Keunggulan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Terapung Untuk Indonesia

Bagikan Artikel ini di:

Pengembangan PLTN selama ini utamanya berfokus di PLTN darat. Mengingat, kebutuhan listrik utamanya memang di darat, bukan di laut. Demikian pula, perencanaan pembangunan PLTN di Indonesia selalu difokuskan untuk dibangun di darat. Hal ini logis ketika mempertimbangkan pulau-pulau besar yang butuh listrik dengan suplai besar.

Namun, bagaimana dengan pulau-pulau kecil yang membutuhkan suplai listrik yang andal? Ditambah lagi potensi bencana gempa dan tsunami yang sewaktu-waktu dapat menyerang negeri ini [1,2].

Dari sini, prospek PLTN terapung tampak cukup menjanjikan.

Ada beberapa jenis PLTN terapung. Namun, dari jenis-jenis yang ada, jenis offshore nuclear power plant (ONPP) tampak paling cocok untuk kawasan Indonesia [3]. PLTN terapung jenis ini memiliki unit reaktor nuklir (tunggal atau ganda) dan unit pembangkit yang dipasang di dalam kapal/tongkang. Listrik yang dibangkitkan oleh unit PLTN ini dapat digunakan untuk menggerakkan kapal dari dan menuju lokasi penggunaan, serta dialirkan ke jaringan listrik di lokasi tersebut.

Gambar 1. Konsep PLTN terapung MIT

Baca juga: Milestone Nuklir Cina: EPR dan AP1000 Pertama Di Dunia Mulai Beroperasi

PLTN yang dipasang di dalam kapal bukan konsep baru. Rusia sudah sejak lama menggunakan reaktor nuklir untuk propulsi kapal pemecah es [4]. Namun, ide ini kemudian berkembang untuk menyuplai listrik di daratan yang sulit terjangkau.

Ada beberapa potensi keunggulan dari penggunaan PLTN terapung untuk wilayah Indonesia.

Pertama, karena dipasang di atas kapal, kendala-kendala tentang pembebasan lahan dan sindrom NIMBY (Not In My Back Yard atau asal tidak di halaman belakang rumahku ) secara praktis tidak ada. Instalasi yang terpasang di darat hanya sambungan ke jaringan listrik saja. Isu fault teknonik yang menjadi perhatian dalam pembangunan PLTN pun otomatis lenyap. Gempa tidak lagi menjadi isu yang bisa dieksploitasi kalangan anti-nuklir.

Kedua, PLTN terapung dapat menjangkau kawasan-kawasan kepulauan kecil dan wilayah yang sulit dijangkau melalui darat, seperti beberapa kawasan di Papua. Karena PLTN terapung sudah dibangun dan terpasang di kapal sejak sebelum pemberangkatan, tidak ada pembangunan yang perlu dilakukan di kepulauan kecil dan wilayah yang sulit terjangkau tersebut selain fasilitas sambungan jaringan listrik. Jauh lebih memudahkan daripada harus membangun pembangkit di lokasi.

Kebutuhan bahan bakar nuklir sedikit dan siklus operasinya panjang, sekitar 24-36 bulan [5]. Jadi, bahan bakar untuk 10-20 tahun operasi dapat dimuat di dalam kapal. Atau, untuk alasan keamanan, bahan bakar baru dikirim ke lokasi menjelang akhir siklus bahan bakarnya. Sehingga, suplai bahan bakar sama sekali bukan masalah bagi PLTN terapung.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

Ketiga, PLTN terapung umumnya memiliki daya kecil, antara 35-120 MWe [6]. Daya itu cukup untuk daerah-daerah luar Jawa yang kebutuhan listriknya tidak sebanyak di Jawa. Membangun PLTN darat dengan daya lebih dari 250 MWe jelas sebuah pemborosan yang tidak perlu, jadi PLTN terapung memiliki skala rentang daya lebih pas.


