusia sembilan tahun tidak menunjukkan banyak perbedaan dalam menilai aksen antara wilayah utara dan selatan Ohio. Namun, saat mereka mencapai usia 25 tahun, mereka mulai membedakan aksen berdasarkan wilayah dengan lebih jelas. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang aksen bukanlah sesuatu yang langsung kita pelajari, tetapi berkembang seiring waktu, melalui interaksi sosial dan paparan budaya.

Pembelajaran Sosial dalam Persepsi Aksen

Para peneliti menemukan bahwa meskipun peserta memiliki persepsi yang kuat tentang aksen wilayah tertentu, mereka tidak selalu sensitif terhadap perbedaan vokal yang membedakan aksen-aksen tersebut. Artinya, meskipun mereka bisa mengidentifikasi aksen berdasarkan tempat, mereka tidak selalu mampu mendeteksi perbedaan dalam cara orang berbicara yang sesuai dengan aksen tersebut. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang aksen lebih berkaitan dengan representasi sosial dan budaya daripada pengamatan langsung terhadap cara berbicara seseorang.

Media dan Peranannya dalam Persepsi Aksen

Penting untuk diingat bahwa pengetahuan kita tentang aksen tidak hanya datang dari pengalaman pribadi. Sebagian besar dari kita mengenali aksen tertentu karena paparan media, seperti film atau program televisi, yang sering kali menggambarkan karakter dengan aksen tertentu sebagai bagian dari identitas mereka. Misalnya, kita bisa mendengar karakter-karakter dari Alabama berbicara dengan aksen yang sangat khas, atau kita mendengar teman-teman kita bercerita tentang bagaimana mereka mengenali aksen tertentu dari daerah lain.

Pengaruh budaya ini menunjukkan bahwa persepsi aksen kita sangat dipengaruhi oleh representasi sosial yang lebih besar. Aksen yang kita anggap sebagai “standar” atau “netral” sering kali menjadi bagian dari wacana sosial yang lebih luas, yang mencakup asumsi tentang kelas sosial, pendidikan, dan bahkan kecerdasan. Dalam konteks ini, aksen bukan hanya sekadar cara seseorang berbicara, tetapi juga simbol dari latar belakang sosial dan budaya mereka.

Kesimpulan

Studi ini mengungkapkan bahwa cara kita menilai aksen bukan hanya didasarkan pada cara berbicara seseorang, tetapi juga dipengaruhi oleh bagaimana aksen tersebut dikaitkan dengan tempat dan budaya. Kita belajar tentang aksen melalui interaksi sosial, cerita orang lain, dan representasi media, yang semua itu membentuk bagaimana kita memahami perbedaan aksen di sekitar kita. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa persepsi kita tentang aksen bukanlah hal yang statis, melainkan sesuatu yang berkembang seiring dengan pengalaman sosial dan budaya kita.

Seiring waktu, kita belajar untuk membedakan aksen berdasarkan wilayah, tetapi kita juga harus berhati-hati dengan bagaimana stereotip dan stigma terkait aksen dapat mempengaruhi pandangan kita terhadap orang lain. Sebagai masyarakat, kita harus berusaha untuk lebih memahami kompleksitas aksen dan memperlakukan setiap individu dengan rasa hormat, tanpa terbebani oleh prasangka yang mungkin terbentuk dari cara mereka berbicara.

Referensi:

[1] https://news.osu.edu/the-complicated-question-of-how-we-determine-who-has-an-accent/, diakses pada 18 Februari 2025

[2] Kathryn Campbell‐Kibler. Place‐Based Accentedness Ratings Do Not Predict Sensitivity to Regional FeaturesJournal of Sociolinguistics, 2025; DOI: 10.1111/josl.12691

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top