Lebah dikenal sebagai pahlawan kecil dunia pertanian. Tanpa mereka, banyak tanaman buah dan sayur tidak akan berbuah. Namun, di balik peran penting mereka sebagai penyerbuk, lebah juga menghadapi ancaman serius dari pestisida, zat kimia yang digunakan untuk melindungi tanaman dari hama.
Sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Amerika Serikat mengungkap fakta menarik sekaligus mengkhawatirkan: tidak semua jenis lebah memiliki daya tahan yang sama terhadap pestisida modern. Bahkan, perbedaan jenis kelamin pada lebah juga memengaruhi tingkat ketahanannya terhadap racun.
Baca juga artikel tentang: Makanan yang Perlu Dihindari Saat Diet: Perspektif Ilmu Farmasi dan Nutrisi
Lebah Bukan Satu Jenis
Ketika mendengar kata “lebah”, kebanyakan orang langsung membayangkan lebah madu (Apis mellifera), yang hidup berkoloni dan menghasilkan madu. Padahal, dunia lebah jauh lebih beragam.
Salah satu kelompok penting yang mulai mendapat perhatian ilmuwan adalah mason bees (Osmiа spp.), yaitu lebah soliter yang tidak hidup dalam sarang besar seperti lebah madu. Mereka bersarang di terowongan kecil di tanah atau kayu, dan sangat efisien dalam menyerbuki tanaman buah-buahan seperti apel, ceri, dan almond.
“Lebah madu selama ini digunakan sebagai perwakilan untuk menguji keamanan pestisida terhadap penyerbuk,” tulis para peneliti. “Namun, lebah jenis lain, seperti Osmia, bisa jadi jauh lebih rentan.”
Inilah yang mendorong tim peneliti melakukan uji toksisitas dua pestisida modern terhadap empat jenis lebah: Apis mellifera (lebah madu) dan tiga jenis lebah mason Osmia lignaria, Osmia cornifrons, dan Osmia californica.
Pestisida Generasi Baru yang Tak Sepenuhnya Aman
Kedua pestisida yang diuji dalam penelitian ini adalah flupyradifurone dan sulfoxaflor. Keduanya dikenal sebagai “pestisida generasi baru” yang dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida lama seperti neonicotinoid, karena dirancang agar lebih cepat terurai di alam.
Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Pestisida ini tetap bekerja dengan cara menyerang sistem saraf serangga, membuat mereka lumpuh dan akhirnya mati. Dan meskipun dosisnya rendah, paparan jangka pendek pun bisa memengaruhi perilaku dan kemampuan penyerbukan lebah.
Untuk menguji efeknya, para peneliti memberikan dosis terukur flupyradifurone dan sulfoxaflor secara oral pada masing-masing jenis lebah, lalu memantau tingkat kelangsungan hidup mereka selama empat hari.
Lebah Madu Lebih Tangguh dari Rekan Soliternya
Hasilnya mengejutkan. Lebah madu ternyata merupakan yang paling tahan terhadap racun, sedangkan beberapa jenis lebah mason jauh lebih sensitif.
Dalam pengamatan, Osmia lignaria dan Osmia californica menunjukkan tingkat kematian paling tinggi setelah terpapar pestisida, sementara Osmia cornifrons sedikit lebih tahan, tetapi masih lebih lemah dibandingkan lebah madu.
“Pestisida yang tampak aman bagi lebah madu bisa berbahaya bagi spesies lebah lain,” kata para peneliti. “Itu sebabnya penting untuk meninjau kembali standar penilaian risiko pestisida yang selama ini hanya berfokus pada satu jenis lebah.”
Artinya, kebijakan yang selama ini didasarkan pada uji coba terhadap lebah madu belum tentu melindungi seluruh populasi penyerbuk di alam.
Beda Jenis Kelamin, Beda Daya Tahan
Selain perbedaan antarspesies, penelitian ini juga menemukan hal menarik lainnya: lebah jantan dan betina merespons racun secara berbeda.
Pada lebah mason, betina terbukti lebih sensitif terhadap pestisida dibandingkan jantan. Hal ini mungkin disebabkan oleh ukuran tubuh, metabolisme, atau peran ekologis yang berbeda. Lebah betina biasanya lebih aktif mencari makanan dan membangun sarang, sehingga lebih sering terpapar pestisida dari bunga atau tanah.