Gambar 2. Konfigurasi reaktor PLTN terapung KLT40S

Keempat, lebih selamat dari tsunami. Sifat gelombang tsunami adalah baru mulai meninggi ketika mencapai air dangkal, tapi di air yang lebih dalam nyaris tidak terasa. Karena panjang gelombang tsunami di permukaan laut dalam sangat panjang, amplitudonya jadi kecil [7]. Sehingga, PLTN terapung yang doknya berada di permukaan laut dalam tidak akan terpengaruh oleh gelombang tsunami.

Eksistensi PLTN terapung pun berpotensi membantu peringatan dini tsunami. Sistem instrumentasi pendeteksi dini tsunami dapat dipasang di PLTN terapung. Karena tidak ada masyarakat yang bisa begitu saja naik ke atas kapal pengangkut PLTN ini, vandalisme dan pencurian terhadap komponen sistem peringatan dini tsunami bisa dikatakan tidak akan terjadi. Namun, hal ini butuh konfirmasi dari pakar di bidangnya.

Kelima, PLTN terapung dapat digunakan untuk desalinasi air laut. Hal ini penting untuk wilayah-wilayah yang sering kekurangan air bersih. Selain membangkitkan listrik, panas buangan dari PLTN terapung bisa digunakan untuk desalinasi air laut, menghasilkan air bersih yang layak digunakan untuk keperluan sehari-hari masyarakat [8].

Ke depannya, selain desalinasi air laut, PLTN terapung berpotensi juga memproduksi bahan bakar sintetis. Jadi, PLTN terapung digunakan untuk hidrolisis air dan memisahkan CO2 dari air laut. Hidrogen dan CO2 yang dihasilkan kemudian disintetis untuk menghasilkan bahan bakar mirip bensin untuk keperluan transportasi [9]. Keunggulan dari bahan bakar sintetis ini adalah netral emisi CO2 dan tidak ada kontamintasi pengotor.

Baca juga: Thorium, Bahan Bakar Nuklir Masa Depan

Keenam, level keselamatan tinggi. Kontras dengan asumsi sebagian orang ketika pertama mendengar PLTN terapung, tingkat keselamatannya tidak berkurang, malah mungkin lebih baik. Setidaknya, dari segi termohidrolik. Karena posisinya berada di atas permukaan laut, PLTN terapung memiliki akses pendingin yang secara praktis tidak terbatas. Air laut menjadi heat sink alami bagi reaktor nuklirnya. Ketika misalnya terjadi overheating, pendinginan reaktor dapat dilakukan tanpa harus khawatir kekurangan suplai pendingin eksternal.

Bagaimana kalau terjadi sebuah skenario tidak diinginkan yang menyebabkan kapalnya tenggelam? Bahan bakar nuklir akan tetap tersegel di dalam reaktor. Lalu, air laut secara otomatis akan mendinginkan reaktor sehingga pelelehan bahan bakar dapat dicegah (kecuali reaktor nuklir yang bahan bakarnya berbentuk lelehan, maka bahan bakarnya akan memadat). Ketiadaan pelelehan menyebabkan pelepasan radioaktivitas akan sangat minim, kalau bukan tidak ada. Air laut tidak akan terkontaminasi material radioaktif dari reaktor nuklir yang tenggelam.

Rusia dan Cina tengah mengembangkan PLTN terapung tipe ONPP [6]. Akademik Lomonosov, kapal bertenaga nuklir desain Rusia, diproyeksikan menjadi PLTN terapung pertama di dunia. Saat ini, Akademik Lomonosov telah melakukan pemuatan bahan bakar di dalam unit reaktor nuklir gandanya, siap diberangkatkan akhir tahun ini atau awal tahun depan ke Pevek, kota paling utara di Rusia [10].

