Jangan Asal Simpan Buku! Ini Dia Dampak Jika Menyimpannya Sembarangan

Tumpukan Buku Lama
Bagikan Artikel ini di:

Hayo siapa yang suka mengoleksi buku? Pernahkan kalian melihat bahwa semakin lama, buku yang kalian simpan akan berubah warna menjadi kuning? Para pengoleksi buku pasti merasakan hal ini deh. Kira-kira mengapa ya hal itu bisa terjadi?

Ternyata menurut salah seorang professor kimia dari University of South Carolina, Susan Richardson, peristiwa berubahnya warna tersebut disebabkan oleh peristiwa oksidasi [2].

Kamu tahu kan kertas terbuat dari apa? Ya, kertas terbuat dari batang pohon. Sementara itu, batang pohon sendiri tersusun dari berbagai molekul, diantaranya adalah [Mohon maaf artikel terpotong]

Artikel dapat dibaca di Majalah Warstek Edisi #4 > Download Majalah Warstek (KLIK)

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Trend Fashion Berkelanjutan : Kain Berbahan Dasar Susu Sapi

Bagikan Artikel ini di:

Susu sapi merupakan minuman pelengkap kebutuhan gizi manusia yang banyak diolah menjadi produk lain seperti keju dan yoghurt. Anda pasti belum tahu bahwa susu sapi ternyata dapat dimanfaatkan lebih luas lagi, yaitu sebagai bahan dasar serat kain. Seorang mikrobiolog sekaligus desainer baju asal Jerman, Anke Domaske, berhasil membuat kain dengan bahan dasar susu sapi. Susu sapi yang didapatkan untuk produksi kain tersebut diperoleh dari susu yang tidak lolos uji kelayakan konsumsi di industri susu. Di Jerman, setiap tahunnya terdapat kurang lebih 2 ton susu yang tidak lulus uji kelayakan konsumsi dan dibuang begitu saja karena belum bisa dimanfaatkan. Qmilch, perusahaan yang dibangun Anke Domaske, membantu pemanfaatan susu sapi yang tereliminasi dari uji kelayakan konsumsi menjadi produk yang layak pakai.

Serat Kasein dari Susu Sapi www.ippinka.com

Serat yang didapatkan dari susu sapi termasuk dalam serat kasein. Serat jenis ini sebenarnya telah digunakan dalam industri pakaian di Amerika dan Eropa sejak tahun 1930-an. Pasca Perang Dunia II, serat kasein dipakai untuk pengganti serat wol dan dikenal sebagai serat ramah lingkungan. Serat kasein yang diproduksi Qmilch untuk menjadi kain diproses dengan menggunakan bahan-bahan alami dengan bahan campuran kimia berbahaya yang relatif rendah. Anke yakin bahwa kain yang berbahan dasar serat kasein memiliki banyak kelebihan khususnya bagi masyarakat yang memiliki gaya hidup berkelanjutan. Masyarakat yang memiliki gaya hidup berkelanjutan ini cenderung berpikir untuk berbelanja barang-barang yang diproduksi tanpa menghasilkan limbah berbahaya dan menggunakan bahan-bahan alami pada prosesnya.

Keunggulan Kain Berbahan Dasar Serat Kasein

Kain dari Serat Kasein

Produksi kain dari serat kasein ini terbilang efektif, karena tidak menggunakan banyak energi ataupun campuran air. Susu sapi yang diperoleh Anke sudah dalam wujud bubuk, sehingga hanya perlu memasukkannya ke mesin produksi, dan menambahkan campuran lainnya seperti air dan pewarna. Menurut Anke, untuk pembuatan 1 kilogram kain berbahan serat kasein hanya memerlukan paling banyak 2 liter air dan pemanasan hingga suhu 80o C. Proses produksinya bahkan hanya membutuhkan waktu 5 menit dengan limbah yang sangat sedikit. Industri tekstil seperti ini selain ramah lingkungan, juga menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.

Kain yang dihasilkan dapat menyerap warna lebih baik, bahkan dapat diwarnai langsung saat proses pembuatan. Permukaan dari serat kasein yang lembut dapat mencegah timbulnya alergi pada kulit. Serat kain yang dibuat dengan kelembaban rendah bisa mencegah pertumbuhan bakteri-bakteri penyebab penyakit seperti Eschericia coli dan Staphyllococcus aureus.

Baju dari Serat Kasein sustainingworld.com

Walaupun berbahan dasar susu sapi, bukan berarti kain dari serat kasein ini tidak dapat dicuci. Kain tersebut dapat dicuci seperti pakaian pada umumnya, sekalipun menggunakan mesin cuci. Keunggulan lainnya, kain tersebut sudah lulus uji ketahanan api dan juga dapat melindungi kita dari sinar UV ketika dipakai. Anke menjelaskan, kain tersebut cocok digunakan pada beberapa industri seperti industri otomotif, teknologi medis, dan aksesoris rumah. Bagaimana? Apa Sahabat Warstek tertarik untuk mencoba pakaian yang berbahan dasar susu sapi tersebut?

 

Sumber :

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Kupas Tuntas Ampas Tebu (Baggase)

Bagikan Artikel ini di:

Tebu ialah suatu tanaman jenis rumput-rumputan, termasuk kelas Monocotyledonae, ordo Glumiflorae, keluarga Gramineae dengan nama ilmiah Saccharum officinarum L. Terdapat lima spesies tebu, yaitu Saccharum spontaneum (glagah), Saccharum sinensis (tebu Cina), Saccharumbarberry (tebu India), Saccharum robustum (tebu Irian) dan Saccharum officinarum (tebu kunyah) (Sastrowijoyo, 1998). Tebu merupakan salah satu jenis tanaman yang hanya dapat ditanam di daerah yang memiliki iklim tropis. Sifat morfologi tebu diantaranya bentuk batang konis, susunan antar ruas berbuku, dengan penampang melintang agak pipih, warna batang hijau kekuningan, batang memiliki lapisan lilin tipis, bentuk buku ruas konis terbalik dengan 3-4 baris mata akar, warna daun hijau kekuningan, lebar daun 4-6 cm, daun melengkung kurang dari ½ panjang daun.

Luas areal tanaman tebu di Indonesia mencapai 344 ribu hektar dengan kontribusi utama adalah di Jawa Timur (43,29%), Jawa Tengah (10,07%), Jawa Barat (5,87%), dan Lampung (25,71%). Pada lima tahun terakhir, areal tebu Indonesia secara keseluruhan mengalami stagnasi pada kisaran sekitar 340 ribu hektar (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007) seluruh perkebunan tebu yang ada di Indonesia, 50% di antaranya adalah perkebunan rakyat, 30% perkebunan swasta, dan hanya 20% perkebunan negara. Pada tahun 2004 produksi gula Indonesia mencapai 2.051.000 ton hablur (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007).

Gambar 1. Ampas Tebu (Baggase)

Ampas tebu atau lazimnya disebut bagas, adalah hasil samping dari proses ekstraksi (pemerahan) cairan tebu.Kebutuhan energi di pabrik gula dapat dipenuhi oleh sebagian ampas dari gilingan akhir. Sebagai bahan bakar ketel jumlah ampas dari stasiun gilingan adalah sekitar 30 % berat tebu dengan kadar air sekitar 50 %. Berdasarkan bahan kering, ampas tebu adalah terdiri dari unsur C (carbon) 47 %, H (Hydrogen) 6,5 %, O (Oxygen) 44 % dan abu (Ash)2,5 %. Menurut rumus Pritzelwitz (Hugot, 1986) tiap kilogram ampas dengan kandungan gula sekitar 2,5 % akan memiliki kalor sebesar 1825 kkal.

Kelebihan ampas (bagasse) tebu dapat membawa masalah bagi pabrik gula, ampas bersifat bulky (meruah) sehingga untuk menyimpannya perlu area yang luas. Ampas mudah terbakar karena di dalamnya terkandung air, gula, serat dan mikroba, sehingga bila tertumpuk akan terfermentasi dan melepaskan panas. Terjadinya kasus kebakaran ampas di beberapa pabrik gula diduga akibat proses tersebut. Ampas tebu selain dijadikan sebagai bahan bakar ketel di beberapa pabrik gula mencoba mengatasi kelebihan ampas dengan membakarnya secara berlebihan (inefisien).

Dari satu pabrik dihasilkan ampas tebu sekitar 35 – 40% dari berat tebu yang digiling (Penebar Swadaya,1992). Sedangkan Menurut Mui (1996) bagas tebu yang dihasilkan dari produksi gula jumlahnya 30% dari tebu yang diolah, dan menurut Gandana (1982), bagas tebu yang dihasilkan dari produksi gula jumlahnya 31,34% dari tebu yang digiling. Husin (2007) menambahkan, berdasarkan data dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) ampas tebu yang dihasilkan sebanyak 32% dari berat tebu giling. Namun, sebanyak 60% dari ampas tebu tersebut dimanfaatkan oleh pabrik gula sebagai bahan bakar, bahan baku untuk kertas, bahan baku industri kampas rem, industri jamur, dan lain-lain. Oleh karena itu diperkirakan sebanyak 45% dari ampas tebu tersebut belum dimanfaatkan (Husin, 2007).

DAFTAR PUSTAKA

  • Aulia, Willy. 2010. “Pengaruh ukuran partikel ampas tebu sebagai baha penyerap asam lemak tak jenuh (asam oleat, asam linoleat, Asam lonolenat) dan minyak pelikan dalam minyak jelantah tahu. Other Thesis, Fakultas FMIPA., Universitas Andalas.
  • Darmawan S. 2006. Pembuatan Minyak Kemiri dan Pemurniannya dengan Arang Aktif dan Bentonit. Jurnal Penelitian Hasil Hutan24:413-423.
  • Djatmiko B, S Ketaren. 1985. Pemurnian Minyak. Bogor: Agroindustri Press.
  • Fessenden RJ., 1996. Organic Chemistry. 2nd Edition. Willard Grant Press/ PWS Publisher, Massachusetts, USA.
  • Freedman, B., Pryde, EH., Mounts, TL., 1984. Variable Affecting the Yields of Fatty Esters From Transesterification Vegetable Olis. J Am Oil Chem Soc 61:1638-1643.
  • Heyne, K., 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Terjemahan Badan Peneltian dan Pengembangan Kehutanan. Koperasi Karyawan Departemen Kehutanan. Vol 3. Jakarta.
  • Ketaren, S., 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI pRess. Jakarta.
  • Kirk, RE dan Othmer, D.F., 1982. Encyclopedia of Chemical Technology, vol 8-9 third edition, John Wiley and Sons, New York.
  • Kusuma, I.G.B.W., 2003,” Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah dan Pengujian terhadap Prestasi Kerja Mesin Diesel”, Poros, volume 6 no 4 2003, hal 227-234
  • Ma, Fangrui dan Milford A. Hanna, (1999), “Biodiesel Production : A review”, ELSEVIER.
  • Ozgul S, Turkay S., 2002. Vegetables Affecting the Yields of Methyl ester Derived from in situ Esterification of Rice Bran oil. J Am Oil Chem. 79:611-614.
  • SNI.2006.SM 07 182-2006. Biodiesel. Badan Standardisasi Nasional
  • Sudradjat, R., Setiawan, D.,2004, Laporan hasil penelitian pembuatan biodisel dari tanaman jarak pagar (Lanjutan). Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor. Tidak diterbitkan.
  • Widiono, B., 1995, “ Alkoholisis Minyak Biji Jarak dalam reaktor Kolom Berpulsa secara Sinambung Ditinjau Dari Segi Kinetika”, Tesis diajukan kepada Fakultas Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta.
  • Wijayanti, Ria 2009.”Arang Aktif dari Ampas Tebu sebagai Adsorben pada Pemurnia Minyak Goreng Bekas’. Departemen Kimia, FMIPA,, Institut Pertanian Bogor.

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: