Menyemai Harapan di Bumi yang Panas: Prediksi Baru tentang Masa Depan Pertanian Benin

Perubahan iklim sering terdengar seperti istilah yang jauh dan abstrak. Tapi bagi jutaan petani di Afrika Barat, perubahan itu sudah […]

Perubahan iklim sering terdengar seperti istilah yang jauh dan abstrak. Tapi bagi jutaan petani di Afrika Barat, perubahan itu sudah menjadi kenyataan sehari-hari. Di ladang jagung, padi, dan sorgum di negara kecil bernama Benin, perubahan suhu dan hujan kini menjadi persoalan hidup dan mati, bukan hanya bagi tanaman, tapi juga bagi ketahanan pangan seluruh negeri.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Climate (2025) oleh Kossivi Fabrice Dossa dan timnya, mencoba menjawab pertanyaan besar: Seberapa parah perubahan iklim akan memengaruhi produksi pangan Benin hingga tahun 2050?
Untuk menjawabnya, para ilmuwan menggunakan dua pendekatan statistik modern, yaitu SARIMA dan PLS-SEM, dengan data dari FAO dan ASECNA yang mencakup tiga dekade (1990–2020).

Hasilnya menunjukkan gambaran yang rumit, sebagian suram, sebagian penuh harapan.

Baca juga artikel tentang: Snowball Earth: Tragedi Iklim Terbesar yang Membentuk Kehidupan

Ketika Langit Tak Lagi Bisa Diprediksi

Benin adalah negara agraris: sekitar 70% penduduknya hidup dari pertanian, dan sebagian besar di antaranya bergantung pada tanaman biji-bijian seperti jagung, padi, dan sorgum. Namun, sistem pertanian yang bergantung pada hujan membuat Benin sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Studi ini menemukan bahwa selama 30 tahun terakhir, suhu rata-rata di Benin terus meningkat, sementara curah hujan menunjukkan tren penurunan yang perlahan tapi konsisten. Kondisi ini membuat musim tanam menjadi makin tidak menentu, hujan bisa datang terlambat atau berhenti terlalu cepat.

Perubahan kecil dalam suhu atau curah hujan bisa menimbulkan efek besar. Jagung misalnya, sangat sensitif terhadap panas di atas 30°C. Peningkatan suhu sekian derajat saja bisa membuat hasil panen turun hingga puluhan persen.

Teknologi Statistik di Ladang Jagung

Untuk memahami masa depan pangan Benin, tim peneliti tidak sekadar mengamati data masa lalu. Mereka menggunakan model statistik canggih yang biasanya digunakan untuk memprediksi tren ekonomi atau keuangan.

Metode pertama, SARIMA (Seasonal Autoregressive Integrated Moving Average), membantu memproyeksikan bagaimana hasil panen akan berubah dari waktu ke waktu dengan mempertimbangkan pola musiman dan fluktuasi iklim. Metode kedua, PLS-SEM (Partial Least Squares Structural Equation Modeling), digunakan untuk memahami bagaimana berbagai faktor iklim (seperti suhu, hujan, dan kelembapan) saling berhubungan dan memengaruhi produksi pangan secara kompleks.

Kombinasi dua pendekatan ini memungkinkan peneliti membuat gambaran menyeluruh: bukan hanya apa yang akan terjadi, tetapi mengapa hal itu bisa terjadi.

Kabar Buruk: Suhu Naik dan Hujan Berkurang

Model SARIMA menunjukkan bahwa, hingga tahun 2050, Benin akan menghadapi kenaikan suhu rata-rata yang terus berlanjut dan penurunan curah hujan yang signifikan di beberapa wilayah utama penghasil serealia.
Artinya, petani akan semakin sering menghadapi musim kering, sementara waktu tanam dan panen harus terus disesuaikan.

Sementara itu, hasil analisis PLS-SEM memperlihatkan bahwa suhu memiliki pengaruh negatif paling kuat terhadap produktivitas, sedangkan curah hujan berperan positif tapi tidak cukup untuk menutupi dampak panas yang meningkat.

Dengan kata lain, semakin panas udara, semakin sulit tanaman tumbuh, meski hujan turun sedikit lebih banyak di waktu tertentu.

Kabar Baik: Petani Tidak Menyerah

Meski kondisi iklim makin sulit, penelitian ini juga membawa secercah harapan. Data menunjukkan bahwa petani Benin justru mampu menyesuaikan diri dengan cukup cepat.

