Dapatkah Belut Listrik Menjadi Sumber Tenaga Listrik?

Dapatkah Belut Listrik Menjadi Sumber Tenaga Listrik?

Belut listrik atau sidat listrik (Electrophorus electricus) adalah sejenis ikan air tawar yang biasa ditemukan di Sungai Amazon dan Sungai Orinoko serta daerah-daerah sekitarnya. Hewan tersebut bisa tumbuh dan mencapai panjang 2,5 meter (8,2 kaki) dan berat 20 kg (44 pound). Walaupun pada umumnya ukuran rata-rata belut listrik ini adalah 1 meter.

Sama halnya dengan binatang pada umumnya, belut listrikpun mempunyai cara tersendiri untuk bisa mempertahankan dirinya, melindungi diri dari serangan musuh, dan untuk berburu. Yaps! Seperti namanya, belut listrik mempertahankan dirinya dengan mengeluarkan sengatan listrik. Tidak tanggung-tanggung, belut listrik dewasa mampu mengeluarkan sengatan listrik hingga 650 volt.

Listrik tersebut diproduksi oleh tiga organ tubuhnya. Mereka memiliki organ sel yang menghasilkan listrik, seperti organ utama, organ hunter, dan organ such. Ketiga organ ini menyusun empat perlima dari seluruh bagian tubuh belut listrik.

Organ-organ tersebut di antaranya seperti electrocyte yang mampu menghasilkan listrik mencapai 4000-7000 electrocyte seperti baterai. Electrocyte bergabung hingga arus ion dapat mengalir melalui tubuh mereka. Arus listrik tersebut dapat mengalir karena kepala dan ekor hewan tersebut merupakan suatu kutub.

Ujung ekor belut listrik merupakan kutub positif dan ujung kepala bertindak sebagai kutub negatif. Belut listrik ini dapat mengatur hubungan antara “baterai” kecil dalam tubuhnya untuk mendapatkan tegangan listrik kecil maupun tegangan listrik besar. Akan tetapi, ada fakta lainnya yang menarik untuk dibahas.

Poraque, adalah ikan hidup di Sungai Amazon, Amerika Selatan yang mampu tumbuh hingga panjang 2,5 meter. Poraque adalah satu-satunya yang menghasilkan tegangan listrik paling kuat. Sebelumnya diyakini bahwa hanya ada satu jenis Poraque, yaitu Electrophorus electricus yang digambarkan oleh seorang peneliti Swedia bernama Carl Linnaeus pada 1776.

Namun, dua spesies baru lantas ditemukan. Keduanya dibedakan oleh tegangan listrik yang dihasilkan dan proses penyusun DNA-nya. Meskipun satu dari dua spesies telah ditemukan, Electrophotus voltai mampu menghasilkan 860 volt. Besarnya hampir empat kali lipat tegangan listrik dari sakelar rumah tangga yang sebesar 220 volt.

Salah satu spesies Poraque ini dinamai Electrophorus voltai sesuai dengan nama fisikawan Alessandro Volta, penemu baterai listrik. Sedangkan spesies lain dinamai Electrophorus varii, sebagai tribut kepada ahli hewan Richard P. Vari, seorang peneliti Smithsonian yang meninggal pada 2016. Kedua spesies tersebut baru ditemukan di Sungai Xingu dan Sungai Tapajós.

Bagaimana proses belut listrik menghasilkan listrik?

Belut listrik menggunakan energi mereka sebagai alat pengontrol yang efektif atas mangsanya. Electrocyte berfungsi sebagai baterai biologis. Saat berburu mangsa, belut listrik secara teratur akan melepaskan dua gelombang kejut bertegangan tinggi dengan jeda waktu sekitar dua mili per detik. Gelombang listrik yang dialirkan di dalam air tersebut memaksa ikan, mangsa, atau musuh belut listrik bergetar di tempat persembunyiannya, sehingga lokasi persembunyian mereka dapat terdeteksi.

Ikan ini mempunyai pancaran listrik di dalam suatu alat khusus pada bagian ekornya. Listrik ini dipancarkan melalui ribuan pori-pori di punggung belut listrik dalam bentuk sinyal dan menciptakan medan listrik di sekitarnya. Benda apapun dalam medan listrik ini akan membiaskannya, sehingga belut listrik ini mampu mengetahui ukuran, daya alir, dan gerak dari benda tersebut.

Pada tubuh hewan ini, terdapat pengindera listrik yang dapat memantau medan tersebut seperti halnya radar. Cara kerja piringan listrik ini mempunyai prinsip kerja yang sama dengan baterai. Ketika ikan beristirahat, otot-otot yang tidak berhubungan belum aktif.

Namun, jika menerima pesan atau rangsangan dari saraf, belut listrik ini akan segera bekerja secara serentak untuk mengeluarkan daya listrik. Pada saat itu, voltase semua piringan listrik atau elektrosit menyatu sehingga mampu menghasilkan daya listrik yang besar.

Untuk navigasi, belut listrik hanya membutuhkan tegangan listrik yang kecil. Akan tetapi, ketika berhadapan dengan musuh atau mangsanya belut listrik ini akan memberikan tegangan semaksimal mungkin dalam sesaat hanya untuk melumpuhkan mangsanya.

Jika musuh atau mangsanya telah lumpuh, maka belut listrik ini melalui kepala dan ekornya yang ditempelkan pada tubuh mangsa atau musuhnya itu akan mengalirkan tegangan listrik yang tinggi. Namun, hewan di sekitarnya tidak akan terpengaruh karena mereka tidak bersentuhan langsung dengan ekor dan kepala belut.

Secara umum, belut listrik dapat menghasilkan tiga tingkatakn kekuatan listriknya pada tiga situasi berbeda, yaitu:

1. Tegangan rendah, yang dihasilkan terus-menerus sebagai indera perasa lingkungan sekitarnya;
2. Tiga kali tegangan tinggi, yang dikeluarkan secara berkala ketika sedang berburu mangsa atau ketika berada di lingkungan yang membuatnya merasa terancam;
3. Tegangan tinggi dengan frekuensi tinggi, yang dikeluarkan ketika akan menangkap mangsa atau untuk melindungi diri dari predator.

Dapatkah Belut Listrik Menjadi Sumber Tenaga Listrik?