Gambar 3. Akademik Lomonosov

Baca juga: Apa Benar Nuklir Mahal? Tanggapan Untuk Arcandra Tahar

Namanya teknologi, pasti ada saja kekurangannya. Karena tidak ada perimeter seperti di PLTN darat, sistem proteksi fisik PLTN terapung harus lebih diperhatikan. Masalah proteksi fisik sebaiknya juga dikoordinasikan dengan TNI. Perawatan pun mengharuskan si kapal dibawa kembali ke pabrikannya, walau memang jadwal perawatannya tidak sering. Masalah keselamatan radiasi juga mesti disosialisasikan dengan baik pada nelayan-nelayan yang melaut di sekitar sana, jika ada. Tujuannya supaya resistensi masyarakat sekitar terhadap PLTN terapung bisa diminimalisir dan tidak mudah diprovokasi oleh kalangan anti-nuklir.

Keunggulan-keunggulan di atas menunjukkan bahwa PLTN terapung sangat potensial untuk menyediakan listrik yang murah, bersih, selamat dan handal bagi penduduk Indonesia khususnya di luar Jawa, di daerah-daerah kepulauan dan wilayah yang sulit dijangkau lewat darat. Semoga dalam waktu tidak terlalu lama, kita bisa mengembangkannya sendiri menggunakan teknologi reaktor nuklir termutakhir, sehingga pemanfaatannya jadi lebih optimal untuk berbagai keperluan.

Referensi:

  1. S. Rohadi, “Studi Seismotektonik Sebagai Indikator Gempa Bumi di Wilayah Indonesia”, Jurnal Meteorologi dan Geofisika, vol. 10 no. 2, 2009, pp. 111-120.
  2. L. Hamzah et al, “Tsunami Catalog and Zones in Indonesia”, Journal of Natural Disaster Science, vol. 22 no. 1, 2000, pp. 25-43.
  3. K. H. Lee, “Recent Advances in Ocean Nuclear Power Plants”, Energies, vol. 8, 2015, pp. 11470-11492.
  4. O. Bukharin, “Russia’s Nuclear Icebreaker Fleet”, Science and Global Security, vol. 14, 2006, pp. 25-31.
  5. M. R. Oktavian et al, “Cogeneration Power-Desalination in Small Modular Reactors (SMRs) for Load Following in Indonesia”, presented in The 4th International Conference on Science and Technology (ICST) 2018, Yogyakarta, Indonesia.
  6. S. Banoori et al, Advances in Small Modular Reactor Technology Developments. IAEA, Vienna, 2016.
  7. Tsunamis. Diakses dari http://earthsci.org/education/teacher/basicgeol/tsumami/tsunami.html
  8. S. Nisan et al, “Sea-water desalination with nuclear and other energy sources: the EURODESAL project”, Nuclear Engineering and Design, vol. 221 no. 1-3, 2003, pp. 251-275.
  9. J. Morgan, Zero emission synfuel from seawater, Diakses dari https://bravenewclimate.com/2013/01/16/zero-emission-synfuel-from-seawater/\
  10. World Nuclear News. Russia loads fuel into floating power plant. Diakses dari (http://www.world-nuclear-news.org/Articles/Russia-loads-fuel-into-floating-power-plant)

 

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Milestone Nuklir Cina: EPR dan APR1000 Pertama Di Dunia Mulai Beroperasi

Bagikan Artikel ini di:

Cina mencapai milestone baru dalam ekspansi kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) mereka. Pada tanggal 29 Juni 2018, PLTN Taishan 1 telah terkoneksi dengan jaringan listrik dan menghasilkan listrik. PLTN ini merupakan PLTN pertama di dunia yang menggunakan teknologi European Pressurised Reactor (EPR) yang didesain oleh Framatome [1].

Baca juga:

PLTN Taishan merupakan bagian dari megaproyek PLTN Cina, yang bertujuan untuk mencapai kapasitas daya 58 GWe pada tahun 2020 dan 30 GWe lainnya dalam proses konstruksi [2]. PLTN Taishan 1 mulai dibangun pada tahun 2009, sementara unit 2 dimulai pada tahun 2010.

Gambar 1. Tampak dalam PLTN Taishan 1 (sumber: WNN)

PLTN berdaya 1.660 MWe ini dimiliki oleh Guangdong Taishan Nuclear Power Joint Venture, sebuah joint venture antara Electricite de France (EDF) dan Chinese General Nuclear (CGN). PLTN Taishan 1 dapat menyuplai listrik untuk lebih dari empat juta rumah tangga di Cina [1].

