SpaceX Sukses Meluncurkan Set Terakhir Satelit Generasi Terbaru Iridium

SpaceX Sukses Meluncurkan Set Terakhir Satelit Generasi Terbaru Iridium
Roket Falcon 9 dengan muatan 10 satelit Iridium NEXT sesaat setelah meluncur pada hari Jumat, 11 Januari 2018 (Sumber: SpaceX)

Jumat, 11 Januari 2019, SpaceX sukses meluncurkan 10 satelit terakhir dari konstelasi satelit (sekumpulan satelit yang saling bekerja sama) Iridium NEXT. Peluncuran dilakukan menggunakan roket peluncur Falcon 9 dari lokasi peluncuran SpaceX di Pangkalan Udara Vandenberg, California.

Tentang Iridium

Iridium merupakan perusahaan yang bekerja dalam bidang penyedia jasa komunikasi via satelit. Iridium memiliki konstelasi satelit berjumlah 66 satelit operasional dan beberapa satelit cadangan. Konstelasi satelit tersebut berada di ketinggian orbit setinggi 781 km dengan kemiringan orbit (inklinasi) sebesar 86,4°.

Mengapa butuh satelit sebanyak itu?

Konstelasi satelit Iridium berbasis di orbit Bumi rendah. Bila dibandingkan dengan satelit di orbit geostasioner (orbit setinggi 36.000 km), orbit Bumi rendah jelas berbeda. Sementara sebuah satelit geostasioner mampu menjangkau 42% permukaan Bumi, satelit orbit rendah hanya mampu menjangkau <10% permukaan Bumi karena ketinggiannya yang relatif rendah. Selain itu, pergerakan satelit di orbit Bumi rendah lebih cepat dibanding satelit geostasioner, pergerakan relatif terhadap permukaan Bumi. Akibat dari hal ini, permukaan Bumi yang dapat dijangkau satelit terus berubah seiring satelit tersebut mengorbit.

Perbandingan orbit geostasioner (GEO) dan orbit Bumi rendah (LEO). Orbit satelit Iridium adalah orbit LEO. (Sumber: rfwireless-world.com)

Oleh karena itu, agar dapat menjangkau 100% permukaan Bumi secara kontinu, konstelasi Iridium memerlukan puluhan satelit. Cara kerjanya adalah apabila sebuah satelit menjauh dari suatu lokasi (titik A misalnya), maka satelit lain akan menggantikan satelit tersebut sebelum tenggelam di horizon titik A. Teknik ini memungkinkan Iridium untuk menjangkau seluruh permukaan Bumi, termasuk kutub utara dan kutub selatan.

Ilustrasi kontelasi satelit Iridium (Sumber : Researchgate.net)

Peluncuran konstelasi awal satelit Iridium yang terdiri dari satelit Iridium Block 1 pertama kali dilakukan pada Mei 1997. Sejak saat itu, Iridium telah menyediakan jasa telekomunikasi via satelit seperti telepon satelit dan tracking kapal laut. Di Indonesia, Iridium digunakan sebagai komunikasi saat terjadi bencana, komunikasi kapal laut, pelacakan pesawat terbang, dan fungsi-fungsi lainnya.

Karena usia satelit Iridium Block 1 yang cukup tua dan kebutuhan yang semakin meningkat seiring dengan berkembangnya zaman, Iridium mulai mengganti konstelasi satelit mereka. Program pergantian satelit ini dilakukan dengan cara meluncurkan satelit Iridium NEXT yang lebih canggih, menempatkannya di orbit operasional, dan melakukan deorbit (menjatuhkan satelit dari orbit) terhadap satelit Iridium Block 1 lama.