Setelah mengetahui bahwa kekuatan yang dimiliki belut listrik ternyata besar, bahkan melebihi tegangan listrik yang dipasang di setiap rumah. Apakah bisa belut listrik dijadikan alternatif sumber energi listrik tenaga belut listrik? Jawabannya adalah tidak.

Tegangan listrik dan arus listrik yang dihasilkan oleh tubuh belut listrik tidak konstan. Belut listrik tidak bisa menghasilkan listrik setiap waktu, hanya pada situasi tertentu dan dengan tegangan yang berbeda pada setiap situasi. Belut listrik akan menghasilkan tegangan listriknya ketika memburu mangsa atau diserang musuh.

Jika belut listrik dijadikan sumber energi tenaga listrik, maka harus ada musuh atau mangsa di dekatnya setiap waktu agar bisa menghasilkan tegangan listrik. Sedangkan untuk dijadikan sebuah sumber energi listrik dibutuhkan sumber yang mampu menghasilkan tegangan listrik dan arus listrik yang besarnya konstan setiap waktu.

Pada teknologi zaman sekarang, belum diketahui cara untuk memparalelkan arus yang dari tubuh belut listrik secara simultan. Apabila salah posisi, dikhawatirkan belut listrik tersebut saling menyengat dan kemudian mati bersama-sama.

Kemudian, belut listrik tersebut tidak akan mungkin hidup selamanya atau dalam jangka waktu bertahun-tahun lamanya. Harus ada pergantian atau resupply belut listrik, sementara keberadaan belut listrik ini terbatas, biasanya hanya terdapat di Sungai Amazon dan Sungai Orinoko.

Jadi, pada kesimpulannya untuk saat ini kemampuan yang dimiliki oleh belut listrik belum bisa dijadikan alternatif sumber tenaga listrik ya sobat! Jangan lupa untuk menjaga keseimbangan lingkungan 🙂

Referensi :
[1] Wikipedia. Sidat Listrik. Diakses pada 31 Desember 2019.
[2] BBC Indonesia. Belut Listrik ‘Terkuat di Dunia’ yang Baru Ditemukan di Amazon Mampu Lepaskan 860 Volt. Diakses pada 31 Desember 2019.
[3] Quora. Kalau Belut Listrik Bisa Menghasilkan Listrik Hingga 660 Volt Apakah Bisa Kita Menggunakan Listrik dari Belut untuk Membangun Pembangkit Listrik Tenaga Belut. Diakses pada 31 Desember 2019.

Bagaimana Jika Investasi Energi Terbarukan Dialihkan Ke Energi Nuklir?

Bagaimana Jika Investasi Energi Terbarukan Dialihkan Ke Energi Nuklir?

Ditengah isu perubahan iklim yang makin menguat dan polusi udara yang makin parah, usaha-usaha peralihan dari energi fosil ke energi bersih terus dilakukan. Dari moda energi bersih yang ada, energi terbarukan mendapat sorotan paling besar. Panel surya dan turbin angin dianggap menjadi Messiah bagi planet bumi.

Jerman dengan percaya diri menjalankan program Energiewende, yang mana mereka berniat menggantungkan diri hanya pada energi terbarukan dibarengi dengan meninggalkan energi nuklir sama sekali pada tahun 2022 [1]. Tidak ketinggalan, Mark Z. Jacobson, professor Teknik Sipil dari Stanford University, membuat peta jalan (roadmap) untuk menuju Amerika Serikat dengan 100% energi terbarukan [2]. Proposal Jacobson malah lebih nekad; tidak mau mengandalkan energy storage dan lebih banyak mengandalkan variabilitas angin di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Seberapa layak konsep tersebut? Entahlah. Konsep Jacobson sendiri sudah dipersoalkan oleh Prof. Barry Brook dkk [3]. Energiewende pun pelaksanaannya cenderung bermasalah. Walau biaya yang dikeluarkan mencapai USD 580 milyar, nyatanya Jerman dipastikan gagal mencapai target reduksi emisi tahun 2020 [4].

Baca juga: Membongkar Mitos Negative Pricing Listrik Jerman

Sejak tahun 2000 hingga 2016, sektor energi terbarukan mendapatkan investasi dengan nilai mencapai USD 4 trilyun, dengan perincian USD 3 trilyun untuk sektor pembangkitan dan USD 1 trilyun untuk upgrade jaringan listrik [5]. Hal terakhir dibutuhkan karena sifat energi terbarukan yang intermittent mengharuskan adanya perubahan dalam jaringan listrik, supaya tidak jebol. Bagaimana hasilnya?

Tahun 2016, energi terbarukan menghasilkan listrik sebesar 1844.6 TWh. Angka ini sudah termasuk biomassa, yang strictly speaking tidak pas dikategorikan dalam energi bersih. Sementara, pembangkitan listrik di dunia mencapai 24.930,2 TWh [6]. Artinya, energi terbarukan memiliki bauran 7,4% dari pembangkitan listrik global. Dengan nilai investasi total USD 4 trilyun, berarti tiap milyar USD yang dikeluarkan sejak tahun 2000 berkontribusi terhadap kenaikan 0,00185% bauran listrik dunia.

Dengan bauran energi terbarukan masih kurang dari 10% bauran listrik dunia, nilai investasi sebesar itu terasa tidak terlalu worth it.

Baca juga: Keunggulan PLTN Terapung Untuk Indonesia

Bagaimana jika, seandainya, nilai investasi tersebut dialihkan pada nuklir?

PLTN Cattenom, Prancis (sumber: Wikipedia)

Walau selama ini telah sukses menyediakan energi rendah karbon yang tersedia tiap saat, persepsi tentang nuklir masih belum terlalu bersahabat. Masih banyak yang menganggap nuklir itu tidak selamat dan limbahnya berbahaya, walau fakta mengatakan sebaliknya [7,8]. Selain itu, mitos yang berkembang juga bahwa energi nuklir itu mahal, walau faktanya tidak selalu demikian [9].

Kembali ke pertanyaan, bagaimana jika USD 4 trilyun itu dialihkan ke nuklir?

Estimasi biaya pembangunan PLTN bervariasi, dari yang rendah hingga tinggi. Di sini, coba dihitung dalam dua skenario. Pertama, skenario Amerika Serikat. US Energy Information Administration (EIA) mengestimasikan bahwa overnight cost PLTN berkisar USD 5.224/kW [10]. Kedua, skenario Korea Selatan. Proyek PLTN Shin Kori Unit 3 dan 4 memakan biaya total hingga USD 6,46 milyar untuk daya 2.700 MW, sehingga overnight cost dari PLTN ini berkisar USD 2.400/kW [11].

Kenapa skenario Korea Selatan jauh lebih rendah biayanya daripada skenario Amerika Serikat? Ada banyak faktor, yang mungkin paling berpengaruh adalah standardisasi desain. PLTN yang dibangun oleh Korea Selatan dikembangkan dengan desain yang terstandar, tidak berubah-ubah dari satu tempat dan tempat lain. Dari sana, mereka mampu melaksanakan pembangunan secara efisien dan kemudian biaya yang lebih rendah [12].

Menggunakan skenario Amerika Serikat, dana USD 4 trilyun dapat dikonversi menjadi PLTN dengan kapasitas 765.7 GW. Best practice operasional PLTN di Amerika Serikat memberikan angka faktor kapasitas lebih dari 90% [13]. Untuk asumsi konservatif, diambil angka 85%. Dari sini, PLTN diketahui mampu membangkitkan daya 5.701,38 TWh tiap tahunnya, atau setara dengan 22,87% bauran listrik dunia.

Dengan skenario energi nuklir mahal sekalipun, bauran nuklir yang dihasilkan hampir tiga kali lipat energi terbarukan!

Baca juga: Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir

Sementara, menggunakan skenario Korea Selatan, dana USD 4 trilyun dikonversi menjadi PLTN dengan kapasitas terpasang 1.666,7 GW. Dengan faktor kapasitas sama, mampu dibangkitkan 12.410 TWh tiap tahunnya, atau 49,78% bauran listrik dunia. Pada skenario ini, energi nuklir menjadi bauran energi tertinggi dalam pembangkitan listrik. Faktanya, pembangkitan daya sebesar ini cukup untuk sepenuhnya menggantikan penggunaan batubara dan minyak bumi dalam pembangkitan listrik dunia!

Tahun 2016, nuklir membangkitkan 2.612,8 TWh listrik, atau setara dengan 10,48% bauran listrik dunia [6]. Jika ditambah dengan skenario Amerika Serikat, bauran listrik total akan naik menjadi 33,35%. Mengompensasi kehilangan energi terbarukan karena perpindahan aliran investasi, angka ini cukup untuk menggantikan 68,5% pembangkitan listrik dari batubara. Sementara, pada skenario Korea Selatan, ditambah dengan PLTN yang sudah ada, baurannya menjadi 60,26%. Angka ini mampu menggantikan 86,1% listrik dari batubara dan gas alam sekaligus!

Dari sini, tampak jelas bahwa, sekalipun menggunakan skenario mahal, energi nuklir lebih efektif dan efisien untuk membersihkan jaringan listrik dari energi polutif. Dengan skenario murah, PLTN secara efektif mampu menggantikan hampir 90% pembangkitan listrik dari batubara dan gas alam, yang notabene merupakan penyumbang emisi CO2 dan polusi terbesar dalam sektor kelistrikan.

Seandainya para investor itu memilih teknologi yang tepat dalam transisi menuju energi bersih, maka tentulah problematika perubahan iklim dan polusi udara akan lebih mudah teratasi. Sayang sekali, ketakutan irasional terhadap energi nuklir membuat usaha mitigasi perubahan iklim dan polusi udara jadi jauh lebih mahal tanpa hasil berarti.

Referensi:

  1. Germany’s Energiewende – The Easy Guide. Available online at https://www.cleanenergywire.org/easyguide
  2. Mark Z. Jacobson et al. 2017. 100% Clean and Renewable Wind, Water, and Sunlight All-Sector Energy Roadmaps for 139 Countries of the World. Joule (1): 108-121.
  3. Ben P. Heard et al. 2017. Burden of proof: A comprehensive review of the feasibility of 100% renewable-electricity systems. Renewable and Sustainable Energy Reviews (76): 1122-1133.
  4. Frank Dohmen et al. German Failure on the Road to a Renewable Future. Available online at https://www.spiegel.de/international/germany/german-failure-on-the-road-to-a-renewable-future-a-1266586.html
  5. Roger Andrews. Worldwide investment in renewable energy reaches US$ 4 trillion – with little to show for it. http://euanmearns.com/worldwide-investment-in-renewable-energy-reaches-us-4-trillion-with-little-to-show-for-it/
  6. British Petroleum. 2018. BP Statistical Review of World Energy June 2018. London: BP.
  7. R Andika Putra Dwijayanto. Kecelakaan Chernobyl Adalah Bukti Energi Nuklir Itu Selamat, Bukan Sebaliknya. Available online at https://warstek.com/2019/03/16/chernobylnpp/
  8. R Andika Putra Dwijayanto. Bagaimana Pengelolaan Limbah Radioaktif PLTN? Available online at https://warstek.com/2018/04/10/limbahpltn/
  9. R Andika Putra Dwijayanto. Apa Benar Nuklir Mahal? Tanggapan Untuk Arcandra Tahar. Available online at https://warstek.com/2018/04/21/listriknuklir/
  10. US EIA. Cost and Performance Characteristics of New Generating Technologies, Annual Energy Outlook 2019. Available online at https://www.eia.gov/outlooks/aeo/assumptions/pdf/table_8.2.pdf
  11. Final decision nearing on ending construction of Shin-Kori 5, 6 reactors. Available online at http://english.hani.co.kr/arti/english_edition/e_national/813938.html
  12. Michel Berthelemy, Lina Escobar Rangel. 2015. Nuclear reactors’ construction costs: The role of lead-time, standardization and technological progress. Energy Policy (82): 118-130.
  13. US EIA. Electric Power Monthly. Available online at: https://www.eia.gov/electricity/monthly/epm_table_grapher.php?t=epmt_6_07_b

Membongkar Mitos Negative Pricing Listrik Jerman

Membongkar Mitos Negative Pricing Listrik Jerman

Di media sosial, meme tentang Jerman “membayar” pelanggan untuk menggunakan listrik kembali beredar. Klaimnya, hal itu merupakan keberhasilan dari “energi terbarukan,” yang kemudian membuat publik berkhayal hal tersebut bisa diterapkan di Indonesia. Meme tersebut bukan meme baru, tetapi entah kenapa kembali bersirkulasi.

Gambar 1. Meme tentang kelebihan pasokan listrik berlebih yang disalahpahami.

Pertanyaannya, benarkah isi meme tersebut? Ramainya penyebaran meme tentang negative pricing dengan sentiment positif mengisyaratkan bahwa publik sama sekali tidak paham tentang sistem kelistrikan di Jerman.

Pertama, patut dipahami dulu bahwa sistem kelistrikan di Jerman terprivatisasi total [1]. Artinya, mulai dari sektor hulu sampai hilir sama sekali tidak dipegang oleh negara, melainkan oleh swasta. Pembangkitan listrik, transmisi listrik, distribusi listrik, bisa dipegang oleh perusahaan yang berbeda-beda. Negara tidak hadir dalam bentuk BUMN, perannya hanya sebagai regulator [2].

Baca juga: Meluruskan Salah Kaprah Tentang Membaca Kapasitas Pembangkit Listrik

Kedua, penguasaan total oleh swasta berarti penyediaan layanan kelistrikan berbasis pada untung-rugi, bukan murni pelayanan masyarakat [3]. Semua perusahaan yang terlibat pasti mengharapkan keuntungan, dan akan menjual “elektron” ke perusahaan di level di bawahnya dengan margin keuntungan.

Sebagai ilustrasi, misalkan harga listrik dari pembangkit seharga USD 3 sen/kWh. Perusahaan pembangkit kemudian menjual ke perusahaan transmisi seharga USD 6 sen/kWh. Lalu, perusahaan transmisi menjual ke perusahaan distribusi seharga USD 9 sen/kWh. Masyarakat kemudian membayar USD 15 sen/kWh ke perusahaan distribusi setelah melewati perusahaan jasa sales listrik. Jadi, harga keluar dari pembangkit ke pengguna naik 500%! Belum termasuk berbagai pajak dan biaya yang harus dibayarkan.

Ketiga, jika listrik dikuasai swasta dan jelas bahwa orientasi mereka adalah keuntungan, maka dari mana ceritanya mereka bisa membayar masyarakat untuk memakai listrik? Jawabannya sederhana: SUBSIDI [4]. Negara memberi subsidi, melalui berbagai jenis peraturan dan regulasi  Subsidi ke siapa? Perusahaan energi! Khususnya yang mau menggunakan “energi terbarukan,” yang notabene menjadi bahasan meme tersebut.

Walau sering digembargemborkan murah, nyatanya “energi terbarukan” itu tidak murah dan sulit untuk berharap bisa benar-benar murah. Berita-berita tentang panel surya dan turbin angin harganya semakin lama semakin turun adalah bagian dari How to Lie with Statistics [5]. Harga pembangkit lebih murah tidak secara langsung menyebabkan harga listrik murah, karena masih tergantung pada aspek-aspek lain, entah itu usia pakai, faktor kapasitas, maupun integrasi dengan jaringan listrik.

“Energi terbarukan” sangat tergantung pada belas kasih cuaca yang tidak selalu stabil. Karena keandalannya yang rendah dan site-limited, “energi terbarukan” akhirnya menjadi mahal [6]. Ini merupakan sifat melekat dan tidak bisa diakal-akali menggunakan teknologi lain. Masalah fisika, bukan engineering.

Berdasarkan alasan tersebut, maka wajar jika perusahaan swasta harus diiming-imingi insentif dan subsidi dulu supaya mau berinvestasi di “energi terbarukan.” Kalau tidak ada subsidi, ekspansi “energi terbarukan” tidak akan seperti sekarang. Warren Buffett, miliuner yang berinvestasi di energi bayu, mengakui terang-terangan bahwa satu-satunya alasan membangun turbin angin adalah karena adanya subsidi dari negara [7].

Baca juga: Mengukur Sustainabilitas Energi Nuklir Dengan Uranium dan Thorium Lokal

Kelima, kenapa bisa terjadi negative pricing? Listrik yang terprivatisasi penuh membuat hukum pasar bekerja: suplai berlebih, harga jatuh. Sifat sistem kelistrikan adalah produksi dan konsumsi harus sama, kalau tidak jaringan listrik bisa terganggu bahkan jebol. Negative pricing terjadi ketika produksi dari “energi terbarukan” berlebih tetapi permintaan rendah. Bauran “energi terbarukan” dalam jaringan listrik dapat menimbulkan power surge utamanya ketika matahari sedang bersinar sangat terang atau angin berembus kencang [8]. Hal ini menyebabkan pembangkitan listrik jadi sangat berlebih dan tidak sesuai dengan kebutuhan, sehingga membahayakan jaringan. Untuk mencegah gangguan pada sistem pembangkit maupun jaringan listrik, perusahaan yang mendapat subsidi dari negara menggunakan subsidi itu untuk “membayar” masyarakat agar menggunakan listrik.

Jadi pada hakikatnya, negative pricing tidak pernah disebabkan oleh harga “energi terbarukan” yang murah, melainkan subsidi negara/pemerintah pada perusahaan kelistrikan yang kemudian diberikan pada masyarakat.

Keenam, harga wholesale tidak sama dengan harga retail. Dalam pasar kelistrikan yang terliberalisasi, harga listrik berubah dari waktu ke waktu [9]. Dari harga sangat mahal menjadi sangat murah bahkan negatif. Pertanyaannya, berapa lama negative wholesale price itu terjadi? Apakah lebih lama atau lebih sebentar dari expensive wholesale price?

Baca juga: Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir

Realitanya, negara-negara yang banyak mengintegrasikan “energi terbarukan” ke jaringan listrik mereka memiliki retail price, alias harga riil, paling mahal. Denmark, sebagai contoh, retail price listrik mereka mencapai EUR 31,23 sen/kWh, sementara Jerman mencapai EUR 30 sen/kWh. Angka-angka tersebut merupakan harga tertinggi di Eropa. Sementara, negara-negara dengan bauran “energi terbarukan” lebih rendah, seperti Inggris Raya dan Prancis, memiliki retail price lebih rendah (EUR 20,24 sen/kWh dan EUR 17,99 sen/kWh) [10].

Gambar 2. Harga listrik rumah tangga di Eropa. Tampak bahwa Denmark (DK) dan Jerman (DE) termasuk yang paling mahal. (sumber: Eurostat)

Di Amerika Serikat, California memiliki bauran “energi terbarukan” cukup tinggi. Namun, harga listriknya lebih tinggi daripada rerata negara-negara bagian Amerika Serikat lain dengan bauran “energi terbarukan” lebih rendah. Padahal, California juga mengalami negative pricing [11].

Gambar 3. Harga listrik di California lebih tinggi dari rerata Amerika Serikat (sumber: Environmental Progress)

Dengan demikian, walau terkesan bahwa masyarakat “dibayar” untuk menggunakan listrik, dibandingkan dengan negara lain yang sistem kelistrikannya tidak serumit Jerman (dan negara dengan bauran “energi terbarukan” tinggi lain), harga yang harus dibayarkan masyarakat untuk listrik justru lebih mahal! Bauran “energi terbarukan” lebih dari 25% dalam jaringan listrik akan meningkatkan probabilitas terjadinya negative pricing secara eksponensial, dan ini jelas bukan hal yang sehat [12].

Memahami informasi secara setengah-setengah memang memiliki kecenderungan menyesatkan. Untuk menilai secara adil, harus dipahami sistem kelistrikan yang berlaku secara keseluruhan. Terkait kasus negative pricing, maka pemahaman menyeluruh membuktikan pada kita bahwa realitanya sama sekali berbeda dengan pemahaman publik. Bahwa “energi terbarukan” memang menyebabkan negative pricing, tetapi tidak membuat harga listrik keseluruhan lebih murah, malah sebenarnya lebih mahal.

Referensi

  1. Matthias Heddenhausen, 2007. Privatisations in Europe’s liberalised electricity markets – the cases of the United Kingdom, Sweden, Germany, and France. Berlin: Research Unit EU Integration.
  2. Torsten Brandt, 2006. Liberalisation, privatisation and regulation in the German electricity sector. Dusseldorf: Wirtschafts- und Sozialwissenschaftliches Institut.
  3. Hannes Weigt, 2009. A Review of Liberalization and Modeling of Electricity Markets. Available online at https://mpra.ub.uni-muenchen.de/65651/
  4. Andrei Morch et al, 2016. Post-2020 framework for a liberalised electricity market with a large share of renewable energy resources. Norway: Market4Res.
  5. Darrell Huff, 1954. How to Lie with Statistics. New York: W. W. Norton & Company.
  6. Andika Putra Dwijayanto, 2017. Let’s Run the Numbers: Menguji Klaim Antara Energi Nuklir dan “Energi Terbarukan”. Available online at http://bit.ly/letsrunnumber
  7. Nancy Pfotenhauer. Big Wind’s Bogus Subsidies. Accessed from https://www.usnews.com/opinion/blogs/nancy-pfotenhauer/2014/05/12/even-warren-buffet-admits-wind-energy-is-a-bad-investment
  8. Liam Stoker. ‘Unprecedented’ events send UK power market into negative pricing for six hours straight. Accessed from https://www.current-news.co.uk/news/unprecedented-events-send-uk-power-market-to-negative-pricing-for-six-hours-straight
  9. International Energy Agency, 2005. Lesson from Liberalised Electricity Markets. Paris: IEA.
  10. Electricity Price Statistics. Accessed from https://ec.europa.eu/eurostat/statistics-explained/index.php/Electricity_price_statistics
  11. Environmental Progress. California. Accessed from http://environmentalprogress.org/california
  12. Milou J. Saraber, 2016. Negative Electricity Prices in the German Electricity Market. Thesis, Rotterdam School of Management, Erasmus University.

Meluruskan Salah Kaprah tentang Membaca Kapasitas Terpasang dalam Membangun Pembangkit Listrik

Meluruskan Salah Kaprah tentang Membaca Kapasitas Terpasang dalam Membangun Pembangkit Listrik

Listrik bisa dikatakan telah menjadi kebutuhan dasar manusia pada abad 21. Dengan isu perubahan iklim yang terus memanas, negara-negara di dunia harus mulai mempertimbangkan ulang strategi pemenuhan energi mereka. Energi fosil harus sesegera mungkin disubstitusi dengan energi bersih [1].

Dinamika transisi menuju energi bersih diwarnai hal-hal menarik. Salah satunya adalah perdebatan terkait moda energi yang paling cepat untuk melakukan transisi dari energi fosil ke energi bersih. Kalangan pro-energi terbarukan mengklaim bahwa transisi menggunakan energi terbarukan lebih cepat dan efektif daripada menggunakan energi nuklir. Alasannya, karena energi terbarukan (energi surya dan bayu) memiliki biaya instalasi lebih murah, sehingga daya terpasang pun lebih besar daripada nuklir yang dianggap memiliki biaya instalasi lebih mahal.

Benarkah pandangan ini? Hati-hati, jangan tertipu dengan kapasitas terpasang. Membaca kapasitas pembangkitan listrik tidak cukup dengan membaca kapasitas terpasang (nameplate capacity) saja. Namun, banyak pihak pembuat kebijakan sering salah kaprah mengenai nameplate capacity.

Baca juga Thorium, Bahan Bakar Nuklir Masa Depan

Nameplate capacity hanya menjelaskan daya maksimum yang mampu dibangkitkan oleh sebuah pembangkit listrik. Jika sebuah pembangkit listrik memiliki nameplate capacity sebesar 100 MWe, maka daya maksimum yang mampu dibangkitkan adalah 100 MWe. Demikian pula angka-angka nameplate capacity lain [2].

Namun, apakah pembangkit tersebut dapat terus menerus dengan daya 100 MWe? Tidak. Ada yang namanya faktor kapasitas, yakni perbandingan antara daya yang mampu dibangkitkan dalam waktu tertentu dibandingkan dengan daya maksimal yang secara teoretis mampu dibangkitkan dalam rentang waktu yang sama.

Dengan adanya faktor kapasitas, dua buah pembangkit berdaya sama belum tentu mampu membangkitkan listrik dalam jumlah yang sama dalam rentang waktu tertentu, katakanlah setahun. Lagi-lagi tergantung pada faktor kapasitasnya.

Baca juga Mengukur Sustainabilitas Energi Nuklir Dengan Uranium dan Thorium Domestik

Awal bulan ini, Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Herman Darnel Ibrahim, melemparkan pernyataan yang perlu dikritisi dan dikaji ulang. Herman mengatakan bahwasanya, dengan investasi Rp 500 trilyun hanya bisa membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dengan daya 5.000 MWe. Sementara, nilai investasi yang sama bisa digunakan untuk 20.000 MWe Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan 30.000 MWe Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) [3].

Ada dua kekeliruan dalam pernyataan ini. Pertama, 5.000 MWe PLTN itu tidak rasional, karena implikasinya, biaya pembangunan PLTN tersebut sangatlah mahal melebihi biaya pembangunan PLTN di Amerika Serikat. Padahal estimasi pembangunan PLTN di Indonesia jelas lebih murah dari negara-negara Barat, jauh dibawah estimasi Herman [4], kapasitas yang lebih rasional adalah sekitar 14.000 MWe PLTN [5].

Kedua, ini merupakan contoh kekeliruan membaca nameplate capacity. Karena biarpun hanya 14.000 MWe, belum tentu daya listrik yang dibangkitkan lebih sedikit. Khususnya selama lifetime operasional pembangkit listrik.

PLTN memiliki faktor kapasitas tinggi, hingga 90% lebih. Sementara, PLTU dan PLTGU hanya memiliki faktor kapasitas berkisar 60%. Waktu kosong dari pembangkitan listrik ini utamanya karena PLTU dan PLTGU membutuhkan waktu perawatan lebih banyak daripada PLTN. Dari segi usia pakai, desain PLTN mampu digunakan hingga 60 tahun, sementara PLTU dan PLTGU paling banter hanya 40 tahun.

Maka, sepanjang usia pakai, listrik yang mampu dibangkitkan masing-masing pembangkit adalah sebagai berikut.

Jelas sekali bahwa selama usia pakai, PLTN mampu membangkitkan listrik paling banyak. Padahal nameplate capacity PLTN justru yang paling rendah,

Hal sama juga berlaku untuk perbandingan antara energi terbarukan dengan energi nuklir terkait mana yang paling cepat dalam transisi menuju energi bersih. Menggunakan standar investasi di Amerika Serikat, barangkali memang energi terbarukan bisa lebih banyak dibangun. Tapi apakah itu setara dengan daya yang mampu dibangkitkan?

Sejak tahun 2007-2016, investasi di energi terbarukan mencapai USD 2 trilyun, dengan USD 1,1 trilyun untuk energi surya dan sisanya energi bayu. Namun nyatanya, pada tahun 2016, energi bayu dan surya hanya menyumbangkan bauran masing-masing 3,9% dan 1,3% pembangkitan listrik dunia [8].

Baca juga Mengenal Lebih Dekat Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

Coba nilai investasi tersebut kita hitung ulang dengan standar tertentu. Patokan tetap pada pembangkitan listrik tahun 2016, yakni sebesar 24.353 TWh [6]. Estimasi nilai investasi dilandaskan pada data US EIA [7], yakni untuk PLTN sebesar USD 5.945/kW, PLTS sebesar USD 2.534/kW dan PLTB sebesar USD 1.877/kW. Nilai faktor kapasitas untuk nuklir, surya dan bayu masing-masing 80%, 13% dan 22,7% [9,10]. Proporsi investasi untuk energi bayu dan surya sama seperti di paragraf sebelumnya.

Dari asumsi-asumsi di atas, didapatkan hasil sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut.

Nameplate capacity nuklir jelas sekali lebih rendah daripada energi bayu dan surya. Kurang dari setengah dari gabungan kedua moda energi tersebut. Namun, secara riil, energi nuklir mampu membangkitkan listrik hampir dua kali lipat energi bayu dan surya digabung sekaligus. Mengapa? Sekali lagi karena adanya faktor kapasitas. Energi nuklir mampu beroperasi terus menerus nyaris sepanjang waktu dalam setahun. Sementara, energi bayu dan surya hanya beroperasi ketika angin berembus dan matahari bersinar. Wajar jika energi nuklir memiliki faktor kapasitas tinggi sementara energi terbarukan rendah.

Jadi, merupakan anggapan yang sangat keliru jika nameplate capacity menjadi patokan kecepatan transisi energi. Hal ini dikarenakan apa yang tertera belum tentu sama dengan realita. Jangan tertipu nameplate capacity, tapi pastikan juga faktor kapasitasnya.

Referensi

  1. George Erickson. 2013. Unintended Consequences: The Lie That Killed Millions and Accelerated Climate Change. Minnesota: Tundra Cub.
  2. Andika Putra Dwijayanto. 2016. Let’s Run The Numbers: Menguji Klaim Antara Energi Nuklir dan Energi Terbarukan. Bogor.
  3. DEN: Pembangunan PLTN Tak Akan Terjadi Sampai 2050. (http://ekbis.rmol.co/read/2018/05/04/338453/DEN:-Pembangunan-PLTN-Tak-Akan-Terjadi-Sampai-2050). Diakses pada 15 Mei 2018.
  4. Andika Putra Dwijayanto. Apa Benar Nuklir Mahal? Tanggapan Untuk Arcandra Tahar. (https://warstek.com/2018/04/21/listriknuklir/). Diakses pada 15 Mei 2018.
  5. Andika Putra Dwijayanto. Moral Case for Nuclear Power: Tanggapan Untuk DEN dan METI. (http://andhika-dwijayanto.blogspot.co.id/2018/05/moral-case-for-nuclear-power-tanggapan.html). Diakses pada 15 Mei 2018.
  6. Global Energy Statistical Yearbook 2017. (https://yearbook.enerdata.net/electricity/world-electricity-production-statistics.html). Diakses pada 14 Mei 2018.
  7. US Energy Information Administration. 2016. Capital Cost Estimate for Utility Scale Electricity Generating Plants. Washington: US DOE.
  8. Michael Shellenberger. We Don’t Need Solar And Wind To Save The Climate—And It’s A Good Thing, Too. (https://www.forbes.com/sites/michaelshellenberger/2018/05/08/we-dont-need-solar-and-wind-to-save-the-climate-and-its-a-good-thing-too/#ce83afde4de1). Diakses pada 14 Mei 2018.
  9. World Nuclear Association. 2017. World Nuclear Performance Report 2017. London: WNA.
  10. World Nuclear Association. Renewable Energy and Electricity. (http://www.world-nuclear.org/information-library/energy-and-the-environment/renewable-energy-and-electricity.aspx). Diakses 15 Mei 2018.

Apa Benar Nuklir Mahal? (Tanggapan Untuk Arcandra Tahar)

Apa Benar Nuklir Mahal? (Tanggapan Untuk Arcandra Tahar)

Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, mengungkapkan bahwa listrik dari energi nuklir itu mahal. Sebagaimana dilansir dari Viva.co.id (19/4), Pak Arcandra menggugat klaim bahwa listrik itu murah.

Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar

“Banyak yang mengatakan, ‚mari nuklir, mana yang lebih murah, nuklir atau EBT lain‘. Banyak yang mengatakan nuklir itu USD 5-6 sen per kWh, tapi nuklir itu USD 14 sen per kWh, saya cek lapangan.“ Katanya.

Beliau melanjutkan bahwa dirinya telah meninjau harga listrik dari Rosatom. Yang mana, Rosatom mematok harga USD 12 sen per kWh [1]. Sebelumnya, pada tahun 2017, Pak Arcandra juga mempersoalkan tentang mahalnya harga listrik dari nuklir di kolom di Selasar.com [2].

Walau pernyataan beliau tidak sepenuhnya salah, tetapi ada beberapa kesalahan berpikir yang dilakukannya. Sehingga, kesimpulannya jadi keliru.

Pertama, nuklir mahal itu di mana? Di Eropa dan Amerika Serikat. World Nuclear Association membuat analisis berapa estimasi rentang biaya pembangunan PLTN di berbagai belahan dunia. Hasilnya, biaya pembangunan di Asia lebih rendah daripada di Eropa dan Amerika Serikat [3], sebagaimana ditunjukkan dalam grafik berikut.

Gambar 1. Rentang biaya pembangunan PLTN di berbagai belahan dunia (sumber: WNA)

Jika di Amerika Serikat dan Eropa, overnight cost PLTN mencapai USD 4000-5000 per kW, maka di Asia (selain Timur Tengah) hanya berkisar USD 2000-3000 per kW. Sebagai contoh, PLTN Shin Kori unit 3 dan 4 di Korea Selatan membutuhkan biaya USD 5 milyar untuk daya 2700 MWe, atau overnight cost sebesar USD 1850/kW [3].

Baca juga Progres Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Daya Nuklir Desain Anak Negeri

Berdasarkan kalkulasi peneliti BATAN [4], overnight cost dari PLTN tipe PWR OPR-1000 diestimasikan sebesar USD 2000/kW. Dengan laju diskonto 10%, angka ini diterjemahkan menjadi USD 5,363 sen per kWh. Jadi, angkanya memang berkisar segitu.

Uni Emirat Arab membangun empat unit PLTN dengan daya total 5600 MWe. Kontrak pembangunannya sebesar USD 20,4 milyar, atau USD 3643 per kW [3]. Jika laju diskonto sama-sama 10%, maka biaya pokok pembangkitan (BPP) listriknya berkisar USD 6,5 sen per kWh. Tidak sampai USD 10 sen per kWh. Padahal itu di Timur Tengah, yang notabene lebih mahal dari wilayah Asia lain karena tantangan geografis.

Mengapa di Eropa dan Amerika Serikat mahal? Masalah pertama tentu saja soal ongkos buruh yang lebih tinggi. Masalah kedua adalah sesuatu yang disebut Prof. Bernard Cohen sebagai regulatory ratcheting [5]. Regulasi nuklir yang terus menerus mengetat dan tidak pernah melonggar, padahal pengetatan regulasi itu tidak terbukti meningkatkan level keselamatan reaktor. Dengan kata lain, regulasi nuklir yang tidak rasional.

Indonesia belum memiliki PLTN dan tidak sedang membangun PLTN. Maka, masih ada waktu untuk membuat regulasinya lebih rasional daripada di Amerika Utara dan Eropa.

Yang jelas, menyamakan kondisi antara Amerika Utara dan Eropa dengan Asia itu tidak tepat.

Kedua, Pak Arcandra salah tanya. Rosatom bukan tempat yang tepat untuk menanyakan BPP listrik dari energi nuklir. Seluruh ekspor PLTN Rosatom sejauh ini menggunakan mekanisme build-own-operate (BOO). Yang terbaru diresmikan adalah proyek PLTN Akkuyu di Turki [6]. Rosatom menanggung sebagian besar bahkan seluruh biaya pembangunan, dengan konsekuensi mereka yang memiliki PLTN selama jangka waktu tertentu dan berhak menjual listrik dengan harga yang ditetapkannya.

Jadi, harga yang diberikan Rosatom bukan BPP listrik, tapi tarif yang dipatok. Sama saja dengan power purchase agreement (PPA), yang nilainya tentu di atas BPP listrik. Sebagai perbandingan, PLTN Novovoronezh di Rusia menghabiskan biaya USD 5 milyar untuk daya 2136 MWe atau USD 2341 per kW [7]. Diterjemahkan menjadi BPP listrik sekitar USD 6 sen per kWh.

Baca juga Peningkatan Nilai Guna Bahan Bakar Nuklir Dengan Kombinasi PWR-CANDU

Ketiga, penyedia teknologinya keliru. Diantara persoalan mahalnya biaya pembangunan PLTN di negara-negara Barat adalah inkompetensi vendor PLTN itu sendiri. Dalam hal ini adalah Westinghouse, General Electric dan AREVA (sekarang ORANO). Vakumnya pembangunan PLTN selama puluhan tahun di negara-negara Barat membuat mereka kehilangan pengalaman pembangunan yang dimiliki selama ini.

Sehingga, ketika vendor PLTN tersebut akhirnya mendapat proyek konstruksi PLTN lagi, minimnya pengalaman yang tersisa menimbulkan berbagai kesulitan, yang akhirnya membuat pembangunan PLTN mengalami cost overrun dan delay yang relatif lama. Contohnya PLTN VC Summer di Amerika Serikat (menggunakan teknologi AP1000 milik Westinghouse) dan PLTN Olkiluoto di Finlandia (menggunakan teknologi EPR milik ORANO) [8].

Berbeda kasusnya dengan Korea Selatan, yang dalam hal ini diwakili oleh BUMN nuklir mereka, Korean Electric Power Corporation (KEPCO). Alih-alih terputus, KEPCO terus membangun pengalaman pembangunan PLTN mereka selama puluhan tahun dengan desain yang terstandardisasi. Pengalaman pembangunan dan standardisasi desain ini mampu membuat KEPCO membangun PLTN secara lebih efektif [8]. Sehingga, Korea Selatan mampu membangun PLTN dengan biaya lebih rendah dibandingkan kompetitornya. Berdasarkan estimasi World Nuclear Association, BPP listrik dari energi nuklir di Korea Selatan berkisar USD 4,2-4,8 sen per kWh, dengan laju diskonto 10% [3].

Jika Indonesia akan menggunakan PLTN, maka kemungkinan besar teknologi pertama akan impor. Pertanyaannya, impor dari mana? Di sinilah yang kemudian akan menentukan apakah harga listrik dari PLTN akan mahal atau murah. Kalau mengikuti skema Rusia, jelas akan mahal. Begitu pula kalau menggunakan teknologi Westinghouse atau ORANO. Bukan tanpa alasan Uni Emirat Arab memilih teknologi KEPCO untuk dibangun di negaranya; Korea Selatan memang mampu membuat listrik dari nuklir menjadi murah berdasarkan pengalaman pembangunannya.

Baca juga Mengukur Sustainabilitas Energi Nuklir Dengan Uranium dan Thorium Domestik

Keempat, tidak memerhatikan teknologi reaktor maju. Mungkin pendapat ini kurang populer, tapi sebaiknya, ketika Indonesia menyatakan untuk go nuclear, lompati saja PLTN Generasi III. Sebaiknya langsung masuk ke Generasi IV, atau biasa disebut reaktor maju. Apa pasal? Fitur-fitur yang dimiliki oleh teknologi reaktor maju dimaksudkan untuk mereduksi biaya pembangunan PLTN, sekaligus meningkatkan level keselamatannya tanpa harus terjerat regulatory ratcheting/regulasi tidak rasional.

Energy Innovation Reform Project (EIRP) mengeluarkan laporan hasil studi nilai keekonomian berbagai jenis teknologi reaktor maju (walau diantaranya ada teknologi Generasi III+ alih-alih Generasi IV) [9]. Laporan itu mengungkapkan bahwa estimasi BPP listrik dari berbagai teknologi reaktor maju berkisar antara USD 30-90 per MWh, atau USD 3-9 sen per kWh. Jauh dibawah angka USD 12 sen per kWh yang diungkapkan Pak Arcandra. Self-assessment ThorCon terhadap teknologinya sendiri [10] mengungkapkan bahwa teknologi reaktor maju mereka mampu membangkitkan listrik dengan biaya USD 3 sen per kWh, lebih murah dari batubara, sekalipun dengan laju diskonto tinggi.

Tentu saja klaim-klaim di atas membutuhkan bukti riil. Tetapi kalau dianalisis dari teknologi yang digunakan, mengapa tidak? Sangat dimungkinkan teknologi reaktor maju lebih murah daripada PLTN Generasi III, yang sebenarnya juga tidak mahal seandainya paham konteks persoalan.

Baca juga Perkembangan Teknologi Reaktor Maju Bagian 1

Akhirnya, dari keempat poin di atas, poin penting yang ingin penulis sampaikan adalah memahami persoalan secara komprehensif. Hanya karena Rosatom memberi angka USD 12 sen per kWh, hanya karena di Amerika Serikat terjadi cost overrun pada pembangunan PLTN, bukan berarti di sini akan mengalami hal serupa. Kecuali kalau pemerintah Indonesia mengikuti kebodohan yang dilakukan di sana.

Murah atau mahalnya energi nuklir lebih banyak ditentukan faktor-faktor non-teknis ketimbang teknis. Nuklir sudah merupakan energi paling selamat dengan tingkat kematian per TWh paling rendah [11,12]. Maka, pengetatan regulasi keselamatan, yang berimbas pada lebih mahalnya biaya pembangunan, sama sekali tidak diperlukan.

Gambar 2. Tingkat kematian per TWh energi. Tampak bahwa nuklir adalah yang paling rendah. (diolah dari nextbigfuture.com)

Pemilihan vendor bisa dilakukan dengan cermat, sehingga jangan sampai membeli teknologi yang malah jatuhnya mahal karena inkompetensi vendor tersebut. Skema pembangunan pun dapat menentukan mahal murahnya energi listrik. Penulis sama sekali tidak mendukung ide PLTN dibangun dan dimiliki oleh swasta. Karena swasta mengandalkan utang untuk modal, dan jika mengandalkan utang berbunga, jelas saja harga listriknya jadi lebih mahal. Belum lagi fakta bahwa swasta selalu meminta PPA yang nilainya lebih tinggi daripada BPP listrik.

Terlalu gegabah kalau mengatakan harga listrik dari energi nuklir itu mahal hanya karena melihat satu aspek. Itupun aspek yang tidak cocok diterapkan di negeri ini. Lebih buruk lagi kalau mengatakan nuklir mahal sembari dibandingkan dengan so-called “energi terbarukan“ yang diklaim lebih murah. Karena energi nuklir selalu tersedia 24 jam dalam seminggu, sementara “energi terbarukan“ hanya beroperasi ketika matahari bersinar dan angin berembus. Perbandingan yang tidak adil.

Referensi

  1. Arcandra Tahar Tegaskan Listrik Tenaga Nuklir Tidak Murah. Diakses dari https://bit.ly/2K0C3on
  2. Negara-negara maju menggunakan energi nuklir untuk listrik, mengapa Indonesia belum melakukannya? Diakses dari https://bit.ly/2vvCvb8
  3. World Nuclear Association. The Economics of Nuclear Power. Diakses dari http://bit.ly/2jhcwJ6
  4. Mochammad Nasrullah, Nuryanti. 2013. Studi Perbandingan Biaya Pembangkitan Listrik Teraras Pada Pembangkit Energi Terbarukan Dan PLTN.Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Nuklir PTNBR – BATAN. Bandung, 4 Juli 2013.
  5. Bernard L. Cohen. 1990. The Nuclear Energy Option. Pittsburgh: Plenum Press.
  6. Akkuyu construction formally starts. Diakses dari https://bit.ly/2j0T7i1
  7. Construction stars at second Novovoronezh-II unit. Diakses dari https://bit.ly/2HQw7Op
  8. Michael Shellenberger. Nuclear Industri Must Change – Or Die. Diakses dari https://bit.ly/2K0jRvg
  9. Energy Innovation Reform Project. 2017. What Will Advanced Nuclear Reactor Cost? A Standardized Cost Analysis of Advanced Nuclear Technologies in Commercial Development. Arlington: EON.
  10. Jack Devanney, dkk. 2015. ThorConTM The Do-Able Molten Salt Reactor: Executive Summary. Tavernier: Martingale.
  11. Anil Markandya, Paul Wilkinson. 2007. Electricity generation and health. Lancet 370: 979-990.
  12. Brian Wang. Deaths per TWh for all energy sources, Diakses dari https://bit.ly/2J9QOUK