Baca juga Mengukur Dampak Lingkungan Dari Pemanfaatan Energi Nuklir

Sehari setelahnya, Cina mencapai milestone berikutnya. PLTN Sanmen 1, yang merupakan PLTN pertama di dunia yang menggunakan teknologi AP1000, telah tersambung dengan jaringan listrik [3]. AP1000 merupakan teknologi reaktor nuklir yang didesain oleh Westinghouse, dengan perbaikan pada aspek keselamatan dan ekonomis [4].

PLTN Sanmen 1 mulai dibangun pada tahun 2009. Hot testing PLTN Sanmen 1 telah selesai pada bulan Juni tahun lalu. Sementara, pemuatan susunan bahan bakar dimulai pada 25 April 2018. PLTN Sanmen 1 mencapai kekritisan pada 21 Juni 2018. Pada 27 Juni 2018, uap yang dibangkitkan melalui reaksi fisi nuklir digunakan untuk memutar turbin pembangkit listrik [3].

Tersambungnya PLTN Taishan 1 dan Sanmen 1 ke jaringan listrik merupakan prestasi bagi industri nuklir Cina. Setelah Rusia dengan teknologi VVER-1200, Cina menjadi negara kedua yang sukses mengoperasikan PLTN Generasi III+, yang merupakan generasi transisi sebelum masuk ke Generasi IV. Walau di tempat lain pembangunan EPR (Prancis dan Finlandia) dan AP1000 (Amerika Serikat) bermasalah, Cina tetap berhasil membangun dan membangkitkan listrik menggunakan kedua teknologi ini. Diharapkan, PLTN Taishan 1 dan Sanmen 1 akan memasuki tahap komersial pada akhir tahun ini [2,3].

Baca juga

Referensi:

  1. World Nuclear News. China’s Taishan 1 reactor connected to grid. (http://www.world-nuclear-news.org/NN-Chinas-Taishan-1-reactor-connected-to-grid-29061801.html). Diakses pada 5 Juli 2018.
  2. World Nuclear Association. Nuclear Power in China.(http://www.world-nuclear.org/information-library/country-profiles/countries-a-f/china-nuclear-power.aspx). Diakses pada 5 Juli 2018.
  3. AP1000 Pressurized Water Reactor. (http://www.westinghousenuclear.com/New-Plants/AP1000-PWR). Diakses pada 5 Juli 2018.
  4. World Nuclear News. First AP1000 unit begins generating power. (http://www.world-nuclear-news.org/NN-First-AP1000-unit-begins-generating-power-0207184.html)
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Apa Benar Nuklir Mahal? (Tanggapan Untuk Arcandra Tahar)

Bagikan Artikel ini di:

Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, mengungkapkan bahwa listrik dari energi nuklir itu mahal. Sebagaimana dilansir dari Viva.co.id (19/4), Pak Arcandra menggugat klaim bahwa listrik itu murah.

Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar

“Banyak yang mengatakan, ‚mari nuklir, mana yang lebih murah, nuklir atau EBT lain‘. Banyak yang mengatakan nuklir itu USD 5-6 sen per kWh, tapi nuklir itu USD 14 sen per kWh, saya cek lapangan.“ Katanya.

Beliau melanjutkan bahwa dirinya telah meninjau harga listrik dari Rosatom. Yang mana, Rosatom mematok harga USD 12 sen per kWh [1]. Sebelumnya, pada tahun 2017, Pak Arcandra juga mempersoalkan tentang mahalnya harga listrik dari nuklir di kolom di Selasar.com [2].

Walau pernyataan beliau tidak sepenuhnya salah, tetapi ada beberapa kesalahan berpikir yang dilakukannya. Sehingga, kesimpulannya jadi keliru.