Kondisi ini berbahaya karena jika lebah betina banyak yang mati, populasi lebah bisa menurun drastis. Tanpa betina yang bertelur dan merawat larva, koloni atau populasi lokal akan runtuh dengan cepat.
Dampak Besar bagi Ekosistem dan Pertanian
Temuan ini memiliki konsekuensi besar bagi dunia pertanian dan konservasi. Selama ini, banyak kebun buah di Amerika dan negara lain mengandalkan kombinasi antara lebah madu dan lebah mason untuk mendapatkan hasil panen optimal.
Lebah mason terkenal efisien karena mereka memiliki “pollen fidelity” tinggi. Artinya, mereka cenderung mengunjungi bunga dari jenis tanaman yang sama berulang kali. Ini membuat penyerbukan lebih efektif dibandingkan lebah madu yang lebih “generalist”.
Namun jika pestisida tertentu lebih mematikan bagi lebah mason, keseimbangan sistem penyerbukan bisa terganggu. Hasilnya, produksi buah bisa menurun, dan petani harus bekerja lebih keras untuk menjaga hasil panen tetap stabil.
“Keragaman lebah adalah asuransi alam bagi pertanian kita,” tulis peneliti utama, Olivia Kline. “Kehilangan salah satu jenis bisa mengancam stabilitas ekosistem pertanian secara keseluruhan.”

Mengapa Studi Ini Penting Sekali
Penelitian ini menyoroti pentingnya memperluas uji keamanan pestisida ke lebih banyak spesies lebah, bukan hanya lebah madu. Saat ini, regulasi internasional seperti di Uni Eropa dan Amerika Serikat masih menggunakan lebah madu sebagai model utama untuk menilai dampak pestisida.
Padahal, dunia memiliki lebih dari 20.000 spesies lebah dengan perilaku, ukuran, dan habitat yang sangat beragam. Sebagian hidup soliter, sebagian lagi bersarang di tanah, kayu, atau batu. Semua memiliki peran unik dalam menjaga keseimbangan alam dan ketersediaan pangan.
Dengan mengetahui variasi sensitivitas antarspesies dan antarjenis kelamin, para ilmuwan berharap dapat merancang strategi perlindungan yang lebih inklusif dan akurat.
Panggilan untuk Tindakan: Melindungi Lebah di Era Kimia
Hasil penelitian ini adalah peringatan halus bagi kita semua: bahkan pestisida yang diklaim “aman bagi lebah” belum tentu benar-benar aman untuk semua lebah.
Langkah-langkah seperti menanam lebih banyak tanaman liar, membatasi penyemprotan pestisida pada jam lebah aktif, dan mengembangkan formulasi pestisida yang lebih selektif bisa menjadi solusi jangka pendek. Dalam jangka panjang, dibutuhkan pendekatan ekologis yang memadukan pertanian produktif dengan perlindungan biodiversitas.
Lebah bukan hanya penghasil madu, tetapi juga penopang rantai makanan manusia. Tanpa mereka, bunga tidak akan menjadi buah, dan hasil panen dunia bisa menurun drastis.
Penelitian dari Olivia Kline dan timnya membuka mata kita bahwa di dunia serangga kecil ini, perbedaan spesies dan jenis kelamin bisa menentukan hidup dan mati.
Lebah madu mungkin lebih tangguh, tetapi lebah mason seperti Osmia lignaria atau Osmia californica jauh lebih rentan. Jika kita tidak berhati-hati, pestisida yang kita anggap aman dapat memusnahkan pahlawan penyerbuk yang selama ini bekerja tanpa pamrih di kebun dan hutan.
Sains telah memberi tahu kita satu hal penting: melindungi lebah berarti melindungi masa depan pangan kita sendiri.
Baca juga artikel tentang: Makanan Apa yang Sebaiknya Tidak Dikonsumsi Bersama Statin? Tinjauan Farmasi dan Nutrisi
REFERENSI:
Kline, Olivia dkk. 2025. Toxicity responses of different bee species to flupyradifurone and sulfoxaflor insecticides reveal species and sex-based variations. Science of The Total Environment 964, 178264.