Satelit baru Iridium NEXT mampu bekerja lebih baik daripada satelit Iridium Block 1 lama. Keunggulan tersebut diantaranya adalah mampu menunjang bandwidth yang lebih besar, melayani konsumen dengan lebih cepat, dan keunggulan-keunggulan lainnya. Perbandingan tersebut ditunjukkan oleh tabel berikut:

Iridium  Block 1 Iridium NEXT
Menunjang telekomunikasi suara via satelit dengan kecepatan 2,4 Kbps Menunjang telekomunikasi suara via satelit dengan kecepatan 2,4 Kbps hingga 4,8 Kbps
Mampu menunjang Transmitter Data L-Band hingga kecepatan 2,4 Kbps Mampu menunjang Transmitter Data L-Band dengan kecepatan 88 Kbps
Hanya melayani produk lama Dapat melayani produk lama dan produk baru (produk yang dibangun menggunakan sistem Iridium NEXT)

 

Proses persiapan peluncuran 10 satelit Iridium NEXT. Foto diatas adalah sepuluh satelit Iridium NEXT yang telah dijadikan satu disamping adapter satelit. (Sumber : Iridium)

Sejumlah 81 satelit Iridium NEXT dibangun melalui kontrak dengan perusahaan Thales Alenia Space. Pada tahun 2010, Iridium menandatangani kontrak dengan SpaceX untuk meluncurkan 70 satelit menggunakan roket Falcon 9. Sementara itu, 2 satelit lain direncanakan meluncur menggunakan roket Dnepr milik Rusia.

Namun karena berbagai masalah yang dialami pihak Iridium, mereka memindahkan seluruh peluncuran Dnepr ke SpaceX Falcon 9. Karena hal ini, Iridium mengubah rencana konfigurasi konstelasi mereka menjadi 75 satelit di orbit (66 operasional dan 9 cadangan) dari yang awalnya hanya berjumlah 72 satelit (66 operasional dan 6 cadangan). Sisa satelit yang ada disimpan di darat sebagai cadangan.

Proses peluncuran konstelasi Iridium NEXT

Peluncuran perdana Iridium NEXT dilaksanakan pada bulan Januari 2017, dilanjutkan dengan peluncuran kedua, ketiga, dan keempat. Pada tahun 2018, SpaceX meluncurkan misi Iridium kelima, keenam, dan ketujuh, dengan peluncuran keenam hanya membawa lima satelit Iridium NEXT dan satelit sekunder GRACE-FO milik NASA. Tahun 2019 (tepatnya Jumat kemarin, 11 Januari 2019), SpaceX berhasil menyelesaikan kontrak dengan Iridium ditandai dengan peluncuran misi kedelapan Iridium NEXT.

Peluncuran kedelapan Iridium NEXT (misi Iridium-8) telah berjalan mulus. Roket Falcon 9 lepas landas pukul 07:31 waktu setempat (22:31 WIB), dengan hitung mundur akhir dipimpin langsung oleh CEO Iridium Communication, Matt Desch. Tahapan pertama roket berhasil mendarat di kapal tanpa awak, atau biasa disebut dengan droneship. Sepuluh satelit Iridium NEXT berhasil dilepaskan dari badan tahapan kedua Falcon 9 sekitar 1 jam setelah peluncuran.

Roket Falcon 9 berhasil meluncurkan 10 satelit Iridium NEXT

Pada misi Iridium-8 tersebut, SpaceX menggunakan tahapan pertama yang sebelumnya telah digunakan pada misi peluncuran satelit Telstar 18 VANTAGE, tahun lalu. Tahapan pertama ini juga berhasil mendarat di droneship “Just Read the Instructions” yang telah bersiaga di lautan Pasifik sehari sebelumnya. Kapal Just Read the Instructions akan tiba di pelabuhan Los Angeles dua hari selepas peluncuran dengan tahapan pertama Falcon 9 yang siap untuk diluncurkan kembali. Penggunaan kembali tahapan pertama dari roket dan mendaratkannya di droneship adalah salah satu langkah SpaceX untuk mencapai tujuannya, yaitu mempermudah akses ke luar angkasa dengan mengirit biaya.

Kapal tanpa awak Just Read the Instructions di Pelabuhan Los Angeles bersama tahapan roket Falcon 9 yang berhasil mendarat selepas peluncuran 10 satelit Iridium NEXT (Sumber: SpaceX)

Tayangan ulang peluncuran (dari beberapa menit sebelum peluncuran hingga pelepasan satelit terakhir) dapat anda lihat disini:

Referensi:

  • https://www.iridium.com/network/globalnetwork/ diakses pada 11 Januari 2019
  • https://www.iridium.com/network/iridium-next/ diakses pada 11 Januari 2019
  • https://www.spacex.com/webcast diakses pada 11 Januari 2019
  • https://en.m.wikipedia.org/wiki/Iridium_satellite_constellation diakses pada 12 Januari 2019
  • https://www.rap.ucar.edu/~djohnson/satellite/coverage.html diakses pada 14 Januari 2019
  • https://www.iridium.com/products/iridium-9522b/ diakses pada 14 Januari 2019
  • https://www.nasaspaceflight.com/2019/01/iridium-boss-reflects-satellite-constellation-launch/ diakses pada 14 Januari 2019

Dasar Komunikasi Fiber Optik dan FTTH (Fiber To The Home)

Dasar Komunikasi Fiber Optik dan FTTH (Fiber To The Home)

Perkembangan zaman menuntut keterbukaan informasi dan tentunya, komunikasi menjadi salah satu aspek penting yang menandai majunya suatu peradaban. Dewasa ini, masyarakat dimudahkan untuk berkomunikasi, bahkan dengan orang di belahan bumi yang lain. Sejak ditemukan telegram, radio, dan jaringan seluler, komunikasi semakin mudah dan cepat.

Salah satu teknologi yang sedang dikembangkan sebagai media komunikasi adalah teknologi fiber optik. Fiber optik populer untuk  sektor pengguna tetap seperti perkantoran, bangunan tinggi, sekolah, atau rumah seperti produk terbaru Telkom Indonesia yaitu IndiHome atau produk First Media. Fiber optik sendiri merupakan kabel dari material silika (kaca) yang mampu menyalurkan cahaya. Jadi, alih-alih dikirimkan melalui arus listrik di kawat tembaga seperti pada jaringan telepon, data dikirimkan dalam bentuk cahaya yang merambat melalui kaca fiber optik. Bahkan selain sebagai media menyalurkan informasi, fiber optik juga dapat digunakan sebagai sensor dengan berbagai aplikasi. Salah satunya adalah fiber optik sebagai sensor pernapasan.

Keuntungan memilih teknologi fiber optik ini diantaranya adalah kecepatan yang tinggi dan kapasitas lebih besar, baca juga  Keunggulan Serat Optik – Perevolusi Dunia Telekomunikasi. Bayangkan bila data dikirimkan dengan kecepatan cahaya! Tidak ada di alam semesta ini yang melebihi kecepatan cahaya. Tentunya informasi dapat mencapai tujuan lebih dulu jika dibandingkan dengan kecepatan rambat arus listrik di kabel tembaga.

Kapasitas atau bandwidth dari jaringan ini juga besar karena dalam satu kabel, beberapa rangkaian data dapat dikirim dalam waktu yang bersamaan, menggunakan teknik WDM (Wavelength Division Multiplexing). Dengan berbagai penelitian yang dilakukan saat ini, tidak menutup kemungkinan kecepatan komunikasi dengan fiber optik akan terus meningkat, apalagi adanya teknik DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing) [5].

Baca juga Teknik Multipleksing Optik: OTDM vs OFDM/OWDM

Seperti halnya segala bentuk komunikasi, diperlukan komponen pengirim (transmitter), jalur komunikasi, dan penerima (receiver) dalam membentuk suatu sistem komunikasi fiber optik. Selain itu, diperlukan beberapa peralatan yang dapat dikategorikan dalam komponen aktif dan pasif [1]. Komponen aktif adalah alat yang membutuhkan sumber listrik untuk beroperasi. Contohnya adalah laser, amplifier, modulator, attenuator, dan switch. Sedangkan komponen pasif adalah alat yang tidak membutuhkan sumber energi lain dan hanya bekerja menyalurkan sinyal cahaya. Contohnya adalah fiber optik, konektor, splices, filter optik, dan coupler.

Drawing1

Gambar 1. Susunan dasar komunikasi optik

Struktur dasar sistem komunikasi fiber optik ditunjukkan pada gambar 1. Terdapat tiga aspek penting yaitu transmitter, jalur komunikasi, dan receiver.  Masing-masing akan dijelaskan dalam uraian berikut :

  • Transmitter

Transmitter terdiri atas beberapa bagian. Bagian utamanya adalah sumber cahaya yang dibantu oleh komponen multiplexer, modulator, coupler, dll. Sumber cahaya yang digunakan dalam bidang komunikasi adalah laser dioda atau LED. Keduanya dibedakan berdasarkan mekanisme pembangkitan cahaya yang terjadi.

Multiplexer adalah suatu komponen yang memungkinkan peningkatan kapasitas fiber optik melalui sistem TDM (Time Division Multiplexing) dan WDM (Wavelength Division Multiplexing). Pada TDM, informasi dari banyak sumber dikirimkan berurutan ke satu tujuan, sedangkan pada WDM, sinyal tidak dikirimkan satu persatu melainkan tiap sumber memiliki panjang gelombang yang berbeda, sehingga dapat dikirimkan bersamaan dalam satu fiber. Hal ini menyebabkan kapasitas pada jaringan fiber optik WDM jauh lebih besar. [1]

2a

Gambar 2. Konsep dasar WDM [1]

Komponen transmitter berikutnya adalah modulator [1]. Sinyal elektrik diubah kedalam sinyal optik melalui proses modulasi. Modulasi adalah bagaimana sebuah sinyal informasi diterjemahkan ke sinyal lain yang bekerja sebagai pembawa (carrier).

  •  Jalur komunikasi

Sebuah jaringan tidak mungkin hanya terdiri dari sebuah kabel lurus melainkan terdapat sambungan ataupun percabangan dari fiber optik. Beberapa jenis sambungan pada fiber optik adalah coupler, konektor, dan splice. Coupler adalah lensa mikro pada ujung fiber optik yang berfungsi memfokuskan cahaya dari transmitter agar terpandu dalam fiber secara maksimal. Konektor adalah sambungan antara ujung fiber optik dengan ujung lain yang sifatnya bisa dipasang dan dilepas berulang kali.

3.png

Gambar 3. Konektor SC (a)  dan ST (b) [2]

Berbeda dengan konektor, sambungan berupa splice sebagian bersifat permanen. Sambungan splice adalah hubungan langsung antar dua ujung fiber yang diperoleh melalui fusion atau mechanical splicing [1]. Pada metode fusion splicing, ujung fiber optik dipanaskan hingga lebur dan disambungkan secara permanen. Pada mechanical splicing, ujung fiber ditempelkan satu sama lain dan diikat dengan clamp atau tempat khusus.

Gambar 4. Perbedaan Mechanical splice dan fusion splice. (Sumber: www.fo4sale.com)
  • Receiver

Optical Receiver berfungsi untuk menerima sinyal cahaya yang disalurkan fiber optik lalu merubahnya kembali kedalam bentuk sinyal elektrik. Receiver terdiri dari beberapa komponen yaitu coupler, untuk memfokuskan sinyal yang diterima menuju photodetector, photodetector sebagai penerima sinyal, dan demodulator untuk mengubah sinyal kembali ke sinyal elektronik. Dua jenis photodetector yang memenuhi syarat tersebut adalah PIN Photodioda dan Avalanche photodioda (APD).

 Fiber To The Home (FTTH)

Fiber To The Home (FTTH) adalah sistem penyediaan akses jaringan fiber optik dimana titik konversi optik berada di rumah pelanggan [3].  Titik konversi optik merupakan ujung jaringan fiber optik di sisi client yang berfungsi sebagai tempat konversi sinyal optik ke sinyal elektrik sebelum diakses oleh berbagai perangkat. FTTH adalah satu dari berbagai alternatif jaringan FTTX. Istilah yang lainnya adalah Fiber To The Building (FTTB), Fiber To The Curb (FTTC), Fiber To The Tower (FTTT), atau Fiber To The Zone (FTTZ).

Arsitektur jaringan komunikasi fiber optik yang digunakan dalam FTTH adalah Passive Optical Network (PON). PON merupakan jaringan point-to-multipoint yang tidak memiliki komponen aktif selain di sisi Central Office (CO) dan sisi pelanggan / user. Dengan kata lain, sinyal optik dikirimkan hanya melalui komponen pasif yaitu fiber optik, splices, dan splitter/combiner. PON merupakan teknologi terbaru setelah Point-to-point fiber connection, dimana tiap client memiliki jalur fiber optik pribadi untuk menuju CO, dan Active Optical Network (AON), yaitu jaringan yang membutuhkan komponen aktif berupa switch elektronik sebagai penyalur informasi. [4]

Sejak ditemukan oleh British Telecom pada 1980-an, PON terus dikembangkan karena memiliki fleksibilitas tinggi. Terbukti dari munculnya berbagai skema jaringan baru yang berakar dari PON, yaitu GE-PON, Broadband PON (BPON), GPON [5], XGPON, dan Ethernet PON (EPON) [6]. Pengembangan PON juga dilakukan pada cara sharing data yang dilakukan, yaitu TDM-PON, WDM-PON, dan Hybrid-PON [4]. Topologi dari PON juga dapat divariasikan seperti jaringan pada umunya menggunakan topologi tree, bus, atau ring.

Seperti halnya sistem komunikasi optik yang dibahas sebelumnya, PON memiliki komponen utama yang disebut dengan Optical Line Terminal (OLT), Optical Network Unit (ONU) / Optical Network Termination (ONT), dan Optical Distribution Network (ODN) [3]. Konfigurasi umum FTTH berbasis PON ditunjukkan oleh gambar berikut :

ftth1.jpg

Gambar 5. Konfigurasi umum FTTH [3]

  • OLT adalah ujung fiber optik pada bagian CO yang menghubungkan jaringan ke backbone Metro Ethernet (ME) atau ke jaringan yang lain.
  • ONU atau ONT adalah ujung fiber optik pada sisi pelanggan, dimana terdapat titik konversi optik
  • Daerah Akses Fiber (DAF) atau bagian ODN yang dibagi menjadi 4 segmen berdasarkan jenis kabel fiber optik yang digunakan, yaitu:
  • Segmen 1 : kabel feeder menghubungkan Optical Distribution Frame (ODF) dan Optical Distribution Cabinet (ODC)
  • Segmen 2 : kabel distribusi dan Optical Distribution Point (ODP). ODC dan ODP merupakan lokasi sambungan (splice) dan splitter
  • Segmen 3 : kabel drop dan Optical Terminal Premises (OTP)
  • Segmen 4 : kabel indoor yang diletakkan dalam rumah dan Optical Indoor Outlet (Roset)

Skema jaringn FTTH sedang digemari karena walau sedikit mahal, teknologi fiber optik akan mampu bertahan lama dan merupakan investasi yang menjanjikan. Tidak hanya untuk akses internet, saat ini televisi kabel (IPTV) dan Wireless (Wi-Fi) juga mulai diintegrasikan kedalam komunikasi fiber optik. Walau masih hanya ada di kota besar, kita berharap seluruh indonesia dapat menikmati teknologi Ini kedepannya.

Baca juga:

Referensi :

[1] G. Keiser, Optical Fiber Communications, 4th edition, Singapore: McGraw-Hill International Edition, 2010.
[2] N. Massa, “Fiber Optic Telecommunication,” in SPIE Fundamental of Photonics, Society of Photo-optical Instrumentation Engineers, 2000, pp. 293-374.
[3] G. D. Hantoro and Karyada, Fiber Optik : Teknologi, Material, Instalasi, dan Implementasi, Bandung: Informatika, 2015.
[4] J. Chen, “Design, Analysis and Simulation of Optical Access and Wide-area Networks,” Doctoral Thesis : KTH School of Information and Communication Technology, Stockholm, 2009.
[5] N. Kumar, “Improved Performance Analysis of Gigabit Passive Optical Networks,” Optik, vol. 125, p. 1837– 1840, 2014.
[6] S. M. Gillani, M. A. Khan and M. K. Shahid, “Reach Extendibility of Passive Optical Network Technologies,” Optical Switching and Networking, vol. 18, p. 211–221, 2015.

 

Mengenal komunikasi pada bakteri

Mengenal komunikasi pada bakteri

Selalu menarik dan menyenangkan bila kita bisa mencari tahu dan mempelajari suatu bahasa baru yang memudahkan kita berinteraksi satu sama lain. Melalui interaksi dengan sesama, maka akan memungkinkan pertukaran informasi tentang berbagai hal menarik. Interaksi  menggunakan bahasa antarvirus dengan meninggalkan sejumlah jejak kimiawi telah Warstek bahas pada kesempatan yang lalu. Sempat kami sebutkan pula bahwa bakteri yang hidup miliaran tahun lebih awal dari manusia ini dapat berkomunikasi menggunakan bahasa antar sesamanya melalui sebuah mekanisme yang dinamakan “Quorum Sensing”. Agar lebih memahami apa yang juga terjadi dalam keseharian bakteri ketika berkomunikasi, mari cari tahu bersama Warstek lebih lanjut.

Mekanisme komunikasi pada bakteri pertama kali ditemukan oleh dua peneliti dari Universitas Harvard, yaitu J. Woodland Hastings bersama mahasiswa postdoc-nya Kenneth Nealson pada akhir tahun 1960-an ketika mereka mempelajari tentang Bioluminesensi pada bakteri gram negatif Vibrio fischeri yang hidup di laut. Bioluminesensi sendiri adalah suatu kemampuan organisme dalam memancarkan cahaya, seperti pada kunang-kunang, yang dihasilkan melalui suatu proses reaksi kimia. Studi bioluminesensi pada bakteri tersebut kemudian mengarah pada temuan mekanisme komunikasi pada bakteri. Hastings pertama kali menyebut proses komunikasi yang terjadi melalui pertukaran sinyal kimiawi antar bakteri tersebut dengan istilah Autoinduction, kemudian lebih dikenal dengan istilah Quorum sensing yang diperkenalkan oleh Dr. Steven Winans di tahun 1994.

Pembentukan dan pengaturan komponen protein menjadi kunci untuk menjelaskan terjadinya fenomena quorum sensing. Mekanisme quorum sensing bakteri ini merupakan serangkaian jalur pengambilan-keputusan, baik dalam menentukan suatu respon atas kondisi lingkungan, berkomunikasi, mengolah informasi hingga menentukan jalur regulasi yang dapat terjadi setelah bakteri mencapai jumlah populasi tertentu. “Bahasa” yang digunakan pada kelompok bakteri ini melibatkan pembentukan dan pelepasan suatu komponen zat kimia spesifik yang disebut sebagai auto inducer. Komponen zat kimia spesifik yang dihasilkan sangat bervariasi bergantung pada jenis bakteri, untuk dikeluarkan ke lingkungan sehingga sinyal komponen dapat ditangkap oleh bakteri lain yang sejenis yang berada di sekitar. Bakteri dapat mengenali satu sama lain termasuk jumlahnya berdasarkan jenis dan konsentrasi dari auto inducer ini. Jika jenis dan konsentrasi suatu auto inducer sudah mencukupi, maka mereka akan melakukan tindakan tertentu.

Lebih detail, mekanisme komunikasi antar bakteri ini  lebih rumit dibanding virus,  karena quorum sensing pada bakteri setidaknya terbagi menjadi dua mekanisme umum yang berbeda, yaitu quorum sensing pada bakteri gram negatif dan gram positif.

Gambar 1. Sirkuit Mekanisme Quorum Sensing [2]

Mekanisme secara umum pada bakteri gram negatif dan gram positif ditunjukkan pada gambar diatas. Pada bakteri gram negatif, komponen sinyal spesifik atau auto inducer  yang dihasilkan secara umum adalah acyl-homoserine (AHL). Pembentukan AHL ini diinisiasi oleh homolog Luxl dan LuxR. Mudahnya, Luxl dan LuxR ini adalah “bahasa” yang nantinya akan diproses untuk mendapat respon dari bakteri gram negatif lainnya. Bakteri yang diketahui melepaskan sinyal bahasa berupa komponen AHL antara lain: Vibrio fischeri, Agrobacterium tumefaciens, Erwinia carotovora dan Pseudomonas aeruginosa. Sementara pada bakteri gram positif, mereka berbahasa dengan menghasilkan peptida (protein dengan rantai pendek) yang bervariasi pula sebagai auto inducer atau Autoinducing Peptide (AIP). Peptida yang digunakan sebagai auto inducer pada quorum sensing bakteri gram positif disekresi dalam suatu pengangkut ATP Binding Cassette (ABC). Bakteri gram positif memanfaatkan dua komponen protein, yaitu protein untuk deteksi peptida auto inducer dan protein untuk fosforilasi/ defosforilasi. Bakteri yang diketahui melepaskan sinyal bahasa berupa komponen AIP antara lain: Bacillus substilis, Streptococcus pneumonia, Staphylococcus aureus dan Enterococcus faecalis.

Pemahaman mekanisme komunikasi melalui “bahasa antarbakteri” yang melibatkan beragamnya komponen protein yang dihasilkan dari beragamnya pula spesies bakteri ini menjadi penting, karena melalui quorum sensing jugalah bakteri yang bersifat patogen dapat menginisiasi timbulnya suatu penyakit pada manusia. Bonnie Bassler, seorang ahli biologi molekuler,  menyatakan dalam kuliah tamunya di TED Talk bahwa dengan memahami bahasa yang digunakan oleh bakteri dalam berinteraksi, para ilmuan bisa mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang bagaimana sel pada organisme multiseluler bisa berinteraksi, karena mekanisme quorum sensing juga ditemukan pada semut dan lebah. Lebih lanjut, dalam kaitannya dengan bidang penyakit menular, quorum sensing dapat membawa para ilmuan pada jawaban atas resistensi antibiotik pada bakteri yang saat ini banyak terjadi dengan dimungkinkannya pembuatan suatu anti-quorum sensing yang mampu menghambat komunikasi antarbakteri patogen dalam menginisiasi suatu penyakit. Disamping itu pula, menurut Dr. Bassler, alih-alih hanya membuat anti-quorum sensing, para ilmuan pun juga bisa membuat suatu pro-quorum sensing yang ditujukan untuk populasi bakteri yang bermanfaat untuk kesehatan manusia yang diharapkan dapat meningkatkan daya tahan tubuh manusia lebih baik.

Jadi, tertarikkah pembaca Warstek mempelajari ragam rumpun bahasa para Bakteri ini?

Baca juga: Virus berkomunikasi saat melakukan invasi

Sumber:

[1] Papenfort, K. & Bassler, B. Nature Reviews Microbiology 14, 2016, 576-588

[2] Taga, M. E & Bassler, B, pnas 100, 2003, 14549-14554

[3] Video Talk J. Woodland Hastings, Autoinduction: The Discovery of Quorum Sensing in Bacteria (diakses pada tanggal 06/ 03/ 2017)

[4] Vijayalakshmi, M. Quorum Sensing in Gram-negative and Gram-positive Bacterial Systems, Lecture note

 

[/um_loggedin]