Pertama, nuklir mahal itu di mana? Di Eropa dan Amerika Serikat. World Nuclear Association membuat analisis berapa estimasi rentang biaya pembangunan PLTN di berbagai belahan dunia. Hasilnya, biaya pembangunan di Asia lebih rendah daripada di Eropa dan Amerika Serikat [3], sebagaimana ditunjukkan dalam grafik berikut.

Gambar 1. Rentang biaya pembangunan PLTN di berbagai belahan dunia (sumber: WNA)

Jika di Amerika Serikat dan Eropa, overnight cost PLTN mencapai USD 4000-5000 per kW, maka di Asia (selain Timur Tengah) hanya berkisar USD 2000-3000 per kW. Sebagai contoh, PLTN Shin Kori unit 3 dan 4 di Korea Selatan membutuhkan biaya USD 5 milyar untuk daya 2700 MWe, atau overnight cost sebesar USD 1850/kW [3].

Baca juga Progres Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Daya Nuklir Desain Anak Negeri

Berdasarkan kalkulasi peneliti BATAN [4], overnight cost dari PLTN tipe PWR OPR-1000 diestimasikan sebesar USD 2000/kW. Dengan laju diskonto 10%, angka ini diterjemahkan menjadi USD 5,363 sen per kWh. Jadi, angkanya memang berkisar segitu.

Uni Emirat Arab membangun empat unit PLTN dengan daya total 5600 MWe. Kontrak pembangunannya sebesar USD 20,4 milyar, atau USD 3643 per kW [3]. Jika laju diskonto sama-sama 10%, maka biaya pokok pembangkitan (BPP) listriknya berkisar USD 6,5 sen per kWh. Tidak sampai USD 10 sen per kWh. Padahal itu di Timur Tengah, yang notabene lebih mahal dari wilayah Asia lain karena tantangan geografis.

Mengapa di Eropa dan Amerika Serikat mahal? Masalah pertama tentu saja soal ongkos buruh yang lebih tinggi. Masalah kedua adalah sesuatu yang disebut Prof. Bernard Cohen sebagai regulatory ratcheting [5]. Regulasi nuklir yang terus menerus mengetat dan tidak pernah melonggar, padahal pengetatan regulasi itu tidak terbukti meningkatkan level keselamatan reaktor. Dengan kata lain, regulasi nuklir yang tidak rasional.

Indonesia belum memiliki PLTN dan tidak sedang membangun PLTN. Maka, masih ada waktu untuk membuat regulasinya lebih rasional daripada di Amerika Utara dan Eropa.

Yang jelas, menyamakan kondisi antara Amerika Utara dan Eropa dengan Asia itu tidak tepat.

Kedua, Pak Arcandra salah tanya. Rosatom bukan tempat yang tepat untuk menanyakan BPP listrik dari energi nuklir. Seluruh ekspor PLTN Rosatom sejauh ini menggunakan mekanisme build-own-operate (BOO). Yang terbaru diresmikan adalah proyek PLTN Akkuyu di Turki [6]. Rosatom menanggung sebagian besar bahkan seluruh biaya pembangunan, dengan konsekuensi mereka yang memiliki PLTN selama jangka waktu tertentu dan berhak menjual listrik dengan harga yang ditetapkannya.

Jadi, harga yang diberikan Rosatom bukan BPP listrik, tapi tarif yang dipatok. Sama saja dengan power purchase agreement (PPA), yang nilainya tentu di atas BPP listrik. Sebagai perbandingan, PLTN Novovoronezh di Rusia menghabiskan biaya USD 5 milyar untuk daya 2136 MWe atau USD 2341 per kW [7]. Diterjemahkan menjadi BPP listrik sekitar USD 6 sen per kWh.

Baca juga Peningkatan Nilai Guna Bahan Bakar Nuklir Dengan Kombinasi PWR-CANDU

Ketiga, penyedia teknologinya keliru. Diantara persoalan mahalnya biaya pembangunan PLTN di negara-negara Barat adalah inkompetensi vendor PLTN itu sendiri. Dalam hal ini adalah Westinghouse, General Electric dan AREVA (sekarang ORANO). Vakumnya pembangunan PLTN selama puluhan tahun di negara-negara Barat membuat mereka kehilangan pengalaman pembangunan yang dimiliki selama ini.