Analisis deret waktu memperlihatkan tren peningkatan luas lahan yang ditanami serta peningkatan produktivitas di beberapa daerah. Para petani tampaknya memperluas lahan untuk mengimbangi hasil panen yang menurun, sambil mulai menggunakan varietas yang lebih tahan panas dan kekeringan.

Proyeksi hingga 2050 memperkirakan bahwa produksi jagung dan padi akan meningkat, baik karena perluasan area maupun peningkatan teknik bercocok tanam. Sementara sorgum cenderung stabil, tidak turun tapi juga tidak meningkat.

Namun, peneliti memperingatkan bahwa peningkatan ini tidak akan cukup bila suhu terus naik tanpa henti. Adaptasi petani perlu didukung kebijakan yang kuat dari pemerintah dan organisasi internasional.

Ketahanan yang Perlu Diperkuat

Peneliti menekankan pentingnya memperdalam studi tentang strategi ketahanan (resilience strategies) yang digunakan petani. Dalam konteks Afrika Barat, ketahanan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga pengetahuan lokal dan komunitas yang saling mendukung.

Banyak petani Benin mengandalkan sistem rotasi tanaman, menanam pohon pelindung di ladang, atau berbagi benih tahan kekeringan antar desa. Semua ini terbukti membantu menjaga produktivitas saat musim ekstrem.

Namun, tanpa dukungan kebijakan yang memadai (seperti akses ke kredit, pupuk, dan infrastruktur irigasi) adaptasi ini tidak akan cukup. Pemerintah Benin dan mitra internasional perlu memastikan bahwa petani kecil tidak tertinggal dalam upaya adaptasi terhadap iklim.

Pelajaran untuk Dunia

Meski fokus penelitian ini adalah Benin, pesannya berlaku global. Sebagian besar negara berkembang menghadapi tantangan serupa: ketergantungan tinggi pada pertanian berbasis hujan, rendahnya akses ke teknologi, dan lemahnya sistem perlindungan sosial untuk petani kecil.

Perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tapi krisis ekonomi dan kemanusiaan. Jika negara seperti Benin tidak mampu menyesuaikan diri, dampaknya bisa terasa jauh di luar Afrika berupa naiknya harga pangan global, migrasi iklim, dan ketidakstabilan sosial.

Di sisi lain, kemampuan petani Benin beradaptasi juga memberi pelajaran berharga: manusia punya kapasitas luar biasa untuk bertahan, selama ada dukungan yang tepat.

Menatap 2050 dengan Realisme dan Harapan

Menjelang tahun 2050, pertanian dunia akan menghadapi tekanan besar: populasi meningkat, permintaan pangan naik, dan iklim terus berubah. Namun, studi ini mengingatkan kita bahwa adaptasi adalah proses dinamis, bukan satu langkah ajaib.

Prediksi dinamika luas panen, hasil, dan total produksi jagung, padi, serta sorgum di Benin yang diprediksi meningkat secara signifikan hingga tahun 2050.

Bagi Benin, kuncinya ada pada inovasi yang berpadu dengan kearifan lokal menggabungkan teknologi modern seperti sistem peringatan dini cuaca dengan praktik tradisional yang sudah teruji.

Jika pemerintah, ilmuwan, dan petani bekerja bersama, masa depan pangan Benin masih bisa diselamatkan. Sebab di balik angka dan grafik statistik, ada manusia yang setiap hari menatap langit, berharap hujan datang tepat waktu.

Penelitian Dossa dan timnya bukan sekadar laporan ilmiah tentang angka suhu dan curah hujan. Ini adalah cerita tentang ketahanan manusia di tengah krisis global. Benin menjadi cermin bagi banyak negara lain, bahwa perubahan iklim memang tak terelakkan, tapi dampaknya bisa dikurangi bila sains, kebijakan, dan ketekunan manusia berjalan seiring.

Baca juga artikel tentang: Peñico: Kota Perdagangan 3.500 Tahun Lalu yang Hancur oleh Perubahan Iklim

REFERENSI:

Dossa, Kossivi Fabrice dkk. 2025. Projecting climate change impacts on Benin’s cereal production by 2050: a SARIMA and PLS-SEM analysis of FAO data. Climate 13 (1), 19.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top