Jangan Asal Simpan Buku! Ini Dia Dampak Jika Menyimpannya Sembarangan

Tumpukan Buku Lama

Hayo siapa yang suka mengoleksi buku? Pernahkan kalian melihat bahwa semakin lama, buku yang kalian simpan akan berubah warna menjadi kuning? Para pengoleksi buku pasti merasakan hal ini deh. Kira-kira mengapa ya hal itu bisa terjadi?

Ternyata menurut salah seorang professor kimia dari University of South Carolina, Susan Richardson, peristiwa berubahnya warna tersebut disebabkan oleh peristiwa oksidasi [2]. >>> 

Baca Selengkapnya

Trend Fashion Berkelanjutan : Kain Berbahan Dasar Susu Sapi

Trend Fashion Berkelanjutan : Kain Berbahan Dasar Susu Sapi

Susu sapi merupakan minuman pelengkap kebutuhan gizi manusia yang banyak diolah menjadi produk lain seperti keju dan yoghurt. Anda pasti belum tahu bahwa susu sapi ternyata dapat dimanfaatkan lebih luas lagi, yaitu sebagai bahan dasar serat kain. Seorang mikrobiolog sekaligus desainer baju asal Jerman, Anke Domaske, berhasil membuat kain dengan bahan dasar susu sapi. Susu sapi yang didapatkan untuk produksi kain tersebut diperoleh dari susu yang tidak lolos uji kelayakan konsumsi di industri susu. Di Jerman, setiap tahunnya terdapat kurang lebih 2 ton susu yang tidak lulus uji kelayakan konsumsi dan dibuang begitu saja karena belum bisa dimanfaatkan. Qmilch, perusahaan yang dibangun Anke Domaske, membantu pemanfaatan susu sapi yang tereliminasi dari uji kelayakan konsumsi menjadi produk yang layak pakai. >>> 

Baca Selengkapnya

B-GUIDING (Business Guide and Branding) : Inovasi Cerdas Tingkatkan Kualitas dan Daya Saing UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Untuk Ekonomi Indonesia Lebih Baik

Oleh : Sri Wahyuni

Indonesia, negara beribu pulau dengan berjuta kekayaan alam terkandung di dalamnya. Menjadi salah satu target investasi terdepan yang sangat dipertimbangkan, sorotan dunia perekonomian yang menjanjikan. Beragam suku budaya dan kekhasan daerah, menciptakan ragam cara dan ciri mata pencaharian untuk kehidupan di kalangan masyarakatnya. Menduduki posisi pertama dalam urutan negara favorit investor asing di ASEAN berdasarkan survei yang dilakukan oleh Japan Bank of International Coorperation[1], mengindikasikan bahwa Indonesia berpotensi menjadi negara dengan perekonomian  paling maju di dunia. >>> 

Baca Selengkapnya

Bangun Industri Galangan Kapal di Indonesia, Bangunkan Raksasa Tidur

Bangun Industri Galangan Kapal di Indonesia, Bangunkan Raksasa Tidur

Sebagai sebuah negara maritim, Indonesia memiliki potensi transportasi laut yang sangat besar. Kapal-kapal besar sampai tradisional tidak hanya menjadi moda transportasi, tetapi juga berperan sebagai pemersatu NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Namun industri maritim kita tergolong tertinggal dari negara-negara lain, termasuk tertinggal dari negara yang bukan negara kepulauan [1]. Oleh karena itu, pemerintah sangat mendukung industri galangan kapal yang menyokong kebutuhan transportasi laut dengan perhatian yang sangat tinggi, dari gagasan poros maritim dan tol laut, pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) bagi industri perkapalan, hingga dengan pesanan Kementerian Perhubungan yang memesan 188 unit kapal senilai Rp. 11,8 triliun secara multi years sejak 2015 hingga 2017 [2][3]. Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong tumbuhnya industri perkapalan secara merata di Indonesia.Industri galangan kapal Indonesia dengan perputaran uang untuk transportasi laut sebesar Rp. 50,7 triliun per tahun, seharusnya menjadi galangan yang tangguh, modern, dan sumber devisa Indonesia. Angka sebesar itu akan lebih besar lagi apabila potensi laut yang berupa kekayaan perikanan, sumber daya alam dan pariwisata laut; jumlah penduduk yang lebih dari 200 juta jiwa; posisi strategis Indonesia di antara dua benua, dua samudra serta lalu lintas perdagangan dunia diberdayakan secara optimal [4]. Total investasi di sektor industri kapal ini mencapai 1.426 juta US Dollar (setara dengan 14,26 triliun rupiah) dengan menyerap tenaga kerja sebesar 35.000 orang [5]. >>> 

Baca Selengkapnya

Status LDR Antara Riset dengan Industri

Risetkita.id – Kolaborasi antara riset anak negeri dengan dunia industri masih jauh dari kata optimal. Bila diibaratkan seperti dua orang kekasih yang jiwanya menyatu namun terpisah ruang dan waktu (meminjam istilah yang dipakai oleh muda-mudi, hubungan ini disebut dengan Long Distance Relationship/LDR), akibatnya pasangan tersebut kurang bisa merasakan relationship goals secara optimal. Padahal kerjasama antara peneliti dan industri sangat perlu dilakukan demi meningkatkan daya saing bangsa dan mewujudkan negara maju. Bila kita melihat data ditahun 2015 yang diterbitkan oleh LIPI, riset yang dimanfaatkan oleh industri hanya sebesar 0,26% (jumlah riset yang dipublikasikan pada tahun 2015 sebesar 35.314 sedangkan yang termanfaatkan hanya 93). Dari 93 riset tersebut, 85 riset dilakukan oleh LIPI [1]. Kolaborasi juga mempengaruhi proses pendanaan. Saat ini 80% anggaran riset di Indonesia berasal dari APBN, sedangkan di negara-negara maju yang terjadi adalah hal sebaliknya yakni 80% pendanaan riset berasal dari industri [2]. >>> 

Baca Selengkapnya