Sehingga, ketika vendor PLTN tersebut akhirnya mendapat proyek konstruksi PLTN lagi, minimnya pengalaman yang tersisa menimbulkan berbagai kesulitan, yang akhirnya membuat pembangunan PLTN mengalami cost overrun dan delay yang relatif lama. Contohnya PLTN VC Summer di Amerika Serikat (menggunakan teknologi AP1000 milik Westinghouse) dan PLTN Olkiluoto di Finlandia (menggunakan teknologi EPR milik ORANO) [8].

Berbeda kasusnya dengan Korea Selatan, yang dalam hal ini diwakili oleh BUMN nuklir mereka, Korean Electric Power Corporation (KEPCO). Alih-alih terputus, KEPCO terus membangun pengalaman pembangunan PLTN mereka selama puluhan tahun dengan desain yang terstandardisasi. Pengalaman pembangunan dan standardisasi desain ini mampu membuat KEPCO membangun PLTN secara lebih efektif [8]. Sehingga, Korea Selatan mampu membangun PLTN dengan biaya lebih rendah dibandingkan kompetitornya. Berdasarkan estimasi World Nuclear Association, BPP listrik dari energi nuklir di Korea Selatan berkisar USD 4,2-4,8 sen per kWh, dengan laju diskonto 10% [3].

Jika Indonesia akan menggunakan PLTN, maka kemungkinan besar teknologi pertama akan impor. Pertanyaannya, impor dari mana? Di sinilah yang kemudian akan menentukan apakah harga listrik dari PLTN akan mahal atau murah. Kalau mengikuti skema Rusia, jelas akan mahal. Begitu pula kalau menggunakan teknologi Westinghouse atau ORANO. Bukan tanpa alasan Uni Emirat Arab memilih teknologi KEPCO untuk dibangun di negaranya; Korea Selatan memang mampu membuat listrik dari nuklir menjadi murah berdasarkan pengalaman pembangunannya.

Baca juga Mengukur Sustainabilitas Energi Nuklir Dengan Uranium dan Thorium Domestik

Keempat, tidak memerhatikan teknologi reaktor maju. Mungkin pendapat ini kurang populer, tapi sebaiknya, ketika Indonesia menyatakan untuk go nuclear, lompati saja PLTN Generasi III. Sebaiknya langsung masuk ke Generasi IV, atau biasa disebut reaktor maju. Apa pasal? Fitur-fitur yang dimiliki oleh teknologi reaktor maju dimaksudkan untuk mereduksi biaya pembangunan PLTN, sekaligus meningkatkan level keselamatannya tanpa harus terjerat regulatory ratcheting/regulasi tidak rasional.

Energy Innovation Reform Project (EIRP) mengeluarkan laporan hasil studi nilai keekonomian berbagai jenis teknologi reaktor maju (walau diantaranya ada teknologi Generasi III+ alih-alih Generasi IV) [9]. Laporan itu mengungkapkan bahwa estimasi BPP listrik dari berbagai teknologi reaktor maju berkisar antara USD 30-90 per MWh, atau USD 3-9 sen per kWh. Jauh dibawah angka USD 12 sen per kWh yang diungkapkan Pak Arcandra. Self-assessment ThorCon terhadap teknologinya sendiri [10] mengungkapkan bahwa teknologi reaktor maju mereka mampu membangkitkan listrik dengan biaya USD 3 sen per kWh, lebih murah dari batubara, sekalipun dengan laju diskonto tinggi.

Tentu saja klaim-klaim di atas membutuhkan bukti riil. Tetapi kalau dianalisis dari teknologi yang digunakan, mengapa tidak? Sangat dimungkinkan teknologi reaktor maju lebih murah daripada PLTN Generasi III, yang sebenarnya juga tidak mahal seandainya paham konteks persoalan.

