2019 Menjadi Tahun Terpanas Kedua Sepanjang Empat Dekade

2019 Menjadi Tahun Terpanas Kedua Sepanjang Empat Dekade

Tahun 2019 tercatat dalam sejarah sebagai tahun terpanas kedua setelah tahun 2016. Fakta tersebut diungkapkan oleh NASA dan NOAA bersamaan dengan dirilisnya laporan mengenai kondisi iklim global tahun 2019.

Kenaikan Temperatur

Dengan menggunakan metode pemodelan iklim dan analisis statistik, para ilmuwan menemukan bahwa tahun 2019 memiliki nilai anomali suhu udara sebesar 0.95°C di atas rata-rata suhu abad ke-20. Anomali suhu udara adalah perbandingan suhu udara pada periode tertentu terhadap periode normal yang ditetapkan. Angka yang didapatkan melalui riset ini merupakan yang terbesar dalam sejarah pengukuran suhu global sejak tahun 1880 dan hanya terpaut 0.04°C lebih rendah dibandingkan rekor tahun terpanas pada tahun 2016.

Pada skala regional, negara-negara di Eropa Tengah, Asia, Australia, Afrika bagian selatan, Amerika Utara, dan Amerika Selatan bagian timur mengalami kenaikan suhu di atas rata-rata. Meksiko menjalani bulan Agustus paling panasnya pada tahun 2019 dengan nilai anomali suhu udara bulan itu sebesar 3.3°C. Amerika Selatan merasakan tahun 2019 sebagai tahun terpanas kedua dengan nilai anomali sebesar 1.24°C. Suhu udara di Chile menyentuh angka 40°C akibat efek dari gelombang panas yang melanda wilayah tersebut.

Di Perancis, suhu yang terjadi di 9 dari 12 bulan di tahun 2019 berada di atas rata-rata. Benua Afrika juga menobatkan 2019 sebagai tahun terpanas ke-3 dalam 110 tahun terakhir, setelah tahun 2016 dan 2010. Suhu di Israel pada tahun 2019 menyentuh angka 43-45°C. Sementara itu di Australia, suhu rata-rata tahun 2019 merupakan yang terpanas dalam sejarah mereka dengan suhu yang tercatat hingga 40°C.

Bagaimana dengan Indonesia?

Berdasarkan analisis anomali suhu udara rata-rata tahunan yang dilakukan oleh Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), 2019 juga tercatat sebagai tahun terpanas kedua di Indonesia. Dalam hal ini, BMKG mengambil rata-rata suhu suatu provinsi pada rentang waktu tahun 1981 hingga tahun 2010. Berdasarkan analisis tersebut, tahun 2019 memiliki nilai anomali sebesar 0.58°C atau hanya 0.22°C lebih kecil dibandingkan nilai anomali tahun 2016.

Pada laporan yang sama, diketahui pula bahwa 33 dari 34 provinsi di Indonesia memiliki nilai anomali suhu udara positif yang berarti terjadi kenaikan suhu terhadap acuan periode normal. Berdasarkan data tersebut, Provinsi Banten memegang rekor sebagai provinsi dengan nilai anomali suhu udara tertinggi pada tahun 2019 dengan angka 1.03°C. Sementara itu, Provinsi Bali tercatat mengalami anomali suhu udara sebesar -0.10°C. Itu artinya suhu udara rata-rata Bali berada pada angka 0.10°C dibawah rata-rata suhu periode normal.

Beda halnya dengan suhu udara, suhu permukaan laut Indonesia khususnya di pantai selatan Jawa dan Sumatera mengalami penurunan setidaknya 0.5°C pada periode Juni-November. Kondisi ini menyebabkan sulitnya pertumbuhan awan di Indonesia yang turut menjadi penyebab kemarau panjang di pertengahan tahun 2019.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Hal yang menarik dari kasus ini adalah fakta bahwa lima tahun terakhir adalah lima tahun terpanas dalam sejarah. Selain itu, peningkatan temperatur terjadi saat Matahari mencapai siklus minimum terendah dalam 100 tahun terakhir. Ditambah lagi tidak terjadinya El Nino yang sangat kuat di tahun 2019 (El Nino lemah terjadi di awal tahun 2019). Kondisi ini menandakan bahwa alam bukanlah penyebab utama kerusakan di Bumi.

Sejak tahun 1880, suhu udara di permukaan Bumi terus mengalami tren kenaikan hingga 2°C saat ini. Dilansir dari NASA, suhu yang yang diukur pada era pra-industri bahkan lebih panas sekitar 5.5°C daripada zaman es terakhir seiring dengan efek rumah kaca yang semakin parah. Hal tersebut diperparah dengan emisi gas CO2 yang terus meningkat akibat aktivitas perindustrian, penggunaan kendaraan bermotor, kebakaran hutan, dan lain sebagainya.

Jadi, akankah iklim di tahun 2020 ini semakin bersahabat dengan manusia atau justru manusia sendiri yang semakin tidak bersahabat?

Referensi:

  1. NOAA.gov. (2020, Januari). Global Climate Report – Annual 2019. Diakses pada 18 Januari 2019, dari https://www.ncdc.noaa.gov/sotc/global/201913
  2. NASA.gov. (2020, 15 Januari). NASA, NOAA Analyses Reveal 2019 Second Warmest Year on Record. Diakses pada 18 Januari 2020, dari https://www.nasa.gov/press-release/nasa-noaa-analyses-reveal-2019-second-warmest-year-on-record
  3. BMKG.go.id. Ekstrem Perubahan Iklim. Diakses pada 19 Januari 2020, dari https://www.bmkg.go.id/iklim/?p=ekstrem-perubahan-iklim
  4. ScientificAmerican.com. (2020, 15 Januari). Earth Had Its Second Warmest Year in Recorded History in 2019. Diakses pada 19 Januari 2020, dari https://blogs.scientificamerican.com/eye-of-the-storm/earth-had-its-second-warmest-year-in-recorded-history-in-2019

Cuaca Antariksa: Apa Pengaruhnya Terhadap Kehidupan di Bumi ?

Kita semua tentu pernah dihadapkan dengan cuaca buruk seperti hujan lebat, angin kencang, badai petir, dan lain sebagainya saat sedang beraktivitas. Peristiwa-peristiwa alam yang sering anda alami tersebut merupakan contoh dari cuaca yang berlangsung di atmosfer Bumi. Tapi pernahkah anda berpikir tentang cuaca dari luar angkasa yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar hujan lebat?

Apa yang dimaksud dengan cuaca antariksa?

Memangnya ada cuaca di luar angkasa? Ada. Cuaca di luar angkasa dapat disebut cuaca antariksa (space weather). Pengertian umum dari cuaca antariksa adalah kondisi di lingkungan sekitar lapisan magnetosfer, ionosfer, dan termosfer planet Bumi. Sama halnya seperti cuaca di atmosfer Bumi, cuaca antariksa juga sangat dipengaruhi oleh aktivitas Matahari yang secara terus menerus mengemisikan angin matahari, partikel, dan radiasi menuju lingkungan di sekitarnya, termasuk planet Bumi [1]. Tanpa kita sadari, aktivitas Matahari dapat menyebabkan berbagai dampak terhadap aktivitas di permukaan Bumi.

Baca Juga : Ilmuwan Mengonfirmasi bahwa Matahari akan Mengalami Kristalisasi Pada Fase Katai Putih

Ketika Matahari berevolusi saat ini, perubahan-perubahan yang terjadi pada medan magnetnya menyimpan energi yang sangat besar. Seringkali energi ini dilepaskan secara perlahan melalui hembusan angin Matahari atau dengan cara menaikkan suhu atmosfer Matahari itu sendiri. Namun dalam beberapa kondisi, sebagian energi yang tersimpan dilepaskan dalam intensitas yang besar melalui sebuah erupsi yang disebut suar Matahari, atau dapat juga berupa pelepasan massa lapisan korona yang disebut Coronal Mass Ejection atau disingkat CME. Suar Matahari merupakan letupan singkat yang memancarkan gelombang elektromagnetik berupa sinar-X beserta partikel berenergi tinggi menuju ruang antarplanet (interplanetary space) [1][2]. Sementara itu, CME adalah peristiwa ledakan kuat yang melontarkan medan magnet dan plasma korona menuju satu arah. Pada satu peristiwa CME, Matahari bisa melepaskan milyaran ton materinya menuju luar angkasa bebas. [3]

Wahana antariksa milik NASA dan ESA yag bernama Solar Heliospheric Observatory (SOHO) mengabadikan momen ketika Matahari menyemburkan CME pada tanggal 15 Maret 2013. (Foto : ESA & NASA/SOHO)
Dampak aktivitas Matahari terhadap kehidupan di planet Bumi

Apa jadinya bila lontaran massa CME atau suar Matahari mengarah tepat ke planet Bumi? Anda tentu sempat mendengar kabar atau isu mengenai badai geomagnetik beberapa bulan yang lalu di berbagai media televisi maupun elektronik. Badai geomagnetik merupakan dampak dari lontaran CME yang mengarah ke Bumi. Badai ini terjadi ketika aliran massa lontaran CME yang memiliki kecepatan rata-rata sekitar 600 hingga 900 km/detik menghantam medan magnetik Bumi dan menyebabkan turunnya kekuatan medan magnetik Bumi. CME juga mengakibatkan memanasnya lapisan ionosfer dan lapisan atas atmosfer yang bernama termosfer. [1][4]

Peningkatan temperatur lokal yang diakibatkan oleh badai geomagnetik dapat menyebabkan variasi kerapatan horizontal pada lapisan ionosfer yang berkibat pada perubahan jalur yang dilalui oleh sinyal radio GPS. Akibat dari hal tersebut, sistem navigasi yang digunakan di permukaan Bumi akan mengalami masalah berupa ketidakakuratan informasi yang diperoleh. Selain itu, badai geomagnetik juga berdampak pada pembangkit, jaringan listrik, dan sarana telekomunikasi. Satelit yang berada di orbit juga akan merasakan dampaknya karena atmosfer atas akan semakin menebal ketika terjadinya badai geomagnetik dan menghasilkan hambatan udara yang lebih besar. [3][4]

Dampak cuaca antariksa dalam catatan sejarah

Pada bulan Maret 1989, jutaan orang di Quebec mengalami kehilangan pasokan aliran listrik akibat badai geomagnetik yang terjadi saat itu. Beberapa transformator di New Jersey juga dilaporkan mengalami kerusakan parah. Peristiwa lain terjadi pada saat menjelang perayaan halloween pada tahun 2003 ketika badai geomagnetik memaksa pengalihan berbagai rute pesawat, kegagalan instrumen wahana antariksa, serta kegagalan sistem kelistrikan di Swedia. [1]

Tahun 1967 adalah tahun saat sengitnya perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet berada pada puncaknya. Situasi bertambah buruk saat itu ketika sebuah badai geomagnetik menyebabkan sistem komunikasi militer AS mengalami gangguan dan mereka mengira hal tersebut sebagai tindakan mengganggu yang dilakukan oleh Soviet. Komandan militer lantas mempersiapkan serangan senjata nuklir menuju Soviet. Beruntungnya, pengamat Matahari dari Komando Pertahanan Amerika Utara (NORAD) menginformasikan bahwa kegagalan sistem informasi militer yang terjadi bukanlah ulah dari Soviet, melainkan Matahari. [5]

Peristiwa yang cukup terkenal mengenai aktivitas Matahari adalah Carrington Event atau Peristiwa Carrington yang terjadi pada tahun 1859. Pada suatu pagi, astronom Richard Carrington mengamati aktivitas Matahari melalui sebuah observatorium pribadi. Ia mengamati kilatan terang yang hanya berlangsung beberapa saat kemudian padam. Beberapa jam kemudian, dampak dari kilatan itu mencapai permukaan Bumi. Jaringan telegraf di seluruh dunia mengalami gangguan, hingga terdapat laporan percikan api yang keluar dari mesin telegraf yang menyebabkan kertas-kertas terbakar. Interaksi antara lontaran massa CME dan medan magnetik Bumi saat itu menyebabkan Aurora Borealis terlihat hingga Cuba dan Honolulu, sementara Aurora Australis terlihat hingga Chile. Tanpa disadari oleh Carrington, kilatan yang diamatinya beberapa jam yang lalu merupakan badai Matahari terbesar yang tercatat dalam sejarah. [6]

Dampak CME di zaman serba modern

Peristiwa Carrington tidak menimbulkan kekacauan yang berarti saat itu, ketika teknologi belum secanggih sekarang. Masalah besar akan muncul bila badai geomagnetik seperti Peristiwa Carrington terulang di zaman serba modern ini, dimana sebagian besar aktivitas manusia bergantung pada pasokan listrik dan internet. Jika hal itu terjadi, sistem navigasi dan komunikasi berbasis satelit akan lumpuh, jaringan listrik padam, dan butuh waktu lama untuk memperbaiki kerusakan yang dihasilkan. Ambil contoh ketika jaringan listrik di Jakarta, Bandung, dan sekitarnya mengalami gangguan pada bulan Agustus silam. Aktivitas di gedung-gedung perkantoran, transportasi dan layanan publik menjadi terhambat. Meskipun hanya satu hari, dampak yang ditimbulkan sudah cukup berarti bagi masyarakat yang terdampak.

Lalu apa jadinya bila “mati listrik” seperti itu berlangsung di seluruh dunia selama berbulan-bulan lamanya? Faktanya, kekacauan seperti itu nyaris terjadi pada tahun 2012 ketika sebuah CME dilontarkan lurus menuju orbit Bumi namun Bumi berada di sisi lain dari lontaran CME. Mungkin terdengar biasa saja, namun berdasarkan paper berjudul On the probability of occurrence of extreme space weather events yang di-publish oleh fisikawan Peter RIley, Ia mengatakan bahwa terdapat peluang 12% bagi Bumi untuk berada di titik yang sama dengan arah lontaran CME dalam 10 tahun yang akan datang. [7]

Sebuah lontaran massa korona Matahari (CME) yang mengarah langsung ke orbit Bumi pada tahun 2012. Bumi berada di sisi lain orbitnya pada waktu itu sehingga dapat lolos dari CME (Foto: NASA)
Pemahaman manusia mengenai cuaca antariksa

Meskipun sebagian besar badai geomagnetik yang terjadi beberapa tahun terakhir merupakan badai tingkat rendah dan tidak sampai mengganggu kinerja satelit komunikasi dan jaringan kelistrikan di Bumi, namun bukan berarti badai geomagnetik tidak lagi mengancam. Lembaga-lembaga antariksa di dunia sudah menaruh perhatian akan pentingnya penelitian mengenai cuaca antariksa. Mereka memiliki berbagai observatorium di Bumi dan luar angkasa untuk mengamati aktivitas Matahari sehingga dapat diketahui kapan sebuah badai Matahari akan sampai di Bumi dan seberapa besar dampaknya. Penelitian seperti ini tentu sangat berguna di masa depan karena dampak dari CME pada aktivitas manusia cukup besar.

Referensi :

India Meluncurkan Wahana Antariksa Chandrayaan-2 Menuju Bulan

India Meluncurkan Wahana Antariksa Chandrayaan-2 Menuju Bulan

Lima puluh tahun setelah pendaratan bersejarah Apollo 11 di Bulan, India melanjutkan ambisi mereka dalam menjelajahi luar angkasa. Organisasi Penelitian Luar Angkasa India (ISRO) meluncurkan wahana antariksa mereka yang bernama Chandrayaan-2 menuju Bulan. Wahana antariksa tersebut menumpang pada roket GSLV Mark III yang diluncurkan dari Pusat Antariksa Satish Dawan, Sriharikota pada hari Senin, 22 Juli 2019 waktu setempat. [1]

Chandrayaan-2 merupakan lanjutan dari misi Chandrayaan-1 yang juga melakukan eksplorasi Bulan pada tahun 2008. Sementara Chandrayaan-2 berencana melakukan pendaratan di permukaan Bulan, Chandrayaan-1 hanya melakukan penelitian dari orbit Bulan. Meskipun demikian, data yang diperoleh dari misi Chandrayaan-1 sangat berharga bagi kesuksesan misi Chandrayaan-2.

Roket GSLV Mark III meluncur dari Pusat Antariksa Satish Dawan, India dengan wahana antariksa Chandrayaan-2 menuju Bulan
Roket GSLV Mark III meluncur dari Pusat Antariksa Satish Dawan, India dengan wahana antariksa Chandrayaan-2 menuju Bulan

Misi ini awalnya merupakan misi kerjasama antara India dan Rusia. Namun karena kendala finansial yang dihadapi oleh Badan Antariksa Rusia (Roscosmos), Rusia membatalkan kerjasama tersebut. Setelah pembatalan tersebut, India memutuskan untuk tetap menjalankan misi ini meskipun tanpa bantuan dari negara lain. [2]

Ketiga bagian Chandrayaan

Misi ini terdiri dari tiga wahana antariksa yang berbeda. Ketiga wahana antariksa tersebut adalah pengorbit (orbiter), pendarat (lander) yang bernama Vikram, dan sebuah rover kecil yang bernama Pragyan. Ketiga bagian dari Chandrayaan-2 tersebut diluncurkan dalam satu kesatuan sebelum akhirnya dipisahkan ketika sudah mencapai Bulan.

Proses persiapan peluncuran Chandrayaan-2. Terlihat lander Vikram (kiri atas) sedang dipindahkan menggunakan crane keatas orbiter (kanan)

Tugas dari orbiter adalah melakukan penelitian dari orbit Bulan setinggi 100 km. Orbiter membawa delapan muatan sains, yaitu:

  • Terrain Mapping Camera-2 (TMC-2), digunakan untuk memetakan permukaan Bulan dengan resolusi spasial hingga 5 m
  • Chandrayaan 2 Large Area Soft X-ray Spectrometer (CLASS), digunakan untuk mendeteksi keberadaan Magnesium, Aluminium, Silikon, Kalsium, Titanium, Besi, dan Sodium dengan cara mengukur sinar X-ray yang diemisikan permukaan Bulan
  • Solar X-ray Monitor (SXM), digunakan untuk mengukur spektrum X-ray yang diemisikan oleh Matahari dan koronanya untuk mendukung penelitian yang dilakukan oleh instrumen CLASS
  • Orbiter High Resolution Camera (OHRC), digunakan untuk melakukan penggambilan gambar lokasi pendaratan untuk memastikan bahwa lokasi pendaratan bebas dari bebatuan. Instrumen ini juga akan digunakan untuk keperluan penginderaan jarak jauh
  • Imaging IR Spectrometer (IIRS), untuk melakukan pemetaan global terhadap mineral dan air/hidroksil di permukaan Bulan, serta mengukur radiasi Matahari yang dipantulkan oleh permukaan Bulan
  • Dual Frequency Synthetic Aperture Radar (DFSAR), untuk pemetaan resolusi tinggi di wilayah kutub bulan, mengukur keberadaan es, serta memperkirakan ketebalan dan persebaran regolith
  • Chandrayaan 2 Atmospheric Composition Explorer 2 (CHACE 2), untuk meneliti atmosfer tipis Bulan
  • Dual Frequency Radio Science (DFRS), untuk mengukur kerapatan elektron di lapisan ionosfer Bulan

Selain melakukan berbagai penelitian, orbiter juga bertugas sebagai satelit komunikasi bagi lander dan rover di permukaan Bulan.

Baca juga: Bagaimana Satelit di Luar Angkasa Sana Berkomunikasi Dengan Pusat Kendali di Bumi

Sementara itu, lander “Vikram” memiliki tugas melakukan penelitian permukaan Bulan. Penelitian tersebut dilakukan setelah Vikram dilepaskan dari orbiter dan melakukan pendaratan di kutub selatan Bulan menggunakan 5 mesin yang menghasilkan dorongan sebesar 800 N per mesin.

Vikram memiliki 3 instrumen, yaitu:

  • Radio Anatomy of Moon Bound Hypersensitive ionosphere and Atmosphere (RAMBHA), untuk meneliti temperatur dan kerapatan elektron disekitar permukaan Bulan, serta mengukur kerapatan plasma ionosfer Bulan disekitar permukaan Bulan
  • Chandra’s Surface Thermo-physical Experiment (ChaSTE), untuk mengukur temperatur dan konduktivitas permukaan Bulan
  • Instrument for Lunar Seismic Activity (ILSA), merupakan sebuah seismometer yang digunakan untuk mengukur aktivitas seismik di permukaan Bulan

Vikram juga bertugas membawa rover Pragyan selama proses peluncuran dan pendaratan serta menunjang komunikasi antara rover dan pusat kendali di Bumi selama berjalannya misi.

Rover yang dimiliki oleh misi Chandrayaan-2 bernama Pragyan, yang berarti kebijaksanaan dalam bahasa Sansekerta. Rover dengan enam roda ini memiliki massa sebesar 27 kg dan mengandalkan panel surya sebagai sumber energi. Rover ini hanya memiliki dua instrumen sains, yaitu:

  • Alpha Particle X-ray Spectrometer (APXS), untuk meneliti komposisi permukaan Bulan dekat lokasi pendaratan. Instrumen ini bekerja dengan cara mengemisikan partikel alpha energi tinggi untuk mengetahui berbagai elemen seperti Sodium, Magnesium, Aluminium, Silika, Kalsium, Titanium, Besi, dan beberapa elemen lain seperti Strontium, Yttrium dan Zirkonium.
  • Laser Induced Breakdown Spectroscope (LIBS), untuk mengetahui elemen yang tersebar disekitar lokasi pendaratan. Cara kerja instrumen ini adalah dengan menembakkan laser ke berbagai lokasi kemudian mengukur radiasi yang diemisikan

Rover Pragyan hanya mampu bergerak dengan kecepatan 1cm/detik. Apabila tidak ada kendala yang berarti, rover Pragyan akan menjadi kendaraan bergerak pertama India di Bulan.

Rover Pragyan pada tempatnya didalam lander Vikram. Pragyan akan dilepaskan menuju permukaan Bulan menggunakan jalur landai seperti yang terlihat pada gambar

Perjalanan panjang Chandrayaan

Peluncuran Chandrayaan-2 dilakukan dengan menempatkan Chandrayaan di orbit berbentuk elips. Orbit tersebut direncanakan memiliki perigee (titik paling rendah dengan Bumi) sejauh 170 km dan apogee (titik terjauh dari Bumi) sejauh 39120 km. Meskipun demikian, ISRO mengatakan dalam sebuah konferensi pers pasca peluncuran bahwa apogee yang dicapai lebih tinggi 6000 km dari target yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh performa roket GSLV Mark III yang lebih baik dari yang diperkirakan. Dengan apogee yang lebih tinggi, Chandrayaan-2 akan menghabiskan lebih sedikit bahan bakar.

Baca juga: SpaceX Segera Hadirkan Internet Kecepatan Tinggi Via Satelit

Chandrayaan-2 akan mencapai Bulan dalam waktu 30 hari setelah peluncuran. Berbeda dengan misi Apollo yang hanya memerlukan waktu 3 hari, Chandrayaan memerlukan waktu yang lebih lama karena tidak melakukan perjalanan langsung menuju Bulan. Chandrayaan akan meninggikan orbitnya secara bertahap hingga mencapai Bulan. Cara ini juga dilakukan oleh lander Beresheet milik Israel untuk mencapai Bulan.

Setelah mencapai Bulan, Chandrayaan akan mengurangi kecepatannya untuk dapat mengorbit Bulan. Selama 13 hari berikutnya, Chandrayaan akan menurunkan orbitnya agar didapatkan orbit mengelilingi Bulan setinggi 100 km. Lander Vikram kemudian dilepaskan dari orbiter untuk memulai fase pendaratan. Vikram direncanakan sampai di kutun selatan Bulan pada tanggal 7 September 2019, 5 hari setelah pelepasan dari orbiter atau 48 hari setelah peluncuran. Setelah melakukan pendaratan, Vikram akan melepaskan rover Pragyan menuju permukaan Bulan.[4]

Vikram dan Pragyan didesain untuk bertahan selama satu hari Bulan (14 hari Bumi), sementara orbiter akan terus melanjutkan misinya selama 1 tahun Bumi. Apabila berhasil, misi ini akan menjadi misi eksplorasi Bulan kedua yang dilakukan India sekaligus menjadikan India negara keempat yang mendarat di Bulan.

Referensi:

  1. https://www.isro.gov.in/chandrayaan2-home-0 diakses pada 26 Juli 2019.
  2. https://www.nasaspaceflight.com/2019/07/india-moon-isro-launch-nations-first-lunar-landing-mission/ diakses pada 26 Juli 2019.
  3. https://www.isro.gov.in/chandrayaan2-payloads diakses pada 26 Juli 2019.
  4. https://www.isro.gov.in/chandrayaan2-mission diakses pada 26 Juli 2019.

Perusahaan Ini Berencana Memanggang Biji Kopi Menggunakan Sebuah Kapsul Luar Angkasa

Perusahaan Ini Berencana Memanggang Biji Kopi Menggunakan Sebuah Kapsul Luar Angkasa

Bosan dengan racikan kopi yang biasa-biasa saja? Perusahaan ini memiliki cara yang cukup ekstrem untuk memanggang biji kopi mereka, yaitu dengan memanggangnya didalam sebuah “meteor.”

Bukan meteor seperti yang anda bayangkan. Perusahaan bernama Space Roaster ini berencana memanggang biji kopi mereka menggunakan sebuah kapsul yang memasuki kembali atmosfer Bumi dari luar angkasa. Kalor yang dihasilkan dari tumbukan dengan partikel atmosfer Bumi akan digunakan untuk memanggang biji kopi.

Dikutip dari wawancara pendiri Space Roaster, Anders Cavallini dan Hatem Alkhafaji dengan majalah Room, mereka percaya bahwa dengan melakukan aktivitas memanggang kopi menggunakan teknologi antariksa akan meningkatkan kualitas produk dan mendorong masyarakat serta pengusaha untuk berpikir out-of-the-box.

Tujuan dari kegiatan perusahaan ini bukan hanya memanggang kopi dengan cara yang tak biasa, namun juga menginspirasi dan memperkenalkan teknologi antariksa ke khalayak ramai.

Mengutip Majalah Room, kapsul yang akan digunakan oleh Space Roaster akan memiliki volume sebesar 10 meter kubik. Kapsul yang memiliki massa 500 kg tersebut mampu mengangkut 300 kg biji kopi sekali proses “pemanggangan.”

Desain kapsul luar angkasa Space Roaster (sumber: Space Roaster)

Peluncuran pertama kapsul beserta kopi mereka saat ini dijadwalkan pada tahun 2020. Perusahaan tersebut saat ini tengah bernegosiasi dengan perusahaan Rocket Lab dan Blue Origin untuk meluncurkan kapsul kopi mereka.

Proses pengembangan teknologi tersebut akan dibagi menjadi dua tahap, dikutip dari wawancara pendiri Space Roaster dengan laman Space.com. Pertama, mereka akan meluncurkan teknologi mereka menuju jalur suborbital (lintasan parabolik yang akan jatuh kembali ke Bumi) untuk melakukan uji coba. Kedua, mereka akan meluncurkan Space Roaster Capsule (SRC) yang telah mereka kembangkan menuju orbit dan menjatuhkannya kembali ke atmosfer dengan sudut yang landai.

Kopi dari proses pemanggangan ini akan pertama kali dipasarkan di Dubai, yang mana merupakan markas mereka saat ini. Menurut perhitungan reporter Eric Berger dari situs berita Ars Technica, satu cup kopi akan memiliki harga $200 (sekitar Rp. 2.800.000). Perhitungan tersebut hanya berdasarkan harga kopi dan peluncuran. Biaya untuk desain dan pengembangan kapsul menjadikan harga tersebut menjadi $500 per cup (sekitar Rp. 7.025.000).

Saat ini, Space Roaster telah mengklaim bahwa mereka mempekerjakan 27 orang. Langkah nyata yang telah mereka lakukan sejauh ini hanyalah melakukan kampanye pre-sale di website mereka.

Referensi:

SpaceX Luncurkan 60 Satelit Penyedia Internet Starlink

SpaceX Luncurkan 60 Satelit Penyedia Internet Starlink

Perusahaan besutan bilyuner Elon Musk, SpaceX kembali membuat gebrakan dalam bidang teknologi. Perusahaan yang telah dikenal dalam bidang jasa peluncuran satelit tersebut, meluncurkan 60 satelit Starlink menuju orbit Bumi rendah pada tanggal 23 Mei 2019.

Tumpukan 60 satelit Starlink saat diluncurkan menuju orbit Bumi rendah (SpaceX)

Tentang Starlink

Proyek Starlink merupakan usaha SpaceX dalam menyajikan internet tanpa kabel yang dapat menjangkau setiap bagian di permukaan Bumi. Usaha ini dilakukan dengan cara menempatkan ribuan satelit kecil di orbit Bumi rendah yang dapat menunjang internet cepat dengan latensi lebih rendah dibandingkan satelit di orbit geostasioner maupun orbit medium (MEO).[1]

Masing-masing satelit Starlink memiliki desain antena tipis dan datar dengan satu bentangan panel surya di sisi sebaliknya, serta memiliki massa sebesar 227 kg per satelit. Berbeda dengan satelit pada umumnya, desain Starlink yang ramping memungkinkan puluhan satelit untuk ditumpuk dan diluncurkan bersamaan dalam satu roket yang akhirnya dapat menghemat biaya peluncuran.

Antena yang digunakan adalah empat susunan antena berfase dengan beberapa antena high-throughput spektrum Ku-band, Ka-band, serta V-band. Panel surya simpel yang hanya terdiri dari satu bentangan dapat meminimalisasi risiko kegagalan akibat desain yang kompleks. Apabila digabungkan, seluruh panel surya pada 60 satelit yang diluncurkan dapat menghasilkan daya listrik lebih besar daripada Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Starlink menggunakan sistem pendorong elektrik “Hall Effect” dengan propelan Kripton, sedikit berbeda dengan pendorong elektrik lain yang umumnya menggunakan Xenon. Sistem pendorong ini memungkinkan tiap satelit untuk menjaga slot orbitnya serta melakukan manuver perpindahan orbit apabila dibutuhkan.

Bersama sistem pendorong, Starlink juga memiliki pelacak objek di orbit yang dapat mendeteksi objek yang dianggap membahayakan. Apabila terdapat suatu objek yang berpotensi tabrakan, Starlink dapat melakukan manuver menghindar menggunakan sistem pendorongnya. Sistem pendorong Starlink juga dapat digunakan untuk menjatuhkannya kembali ke atmosfer Bumi diakhir usia pakainya.

Untuk perhitungan arah, posisi, dan orbit satelit, SpaceX menggunakan sistem yang diadopsi dari wahana antariksa Dragon yang bernama startracker. Sesuai namanya, startracker melacak bintang-bintang untuk mendapatkan informasi posisi dan orientasi satelit.[2]

Animasi satelit Starlink

Ribuan satelit yang saling berhubungan

Jaringan konstelasi Starlink direncanakan berada dalam 3 ketinggian orbit yang berbeda. Pada fase pertama, SpaceX akan meluncurkan 1584 satelit menuju orbit setinggi 550 km diatas permukaan Bumi. Orbit tersebut memiliki inklinasi sebesar 55° serta 40 bidang orbit yang berbeda dengan masing-masing bidang memiliki 66 satelit. Setelah itu, SpaceX akan mulai mengisi dua ketinggian orbit lainnya. Mereka akan mengisi 7518 satelit menuju orbit setinggi 340 km serta 2841 satelit untuk ketinggian 1200 km.[3]

Fase pertama membutuhkan 24 peluncuran dengan 60 satelit di tiap peluncuran untuk dapat mencapai jangkauan global, namun hanya membutuhkan 6 peluncuran untuk dapat menyajikan internet di Amerika Utara. SpaceX berencana melakukan satu hingga lima peluncuran Starlink lagi hingga akhir tahun ini.

Pengguna Starlink nantinya akan dapat mengirim informasi dalam bentuk sinyal radio menuju satelit di luar angkasa. Informasi yang didapat satelit akan dikirimkan ulang menuju satelit lain menggunakan komunikasi antar satelit berupa laser. Informasi tersebut akan dipancarkan ke penerima setelah informasi yang dikirimkan mencapai satelit yang berada diatas jangkauan penerima.

Sistem komunikasi antar satelit (intersat link) merupakan instrumen yang penting dalam bekerjanya jaringan Starlink. Meskipun demikian, CEO SpaceX Elon Musk mengonfirmasi bahwa satelit-satelit pertama Starlink tidak memiliki mekanisme intersat link. Sebagai gantinya, mereka membutuhkan antena di darat sebagai penghubung antar satelit.[4]

Dilansir dari Business Insider, Starlink mampu menyediakan internet dengan latensi yang lebih rendah dibandingkan fiber optic hingga 47% lebih cepat. Perlu diketahui, latensi adalah delay yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti jarak pengirim dengan penerima, bagaimana gelombang radio merambat melalui media jaringan, dsb. Semakin rendah latensi, maka semakin cepat internet dan informasi yang didapat semakin mendekati real-time.[5]

Setahun sebelumnya, SpaceX telah menguji teknologi yang serupa dengan Starlink pada dua satelit bernama Tintin A dan Tintin B. Pusat kendali mengklaim bahwa uji coba yang dilakukan menggunakan kedua satelit tersebut berhasil dilakukan, bahkan mereka sempat melakukan streaming video 4K dan bermain video game menggunakan satelit Tintin.

Satelit uji coba Tintin A dan Tintin B sebelum meluncur (SpaceX)

Sempat beredar kabar bahwa paket internet Starlink memiliki harga antara Rp. 140 ribu hingga Rp. 420 ribu. Meskipun demikian, angka tersebut belum dapat dipastikan mengingat perubahan desain dan jumlah satelit di orbit.

Rintangan dalam menyediakan internet cepat

Dengan ribuan satelit di tiga orbit yang berbeda, tentu muncul pertanyaan tentang bertambahnya sampah antariksa. Jumlah sampah antariksa yang berada di orbit Bumi saat ini telah menjadi sebuah kekhawatiran. Sampah antariksa dapat menabrak satelit-satelit lain hingga wahana antariksa berawak seperti ISS.

Meskipun demikian, SpaceX menganggap proyek mereka tidak akan menambah jumlah sampah antariksa di orbit Bumi. Setiap satelit didesain untuk melakukan manuver jatuh menuju atmosfer di akhir usia pakainya. SpaceX juga telah menurunkan orbit satelit dari rencana sebelumnya. Dengan perubahan tersebut, memungkinkan satelit yang kehilangan kendali untuk jatuh ke permukaan Bumi dalam 1-5 tahun.[1]

Ilustrasi jaringan satelit Starlink (SpaceX)

Interferensi dengan jaringan satelit lain juga sempat menjadi perbincangan. Dengan spektrum Ku-band yang digunakan oleh Starlink, dikhawatirkan dapat menginterferensi konstelasi satelit internet pesaingnya. Meskipun demikian, Komisi Telekomunikasi Amerika Serikat (FCC) menyanggah hal tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan lebih rendahnya orbit Starlink daripada rencana semula, sinyal yang digunakan tidak akan terlalu kuat hingga menginterferensi satelit lain.

Beberapa jam pasca peluncuran, beberapa pengamat langit dari Indonesia dan Belanda mengamati beberapa titik panjang melintas di langit mereka. Berdasarkan analisis awal dari pengamat penerbangan antariksa Amerika Serikat, Jonathan McDowell, benda tersebut adalah 60 satelit Starlink yang baru saja diluncurkan. Peristiwa tersebut menandakan bahwa satelit Starlink dapat memantulkan cahaya Matahari dengan baik sehingga terlihat bercahaya dari permukaan Bumi.[6][7]

Kenampakan satelit di langit sudah lama menjadi gangguan bagi para astronom dalam mengamati objek astronomis. Kini, mereka harus bersiap dengan ribuan cahaya yang dapat menghalangi pandangan mereka selama beberapa detik.

Perlombaan dalam menyajikan internet berbasis satelit

Tarif yang akan dipatok untuk paket internet global perusahaan SpaceX

Starlink bukanlah satu-satunya proyek internet berbasis satelit yang tengah dikembangkan saat ini.

OneWeb, sudah mulai meluncurkan satelit mereka pada bulan Februari yang lalu. Perusahaan tersebut juga berusaha menyediakan internet berbasis satelit dengan jaringan satelit berjumlah lebih dari 600 buah yang diletakkan di orbit setinggi 1200 km.

CEO Amazon Jeff Bezos juga berencana melakukan hal yang serupa. Beberapa bulan lalu, Ia mencetuskan proyek internet yang bernama Proyek Kuiper. Proyek tersebut berencana menempatkan 3236 satelit di orbit Bumi dibawah kendali Amazon.

Selain ketiga perusahaan tersebut, masih banyak proyek lain yang telah menunjukkan perkembangan.

COO SpaceX Gwynne Shotwell mengungkapkan bahwa mereka berinvestasi lebih dari 10 milyar dolar AS (14,4 triliun rupiah) untuk meluncurkan seluruh satelit Starlink menuju orbit. CEO SpaceX Elon Musk menambahkan dalam sebuah konferensi pers bahwa mereka dapat menghasilkan 30 hingga 50 milyar dolar AS per tahun dari proyek ini. [5]

Referensi:

  1. https://www.starlink.com diakses pada 26 Mei 2019
  2. http://www.spacex.com/sites/spacex/files/starlink_mission_press_kit.pdf diakses pada 26 Mei 2019
  3. https://www.nasaspaceflight.com/2019/05/first-starlink-mission-heaviest-payload-launch-spacex/ diakses pada 26 Mei 2019
  4. https://www.universetoday.com/140539/spacex-gives-more-details-on-how-their-starlink-internet-service-will-work-less-satellites-lower-orbit-shorter-transmission-times-shorter-lifespans/ diakses pada 26 Mei 2019
  5. https://www.businessinsider.com/spacex-starlink-satellite-internet-how-it-works-2019-5 diakses pada 26 Mei 2019
  6. https://youtu.be/ytUygPqjXEc diakses pada 26 Mei 2019
  7. https://twitter.com/LzOskha/status/1131898398313816064?s=20 diakses pada 26 Mei 2019