Di tahun-tahun awal kehidupan, otak manusia mengalami masa perkembangan yang sangat cepat dan luar biasa. Bayangkan saja—setiap detik, lebih dari satu juta sambungan baru terbentuk antara sel-sel saraf di otak. Sambungan-sambungan ini, yang disebut sinaps, adalah jalur penting yang memungkinkan otak memproses informasi, menyimpan ingatan, dan mengatur perilaku.
Masa awal ini dikenal sebagai periode emas perkembangan otak, karena apa yang dipelajari dan dialami anak akan membentuk dasar untuk berbagai kemampuan penting di kemudian hari, seperti berpikir logis, belajar bahasa, serta kemampuan sosial dan emosional. Oleh karena itu, stimulasi yang tepat dan lingkungan yang mendukung sangatlah penting selama masa ini.
Menariknya, pada usia sekitar 6 tahun, ukuran otak anak sudah hampir menyamai ukuran otak orang dewasa—yakni sekitar 90 persen. Ini menunjukkan betapa cepatnya pertumbuhan dan pembentukan struktur otak terjadi di usia dini, dan betapa pentingnya masa kanak-kanak dalam membentuk pondasi perkembangan kognitif dan emosional seumur hidup.
Seiring bertambahnya usia, otak manusia juga mengalami perubahan, sama seperti tubuh kita yang menua. Di usia 30-an hingga 40-an, proses alami penyusutan otak secara perlahan mulai terjadi. Ini adalah bagian normal dari penuaan, mirip seperti munculnya keriput di kulit atau rambut yang mulai beruban. Ketika memasuki usia 60-an, penyusutan ini biasanya berlangsung lebih cepat.
Penyusutan otak bukan hanya tentang ukuran, tetapi juga berkaitan dengan menurunnya jumlah dan efisiensi sambungan antar sel saraf. Akibatnya, kemampuan kognitif kita—yakni kemampuan berpikir jernih, mengingat informasi, berkonsentrasi, serta memproses dan memahami berbagai hal—dapat ikut menurun. Hal ini tidak berarti kita tidak bisa belajar hal baru atau beradaptasi. Otak tetap memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyesuaikan diri, sebuah proses yang disebut plastisitas otak.
Namun, perubahan fisik yang terjadi seiring usia ini dapat membuat proses belajar menjadi lebih lambat, daya ingat jangka pendek berkurang, atau membuat kita perlu waktu lebih lama dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan otak dengan gaya hidup sehat, stimulasi mental, dan hubungan sosial yang positif menjadi sangat penting di usia dewasa dan lanjut usia.
Baca juga artikel tentang: Lupa dan Otak Manusia: Ketika Memori Menolak untuk Bertahan
Seiring bertambahnya usia, beberapa perubahan dalam otak manusia biasanya terjadi. Berikut adalah beberapa perubahan yang sering dikutip dari Medical News Today:
Massa Otak: Pada usia sekitar 60 hingga 70 tahun, otak mulai mengalami penyusutan, khususnya di area lobus frontal dan hipokampus. Kedua area ini sangat penting untuk fungsi kognitif tingkat tinggi, seperti berpikir, membuat keputusan, dan memori baru. Penyusutan di area ini berhubungan dengan penurunan kemampuan berpikir dan memproses informasi.
Kepadatan Kortikal: Kepadatan kortikal mengacu pada penipisan lapisan luar otak yang beralur, yang terjadi karena penurunan jumlah koneksi antar sel saraf (sinaps). Dengan semakin sedikitnya koneksi ini, kemampuan otak dalam memproses informasi bisa menjadi lebih lambat, yang berpengaruh pada pemrosesan kognitif.
Materi Putih: Materi putih terdiri dari serabut saraf yang dilapisi mielin (lapisan pelindung) yang berfungsi untuk menghantarkan sinyal antar sel otak. Seiring bertambahnya usia, mielin ini dapat menyusut, yang menyebabkan pemrosesan informasi di otak menjadi lebih lambat dan fungsi kognitif berkurang.
Sistem Neurotransmitter: Neurotransmitter adalah zat kimia yang membantu mengirimkan sinyal antar sel saraf. Seiring usia, otak menghasilkan lebih sedikit neurotransmitter seperti dopamin, asetilkolin, serotonin, dan norepinefrin. Penurunan aktivitas neurotransmitter ini dapat berkontribusi pada penurunan kemampuan kognitif, memori, serta peningkatan kecenderungan depresi.
Dengan perubahan-perubahan ini, orang dewasa yang lebih tua mungkin mengalami tantangan memori, seperti kesulitan mengingat nama atau kata, penurunan perhatian, atau kesulitan dalam melakukan beberapa tugas sekaligus.
Banyak orang dewasa yang lebih tua sering merasa cemas tentang penurunan memori mereka, terutama karena adanya kaitan antara gangguan memori dengan penyakit Alzheimer. Namun, penting untuk diketahui bahwa gangguan memori bukan bagian dari proses penuaan yang normal.
Walaupun beberapa penelitian menunjukkan bahwa sekitar sepertiga orang dewasa yang lebih tua mengalami kesulitan dengan ingatan deklaratif (yaitu ingatan tentang fakta atau peristiwa yang disimpan dan dapat diingat), penelitian lain menunjukkan bahwa sekitar seperlima orang yang berusia 70 tahun memiliki kemampuan kognitif yang sama baiknya dengan orang berusia 20 tahun saat melakukan tes memori.
Baca juga artikel tentang: Mempelajari Cara Kerja Otak Melalui Konsep Representasi Mental dan Mental Representation Block
REFERENSI:
Filip, Pavel dkk. 2025. Different Grey Matter Microstructural Patterns in Cognitively Healthy Versus Typical Ageing Healthy Versus Typical Brain Ageing. NMR in Biomedicine 38 (1), e5305.
Pelc, Corri. 2025. At which ages might interventions for cognitive decline be the most effective?. Medical News Today: https://www.medicalnewstoday.com/articles/aging-window-interventions-cognitive-decline-most-effective diakses pada tanggal 7 April 2025.
Shichkova, Polina dkk. 2025. Breakdown and repair of metabolism in the aging brain. Frontiers in Science 3, 1441297.