Baca juga Perkembangan Teknologi Reaktor Maju Bagian 1

Akhirnya, dari keempat poin di atas, poin penting yang ingin penulis sampaikan adalah memahami persoalan secara komprehensif. Hanya karena Rosatom memberi angka USD 12 sen per kWh, hanya karena di Amerika Serikat terjadi cost overrun pada pembangunan PLTN, bukan berarti di sini akan mengalami hal serupa. Kecuali kalau pemerintah Indonesia mengikuti kebodohan yang dilakukan di sana.

Murah atau mahalnya energi nuklir lebih banyak ditentukan faktor-faktor non-teknis ketimbang teknis. Nuklir sudah merupakan energi paling selamat dengan tingkat kematian per TWh paling rendah [11,12]. Maka, pengetatan regulasi keselamatan, yang berimbas pada lebih mahalnya biaya pembangunan, sama sekali tidak diperlukan.

Gambar 2. Tingkat kematian per TWh energi. Tampak bahwa nuklir adalah yang paling rendah. (diolah dari nextbigfuture.com)

Pemilihan vendor bisa dilakukan dengan cermat, sehingga jangan sampai membeli teknologi yang malah jatuhnya mahal karena inkompetensi vendor tersebut. Skema pembangunan pun dapat menentukan mahal murahnya energi listrik. Penulis sama sekali tidak mendukung ide PLTN dibangun dan dimiliki oleh swasta. Karena swasta mengandalkan utang untuk modal, dan jika mengandalkan utang berbunga, jelas saja harga listriknya jadi lebih mahal. Belum lagi fakta bahwa swasta selalu meminta PPA yang nilainya lebih tinggi daripada BPP listrik.

Terlalu gegabah kalau mengatakan harga listrik dari energi nuklir itu mahal hanya karena melihat satu aspek. Itupun aspek yang tidak cocok diterapkan di negeri ini. Lebih buruk lagi kalau mengatakan nuklir mahal sembari dibandingkan dengan so-called “energi terbarukan“ yang diklaim lebih murah. Karena energi nuklir selalu tersedia 24 jam dalam seminggu, sementara “energi terbarukan“ hanya beroperasi ketika matahari bersinar dan angin berembus. Perbandingan yang tidak adil.

Referensi

  1. Arcandra Tahar Tegaskan Listrik Tenaga Nuklir Tidak Murah. Diakses dari https://bit.ly/2K0C3on
  2. Negara-negara maju menggunakan energi nuklir untuk listrik, mengapa Indonesia belum melakukannya? Diakses dari https://bit.ly/2vvCvb8
  3. World Nuclear Association. The Economics of Nuclear Power. Diakses dari http://bit.ly/2jhcwJ6
  4. Mochammad Nasrullah, Nuryanti. 2013. Studi Perbandingan Biaya Pembangkitan Listrik Teraras Pada Pembangkit Energi Terbarukan Dan PLTN.Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Nuklir PTNBR – BATAN. Bandung, 4 Juli 2013.
  5. Bernard L. Cohen. 1990. The Nuclear Energy Option. Pittsburgh: Plenum Press.
  6. Akkuyu construction formally starts. Diakses dari https://bit.ly/2j0T7i1
  7. Construction stars at second Novovoronezh-II unit. Diakses dari https://bit.ly/2HQw7Op
  8. Michael Shellenberger. Nuclear Industri Must Change – Or Die. Diakses dari https://bit.ly/2K0jRvg
  9. Energy Innovation Reform Project. 2017. What Will Advanced Nuclear Reactor Cost? A Standardized Cost Analysis of Advanced Nuclear Technologies in Commercial Development. Arlington: EON.
  10. Jack Devanney, dkk. 2015. ThorConTM The Do-Able Molten Salt Reactor: Executive Summary. Tavernier: Martingale.
  11. Anil Markandya, Paul Wilkinson. 2007. Electricity generation and health. Lancet 370: 979-990.
  12. Brian Wang. Deaths per TWh for all energy sources, Diakses dari https://bit.ly/2J9QOUK
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: